Suami Bunda sedang sakit? Merawat suami sakit bakal mendapat banyak pahala, Bunda. Pahami norma istri merawat suami yang sedang sakit menurut Islam.
Dalam kehidupan rumah tangga, sakit menjadi salah satu ujian yang dapat memperlihatkan kuat alias tidaknya ikatan antara suami dan istri. Saat salah satu pasangan jatuh sakit, kehadiran, perhatian, serta kasih sayang dari pasangannya menjadi penyemangat yang sangat berfaedah dalam proses pemulihan.
Dalam aliran Islam, merawat pasangan yang sedang sakit bukan sekadar corak kepedulian. Baik istri maupun suami dianjurkan untuk saling menjaga, menemani, dan memberikan pelayanan terbaik ketika pasangannya memerlukan pertolongan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut hukum istri merawat suami yang sedang sakit menurut Islam.
Mengutip detikcom, kesetiaan seorang istri dapat diukur dari seberapa tulus dia merawat suami ketika dalam keadaan sakit. Kepedulian istri yang menemani kesembuhan suami merupakan corak penghormatan dan kasih sayang.
Sedangkan ketidakpedulian seorang istri ketika suaminya sakit itu merupakan corak kedurhakaan. Istri yang durhaka terhadap suami yang sedang sakit bakal mendapatkan laknat dari Allah SWT.
Masykur Arif Rahman dalam kitab berjudul Istri yang Paling Dibenci Allah Sejak Malam Pertama mengutip perkataan Anas bin Malik yang mengatakan, "Beberapa sahabat Rasulullah SAW berbicara kepadanya, 'Wahai Rasulullah, hewan ternak ini tak berakal, tetapi sujud kepada tuannya. Kami adalah makhluk berakal maka sepatutnya kami pun bersujud kepada Tuan.'
Rasulullah SAW bersabda, 'Tidak patut seseorang sujud kepada orang lain. Sekiranya seseorang boleh sujud kepada orang lain, tentu bakal saya suruh seorang istri sujud kepada suaminya lantaran besarnya kewenangan suami atas istrinya. Sekiranya suami menderita luka dari ujung kaki sampai ujung kepalanya, berbau busuk dan nanah meleleh pada tubuhnya, kemudian istrinya datang kepadanya sampai menjilatinya sampai kering maka bukti seperti itu belum dapat dikatakan menunaikan kewenangan suaminya (sepenuhnya)." (HR. Ahmad dan Nasa'i).
Dari penjelasan hadits tersebut, kepatuhan seorang istri belum sempurna meskipun sudah melakukan yang terbaik untuk suaminya ketika dalam keadaan sakit. Apalagi sang istri tidak peduli terhadap suaminya ketika sakit.
Sementara itu menurut Ustaz Maulana, ketika merawat suami sakit maka perihal pertama yang kudu dilakukan istri adalah menjaga kemuliaan dan nilai diri. Seorang istri kudu bisa memperlihatkan ketegaran dan keteladanan kepada family di sekitarnya.
"Ini yang kudu dilakukan seorang istri sebagaimana Siti Rahmah ketika Nabi Ayyub AS sakit, Siti Rahmah alhamdulillah mendampingi suami kemudian mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan suaminya yang sementara ini dalam keadaan sakit," ujar Ustaz Maulana dalam acara ISLAM ITU INDAH dikutip dari channel YouTube TRANS TV Official.
Kemudian yang kedua, lanjutnya, istri tetap menjaga apa yang menjadi tanggungan suami. Misalnya saja gimana caranya perekonomian rumah tangga tetap tetap kuat, terutama untuk membiayai sekolah anak.
"Mohon maaf kenapa saya senantiasa berbicara duit itu dipegang istri. Banyak tanya saya kenapa ustaz? Kalau suami kan bisa mencari nafkah, istri itu iba tidak sama dengan sosok laki-laki. Makanya duit itu ditabung oleh istri," tuturnya.
Ustaz Maulana pun mengimbau kepada para istri untuk membagi finansial menjadi tiga. Pertama, finansial untuk biaya bulanan setiap tanggal 1 ada pengeluaran dan sebagainya yang dikeluarkan setiap bulan. Kedua, pengeluaran yang berkarakter harian yang dibagi 30 hari. Kemudian yang ketiga adalah biaya tak terduga.
Selain itu, dia juga menyampaikan bahwa sebaiknya istri juga tidak lupa mengingatkan suami untuk tetap salat dalam kondisi sakit. Jadi perlu diperhatikan, jangan cuek gitu," ucapnya.
Bagaimana jika istri yang sakit?
Islam juga menegaskan bahwa kasih sayang dalam rumah tangga bertindak dua arah. Ketika istri sedang sakit, suami bertanggung jawab memberikan perhatian, merawat, dan tidak membebankan pekerjaan rumah tangga kepada istrinya hingga kondisi kembali pulih.
Hal tersebut dijelaskan dalam kitab Pedoman Ilahiah dalam Berumah Tangga karya Muhammad Albahi dan tim. Suami dianjurkan membantu kebutuhan istri, memberikan support moral maupun fisik, serta menciptakan suasana yang membikin istri merasa nyaman selama menjalani masa pemulihan.
Salah satu teladan terbaik datang dari sahabat Nabi, Utsman bin Affan RA. Ketika istrinya, Ruqayyah binti Rasulullah SAW, sedang sakit, Utsman memilih mendampinginya sehingga tidak ikut dalam Perang Badar.
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ إِنَّمَا : إنما تغيب عثمان عن عن بدر فإنه كَانَتْ تَحْتَهُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَتْ مَرِيضَةً فَقَالَ لَهُ النَّبي صلّى اللهُ عليهِ وسلَّم إن لك أجر رجل ممن شهد بدرا . وسهمه
Artinya:
"Dari Ibnu 'Umar berbicara ia; Sesungguhnya Utsman tidak ikut serta dalam Perang Badar lantaran dia sedang menunggui putri Rasulullah SAW yang sedang sakit. Nabi berbicara kepadanya, 'kamu tetap mendapatkan pahala seperti orang yang ikut terlibat dalam perang Badar dan panahnya (HR. Bukari).
Kisah tersebut menunjukkan bahwa merawat pasangan yang sedang sakit merupakan ibadah yang sangat mulia. Bahkan Rasulullah SAW memberikan berita ceria berupa pahala yang besar kepada Utsman bin Affan lantaran memilih menemani istrinya.
Semangat saling merawat juga bertindak ketika istri sedang mengandung maupun setelah melahirkan. Suami dianjurkan membantu pekerjaan rumah tangga, memberikan support penuh, dan meringankan beban istri sebagai bentuk kasih sayang, tanggung jawab, serta upaya membangun family yang penuh cinta dan rahmat.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·