Jangan Langsung Marah, 9 Ucapan Anak Yang Ternyata Bermakna Lain Menurut Psikolog

Jul 12, 2026 06:10 PM - 8 jam yang lalu 352

Jakarta -

Menjalin komunikasi yang baik antara orang tua dan anak sangat penting, Bunda. Melalui komunikasi yang baik, anak merasa didengar, dihargai, dan lebih mudah mengungkapkan perasaannya.

Keterampilan komunikasi juga meletakkan dasar bagi ikatan yang sehat antara orang tua dan anak. Tapi, masalahnya adalah orang tua dan anak sering kali merasa seperti berada di bumi yang berbeda dan berbincang dalam bahasa yang berbeda.

Akibatnya, orang tua kerap salah menafsirkan ucapan yang dilontarkan anak-anaknya. Tak jarang orang tua tersulut emosi saat mendengar anak-anaknya bicara mengungkapkan perasaan..

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


"Salah menafsirkan emosi anak-anak bisa berisiko membikin mereka merasa tidak diperhatikan dan tidak dihargai oleh orang tuanya," ujar kata psikolog di Amerika Serikat, Dr. Emily Guarnotta, Psy.D., PMH-C, dilansir Parade.

"Ketika mereka merasa orang tua tidak 'memahaminya', mereka condong menyembunyikan emosi sebenarnya. Dalam jangka panjang, perihal itu dapat meningkatkan akibat kecemasan, depresi, dan kesepian," sambungnya.

Sebelum terbawa emosi, orang tua perlu memahami makna dari setiap ucapan yang disampaikan anak-anaknya. Berikut 9 ucapan anak yang rupanya berarti lain menurut psikolog:

1. "Aku tidak suka kamu!"

Orang tua era sekarang sering memikirkan segala sesuatu dengan benar, sehingga mereka mungkin secara alami menafsirkan pernyataan ini sebagai sikap tidak hormat. Anak yang mengatakan kalimat ini dianggap tidak tahu berterima kasih.

"Pada kenyataannya, kalimat itu sering digunakan sebagai langkah untuk mengekspresikan kemarahan," ungkap Guarnotta.

"Anak-anak tidak selalu mempunyai kata-kata untuk mengekspresikan emosi besar seperti kemarahan. Sebagai orang tua, kita adalah tempat kondusif bagi mereka, itulah sebabnya mereka mungkin mengungkapkan kata-kata ini kepada kita dan bukan kepada orang lain," lanjutnya.

2. "Semua orang membenci saya"

Guarnotta mengatakan bahwa frasa ini bisa menjadi respons terhadap konflik. Orang tua sering kali kesulitan untuk mengerti perihal tersebut, sehingga mengganggapnya perihal yang buruk.

"Sebagai orang tua, kita sering kali mau langsung ikut kombinasi dan membantah dengan kebenaran kenapa pernyataan ini tidak benar," ujar Guarnotta.

"Sebenarnya yang anak maksud adalah, 'Saya mengalami momen susah hari ini yang membikin saya merasa tidak berarti, dan saya butuh Anda untuk menemani saya melewati kesedihan ini'. Daripada berupaya langsung memperbaiki keadaan, cobalah mundur selangkah dan biarkan mereka berbagi lebih banyak," lanjutnya.

3. "Kalian lebih menyukai kerabat laki-laki/perempuanku daripada aku"

Para orang tua berjanji bahwa mereka tidak pilih kasih, tetapi perihal itu tidak menghentikan anak-anak untuk merasa sebaliknya. Menurut Guarnotta, orang tua condong menganggap ungkapan klasik ini sebagai corak kecemburuan, rasa bersalah, alias sesuatu yang berlebihan. Namun, Guarnotta menyarankan orang tua untuk merenungkan kalimat ini sebelum mengucapkannya ke anak.

"Ketika anak-anak mengatakan ini, biasanya lantaran mereka merasa kehilangan hubungan dengan orang tuanya. Mereka cemas bahwa mereka tidak sepenting alias dicintai seperti kerabat kandungnya. Ingat, emosi tidak selalu logis," ungkap Guarnotta.

4. "Ini terlalu sulit. Aku menyerah!"

Pernyataan ini bisa terasa sangat menyinggung, Bunda. Bagi kebanyakan orang tua yang telah melalui banyak pengalaman hidup, kalimat ini apalagi terasa asing untuk didengar.

"Ketika seorang anak menyerah, orang tua mungkin menafsirkan ini sebagai kemalasan. Mereka sering menanggapi dengan pidato tentang nilai kerja keras dan ketekunan," kata Guarnotta.

Saat anak mengatakan kalimat ini, mereka mungkin berada di lingkaran rasa malu dan merasakan kegagalan yang mendalam. Satu-satunya yang mau didengar adalah perasaan, bukan ceramah.

5. "Tinggalkan saya sendiri!"

Kalimat ini adalah salah satu ungkapan yang sering dianggap orang tua sebagai perihal buruk. Orang tua terus kesulitan mengingat makna tersembunyi dari ungkapan ini meski juga pernah melontarkannya saat tetap kecil.

"Ketika seorang anak menyuruh orang tua untuk meninggalkannya sendirian dan membanting pintu, rasanya seperti kita diabaikan dan tidak dihormati," ujar Guarnotta.

"Pada kenyataannya, anak tersebut sedang mengungkapkan kebutuhannya bakal ruang. Anak mungkin merasakan, 'Saat ini saya sudah mencapai pemisah keahlian saya, dan saya memerlukan ruang yang kondusif untuk memproses emosi besar'," lanjutnya.

6. "Lihat ini!"

Kalimat ini biasanya menjadi ucapan yang sering disampaikan anak ke orang tuanya. Mereka mengatakannya tanpa bermaksud untuk mengganggu. Kalimat ini biasanya disampaikan untuk meminta pengakuan, Bunda.

"Memang bisa membikin frustrasi ketika anak meminta perhatian terlalu sering. Tetapi anak tidak bermaksud mengganggu. Mereka mencoba memberi tahu kita bahwa mereka bangga pada diri sendiri, dan mereka mau mendapatkan pengakuan bahwa kita juga menghargai apa yang mereka lakukan," ungkap Guarnotta.

7. "Aku bisa melakukannya sendiri!"

Guarnotta sering mendengar ungkapan ini dari orang tua ketika mereka menggambarkan anak-anak mereka sedang mencoba menunjukkan kemandirian. Kalimat ini semestinya bisa dimaknai dengan arti yang positif, bukan sesuatu yang buruk.

"Sebagai orang tua, mungkin terasa seperti anak mencoba bersikap susah alias keras kepala, tetapi sebenarnya yang mau mereka sampaikan adalah 'Saya sedang mencoba menemukan identitas saya sendiri'. Itu adalah langkah mereka mengeksplorasi gimana rasanya mempunyai kendali dalam lingkungan yang aman," katanya.

8. "Aku bosan"

Kalimat ini sebenarnya menjadi salah satu ucapan yang sangat ditakuti orang tua. Kalimat ini membikin orang tua frustrasi lantaran terasa seperti anaknya kurang rasa terima kasih.

Kalimat ini bisa terasa memicu emosi jika Bunda mempunyai rumah penuh dengan mainan yang dibeli untuk memuaskan kemauan anak. Namun, banyak orang tua tidak tahu, anak mengatakan kalimat ini lantaran mereka menginginkan perihal yang lebih dari sekedar mainan.

"Kenyataannya, sering kali anak-anak mencari kedekatan dengan orang tua. Mereka menginginkan waktu berbobot dan perhatian penuh, bukan lebih banyak barang," ujar Guarnotta.

9. "Aku tidak mau tidur"

Waktu tidur bisa menjadi momen yang sangat susah bagi orang tua dan anak-anak. Orang dewasa mendambakan waktu berdua saja, sementara anak-anak menginginkan lebih banyak kedekatan dengan orang tuanya.

"Sekilas, kalimat ini terdengar seperti anak yang menolak aturan. Tetapi bagi sebagian anak, waktu malam hari bisa menakutkan dan penuh kecemasan. Anak-anak mungkin merasa gugup untuk tidur dan sendirian, dan sebagai akibatnya, mencoba menunda waktu tidur dengan menyangkal bahwa mereka lelah," kata Guarnotta.

Itulah ucapan anak yang rupanya berarti lain menurut psikolog. Semoga info ini berfaedah ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/fir)

Selengkapnya