Kisah Pasutri Pasrah Didiagnosis Tak Bisa Punya Anak Berujung Dapatkan Kembar 3

Jul 12, 2026 02:00 PM - 12 jam yang lalu 549

Jakarta -

Perjalanan mendapatkan Si Kecil sering kali penuh kejutan. Ada pasangan yang kudu menunggu lama, menjalani beragam pemeriksaan, hingga menerima berita yang membikin hati mereka sedih.

Hal tersebut dialami oleh Marina dan Bishoy Salib, pasangan asal Inggris yang sempat diberi tahu bahwa mereka kemungkinan besar susah mempunyai anak secara alami.

Marina dan Bishoy Salib mengetahui pada tahun 2024 bahwa, berasas tes yang mengukur jumlah sel telur, mereka kemungkinan besar 'tidak bakal pernah' bisa mempunyai anak berbareng sesuatu yang sangat diinginkan pasangan yang tinggal di Peacehaven ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Namun, pada akhir tahun 2025, mereka menyambut bukan satu, tetapi tiga anak, yang oleh Bishoy, 33, disebut pasangan itu sebagai 'keajaiban kami'. Berikut kisahnya dikutip dari People.

Marina didiagnosis susah mengandung lantaran persediaan sel telur rendah

Sebelumnya, Marina dan Bishoy sangat mau mempunyai anak. Setelah beberapa waktu mencoba mendapatkan momongan, Marina menjalani pemeriksaan kesehatan untuk mengetahui kondisi kesuburannya.

Hasil pemeriksaan menunjukkan Marina mempunyai kadar AMH (anti-müllerian hormone) yang rendah, yang berangkaian dengan persediaan sel telur. Dokter kemudian menyampaikan bahwa kesempatan Marina untuk mengandung secara alami sangat kecil.

"Ketika kami pergi menemui spesialis, dia mengatakan kepadanya bahwa tidak ada langkah baginya untuk hamil," kenang Bishoy.

Kabar tersebut membikin keduanya merasa sedih. Tetapi Bishoy tidak pernah menyerah. Ia percaya bahwa istrinya bakal hamil. 

Mereka apalagi sempat disarankan mempertimbangkan donor sel telur sebagai salah satu pilihan untuk mempunyai anak. Namun, pilihan tersebut tidak sesuai dengan kepercayaan yang mereka pegang. 

Tetap percaya dan tidak menyerah menanti Si Kecil

Meski mendapat pemeriksaan yang berat, Marina dan Bishoy tetap berupaya mempertahankan harapan. Keduanya percaya bahwa perjalanan mempunyai family bisa mempunyai jalan yang tidak terduga.

Beberapa bulan kemudian, sesuatu yang tidak mereka sangka terjadi. Pada Mei 2025, Marina melakukan tes kehamilan dan mendapatkan hasil positif.

Kabar tersebut membikin mereka terkejut lantaran sebelumnya Marina diberi tahu kemungkinan mengandung sangat kecil. Bahkan, Marina melakukan tes beberapa kali untuk memastikan hasilnya.

“Ketika tesnya positif, Marina sangat terkejut, dia apalagi tidak bisa berdiri, dia gemetar. Dia tidak tahu kudu berbicara apa, matanya berbinar-binar dan dia tertawa bersamaan,” kata suaminya. 

“Dia melakukan tes setidaknya lima kali, hanya untuk memastikan bahwa dia hamil, sebelum menelepon saya dan memberi tahu saya tentang perihal itu,” tambahnya.

Kejutan bertambah, rupanya mengandung kembar 3

Kebahagiaan pasangan ini semakin besar saat pemeriksaan USG menunjukkan bahwa Marina tidak hanya mengandung satu bayi. Dokter menemukan ada tiga janin dalam kandungan Marina. Pasangan ini akhirnya mengetahui bahwa mereka bakal menjadi orang tua dari bayi kembar tiga.

Ketiga bayi tersebut kemudian lahir dengan selamat. Mereka diberi nama Miracle, Levi, dan Suriel. Bagi Marina dan Bishoy, kehadiran ketiga anak itu menjadi momen yang sangat berfaedah setelah perjalanan panjang yang mereka lalui.

Kisah Marina dan Bishoy menunjukkan bahwa setiap perjalanan mendapatkan anak bisa berbeda-beda. Ada pasangan yang langsung mendapatkan kehamilan, tetapi ada juga yang memerlukan waktu dan perjuangan lebih panjang.

Meski begitu, kondisi kesuburan setiap orang tetap perlu dipahami dengan pemeriksaan medis. Diagnosis kesuburan bukan hanya berasas satu aspek saja dan setiap pasangan memerlukan pendampingan sesuai kondisi masing-masing.

Perjalanan Marina menjadi pengingat bahwa angan bisa datang di waktu yang tidak terduga. Setelah lama menanti satu si kecil, mereka justru dikaruniai tiga buah hati sekaligus.

Kaitan AMH dan potensi kehamilan

Menurut Cleveland Clinic, tes AMH dapat memberikan wawasan tentang kesehatan reproduksi wanita, kadar hormon yang tinggi sesuai dengan jumlah sel telur yang lebih tinggi dan persediaan ovarium yang lebih tinggi, sedangkan kadar yang lebih rendah menunjukkan sebaliknya. Namun, lembaga nirlaba medis tersebut menjelaskan bahwa meskipun tes tersebut mengenai dengan jumlah sel telur, bukan memprediksi kesuburan.

Selain itu, studi fertilitas besar juga menunjukkan bahwa meski kesempatan menurun pada kondisi tertentu, kehamilan tetap dapat terjadi selama tetap ada kegiatan ovulasi dan kondisi reproduksi memungkinkan.

Kisah Marina dan Bishoy menunjukkan bahwa pemeriksaan kesuburan bukanlah vonis akhir. Banyak aspek yang memengaruhi kehamilan, dan setiap pasangan mempunyai perjalanan yang berbeda.

Namun secara medis, krusial untuk dipahami bahwa:

  • AMH bukan penentu absolut ketidaksuburan
  • Evaluasi kesuburan kudu menyeluruh (bukan hanya satu hormon)
  • Konsultasi dengan master tetap menjadi langkah krusial dalam program hamil

Perjalanan mereka menjadi pengingat bahwa angan bisa datang di waktu yang tidak terduga, apalagi setelah sempat dinyatakan susah mempunyai anak.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Selengkapnya