hukum puasa saat maulid nabi – Grameds, norma puasa Maulid Nabi sering kali mengundang tanda tanya di kalangan umat Islam yang mengisi momen kelahiran Rasulullah SAW dengan ibadah mendalam.
Di tengah semarak kemandang selawat dan majils ilmu, tak sedikit yang memilih menahan lapar serta dahaga, namun, apakah berpuasa tepat di hari berhistoris ini memang diajarkan, alias justru berisiko salah kaprah?
Apakah ada niat unik yang disyariatkan, ataukah kita cukup mengandalkan puasa sunnah yang sudah ada? Daripada ragu dan terjeba dalam ibadah tanpa tuntunan, yuk bedah norma serta patokan mainnya agar niat muliamu berbuah pahala yang sah!
Hukum Puasa Saat Maulid Nabi
Pada dasarnya, nggak ada puasa unik yang ditetapkan secara unik untuk tanggal Maulid Nabi. Jadi, seseorang nggak bisa menganggap bahwa berpuasa pada tanggal tertentu di bulan Rabiul Awal otomatis menjadi puasa sunnah unik Maulid Nabi.
Namun, seseorang tetap boleh berpuasa andaikan puasanya mempunyai dasar sebagai puasa sunnah yang memang dianjurkan, misalnya puasa Senin-Kamis alias puasa sunnah lainnya. Puasa Senin dan Kamis sendiri termasuk puasa sunnah yang dianjurkan.
Dengan demikian, norma puasa saat Maulid Nabi dapat menjadi sunnah andaikan dilakukan dengan niat puasa sunnah yang mempunyai dasar syariat, bukan lantaran meyakini adanya tanggungjawab alias puasa unik Maulid.
Apakah Ada Puasa Khusus Maulid Nabi?
Sampai pada pembahasan yang umum digunakan dalam fikih, nggak ada ketentuan bahwa umat Islam kudu melakukan puasa unik pada tanggal kelahiran Nabi Muhammad saw.
Peringatan Maulid sendiri biasanya diisi dengan ibadah seperti zikir, selawat, membaca Al-Qur’an, tausiah, silaturahmi, dan sedekah.
Karena itu, andaikan mau berpuasa saat Maulid, sebaiknya niatnya dikaitkan dengan puasa sunnah yang memang mempunyai landasan, bukan membikin jenis puasa baru dengan nama puasa Maulid.
Puasa Maulid Nabi Jika Bertepatan dengan Hari Senin
Ini menjadi salah satu kondisi yang menarik. Hari kelahiran Nabi Muhammad saw. disebutkan berangkaian dengan hari Senin. Ketika Rasulullah saw. ditanya mengenai puasa hari Senin, beliau menjelaskan:
Itu adalah hari saya dilahirkan, hari saya diutus, alias hari diturunkannya wahyu kepadaku.” (HR Muslim).
Artinya, puasa Senin mempunyai dasar sebagai puasa sunnah, dan salah satu keutamaannya berangkaian dengan hari kelahiran Rasulullah saw.
Niat Puasa Saat Maulid Nabi
Jika Maulid Nabi bertepatan dengan hari Senin dan seseorang mau menjalankan puasa Senin, niat yang digunakan adalah niat puasa sunnah Senin, bukan niat unik “puasa Maulid”.
Lafal niatnya:
Nawaitu shauma yaumil itsnaini lillâhi ta‘âlâ.
Artinya: “Aku beriktikad puasa sunnah hari Senin lantaran Allah SWT.”
Bagaimana Jika Maulid Nabi Jatuh pada Hari Kamis?
Kalau peringatan Maulid bertepatan dengan hari Kamis, seseorang juga bisa menjalankan puasa Kamis. Puasa Kamis merupakan bagian dari puasa Senin-Kamis yang termasuk puasa sunnah.
Rasulullah saw. diketahui menjaga puasa Senin dan Kamis. Dalam sebuah sabda disebutkan:
Artinya: “Nabi ? selalu menjaga puasa Senin dan Kamis.” (HR Tirmidzi dan Ahmad).
Jadi, andaikan tanggal Maulid bertepatan dengan Kamis, puasa dapat dilakukan dengan niat puasa sunnah Kamis.
Puasa Saat Maulid Nabi Berdasarkan Niatnya
| Niat Puasa | Hukum | Keterangan |
| Puasa Senin | Sunnah | Dilakukan lantaran mengikuti rekomendasi puasa hari Senin. |
| Puasa Kamis | Sunnah | Dilakukan sebagai puasa sunnah Kamis. |
| Puasa Ayyamul Bidh | Sunnah | Dilakukan pada tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriah. |
| Puasa Daud | Sunnah | Dilakukan secara berselang-seling, satu hari puasa dan satu hari berbuka. |
| Puasa dengan kepercayaan ada puasa unik Maulid | Tidak mempunyai ketentuan khusus | Nggak ada ketetapan umum tentang puasa unik pada tanggal Maulid. |
Keutamaan Puasa Senin dan Kamis
Puasa Senin dan Kamis bukan hanya dilakukan lantaran bertepatan dengan momen tertentu. Keduanya memang termasuk puasa sunnah yang dianjurkan.
- Mengikuti kebiasaan Rasulullah.
Nabi Muhammad saw. dikenal menjaga puasa pada hari Senin dan Kamis.
- Hari penyetoran amal.
Dalam sabda disebutkan bahwa kebaikan manusia disampaikan pada hari Senin dan Kamis.
- Menjadi sarana meningkatkan ibadah.
Puasa dapat menjadi salah satu langkah untuk melatih diri dalam menjalankan ibadah sunnah secara rutin.
- Memanfaatkan momen Maulid untuk beribadah.
Jika bertepatan dengan Senin alias Kamis, seseorang dapat menggabungkan momentum tersebut dengan menjalankan puasa sunnah yang memang dianjurkan.
Amalan Lain Saat Maulid Nabi
Selain puasa, ada banyak ibadah yang dapat dilakukan ketika memperingati Maulid Nabi. NU Online menyebut beberapa kegiatan seperti zikir, selawat, membaca Al-Qur’an, tausiah, silaturahmi, dan berbagi makanan sebagai corak kegiatan yang dapat dilakukan dalam momentum Maulid.
Beberapa di antaranya yaitu:
- Membaca selawat.
Mengisi waktu dengan memperbanyak selawat kepada Nabi Muhammad saw.
- Membaca Al-Qur’an.
Menjadikan momentum Maulid sebagai kesempatan untuk meningkatkan hubungan dengan Al-Qur’an.
- Mempelajari sirah Nabi.
Mengenal kehidupan, perjuangan, dan adab Rasulullah saw.
- Bersedekah.
Berbagi makanan alias memberikan support kepada orang yang membutuhkan.
- Mengikuti kajian.
Mendengarkan tausiah mengenai kehidupan dan keteladanan Nabi Muhammad saw.
- Mempererat silaturahmi.
Berkumpul berbareng keluarga, tetangga, alias masyarakat dalam kegiatan yang positif.
Apakah Puasa Saat Maulid Nabi Mendapat Pahala?
Jika puasa dilakukan sebagai puasa sunnah yang memang dianjurkan, seperti puasa Senin alias Kamis, maka puasa tersebut termasuk ibadah sunnah.
Puasa Senin-Kamis dihukumi sunnah, sehingga orang yang mengerjakannya mendapatkan pahala dan orang yang meninggalkannya nggak berdosa.
Yang perlu diperhatikan adalah niatnya. Jangan sampai seseorang menganggap bahwa ada tanggungjawab alias ketentuan unik untuk berpuasa tepat pada tanggal Maulid, padahal dasar puasa yang dilakukan sebenarnya berasal dari jenis puasa sunnah lainnya.
Apakah Boleh Puasa di Tanggal Maulid Nabi?
Boleh saja berpuasa pada tanggal Maulid Nabi selama puasa tersebut dilakukan berasas jenis puasa yang memang disyariatkan. Nggak ada larangan unik untuk berpuasa hanya lantaran tanggal tersebut bertepatan dengan peringatan Maulid.
Yang perlu diperhatikan adalah jangan meyakini bahwa tanggal Maulid mempunyai puasa unik yang diwajibkan alias mempunyai ketentuan tersendiri tanpa dasar syariat.
Hukum Puasa Jika Maulid Bertepatan dengan Hari Senin
Jika tanggal Maulid Nabi bertepatan dengan hari Senin, seseorang dapat menjalankan puasa Senin sebagai puasa sunnah. Hal ini mempunyai dasar dari sabda tentang argumen Rasulullah saw. berpuasa pada hari Senin.
????? ?????? ???????? ?????
Artinya: “Itu adalah hari saya dilahirkan.” (HR Muslim).
Hadis tersebut menunjukkan bahwa hari Senin mempunyai kaitan dengan kelahiran Nabi Muhammad saw. sehingga puasa Senin dapat menjadi salah satu ibadah yang dilakukan pada hari tersebut.
Hukum Puasa Jika Maulid Bertepatan dengan Hari Jumat
Jika Maulid Nabi jatuh pada hari Jumat, perlu memperhatikan ketentuan puasa sunnah pada hari Jumat. Dalam hadis, Rasulullah saw. melarang mengkhususkan hari Jumat untuk berpuasa tanpa disertai puasa pada hari sebelum alias sesudahnya.
Karena itu, jika mau menjalankan puasa sunnah yang bertepatan dengan Jumat, dapat mempertimbangkan untuk menyertakannya dengan puasa Kamis alias Sabtu sesuai jenis puasa yang dilakukan.
Apakah Puasa Maulid Termasuk Bidah?
Istilah “puasa Maulid” perlu dibedakan dari puasa sunnah yang kebetulan dilakukan pada tanggal Maulid. Jika seseorang berpuasa dengan niat puasa Senin, Kamis, Ayyamul Bidh, alias puasa sunnah lainnya, maka dasar ibadahnya adalah jenis puasa tersebut.
Sementara itu, membikin kepercayaan bahwa terdapat puasa unik Maulid dengan ketentuan tertentu memerlukan dalil. Karena itu, krusial untuk membedakan antara melakukan puasa sunnah pada hari Maulid dan menetapkan jenis ibadah baru dengan nama puasa Maulid.
Niat Puasa yang Tepat Saat Maulid Nabi
Niat puasa mengikuti jenis puasa yang mau dilakukan. Misalnya, jika Maulid Nabi bertepatan dengan Senin, niatnya adalah niat puasa Senin.
???????? ?????? ?????? ???????????? ??????? ????????
Nawaitu shauma yaumil itsnaini lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku beriktikad puasa sunnah hari Senin lantaran Allah Ta’ala.”
Dengan demikian, nggak perlu membikin lafaz niat unik dengan nama “puasa Maulid Nabi”.
Perbedaan Puasa Sunnah dan Puasa Khusus Maulid
| Aspek | Puasa Sunnah | Puasa Khusus Maulid |
| Dasar | Memiliki dasar dalam aliran Islam | Nggak ada ketentuan umum unik Maulid |
| Contoh | Senin-Kamis, Ayyamul Bidh, Daud | Puasa dengan niat unik memperingati Maulid |
| Niat | Mengikuti jenis puasa sunnah | Menganggap Maulid sebagai jenis puasa tersendiri |
| Pelaksanaan | Mengikuti ketentuan puasa yang berlaku | Nggak mempunyai tata langkah unik yang ditetapkan |
| Tujuan | Menjalankan ibadah sunnah | Memperingati Maulid dengan puasa khusus |
Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Puasa di Hari Maulid
Ada beberapa perihal yang sebaiknya diperhatikan agar ibadah tetap sesuai dengan jenis puasa yang dilakukan.
- Perhatikan jenis puasanya.
Pastikan mengetahui apakah yang dilakukan merupakan puasa Senin-Kamis, Ayyamul Bidh, Daud, alias puasa sunnah lainnya.
- Perhatikan niat.
Niat disesuaikan dengan jenis puasa yang dijalankan.
- Perhatikan kondisi tubuh.
Jangan memaksakan diri jika kondisi bentuk nggak memungkinkan untuk berpuasa.
- Tetap jalankan ibadah lain.
Puasa dapat dilengkapi dengan membaca Al-Qur’an, selawat, zikir, dan ibadah lainnya.
- Jangan menganggapnya sebagai kewajiban.
Puasa sunnah tetap berbeda dengan puasa wajib seperti Ramadan.
Apakah Puasa Saat Maulid Wajib?
Puasa saat Maulid Nabi nggak wajib. Puasa wajib dalam Islam mempunyai ketentuan tersendiri, seperti puasa Ramadan dan puasa nazar dalam kondisi tertentu.
Jika seseorang mau berpuasa pada hari Maulid, puasa tersebut dapat dilakukan sebagai puasa sunnah yang mempunyai dasar. Jadi, nggak berpuasa pada hari Maulid juga nggak membikin seseorang berdosa hanya lantaran nggak menjalankan “puasa Maulid”.
Tips Memilih Amalan Saat Maulid Nabi
Peringatan Maulid Nabi nggak kudu diisi dengan satu jenis ibadah saja. Ada beragam kegiatan yang dapat dilakukan sesuai kemampuan.
- Perbanyak selawat.
Membaca selawat dapat menjadi bagian dari kegiatan Maulid.
- Pelajari sirah Nabi.
Mengenal kehidupan Rasulullah dapat membantu memahami keteladanan beliau.
- Bersedekah.
Berbagi kepada orang lain dapat menjadi corak kepedulian sosial.
- Membaca Al-Qur’an.
Mengisi waktu dengan membaca dan memahami Al-Qur’an.
- Mengikuti kajian.
Mendengarkan pidato dapat menambah pemahaman mengenai kehidupan Rasulullah.
- Memperbaiki akhlak.
Keteladanan Nabi dapat diterapkan melalui perilaku sehari-hari.
Kesimpulan
Jadi, norma puasa saat Maulid Nabi pada dasarnya berjuntai pada jenis dan niat puasanya, Grameds. Nggak ada ketentuan umum mengenai puasa unik yang wajib alias secara unik ditetapkan untuk memperingati Maulid Nabi.
Jika Maulid Nabi bertepatan dengan hari Senin alias Kamis, umat Islam dapat menjalankan puasa sunnah Senin alias Kamis. Puasa Senin apalagi mempunyai keterkaitan dengan hari kelahiran Rasulullah saw., sebagaimana dijelaskan dalam sabda riwayat Muslim.
Rekomendasi Buku Terkait
Komik 25 Nabi & Rasul


Komik ini mengisahkan perjalanan hidup 25 Nabi dan Rasul yang disebutkan dalam Al-Qur’an, mulai dari Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW. Nggak hanya membahas mukjizat, kisah-kisah di dalamnya juga menampilkan keteladanan akhlak, kesabaran, keteguhan, dan perjuangan para nabi dalam menghadapi beragam ujian dari Allah SWT. Disusun berasas sumber yang sahih, kitab ini datang dalam format komik full color sehingga lebih menarik untuk dibaca, sekaligus dilengkapi silsilah para nabi dan bingkisan angan Nabi dan Rasul dalam Al-Qur’an.
Nabi Ulul Azmi: Nabi Nuh AS Tenggelamnya Kaum yang Durhaka Kepada Allah


Nabi Nuh AS terus membujuk kaumnya untuk menyembah Allah SWT dan meninggalkan perbuatan yang menyimpang. Namun, dakwahnya justru mendapat penolakan, hinaan, dan ejekan. Meski begitu, Nabi Nuh AS tetap sabar berceramah selama ratusan tahun. Hingga akhirnya, Allah SWT memerintahkannya untuk membikin sebuah perahu besar sebagai persiapan menghadapi banjir luar biasa yang bakal menimpa kaum yang durhaka. Mengapa Allah SWT memerintahkan Nabi Nuh AS membikin perahu? Siapa saja yang bakal diselamatkan dari banjir tersebut? Yuk, ikuti kisah perjuangan dan keteguhan Nabi Nuh AS selengkapnya dalam kitab ini.
Kisah Menakjubkan Nabi Muhammad


Buku ini mengisahkan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul Allah SWT yang menjadi teladan bagi seluruh umat manusia. Kisahnya dimulai sejak masa sebelum kelahirannya, kehidupan di masa jahiliah, masa kanak-kanak dan remaja, hingga turunnya wahyu pertama serta perjuangannya dalam menyebarkan aliran Islam sampai akhir hayat. Disusun berasas Al-Qur’an dan sabda dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami anak-anak, kitab ini menghadirkan kisah penuh hikmah tentang kesabaran, kasih sayang, keteguhan, dan adab mulia Nabi Muhammad SAW. Dilengkapi ilustrasi menarik, kitab ini cocok menjadi sarana bagi anak, remaja, maupun orang tua untuk mengenal dan meneladani kehidupan Rasulullah SAW.