Indonesia saat ini menempati posisi kelima sebagai negara dengan populasi glukosuria terbesar di dunia. Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan, ada 26 juta masyarakat dewasa hidup dengan diabetes, namun sistem kesehatan nasional baru sukses mendeteksi sekitar 15 juta kasus. Diperkirakan jumlah penderita bakal melampaui 23 juta jiwa pada tahun 2030.
Kesenjangan diagnostik ini menciptakan kejadian "gunung es" yang berbahaya, di mana jutaan perseorangan berisiko mengalami komplikasi rawan diabetes, termasuk komplikasi mikrovaskular yang menakut-nakuti penglihatan, melalui Retinopati Diabetik.
Sebuah studi populasi di Yogyakarta mengungkapkan prevalensi Retinopati Diabetik sebesar 43,1% di antara pasien diabetes. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata dunia sebesar 35,4%. Tanpa intervensi sistematis, kerugian ekonomi akibat penurunan kualitas hidup (Quality Adjusted Life Years Lost) di Indonesia diproyeksikan dapat mencapai Rp 84,7 triliun.
Faktor Menyedihkan Retinopati Diabetik
Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD, K-EMD (Ketua Umum PERKENI) dalam acara Forum Jurnalis Kesehatan yang diadakan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Roche Indonesia pada 20 Juli 2026 mengatakan, pemicu komplikasi glukosuria tadalah gula darah yang tidak terkendali dengan baik sehingga membikin kerusakan terus berjalan.
"Sayangnya, glukosuria ini tidak datang sendiri, dia membawa 'teman-temannya' seperti kolesterol, obesitas, dan hipertensi yang memperparah kerusakan pembuluh darah, sehingga memicu Retinopati Diabetik pada mata, dan komplikasi lainnya. Khusus untuk mencegah Retinopati Diabetik, pasien glukosuria wajib mengendalikan gula darahnya sedini mungkin. Pemeriksaan lebih awal justru krusial demi menjaga kualitas hidup pasien dan menunjukkan rasa sayang kita pada family melalui peningkatan awareness serta support system yang kuat," jelas dr. Em Yunir.
dr. Muhammad Bayu Sasongko, M.Epi, Ph.D., Sp.M. dari UGM menambahkan, meskipun merupakan komplikasi yang paling sering dijumpai, Retinopati Diabetik ironisnya menjadi rumor kesehatan yang paling jarang dibahas. Akibatnya, muncul normalisasi yang kurang pas di tengah masyarakat bahwa gangguan kegunaan penglihatan di usia tua akibat glukosuria dianggap sebagai sesuatu yang wajar, padahal kebutaan ini sebenarnya sangat bisa dicegah.
"Kita kudu ingat bahwa 85 persen info harian kita ditangkap secara visual, sehingga hilangnya keahlian memandang tidak hanya menurunkan kualitas hidup penderita secara drastis, tetapi juga menjadi beban psikologis dan bentuk bagi family yang merawatnya. Kerusakan pembuluh darah di belakang bola mata ini terjadi secara berjenjang dan membikin sebagian besar pasien sama sekali tidak menyadari ancamannya dalam lima tahun pertama diabetes. Di sinilah media memegang peran yang sangat krusial. Kami membujuk rekan-rekan wartawan untuk bersama-sama mendobrak normalisasi ini dan terus menyuarakan pentingnya penemuan dini, agar masyarakat tidak lagi takut alias menunda skrining mata untuk mempertahankan aset penglihatan mereka," papar Prof. Bayu.
Diabetic Retinopathy Initiatives (DRIVE)
Untuk mengatasi masalah dan halangan penanganan Retinopati Diabetik, dibentuk konsorsium Diabetic Retinopathy Initiatives (DRIVE) yang terdiri dari beragam pemangku kepentingan diantaranya akademisi, tenaga kesehatan, dan industri farmasi yang berkontribusi sesuai bagian keilmuannya dalam mempersiapkan dan mengimplementasikan studi.
Tujuan utama dari kemitraan ini adalah membangun proyek percontohan (pilot project) tele-ophthalmology komprehensif dari hulu ke hilir untuk menjembatani kesenjangan infrastruktur, termasuk kurangnya kesiapan tenaga kesehatan mata, di mana saat ini Indonesia rata-rata hanya mempunyai 1 master ahli mata per 116.961 penduduk.
Dengan menempatkan kamera retina (fundus camera) serta melatih master umum dan perawat di akomodasi kesehatan primer (Puskesmas), konsorsium ini berupaya untuk menemukan "kasus tersembunyi" secara sistematis dan menghasilkan bukti ilmiah yang kuat untuk selanjutnya menjadi landasan pembuatan kebijakan Pemerintah.
Inisiatif ini secara langsung mendukung tercapainya sasaran Peta Jalan Upaya Kesehatan Penglihatan 2025-2030 dari Kemenkes RI, ialah menargetkan penurunan gangguan penglihatan sebesar 25% dengan memastikan minimal 80% perseorangan penderita glukosuria menjalani skrining retina berkala, dan 60% dari mereka yang terdeteksi VTDR mendapatkan akses pengobatan yang tepat. Studi yang dilaksanakan oleh para personil Konsorsium DRIVE diharapkan dapat memberikan pembelajaran dan bukti empiris yang dapat digunakan oleh pemangku kebijakan dalam penerapan skala nasional nantinya.
Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, Direktur P2PTM, Kementerian Kesehatan) menyambut baik konsorsium DRIVE ini lantaran sejalan dengan misi Kementerian Kesehatan. "Pemerintah berkomitmen tidak hanya mengendalikan diabetes, tetapi juga mencegah komplikasi turunannya secara menyeluruh. Melalui program CKG, masyarakat sudah bisa memeriksakan gula darah secara berkala. Dan kami sedang mengintegrasikan jasa agar pasien glukosuria melitus (DM) juga bisa melakukan skrining retina di Puskesmas demi memperluas akses penemuan dini. Kami membujuk rekan-rekan media untuk mendorong masyarakat Indonesia memanfaatkan program jasa CKG, dan bersama-sama mendorong masyarakat Indonesia agar lebih peduli untuk memeriksakan kesehatannya sejak dini."
Lucia Erniawati, Direktur Akses, Komunikasi dan Penguatan Sistem Kesehatan Roche Indonesia, menyatakan, "Kami bekerja erat dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk para nakes dan pemerintah, untuk memperkuat alur skrining dan rujukan yang krusial bagi penemuan awal penyakit mata akibat diabetes. Dengan membangun proyek percontohan tele-ophthalmology komprehensif ini, kami memastikan bahwa pasien mendapatkan pengobatan untuk menyelamatkan penglihatan mereka secara tepat waktu, dan memastikan sistem kesehatan kita siap menghadapi beban penyakit di masa depan."
English (US) ·
Indonesian (ID) ·