Empat tahun menjalani peran sebagai single mom, Alexandria Jessie mulai memahami satu perihal penting: memastikan anak baik-baik saja bukan berfaedah kudu melupakan diri sendiri.
Ditinggal suami dalam waktu yang begitu sigap tentu bukan perkara mudah bagi siapapun, termasuk bagi Alexandria Jessie. Namun, tahun demi tahun berlalu, ibu dari seorang putri yang berkawan disapa Alexa ini, semakin menemukan tujuan hidupnya yang paling hakiki: ialah mencapai ketenangan batin.
Bagi Alexa, ini bukan perjalanan singkat. Butuh waktu empat tahun untuk kembali menemukan dirinya. Saat membaca tulisan ini, mommies bakal menemukan sebuah refleksi dewasa dari seorang Alexa.
Dari mulai hidup berubah menjadi “survival mode” ketika sang suami berpulang, mengalami tantangan finansial di tengah duka yang belum selesai, ditambah muncul kekhawatiran dalam pengasuhan hingga akhirnya muncul kesadaran bakal inner child dan kebutuhan untuk menyembuhkan luka-luka batin.
Kecemasan Timbul Saat Suami Berpulang
“Kalau untuk Pipop, saya percaya dia sudah senang di surga. Tetapi saya akui, sepeninggalnya, saya resah memikirkan: gimana kehidupan anak saya kelak dan gimana saya bisa memastikan kami tetap baik-baik saja?” tutur Alexa.
Kecemasan tersebut membuatnya mulai memikirkan langkah survive, terutama dari sisi finansial. Alexa kemudian berkonsultasi dengan konsultan finansial dan dianjurkan mempunyai second job.
“Saya coba untuk menjadi pemasok asuransi. Tetapi dari segi waktu dan minat, rupanya saya kurang cocok. Akhirnya mundur, dan tetap memperkuat dengan mengelola Menimba Ilmu saja. Saya putuskan untuk hidup lebih frugal dan memberikan pengertian ke Ayi (anak semata wayangnya) bahwa pekerjaan saya seperti ini, namun kami punya waktu berbareng lebih banyak,” kisahnya.
Tantangan Terbesar Alexandria Jessie: Finansial dan Kehilangan Teman Bercerita
Bagi Alexa, tantangan terbesar pertama yang dia alami saat ditinggal sang suami adalah dalam perihal finansial.
“Saya akui saya tetap struggle soal finansial, dalam artian perencanaan dan pengelolaan kecukupannya hingga jangka panjang. Saking cemasnya, 50% dari pendapatan saya alokasikan untuk asuransi, mulai dari pendidikan, jiwa, sakit, dan masa kritis. Saya mau memastikan kehidupan anak saya aman,” tambah Alexa.

Foto: pengarsipan pribadi
Kedua, kehilangan kawan bercerita. “Dulu, semua-mua diomongin dengan Pipop. Ternyata, saat dia nggak ada, itu berat banget. Saya jadi bisa menghabiskan waktu dan daya untuk memikirkan sesuatu hal, lama untuk mengambil keputusan, lantaran ada ketakutan untuk salah, nggak percaya bisa ambil risiko; dan itu berat. Pipop adalah kawan bercerita yang nggak tergantikan. Apalagi, dia itu kawan main Ayi. Ibaratnya dulu itu, saya yang ngajar, Pipop yang ngajak main. Jadi sejak empat tahun lalu, saya juga belajar untuk bisa ngajak Ayi main juga,” kenangnya.
Dari “Harus Terus Produktif” Menjadi “Lebih Santai”
Sebelum kehilangan Pipop, dia adalah sosok yang sangat produktif dan pekerja keras. Rupanya, pola pikir tersebut sudah terbentuk sejak lama. “Ada pengaruh dari pola asuh orang tua juga, sehingga alam bawah sadar saya bilang bahwa hidup itu buat kerja. Jadilah saya terbentuk menjadi seorang achiever.
Kontrasnya, ketika ditinggal Pipop, saya dihantam pikiran lain: saya malas bekerja, buat apa kerja dan nabung susah payah, toh hidup hanya sebentar? Namun saya sadar bahwa hidup tetap kudu berjalan. Melalui banyak proses, saya akhirnya mencapai kesadaran untuk bisa bekerja lebih sehat tanpa terlalu ngoyo. Sisi baiknya, sekarang saya bisa lebih santuy sedikit,” lanjut Alexa.
Baca juga: Dewi Yullyanti: Single Mom Bukan Harus Kuat Terus
Belajar Mengurai Luka yang Selama Ini Direpresi
Kalau dulu konsentrasi utamanya adalah gimana memastikan Ayi baik-baik saja, sekarang ada satu perihal lain yang mulai menjadi prioritas Alexa: dirinya sendiri.
Kesadaran itu muncul ketika Alexa mengetahui dirinya mengalami beberapa masalah kesehatan, salah satunya gangguan tidur akibat kecemasan, dan sakit yang berulang.
Melalui banyak kelas dan retreat yang diikuti, dia kemudian belajar mengambil langkah mundur, tidak memaksakan diri melakukan semuanya sekaligus dan memberi waktu lebih panjang untuk menyelesaikan sesuatu.
“Saya mau lebih mengerti apa yang Tuhan mau di hidup saya sekarang. Kalau dulu konsentrasi utamanya adalah gimana saya memastikan Ayi baik-baik saja, sekarang ada satu perihal lain yang mulai menjadi prioritas: diri saya sendiri. Saya mau mencapai ketenangan batin,” paparnya.
“Saya mulai menyadari bahwa tetap ada bagian dari diri saya yang belum selesai dengan beragam luka masa lalu. Ada kemarahan dan emosi yang selama ini mungkin lebih sering ditekan daripada betul-betul dirasakan. Melalui banyak proses, saya baru sadar saya belum betul-betul pulih. Saya pikir saya sudah aman, rupanya saya tetap berduka, tetap punya inner child, banyak luka yang belum tergali.
Jadi saat ini saya juga tetap proses healing, perlahan mengurai luka masa mini dan emosi yang selama ini direpresi, dan ini memerlukan waktu yang panjang. Itulah kenapa mencapai ketenangan jiwa dan memperhatikan kesehatan mental menjadi prioritas saya sekarang.”
Punya Cita-cita Ingin Tinggal di Mana Saja dan Eksplor Dunia Seluas-luasanya
Menariknya, setelah melalui beragam perihal tersebut, kemauan yang muncul dalam dirinya bukan semata-mata soal pencapaian materi. Alexa justru membayangkan hidup yang lebih bebas, lebih menjelajah.

Foto: pengarsipan pribadi
“Kalau pengennya saya, nih, hidup di mana-mana, eksplor dunia. Beberapa bulan tinggal di Bali, pindah ke Yogya, lampau ke luar negeri, tinggal di wood cabin alias berkebun. Karena bumi itu terlalu luas untuk tinggal di satu tempat saja. Banyak perihal yang bisa dijelajah, banyak wawasan dan pengalaman yang bisa kita gali. Semoga ya, suatu hari nanti, hehehe,” minta Alexa.
Pesan Alexandria Jessie untuk Single Mom yang Baru Memulai Perjalanan
“Enggak usah buru-buru,” begitu pesannya kepada para single mom yang baru saja berada di posisi tersebut.
“Wajar jika menjadi single mom tiba-tiba panik, terutama soal finansial. Namun, tak semua langsung ada jawabannya. Kalau perlu ambil break satu-dua tahun, itu enggak apa-apa. Saya percaya bahwa Tuhan bakal selalu menyediakan, meski manusia sering kali belum tahu gimana caranya.
Satu perihal yang sekarang menjadi pengingat terpenting baginya dan mau dia bagikan kepada seluruh single mom: “Menjadi ibu tunggal memang berfaedah mencurahkan hidup untuk anak, tetapi bukan berfaedah kudu kehilangan diri sendiri. Jangan lupa untuk merawat diri sendiri, ya, mommies,” tutup Alexa.
Baca juga: Inspiring Single Mom: Rikha Rosalina. Awalnya Hancur, Endingnya Berdiri Tegak
Cover: pengarsipan pribadi Alexandria Jessie