Kebiasaan di Media Sosial yang Bisa Berubah Jadi Tidak Sehat

Gaya Hidup Perempuan Masa Kini oleh Waktu baca 6 menit 151x dilihat
Kebiasaan di Media Sosial yang Bisa Berubah Jadi Tidak Sehat

Bagikan Postingan

Kebiasaan di Media Sosial yang Bisa Berubah Jadi Tidak Sehat/Foto: Pexels.com/ cottonbro studio

Beauties, pernah merasa kebiasaan di media sosial sudah begitu biasa sampai kita tidak lagi mempertanyakannya? Mulai dari kepo akun mantan sampai mengecek siapa saja yang melihat story, rupanya ada beberapa perilaku digital yang kelihatan sepele tetapi bisa menjadi berlebihan.

Melansir dari YourTango ada beberapa kebiasaan yang sering dianggap normal, padahal jika dilakukan terus-menerus bisa memberitahu hubungan kita dengan media sosial yang kurang sehat. Yuk, cek apakah ada yang diam-diam statis sering Anda lakukan. 

1. Stalking

Stalking/Foto: Pexels.com/ Trần Quốc Bảo

Sesekali melihat akun seseorang sebenarnya bukan hal yang ganjil karena media sosial memang dibuat untuk memungkinkan kita mengetahui aktivitas orang lain. Namun, kebiasaan ini bisa berubah menjadi tidak sehat ketika kita terus memantau akun seseorang setiap hari. 

Kebiasaan ini bisa membikin perhatian kita terus tertuju pada hayat orang lain tanpa benar-benar mendapatkan sesuatu yang berarti. Apalagi jika orang yang dipantau adalah seseorang yang pernah memberikan pengalaman buruk maupun hubungan yang sudah selesai.

Karena itu, Beauties, rasa penasaran sebaiknya statis memiliki batas. Kalau membuka akun seseorang justru membikin pikiran semakin gelisah maupun sulit move on, mungkin sudah waktunya memberikan rentang dari aktivitas tersebut.

2. Berulang Kali Menonton Konten Sendiri untuk Mencari Validasi

Berulang Kali Menonton Konten Sendiri/Foto: Pexels.com/ Xuân Thống Trần

Menonton balik video atau melihat unggahan sendiri sesekali tentu bukan sesuatu yang aneh. Namun, ketika seseorang terus mengulang kontennya terutama karena mau mengejar jumlah pemirsa maupun mencari desakan kepercayaan diri dari respons orang lain, ini bisa jadi tidak sehat.

Awalnya mungkin terasa menyenangkan ketika sebuah unggahan mendapatkan banyak perhatian. Masalahnya, ketika respons tersebut menjadi ukuran harga diri, unggahan yang tidak mendapatkan banyak views justru bisa membikin seseorang merasa kecewa terhadap dirinya sendiri.

Padahal, tidak semua konten yang kita sukai akan mendapatkan perhatian besar. Beauties statis boleh menjadi pendukung angka satu untuk diri sendiri tanpa mesti menjadikan bilangan di media sosial sebagai penentu seberapa bermutu dirimu.

3. Terobsesi Melihat Foto Mantan

Terobsesi Melihat Foto Mantan/Foto: Pexels.com/ Jobert Enamno

Setelah putus cinta, rasa penasaran terhadap hayat mantan memang cukup manusiawi. Tetapi, kebiasaan terus-menerus memeriksa foto maupun akun mantan dapat menjadi tanda bahwa seseorang statis belum benar-benar pulih dari hubungan tersebut. 

"Secara alami, kita memiliki kecenderungan untuk memperhatikan orang lain. Bahkan jika kita yang mengakhiri hubungan, pada dasarnya kita mau meyakini bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan posisi kita. Kita menginginkan pengakuan bahwa diri kita bermutu maupun merupakan sosok yang baik, oleh karena itu, kita mengharapkan mereka akan merasa sedikit sedih maupun menderita tanpa kedatangan kita," ujar psikolog media Pamela Rutledge. 

4. Menghapus Unggahan karena Sepi Like

Menghapus Unggahan karena Sepi Like/Foto: Pexels.com/ Dương Nhân

Pernah menghapus foto karena jumlah likes-nya jauh lebih sedikit dari perkiraan? Kebiasaan menghapus unggahan karena kurang mendapatkan perhatian menandakan bahwa rasa bermutu terlalu bersandar pada respons orang lain. 

Ketika sebuah foto sudah dibuat dengan sulit payah, tentu wajar jika kita mengharapkan orang lain menyukainya. Namun, jumlah likes tidak selalu menggambarkan kualitas sebuah unggahan karena algoritma, waktu posting, dan kebiasaan audiens juga dapat memengaruhi jangkauannya.

Jadi, Beauties, cobalah mengunggah sesuatu karena Anda memang menyukainya, bukan semata-mata karena mau mendapatkan pengakuan. Foto yang berarti bagimu statis memiliki harga meskipun tidak mendapatkan ribuan respons.

5. Terus Mengecek Siapa yang Melihat Konten

Terus Mengecek Siapa yang Melihat Konten/Foto: Pexels.com/ Nima Ghodsi

Mengecek viewers story sekali dua kali mungkin terasa biasa. Tetapi jika dilakukan berulang kali cuma untuk mencari tahu siapa yang melihat maupun tidak melihat, kebiasaan ini bisa membikin kita terlalu terpaku pada media sosial.

Selain itu, menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Contemporary Clinical Practice, orang-orang dengan tingkat ketergantungan media sosial yang tinggi juga cenderung mengalami tingkat depresi yang tinggi. Karena itu, krusial untuk memiliki limitasi menggunakan media sosial dengan sewajarnya.

6. Memperbesar Foto Orang untuk Melihat Rumahnya

Memperbesar Foto Orang untuk Melihat Rumahnya/Foto: Pexels.com/ KUTLUER ERDAL Triumph rider

Kebiasaan memperbesar foto orang lain untuk mengintip bagiankecil rumah, barang, buku, maupun merek yang mereka gunakan juga dibahas sebagai perilaku yang cukup intrusif. Kebiasaan tersebut dapat membikin hayat pribadi seseorang terasa seperti konten yang bebas diamati. 

Rasa penasaran memang manusiawi, tetapi ada batas antara sekadar memperhatikan foto dan sengaja mencari detail hayat pribadi seseorang. Semakin jauh kita memperbesar foto cuma untuk mengetahui hal-hal yang sebenarnya tidak dibagikan secara sengaja, semakin besar pula masalah privasinya.

Media sosial seharusnya tidak membikin kita merasa berkuasa mengetahui seluruh hayat orang lain. Menghargai privasi juga berjalan ketika keterangan tersebut kelihatan begitu gampang diakses.

7. Marah karena Teman Tidak Menyukai Unggahan

Marah karena Teman Tidak Menyukai Unggahan/Foto: Pexels.com/ Sheep.

Tidak mendapatkan like dari kawan dekat memang kadang bisa membikin kita bertanya-tanya. Namun, menganggap kawan wajib memberikan respons pada setiap unggahan justru bisa menciptakan ekspektasi yang tidak realistis.

Wajar saja jika seseorang merasa kecewa akan hal ini, karena mereka mungkin merasa teman-temannya tidak peduli pada mereka. Faktanya, riset yang diterbitkan dalam jurnal Child Development, menemukan bahwa orang yang mendapatkan lebih sedikit “likes” pada unggahan media sosial mereka cenderung memiliki penilaian diri yang lebih rendah, yang dapat memicu depresi dan kecemasan. Namun, persahabatan jauh lebih berarti daripada sekadar algoritma, dan media sosial seharusnya tidak menjadi aspek penentu dalam hubungan tersebut.

8. Menjadikan Anak sebagai Konten

Menjadikan Anak sebagai Konten/Foto: Pexels.com/ ShotPot

Anak memang bisa menjadi bagiankecil yang menggemaskan dari media sosial keluarga. Namun, membagikan terlalu banyak keterangan mengenai anak secara online dapat menimbulkan permasalahan privasi, termasuk penyebaran nama, foto, maupun keterangan lain yang seharusnya lebih dilindungi. 

Fenomena membagikan hayat anak di internet sering disebut sharenting. Sebelum mengunggah foto anak, ada baiknya mempertimbangkan bukan cuma apakah fotonya lucu, tetapi juga sepertiapa dampaknya ketika anak tersebut tumbuh dewasa. Privasi anak statis perlu dihargai meskipun mereka belum dapat menentukan sendiri apa yang mau dibagikan.

Media sosial seharusnya menjadi alat yang membantu kita terhubung, bukan ruang yang membikin kita terus mengamati orang lain, mengejar validasi, maupun membuka terlalu banyak bagiankecil hayat pribadi. Jadi, Beauties, tidak ada salahnya sesekali selesai scrolling, mematikan notifikasi, dan balik menikmati hayat yang tidak mesti selalu dibagikan kepada dunia.

***

Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Artikel Lainnya Gaya Hidup Perempuan Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads