Kenapa Laki-Laki Seperti Luke di Dracin Early Spring Sebaiknya Tak Dinikahi

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 5 menit 520x dilihat
Kenapa Laki-Laki Seperti Luke di Dracin Early Spring Sebaiknya Tak Dinikahi

Bagikan Postingan

Ada yang mengikuti kisah Luke dan Flora di dracin Early Spring? Ikutan gemes juga? Sama. Bahkan menurut pandangan saya, Luke sebaiknya tidak dinikahi.

Yang lagi terLuke-Luke dan terFlora-Flora, sini kumpul! Pesona dracin Early Spring yang sekarang jadi no. 1 di Top 10 Netflix Indonesia (kabarnya di beragam negara juga) ini memang sepertinya nggak habis-habis untuk dibahas. 

Selama drama ini tayang, penonton pun terbagi dua. Ada yang jadi tim Flora, ada juga yang merapat ke tim Luke. Tim Luke sambat jika Flora, tuh, insecure banget. Jadi perempuan, kok, nggak punya pendirian. Ke sana iya, ke sini iya. Tak heran jika Luke jengkel dan memuntahkan kata-kata pedasnya. 

Tim Flora tentu saja memihak diri. Sebagai fresh graduate yang baru mulai kerja, wajar dia tetap kudu penyesuaian dengan lingkungan kantor. Baru masuk instansi baru, sudah ‘digoda’ pemimpin tampan pula. Sayangnya sang pemimpin bermulut lantam. Ngakunya pacar, tapi suka merendahkan secara verbal. Ya, terang saja Flora jadi susah terbuka. 

Ah, jika menurut saya, sih, dua-duanya bermasalah. Hahaha… Jujur saya sendiri gemas menontonnya. Rasanya mau masuk layar lampau menengahi mereka berdua. Pintar, nih, scriptwriternya mengaduk-aduk emosi penonton.

Terlepas dari bentrok romansa antar tenaga kerja agency periklanan ini, yang mau saya telaah kali ini adalah sikap Luke yang jika kata anak sekarang red flag. Untuk itu, lebih layak dijadikan pasangan HTS saja daripada dinikahi. Adik-adik waspada, ya. Karena menikah itu untuk seumur hidup.

Mulut pedas bak mie chili oil level 10

Photo by Youku

Sebenarnya punya pemimpin blak-blakan begini ada plus minusnya. Sebagai mantan tenaga kerja yang pernah punya bos seperti Luke (mulutnya aja yang sama, mukanya nggak), saya banyak belajar dan tentunya berkembang dengan sangat baik. Iya, lantaran dia jujur, meski kalimat-kalimatnya terasa pedih. 

Sayang dalam hubungan berpasangan, kalimat-kalimat jujur yang seringkali terasa pedas itu malah bisa merusak rasa percaya diri. Luke itu mulutnya ampun, ya. Apa nggak ada filternya? Menurut saya, dia tidak bisa membedakan lagi bicara dengan karyawan, alias lagi ngomong sama pasangannya. 

Di mana-mana wanita itu paling suka dimanja, disayang, dan dikasih validasi-validasi dengan kalimat-kalimat yang menenangkan. Lha, ini suka banget bilang, “Kamu, tuh, bodoh. Mudah dimanipulasi.” Bisa-bisanya ngatain pacarnya bodoh. Nanti jika sudah menikah, kosa kata lainnya juga bisa aja tumpah-tumpah. Yakin sanggup hidup sama laki-laki yang mulutnya lantam begini. Ingat menikah itu harapannya, kan, seumur hidup. Bahaya jika punya anak laki-laki mencontoh bapaknya.

Baca juga: Drama Cina yang Pas Ditonton Bareng Keluarga Saat Liburan

Gengsinya ketinggian, manipulatifnya kebangetan

Photo by Youku

Sudah tahu salah, kata maaf jarang banget terucap. Paling hanya dengan gestur tubuh, misalnya dengan pandangan mata yang sedikit (iya sedikit banget) meneduhkan. Buat kita-kita wanita yang butuh suami minta maaf meski kita nggak salah, Luke jelas bukan calon suami idaman. 

Bahkan saat berprasangka saja, Luke tetap pamor untuk mengakui. Ia merasa dirinyalah yang paling layak mendampingi Flora. Ya, gantengnya, ya, kayanya, ya semua-semuanya. Jadi ketika berprasangka terhadap laki-laki yang menurutnya berada di bawah levelnya, dia jadi gengsi. Padahal, mah, cemburu, ya, berprasangka aja. 

Luke selalu sukses memanipulasi Flora. Membuat Flora merasa bersalah hanya lantaran mau menenangkan kawan laki-lakinya yang sedang bersedih. Terkadang hal-hal yang tidak tersampaikan memang suka bikin salah paham. Luka lebih suka salah mengerti kayaknya, lampau mengeluarkan senjata andalannya, manipulasi. Jago banget ini orang. Jangankan dinikahi, dijadiin pacar aja menurut saya juga jangan, sih.

Komunikasinya jelek

Ya, itu tadi. Mungkin lantaran tumbuh di bawah didikan ayah yang keras, Luke jadi ikutan keras. Ia menyaksikan sungguh buruknya komunikasi antara ayahnya dengan ibunya. Ia bertumbuh kembang di bawah didikan ayah yang komunikasinya juga jelek. 

Jadi nggak heran, jika komunikasi Luke jelek juga. Luke seperti kurang bisa mengungkapkan isi hati yang sebenarnya, sehingga sering salah mengerti sendiri. Yang namanya berpasangan, tak bosan-bosannya pepatah mengatakan, “Kuncinya komunikasi!”

Sayangnya jika sudah punya karakter seperti ini dari kecil, bakal susah berubah. Kecuali dia mau memperbaiki sikap sungguh-sungguh, dengan langkah konsul ke psikolog misalnya. Soalnya wanita seorang, bakal sangat susah mengubah sifat seseorang hanya atas nama cinta. Seriusan. 

Baca juga: 5 Alasan Kenapa Drama Cina The Best Thing Baiknya Nggak Usah Ditonton

Cuma baik jika ada maunya

Pas nonton bagian dia melambaikan tangan dengan angkuhnya saat menyuruh Flora masuk mobil dengan anjingnya, aduh, rasanya mau saya krawuk itu muka.

Beneran. Arogan banget. Serasa paling ganteng. Iya, sih, Luke ganteng. Tapi jika saya jadi Flora yang digituin, sudah saya tinggal. Sorry, Flora jelek saja nggak. Masih bisa banget cari laki-laki lain yang bisa aja lebih ganteng, lebih kaya, tapi jauh lebih baik. Bhay, Luke!

Sementara jika ada maunya, Luke jadi baik banget. Physical touch-nya memang bisa bikin Flora meleleh dan melupakan sikap Luke yang nggilani ngeselinnya. Selain ganteng, tentu saja keahliannya dalam meramu sentuhan-sentuhan bentuk tak jarang bikin wanita mengampuni lagi, lagi, dan lagi. Tapi mau sampai kapan?

Itulah 4 argumen kenapa menurut saya, hubungan dengan laki-laki berbudi pekerti Luke di dracin Early Spring ini, hanya layak dijadikan hubungan HTS-an saja. Buat seru-seruan. Bukan buat diseriusin, apalagi sampai dinikahi. Kalau kalian bagaimana? 

Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads