Jakarta -
Mendampingi tumbuh kembang Si Kecil memang bukan hanya soal bentuk saja, tapi juga menyangkut sisi mental dan emosional mereka. Hal ini pun sekarang semakin jadi perhatian para ahli, Bunda.
Belakangan ini, asosiasi ahli pediatris ternama seperti American Academy of Pediatrics (AAP) mengulas kembali tentang pentingnya support untuk anak. Mereka memandang ada tantangan baru dalam perkembangan mental dan emosional pada anak.
Salah satu penulis laporan, Evelyn Berger-Jenkins, mengatakan bahwa perkembangan mental dan emosional tidak semestinya hanya jadi perhatian saat muncul masalah saja. Menurutnya, perihal ini krusial untuk perawatan anak sejak usia bayi hingga remaja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perkembangan mental dan emosional bukanlah sesuatu yang hanya perlu ditangani ketika muncul kekhawatiran alias ketika terjadi krisis," kata Evelyn, dikutip dari Parents.
"Ini adalah bagian inti dari perawatan anak-anak sejak bayi hingga remaja," lanjutnya.
Dari sini, Bunda pun bisa memandang bahwa kesehatan mental memang perlu dijaga sejak bayi. Berkaitan dengan ini, master dan terapis anak turut membahas mengenai perihal ini bagi orang tua.
Sorotan baru master anak dalam menjaga kesehatan mental Si Kecil
Dikutip dari laman Parents, laporan terbaru ini menyoroti peran master anak yang sekarang semakin luas dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Di sisi lain, laporan ini juga memandang beragam tantangan yang dihadapi anak-anak saat ini.
Mulai dari tekanan di lingkungan hingga perubahan yang ikut memengaruhi kondisi emosional mereka. Tak hanya itu saja, master anak juga menghadapi beberapa halangan dalam memberikan support kepada anak.
Karena itu, para master sekarang mulai memprioritaskan kesehatan mental dan emosional anak. Manajer kesehatan perilaku di Rumah Sakit Universitas Staten Island Northwell, Marie E. Briody, menjelaskan bahwa pendekatan ini memandang anak mulai dari kondisi fisik, emosi, hingga lingkungan sosialnya.
"Laporan ini mengusulkan model perawatan biopsikososial dengan mengintegrasikan komponen fisik, emosional, dan sosial dari kegunaan seorang anak," kata Briody.
"Model ini, sebagaimana bakal digunakan di praktik master anak, juga dapat mengatasi beberapa masalah akses, serta halangan sosial, budaya, dan stigma yang telah dicatat," lanjutnya.
Anak-anak sekarang menghadapi tantangan mental yang semakin besar
Laporan terbaru dari AAP mengawasi kondisi yang sedang banyak dialami anak-anak saat ini. Banyak orang tua mulai merasakan adanya peningkatan tantangan pada sisi mental dan emosional, terutama sejak masa pandemi.
Dalam laporan tersebut juga disebutkan bahwa kondisi ini sebenarnya sudah berjalan cukup lama. Namun, situasinya menjadi semakin serius dalam beberapa tahun terakhir.
Seorang master anak dari Tufts Medical Center, Sahar Rahim, juga memandang adanya peningkatan yang signifikan. Ia menyebut kondisi ini sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.
"Terjadi peningkatan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada jumlah anak yang mengalami masalah kesehatan mental dan emosional selama beberapa tahun terakhir," ujar dr. Rahim.
"Pandemi telah berakhir, tetapi krisis kesehatan mental belum," sambungnya.
Lebih lanjut, Marie E. Briody turut memberikan pandangannya mengenai perihal ini. Menurutnya, ada banyak aspek yang saling berangkaian di kembali kondisi ini. Mulai dari pengaruh media sosial hingga tekanan dalam keseharian.
"Ada banyak argumen untuk krisis ini, dan itu disebabkan oleh beberapa aspek sekaligus. Beberapa aspek tersebut meliputi, media sosial, tekanan sosial dan akademis, style hidup yang sangat sibuk, dan trauma alias kesulitan mengenai pasca COVID," katanya.
"Dengan akses info di mana-mana, anak-anak semakin terpapar pada sejumlah besar informasi, beberapa di antaranya sangat menyedihkan dan juga tidak sesuai dengan perkembangan mereka," sambungnya.
Akses jasa kesehatan sekarang jadi tantangan bagi banyak keluarga
Kondisi ini rupanya tidak hanya dialami oleh anak-anak saja. Banyak family juga ikut merasakan dampaknya, apalagi saat mencoba mendapatkan jasa kesehatan.
Salah satu penyebabnya adalah akses yang tetap susah bagi sebagian orang. Tidak semua family bisa dengan mudah mendapatkan support kesehatan mental yang sesuai untuk anak mereka.
Kalau memandang dari laporan tersebut, ada beberapa halangan yang cukup sering terjadi. Mulai dari training tenaga medis yang belum merata hingga waktu konsultasi yang terbatas saat berjumpa master anak.
Psikiater anak dan remaja dari Stony Brook Medicine, Gabrielle Carlson, menjelaskan bahwa ada aspek lain yang turut memengaruhi. Salah satunya adalah sistem jasa kesehatan seperti asuransi yang membikin akses perawatan jadi lebih susah dijangkau.
"Pertama, tidak semua asuransi menanggung kesehatan mental," kata Carlson.
"Biasanya, mereka memberikan pembayaran yang sangat rendah alias mempunyai banyak aturan, sehingga sering kali tidak menguntungkan bagi penyedia jasa untuk menerima asuransi tertentu," jelasnya.
Di sisi lain, keterbatasan tenaga ahli juga tetap menjadi tantangan, Bunda. Tidak semua tenaga mahir punya skill unik untuk menangani anak. Hal ini diungkapkan langsung oleh psikolog di Pediatrix Medical Group, Kiersten Sippio, PsyD.
"Salah satu tantangan terbesar adalah kekurangan tenaga ahli yang secara unik terlatih untuk bekerja dengan anak-anak dan keluarga," kata Sippio.
Akibatnya, banyak family kudu menunggu lama untuk mendapatkan jasa yang dibutuhkan. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang baru bisa memulai terapi setelah berbulan-bulan menunggu giliran.
Itulah penjelasan tentang pentingnya menjaga kesehatan mental sejak bayi, berasas sorotan terbaru dari master anak.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·