Jakarta -
Kehamilan Soledad Guerrero awalnya melangkah dengan baik. Ibu asal Amerika Serikat ini apalagi merasa tubuhnya tetap segar hingga mendekati waktu persalinan. Namun, siapa sangka, sebuah komplikasi kehamilan langka membikin hidupnya berubah setelah melahirkan.
Sembilan bulan setelah melahirkan anak pertamanya, Soledad tetap kudu menjalani dialisis dan sekarang tengah mencari donor ginjal.
Kisahnya menjadi perhatian setelah dibagikan kepada ABC News. Pengalaman Soledad juga menjadi pengingat bahwa beberapa komplikasi kehamilan bisa muncul secara tiba-tiba dan apalagi bersambung hingga masa setelah melahirkan.
Kehamilan Soledad melangkah lancar
Soledad, 36 tahun, sebelumnya menjalani pemeriksaan genetik berbareng suaminya sebelum mereka menjalani program bayi tabung alias IVF. Mereka kemudian sukses menyambut anak pertama, seorang bayi perempuan, pada Oktober 2025.
Selama hamil, Soledad merasa kondisinya baik-baik saja. Ia tidak mengalami morning sickness dan tetap aktif berenang hingga mendekati akhir kehamilan.
"Saya apalagi tidak mengalami morning sickness. Rasanya kondisi saya betul-betul prima. Saya tetap berenang sampai akhir masa kehamilan dan sangat aktif," ujar Soledad saat mengenang kembali masa kehamilannya.
"Hal ini betul-betul di luar dugaan,” sambungnya.
Namun, situasinya berubah ketika dia datang ke rumah sakit untuk menjalani induksi persalinan. Soledad mengalami masalah pembekuan darah hingga master memutuskan melakukan operasi caesar darurat. Setelah persalinan, muncul masalah yang jauh lebih serius. Soledad tidak mengeluarkan urine dan kondisinya kemudian berkembang menjadi kandas hati serta kandas ginjal.
Fungsi hatinya akhirnya kembali pulih. Sayangnya, ginjalnya mengalami kerusakan yang cukup berat. Dokter kemudian mendiagnosis Soledad mengalami pregnancy-associated atypical hemolytic uremic syndrome (p-aHUS), sebuah komplikasi kehamilan yang sangat langka.
Apa itu p-aHUS?
Mendengar istilah p-aHUS mungkin membikin Bunda bertanya-tanya, sebenarnya penyakit apa ini?
Pregnancy-associated atypical hemolytic uremic syndrome (p-aHUS) merupakan kondisi langka yang berasosiasi dengan gangguan pada sistem komplemen, ialah bagian dari sistem kekebalan tubuh.
Dr. Peter Chin-Hong, seorang guru besar kedokteran di University of California, San Francisco, yang tidak menangani perawatan Guerrero, mengatakan bahwa master mungkin mengalami kesulitan dalam mendiagnosis p-aHUS lantaran kondisi ini tergolong langka dan gejalanya bisa menyerupai kondisi lain.
"Kondisi ini sangat, sangat langka. Ada banyak penyebab lain dari rendahnya kadar trombosit dan anemia selama kehamilan; apalagi pada penyakit infeksi, terdapat mikroba yang dapat menyebabkan sindrom yang sangat mirip. Kondisi ini bisa berangkaian dengan kehamilan yang menjadi pemicu masalah sistem kekebalan tubuh ini serta dapat menyerupai kondisi medis lainnya. Oleh lantaran itu, mendiagnosisnya bisa menjadi tantangan tersendiri," ujar Chin-Hong.
Pada penderita aHUS, sistem komplemen dapat menjadi terlalu aktif. Akibatnya, pembuluh darah mini bisa mengalami kerusakan dan terbentuk gumpalan-gumpalan darah kecil. Kondisi tersebut terutama dapat mengganggu kegunaan ginjal.
Itulah kenapa aHUS bisa menyebabkan penurunan kegunaan ginjal secara sigap hingga pada kasus berat memerlukan dialisis alias transplantasi ginjal. Menurut penelitian, p-aHUS diperkirakan hanya terjadi pada sekitar 1 dari 25.000 kehamilan. Jadi, kondisi yang dialami Soledad memang sangat jarang.
Komplikasi ini bisa muncul setelah melahirkan
Salah satu perihal yang membikin p-aHUS cukup susah dikenali adalah waktunya. Komplikasi ini tidak selalu muncul ketika ibu sedang hamil. Bahkan, sebuah systematic review yang diterbitkan dalam American Journal of Obstetrics & Gynecology menemukan bahwa sebagian besar kasus p-aHUS yang baru terdiagnosis justru ditemukan setelah persalinan.
Dalam penelitian tersebut, peneliti menganalisis 60 kasus p-aHUS yang terjadi dalam 66 kehamilan. Sebanyak 94 persen kasus baru didiagnosis pada periode postpartum. Peneliti juga menemukan bahwa p-aHUS dapat muncul setelah beragam komplikasi obstetri, termasuk hipertensi alias preeklamsia dan perdarahan. Artinya, masa setelah melahirkan tetap perlu diperhatikan, ya, Bunda.
Meski bayi sudah lahir dan proses persalinan telah selesai, tubuh ibu tetap memerlukan waktu untuk pulih. Keluhan yang terasa tidak biasa sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai kelelahan biasa setelah melahirkan.
Mengapa ginjal bisa sampai rusak?
Ginjal mempunyai banyak pembuluh darah mini yang berkedudukan krusial dalam menyaring darah. Ketika sistem komplemen mengalami aktivasi berlebihan pada aHUS, pembuluh darah mini tersebut dapat mengalami kerusakan.
Gumpalan darah mini juga dapat mengganggu aliran darah ke ginjal. Akibatnya, ginjal bisa mengalami acute kidney injury (AKI) alias cedera ginjal akut. Jika kerusakannya berat, kegunaan ginjal mungkin tidak dapat kembali seperti sebelumnya.
Sebuah systematic review dan meta-analysis yang diterbitkan pada 2025 menganalisis 10 penelitian dengan total 380 pasien p-aHUS. Hasilnya menunjukkan sekitar 66,6 persen pasien memerlukan dialisis, sedangkan sekitar 25 persen mengalami penyakit ginjal stadium akhir. Namun, nomor tersebut merupakan hasil penelitian pada golongan pasien dengan p-aHUS dan bukan berfaedah setiap ibu yang mengalami kondisi ini pasti bakal mengalami kandas ginjal.
Sembilan bulan setelah melahirkan, Soledad tetap dialisis
Bagi Soledad, akibat komplikasi tersebut rupanya tidak berakhir setelah persalinan. Sembilan bulan setelah melahirkan, dia tetap menjalani dialisis sembari menunggu kesempatan mendapatkan donor ginjal.
Soledad menjalani peritoneal dialysis di rumah selama setidaknya delapan jam setiap malam. Kondisi ini tentu tidak mudah bagi seorang ibu yang juga kudu merawat bayi. Ia mengaku dialisis membuatnya susah mendapatkan tidur yang cukup. Karena memerlukan transplantasi ginjal, Soledad kemudian membagikan kisahnya kepada publik dan berambisi bisa menemukan orang yang bersedia menjadi donor.
Dokter menyebut donor hidup dapat menjadi pilihan yang baik untuk kondisinya. Namun, seperti prosedur transplantasi lainnya, calon donor dan penerima tetap kudu menjalani pemeriksaan untuk memastikan kecocokan dan keamanan prosedur.
Ada pengobatan untuk kondisi ini
Meski serius, p-aHUS bukan berfaedah tidak bisa ditangani. Salah satu terapi yang dapat digunakan adalah obat yang bekerja sebagai complement inhibitor. Obat ini bermaksud menghalang kegiatan sistem komplemen yang berlebihan.
Penelitian mengenai p-aHUS menunjukkan bahwa terapi yang menargetkan sistem komplemen, seperti eculizumab, dapat membantu meningkatkan kesempatan pemulihan pada sebagian pasien.
Dalam systematic review terhadap kasus p-aHUS, pasien yang mendapatkan eculizumab mempunyai nomor remisi sekitar 88 persen, dibandingkan sekitar 57 persen pada golongan yang tidak mendapatkan obat tersebut.
Meski begitu, pengobatan tentunya kudu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Jika ginjal sudah mengalami kerusakan berat, sebagian pasien tetap memerlukan dialisis alias transplantasi.
Waspadai keluhan yang tidak biasa setelah melahirkan
Kisah Soledad menjadi pengingat untuk Bunda bahwa masa postpartum juga perlu mendapatkan perhatian. Setelah melahirkan, tubuh memang memerlukan waktu untuk kembali pulih. Rasa lelah, kurang tidur, alias perubahan tubuh tertentu bisa menjadi bagian dari proses tersebut.
Namun, ada beberapa kondisi yang sebaiknya tidak diabaikan, terutama jika muncul secara tiba-tiba alias semakin memburuk. Misalnya, jumlah urine yang jauh berkurang, pembengkakan yang tidak biasa, sesak napas, tekanan darah tinggi, sakit kepala berat, kelelahan ekstrem, alias kondisi tubuh yang terasa semakin buruk.
Keluhan tersebut tidak otomatis berfaedah Bunda mengalami p-aHUS. Ada banyak kondisi lain yang dapat menyebabkan indikasi serupa. Namun, pemeriksaan master krusial dilakukan untuk mencari tahu penyebabnya.
Terlebih lagi, penelitian menunjukkan bahwa p-aHUS justru cukup sering terdiagnosis pada periode setelah persalinan.
Ingin tetap sehat untuk memandang putrinya tumbuh besar
Kini, perjuangan Soledad belum selesai. Ia tetap menjalani dialisis sembari berambisi bisa mendapatkan donor ginjal. Di tengah kondisi tersebut, ada satu perihal yang menjadi motivasinya: putri kecilnya. Soledad mau tetap sehat agar bisa memandang anaknya tumbuh besar.
Kisah ini memang cukup menguras hati. Kehamilan yang awalnya melangkah lancar rupanya berujung pada kondisi medis yang tidak pernah dia bayangkan. Namun, pengalaman Soledad juga mengingatkan kita bahwa menjaga kesehatan ibu tidak berakhir ketika bayi sudah lahir.
Jika ada keluhan yang terasa tidak biasa selama mengandung maupun setelah melahirkan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter, ya, Bunda. Lebih baik memeriksakan diri lebih awal daripada mengabaikan tanda yang rupanya memerlukan penanganan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)