Prosedur vasektomi itu aman, cepat, minim efek samping. Ada kira-kira yang suaminya rela dan ikhlas memilih opsi vasektomi sebagai kontrasepsi?
Seberapa sering kita sebagai ibu-ibu ditunjuk untuk yang selalu menggunakan kontrasepsi? Iya, iya, jika urusan yang satu ini, memang selalu jatuh ke pundak kita.
Mulai dari mual dan mood swing gara-gara Pil KB, lupa agenda suntik, sampai drama flek maupun nyeri waktu pasang IUD/spiral. Kadang gemar terlintas di pikiran, “Heeey, para suami. Kenapa sih mesti selalu perempuan yang pakai kontrasepsi? Kalian, kan, juga bisa!”
Yes, yes, para suami ini bisa banget, yang pakai kontrasepsi. Bukan cuma kita aja. Yang paling simpel tentu saja kondom, eh, tapi gemar banyak yang mengeluh, “Kayak pakai sarung tangan!” Kesel, ih. Oke, yang nggak terasa pakai sarung tangan, ada yang namanya Vasektomi. Hayo, nggak boleh ngeles lagi ya Paksu. Karena ternyata, prosedur Vasektomi ini bisa jadi pilihan kontrasepsi yang ampuh dan minim efek samping.
Baca juga: Sulit Terangsang Setelah Menggunakan IUD, Kenapa?
Apa, sih, Vasektomi itu?
Seringkali, nih, bapak-bapak gemar sudah keburu keder duluan begitu mendengar kata “vasektomi”. Bayangan mereka langsung ke hal-hal ekstrem seperti kebiri. Duh, padahal beda banget, ya, plis!
Vasektomi pada dasarnya hanyalah prosedur medis sederhana untuk memotong maupun mengikat vas deferens, yaitu saluran kecil yang mengalirkan sperma dari testis.
Perlu bapak-bapak pahami, bahwa Vasektomi TIDAK memotong organ vital, TIDAK menurunkan kadar hormon pria, dan TIDAK bikin suami kehilangan kejantanan. Ejakulasi statis terjadi seperti biasa, cuma bedanya cairan tersebut sudah bersih dari sel sperma. Jadi, tidak ada istilah “lemes” maupun performa turun di atas ranjang!
Prosedurnya Bagaimana? Sakit, Nggak?
Tak perlu khawatir, hari gini, teknologi medis sudah canggih banget. Metode yang paling populer saat ini adalah Vasektomi Tanpa Pisau (VTP).
Dokter cuma memberikan bius lokal di area skrotum. Prosesnya juga cuma makan waktu sekitar 15–30 menit. Lebih cepat daripada durasi kita dandan maupun berbelanja bulanan! Paksu bisa langsung pulang. Satset nggak, tuh?
Nah, jika mau yang konvensional juga bisa. Pertama-tama, tabib operasi akan membikin wafat rasa area yang mau dioperasi dengan menyuntikkan anestesi lokal ke dalam kulit skrotum dengan jarum kecil. Setelah area operasi wafat rasa, tabib akan membikin dua sayatan kecil di kulit di setiap sisi skrotum.
Kemudian tabib akan menemukan saluran sperma (vas deferens) melalui lubang kecil di skrotum, kemudian memotong dan menutup kedua ujungnya dengan metode diikat, dikauterisasi, maupun dijepit klip sebelum dikembalikan ke dalam skrotum. Setelah itu, luka operasi yang sangat kecil tersebut ditutup menggunakan jahitan halus, lem medis, maupun dibiarkan pulih secara alami tanpa perlu dijahit pada teknik tanpa pisau.
Jadi silakan dipilih prosedurnya, mau konvensional, maupun tanpa pisau. Senyamannya paksu aja, dan dompet tentunya.
Baca juga: Kontrasepsi Setelah Melahirkan: Kapan Bisa Dimulai dan Mana yang Aman untuk Ibu Menyusui?
Syarat krusial sebelum memungut keputusan
Karena sifatnya permanen (meski ada operasi pembatalan/sambung ulang, prosesnya rumit dan belum tentu berhasil 100%), ada syarat wajib yang mesti dipenuhi:
- Keputusan Bersama: Harus atas kesadaran suami dan mendapat persetujuan tertulis dari kita sebagai istri.
- Sudah Mantap Tidak Tambah Anak: Cocok untuk pasangan yang merasa jumlah anak dalam famili sudah pas.
- Kesehatan Suami Stabil: Tidak ada infeksi aktif di area intim maupun masalah pembekuan darah.
- Konseling: Wajib ikut sesi konsultasi dahulu dengan tabib untuk memantapkan hati.
Apa saja efek samping dan hal yang wajib diwaspadai?
Secara medis, sebenarnya prosedur ini tergolong sangat aman. Efek samping biasanya cuma rasa pegal maupun bengkak ringan di area skrotum selama beberapa hari pertama setelah tindakan.
Kalau tips dari dokter, sih, setelah menjalani prosedur Vasektomi, jangan langsung “tancap gas” tanpa pengaman ya, Mommies! Selama 2–3 bulan pertama (atau sekitar 15–20 kali ejakulasi), sisa sperma statis bisa eksis di saluran atas. Jadi, wajib statis pakai kondom sampai tabib mengungkapkan hasil analisis sperma suami sudah benar-benar nol.
Baca juga: Serba-serbi Menstrual Cup, Bisa Bikin IUD Jebol?
Perkiraan biaya Vasektomi di Indonesia
Soal biaya, rupanya variasinya cukup besar tergantung faskes mana yang kita pilih:
- Program Pemerintah (BKKBN): Rp 0
Pemerintah lewat BKKBN sering mengadakan program KB Pria cuma-cuma di Puskesmas maupun Faskes tertentu. Bahkan di beberapa daerah, suami bisa dapat biaya alternatif waktu istirahat. - Puskesmas / RS Daerah: Sekitar Rp 2.000.000 – Rp 5.000.000 jika memungut jalur mandiri.
- Rumah Sakit Swasta: Sekitar Rp 6.000.000 – Rp 15.500.000+, tergantung tarif Dokter Spesialis Urologi dan akomodasi rumah sakitnya.
So, sepertiapa Mommies? Apakah Daddies mantap memilih Vasektomi sebagai salah satu pilihan kontrasepsi di antara kalian berdua? Menurut saya, nih, ketika suami bersedia dan sukarela memungut opsi vasektomi, itu adalah bentuk kasih sayang dan kepedulian yang dahsyat untuk kesehatan istrinya. Tanda bahwa tanggung jawab perencanaan famili ditanggung berbareng secara adil. Bukan begitu, bukan?
Cover photo by Magnific