Lima Hadis tentang Khairun Nisa’ (sebaik-baik Wanita) (bag. 1)

Mar 28, 2026 11:00 AM - 1 bulan yang lalu 28378

Standar penilaian terbaik

Sebagian dari kita mungkin dikenal baik oleh teman-teman, banyak dipuji oleh lingkungan, alias terlihat begitu positif di hadapan manusia. Namun, rupanya semua itu bukanlah tolak ukur yang utama. Justru yang paling krusial adalah gimana kualitas kita menurut pandangan Allah Ta’ala dan menjadi yang terbaik di sisi-Nya.

Di era ini, pembahasan mengenai langkah menjadi yang terbaik di sisi-Nya merupakan perkara yang sangat urgen terutama untuk kalangan wanita, mengingat banyaknya kejadian kelalaian para wanita yang berlomba-lomba mencari pengakuan dan pengesahan dari manusia dengan beragam cara, apalagi di era media sosial seperti saat ini. Padahal, jika kita menjadi wanita terbaik di sisi Allah, kita bakal meraih kebahagiaan tiada akhir, ialah surga-Nya yang abadi. Berikut ini beberapa karakteristik wanita terbaik yang disebutkan dalam 5 hadis tentang khairun nisa’:

Hadis pertama

خَيْرُ نِسائِكُمُ الوَدُودُ الوَلودُ ، المُوَاتِيَةُ، المُوَاسِيَةُ، إذا اتَّقَيْنَ اللهَ

“Sebaik-baik wanita di antara kalian adalah yang penuh cinta, subur (banyak anak), yang bisa menyesuaikan diri, dan suka menghibur (menenangkan suami), jika mereka bertakwa kepada Allah.” (HR. Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra no. 13478)

Sifat pertama ialah wanita yang penuh cinta, yang hatinya hangat, dan yang mencintai suaminya dengan tulus. Ia menanam dan menjaga rasa cintanya kepada suaminya, berupaya memandang sisi-sisi kebaikan suami, belajar melupakan kekurangannya, dan tidak sibuk membandingkan suaminya dengan laki-laki lain. Hatinya konsentrasi dan tidak bercabang, menjaga pandangan, menjaga interaksi, dan menjaga hati. Mereka terjaga, tidak keluyuran, dan tidak sibuk mencari perhatian dari laki-laki lain, lantaran cinta yang terjaga adalah bagian dari jalan menuju surga.

Donasi Kincai Media

Sifat kedua ialah wanita yang subur, yang mempunyai kesiapan untuk melahirkan keturunan. Hal ini bukanlah perkara ringan, lantaran mengandung, melahirkan, menyusui, membesarkan, dan mendidik bukan sekadar tugas fisik, tetapi juga perjuangan jiwa. Namun di kembali itu semua, tersimpan kebahagiaan yang kelak tak terbayangkan; berdiri di hadapan Allah dengan membawa kebaikan yang terus mengalir dari anak-anaknya yang saleh.

Sifat ketiga ialah wanita yang mau menyesuaikan diri, yang lembut sikapnya, lapang hatinya, berupaya memahami keadaan suaminya, merespons dengan kasih sayang, dan pandai beradaptasi dengan kebutuhannya selama itu dalam kebaikan.

Sifat keempat ialah wanita yang selalu menghibur suaminya, menenangkan dan membersamainya, terutama di saat-saat sulit. Empat perkara dalam hadis ini bukan sekedar nasihat biasa, lantaran sifat-sifat ini hanya bisa lahir dari hati yang penuh takwa dan hati yang tunduk kepada Allah Ta’ala.

Hadis kedua

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memuji wanita Quraisy dan bersabda,

نِسَاءُ قُرَيْشٍ خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الْإِبِلَ: أَحْنَاهُ عَلَى طِفْلٍ, وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ

“Wanita-wanita Quraisy adalah sebaik-baik wanita yang pernah menunggang unta; mereka paling penyayang terhadap anak mini dan paling menjaga kewenangan suami dalam urusan hartanya.” (HR. Al-Bukhari no. 3434 dan Muslim no. 2527)

Sifat kelima dari sifat-sifat wanita terbaik ialah sayang kepada anak-anak. Bukan hanya sekadar memberi makan dan pakaian, tapi betul-betul memperhatikan anak-anaknya dan sabar menghadapi tingkah mereka. Hal ini krusial lantaran kunci sukses dan keberhasilan anak-anak bermulai dari ibunya.

Sifat keenam ialah amanah menjaga kekayaan suami. Ia pandai, bijak, dan paling perhatian dalam mengelola kekayaan suaminya. Ia sadar bahwa apa yang ada di rumah, semuanya adalah amanah. Harta itu adalah titipan hasil kerja keras suaminya, sehingga dia tidak seenaknya memakai, tidak boros, dan tidak impulsif. Wanita pandai tahu langkah memanfaatkan kekayaan suami agar cukup untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dalam rumah tangganya. Ia tidak memaksakan keinginannya sendiri dan tidak menuntut suaminya. Ia menggunakan kekayaan itu dengan hati-hati, dengan izin, dan dengan penuh tanggung jawab lantaran menyadari bahwa kelak semuanya bakal dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah.

Hadis ketiga

خَيْرُ النِّسَاءِ الَّتِي إِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا سَرَّتْكَ, وَإِذَا أَمَرْتَهَا أَطَاعَتْكَ, وَإِذَا غِبْتَ عَنْهَا حَفِظَتْكَ فِي نَفْسِهَا وَمَالِكَ

“Sebaik-baik wanita adalah yang andaikan engkau memandangnya, dia menyenangkanmu. Apabila engkau memerintahnya, dia menaatimu. Dan andaikan engkau tidak bersamanya, dia menjaga dirimu dan hartamu.” (HR. An-Nasa’i no. 3231 dan Imam Ahmad 2: 251 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Lihat Tafsir Al-Qurthubi, 5: 170)

Sifat ketujuh ialah menyenangkan saat dipandang. Bukan semata-mata lantaran parasnya, tetapi lantaran kehadirannya membawa ketentraman. Caranya adalah dengan menjaga penampilan fisik, dan lebih dari itu adalah dengan memperindah adab dan perangai. Wajah yang elok bakal menua, namun adab yang mulia bakal terus memancarkan cahaya. Menjaga penampilan dan adab di hadapan suami adalah corak ibadah dan bagian dari cinta.

Sifat kedelapan ialah alim saat diperintah. Di antara ibadah yang paling memudahkan seorang wanita untuk masuk surga adalah ketaatannya kepada suami. Namun, lantaran ibadah ini begitu besar pahala dan balasannya, tentu ujian dan tantangannya pun tidak ringan. Dalam sebuah hadis disebutkan,

إذا صلَّتِ المرأةُ خَمْسَها ، و صامَت شهرَها ، و حصَّنَتْ فرجَها ، وأطاعَت زوجَها ، قيلَ لها : ادخُلي الجنَّةَ مِن أيِّ أبوابِ الجنَّةِ شِئتِ 

“Jika seorang wanita salat lima waktu, berpuasa Ramadan, menjaga kemaluannya, dan alim kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya, ‘Masuklah surga dari pintu mana saja yang dia suka.’” (HR. Ahmad no. 1661. Dinyatakan hasan lighairihi oleh Syekh Al-Arnauth)

Ini bukan perkara mudah, lantaran alim kepada suami artinya menundukkan ego, menekan emosi mau membantah, dan melembutkan sikap ketika hati sedang panas dan kemarahan sedang memuncak. Ia kudu melatih dirinya untuk mendengarkan suami, menghormati keputusannya, dan  berusaha untuk tidak membantah selama perintah suami tidak bertentangan dengan syariat. Dalam perihal ini tentu dibutuhkan kesabaran, kelapangan dada, dan pengendalian diri yang baik. Semua itu terasa lebih berat lagi bagi wanita yang terbiasa mengikuti tayangan yang merusak fitrah, salah dalam pergaulan, alias kurang mendapatkan pengarahan yang benar. Padahal, alim kepada suami bukanlah suatu kehinaan, namun justru suatu kehormatan dan kemuliaan di sisi Allah. Di kembali ketaatan yang mungkin terasa berat itu, telah menanti kebahagiaan abadi; surga, dengan semua pintunya yang terbuka lebar dan bebas dimasuki dari mana saja yang disukai.

Sifat kesembilan, saat suami tidak di sisinya, dia tetap menjaga diri dan kekayaan suaminya. Wanita salehah adalah wanita yang menjaga diri dan amanah, baik saat suaminya ada di rumah maupun ketika sedang tidak bersamanya. Ketika suaminya sedang bepergian, dia tetap menjaga kehormatan dan kekayaan suaminya. Ia tidak sembarangan bersikap, tahu batasan, dan menjaga dirinya dengan penuh kesadaran. Ia menjaga diri bukan hanya lantaran suaminya, tetapi lantaran takut dan alim kepada Allah. Ini adalah corak ketakwaannya. Ia menyadari bahwa semua yang ada pada dirinya adalah untuk suaminya saja, bukan untuk diumbar kepada sembarang lelaki. Sikap inilah yang membikin suami merasa tenang dan percaya. Ia tahu bahwa istrinya bisa menjaga dirinya dan hartanya dengan baik, meskipun dia sedang tidak berada di sampingnya.

[Bersambung]

***

Penulis: Nurur Rohmah Azzahra

Artikel Kincai Media

Referensi:

Disarikan dari Syarah Bait-Bait Khairunnisa (Karakteristik Wanita Terbaik), Dr. Firanda Andirja, Lc., MA., cetakan UFA Office, Jakarta.

Selengkapnya