Keutamaan kedua: Hari Arafah adalah hari di mana Allah menyempurnakan kepercayaan Islam dan memberikan kesempurnaan nikmat
Allah menurunkan firman-Nya kepada Nabi-Nya pada hari Arafah,
ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk Anda agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi kepercayaan bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)
Dalam Ash-Shahihain dari Thariq bin Syihab bahwasannya ada seorang laki-laki Yahudi mendatangi ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu dan berkata, “Wahai Amirul mukminin, ada sebuah ayat di dalam kitab yang kalian baca, seandainya ayat tersebut turun kepada kaum Yahudi, niscaya kami bakal menjadikan hari turunnya ayat tersebut sebagai hari raya.“
‘Umar berkata, “Ayat yang mana?” Yahudi berkata, “Yaitu firman Allah,
ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا
“Pada hari ini, telah Kusempurnakan untuk Anda agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi kepercayaan bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)
Maka ‘Umar pun berkata, “Sesungguhnya saya lebih tahu tentang kapan turunnya ayat ini dan tempat turunnya ayat ini. Ayat ini turun kepada Rasulullah di Arafah pada hari Jumat.”
Ibnu Jarir Ath-Thabary rahimahullah ketika menjelaskan makna ayat di atas mengatakan, “Maksudnya adalah hari di mana Allah menyempurnakan kepada orang-orang beragama tentang kewajiban, batasan, perintah, dan larangan, serta perkara legal dan haram. Allah juga memberi petunjuk yang telah Allah tetapkan bagi kebutuhan kalian terhadap kepercayaan kalian ini. Dia juga telah menyempurnakan itu semua, maka tidak ada lagi tambahan apapun setelah hari tersebut. Hari itu adalah hari Arafah pada tahun haji Wada’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.“ (Jaami’ul Bayaan fii Tafsiiril Qur’an, 8: 80)
Oleh lantaran itu, hendaknya setiap muslim ketika wukuf di Arafah senantiasa mengingat nikmat Allah kepada manusia dengan disempurnakannya kepercayaan ini, dan lebih antusias lagi untuk menjaga hukum agamanya yang tidak ada sedikitpun kekurangan di dalamnya. Juga waspada terhadap perkara bid’ah dalam agama, ialah beramal dengan sesuatu yang tidak Allah turunkan syariatnya. Hal ini lantaran Nabi kita pernah bersabda,
كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
“Setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Daud, shahih)
Nabi juga shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa membikin suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)
Keutamaan ketiga: Hari Arafah adalah hari yang paling banyak pembebasan dari api neraka
Dari Ummul mukminin ‘Asiyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ما مِن يَومٍ أَكْثَرَ مِن أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فيه عَبْدًا مِنَ النَّارِ، مِن يَومِ عَرَفَةَ، وإنَّه لَيَدْنُو، ثُمَّ يُبَاهِي بهِمُ المَلَائِكَةَ، فيَقولُ: ما أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟
“Tidak ada hari yang Allah lebih banyak membebaskan hamba dari neraka, selain hari Arafah. Sesungguhnya Allah mendekat dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat seraya berfirman, ‘Apa yang mereka inginkan?‘” (HR. Muslim no. 1348)
Hari Arafah adalah hari yang paling banyak pembebasan dari api neraka. Hendaknya setiap muslim antusias untuk kembali kepada Allah pada hari yang agung ini dengan jujur kembali kepada-Nya, dan berambisi kepada Allah dengan bermohon agar Allah menetapkan baginya pembebasan dari neraka di mana tidak ada yang bisa melakukannya selain Allah.
Setiap muslim hendaknya juga antusias meninggalkan perkara yang mencegahnya dari mendapatkan keutaaman yang agung ini, ialah perbuatan syirik, bid’ah, dan dosa-dosa besar. Di antara kesyirikan adalah bermohon kepada selain Allah alias memalingkan ibadah kepada selain Allah. Syirik adalah dosa besar yang tidak bakal diampuni oleh Allah sebagaimana firman-Nya,
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya.“ (QS. An-Nisa’: 116)
Bahkan kesyirikan bakal membatalkan seluruh kebaikan saleh seorang hamba. Allah berfirman,
وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-Nabi) yang sebelummu, “Jika Anda mempersekutukan (Tuhan), niscaya bakal hapuslah amalmu dan tentulah Anda termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)
Seorang muslim hendaknya juga waspada terhadap perbuatan bid’ah, lantaran perihal tersebut bakal menyebabkan tertolaknya kebaikan dan tidak bakal diterima.
Dmikian pula seorang kudu waspada dari membanggakan diri dan sombong terhadap makhluk. Jabir bin ‘Abdillah meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لا يرى يوم اكثر عتيقا من النار منه اي من يوم عرفة ولا يغفر الله فيه لمختال
“Tidak ada hari yang lebih banyak pembebasan dari neraka daripada hari Arafah, dan Allah tidak mengampuni orang-orang yang sombong pada hari itu.”
Dan juga telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لا ينظرُ اللهُ يومَ القيامةِ إلى من جرَّ ثوبَه من الخُيلاءِ
“Allah tidak memandang orang-orang yang menyeret busana mereka dengan angkuh.” (HR. ‘Abdurrazzaq, sabda hasan)
Demikian pula hendaknya seorang muslim waspada dalam terus-menerus melakukan dosa besar. Salat lima waktu merupakan rukun Islam yang paling agung setelah syahadat, tidak bakal menghilangkan dosa-dosa bagi orang yang terus melakukan dosa-dosa besar, sebagaimana yang Nabi tegaskan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الصَّلَاةُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ
“Salat lima waktu dan salat Jumat ke Jumat berikutnya adalah penghapus untuk dosa di antaranya selama tidak melakukan dosa besar.” (HR. Muslim no. 233)
Oleh lantaran itu, bagi para jemaah haji yang Allah muliakan dengan menunaikan ibadah yang mulia ini, hendaknya antusias pada hari tesebut untuk mendapatkan pembebasan dari neraka serta terus-menerus bermohon untuk mendapatkan perihal itu dan berkeinginan kuat dalam hatinya dengan jujur untuk meninggalkan beragam dosa besar dan maksiat agar mendapatkan untung yang besar dan keistimewaan yang agung ini dari Allah,
فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ
“Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia telah beruntung. Kehidupan bumi itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imran: 185)
[Bersambung]
KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3
***
Penerjemah: Adika Mianoki
Artikel Kincai Media
Catatan kaki:
Diterjemahkan dari kitab Fadhai-lu Yaumi ‘Arafah, karya Syekh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·