Khutbah Jumat: Bijak Menggunakan Media Sosial Di Era Digital

Apr 29, 2026 04:29 PM - 1 jam yang lalu 46
 Bijak Menggunakan Media Sosial di Era DigitalKhutbah Jumat: Bijak Menggunakan Media Sosial di Era Digital

Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Melalui media sosial, seseorang dapat dengan mudah berkomunikasi, mendapatkan informasi, apalagi menyebarkan buletin dalam hitungan detik. Nah berikut “Khutbah Jumat: Bijak Menggunakan Media Sosial di Era Digital”.

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَزْمَانَ مَوَاسِمَ لِلطَّاعَاتِ، وَفَضَّلَ بَعْضَ الشُّهُوْرِ عَلَى بَعْضٍ بِالْحِكَمِ وَالْبَرَكَاتِ, وَجَعَلَ شَهْرَ شَعْبَانَ شَهْرَ الصَّلَاةِ وَالْإِعْتِيَادِ. وَأَشْهَدُ أنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ،  فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ ۝٦

Hadirin pendengar Khutbah Jumat yang dimuliakan Allah

Di era digital saat ini, perkembangan teknologi info berjalan sangat pesat. Kemajuan ini membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, terutama dalam perihal komunikasi dan akses informasi.

Jarak dan waktu tidak lagi menjadi penghalang, lantaran setiap orang dapat terhubung dan memperoleh buletin dari beragam penjuru bumi hanya dalam hitungan detik melalui perangkat yang ada di genggaman.

Salah satu corak nyata dari kemajuan tersebut adalah hadirnya media sosial. Platform seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan WA telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, baik anak-anak maupun orang dewasa. Media sosial tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi, tetapi juga sebagai sarana berbagi informasi, berdiskusi, apalagi menyampaikan dakwah dan pesan-pesan kebaikan.

Kemudahan dalam mengakses media sosial membikin arus info menjadi sangat cepat. Berbagai peristiwa, baik yang terjadi di lingkungan sekitar maupun di tingkat global, dapat diketahui dalam waktu singkat.

Informasi tentang politik, ekonomi, budaya, hingga keagamaan tersebar luas tanpa batas. Namun, di kembali kemudahan tersebut, terdapat tantangan besar yang kudu dihadapi, ialah maraknya penyebaran info yang tidak betul alias hoaks.

Tidak sedikit orang yang terjebak dalam menyebarkan buletin bohong, fitnah, dan ujaran kebencian tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. Hal ini dapat menimbulkan akibat negatif, seperti kesalahpahaman, perpecahan, apalagi bentrok di tengah masyarakat. Oleh lantaran itu, diperlukan sikap bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi.

Hadirin pendengar Khutbah Jumat yang dimuliakan Allah

Islam telah memberikan pedoman yang jelas dalam menyikapi setiap buletin yang diterima. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ ۝٦

Artinya; Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa buletin penting, maka telitilah kebenarannya agar Anda tidak mencelakakan suatu kaum lantaran ketidaktahuan(-mu) yang berakibat Anda menyesali perbuatanmu itu.

Hadirin pendengar Khutbah Jumat yang dimuliakan Allah

Ayat ini menegaskan pentingnya melakukan tabayyun, ialah memeriksa dan memastikan kebenaran suatu info sebelum mempercayai dan menyebarkannya. Imam Thabari dalam kitab Jamiul Bayan menjelaskan dalam Islam, sikap hati-hati dalam menerima info merupakan prinsip yang sangat penting. Allah menegaskan perihal ini dalam Al-Qur’an agar seorang Muslim tidak mudah mempercayai setiap buletin yang datang tanpa memastikan kebenarannya terlebih dahulu.

Prinsip ini dikenal dengan istilah tabayyun, ialah memeriksa dan meneliti info sebelum mengambil sikap alias tindakan. Allah berfirman andaikan datang kepada orang-orang beragama seorang fasik membawa berita, maka mereka diperintahkan untuk memeriksa kebenarannya terlebih dahulu. Hal ini bermaksud agar tidak terjadi kesalahan dalam mengambil keputusan yang dapat merugikan orang lain dan menimbulkan penyesalan di kemudian hari.

Hadirin pendengar Khutbah Jumat yang dimuliakan Allah

Prinsip ini sangat relevan dalam kehidupan digital saat ini, di mana setiap orang dapat dengan mudah menjadi penyebar informasi. Selain itu, setiap ucapan dan tindakan manusia tidak lepas dari pengawasan Allah SWT. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Artinya; Tidak ada suatu kata pun yang terucap, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).

Ayat ini mengingatkan bahwa setiap kata yang diucapkan, termasuk yang dituliskan di media sosial, bakal dicatat dan dipertanggungjawabkan. Oleh lantaran itu, krusial bagi setiap perseorangan untuk menjaga lisan, baik secara langsung maupun melalui tulisan.

Rasulullah SAW juga memberikan tuntunan dalam menjaga ucapan melalui sabdanya:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya; “Barang siapa beragama kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berbicara yang baik alias diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadirin pendengar Khutbah Jumat yang dimuliakan Allah

Hadis ini mengajarkan bahwa seorang Muslim hendaknya hanya berbicara baik. Jika tidak mampu, maka lebih baik diam. Prinsip ini juga bertindak dalam bermedia sosial, di mana setiap unggahan semestinya membawa manfaat, bukan mudarat.

Lebih lanjut, Rasulullah SAW bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Artinya; “Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari (gangguan) lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa seorang Muslim adalah mereka yang tidak menyakiti orang lain melalui lisan dan perbuatannya. Dalam konteks media sosial, perihal ini berfaedah tidak menyebarkan kebencian, fitnah, alias konten yang merugikan orang lain.

Rasulullah SAW juga memperingatkan ancaman menyampaikan semua info tanpa seleksi:

– كَفَى بالمرءِ كذِبًا أن يحدِّثَ بِكُلِّ ما سمِعَ

Artinya; “Cukuplah seseorang dianggap berbohong jika dia menceritakan setiap apa yang dia dengar.” (HR. Muslim)

Hadirin pendengar Khutbah Jumat yang dimuliakan Allah

Hadis ini menunjukkan bahwa seseorang bisa dianggap berbohong jika dia menyampaikan setiap info yang didengarnya tanpa memastikan kebenarannya. Hal ini menjadi peringatan krusial di tengah maraknya budaya “share” tanpa verifikasi.

Di sisi lain, media sosial juga mempunyai banyak faedah jika digunakan dengan bijak. Media ini dapat menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi, berbagi ilmu, serta menyebarkan nilai-nilai kebaikan. Bahkan, media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana dakwah yang efektif untuk menyampaikan aliran Islam yang tenteram dan menyejukkan.

Allah SWT berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Artinya; Tolong-menolonglah Anda dalam (mengerjakan) amal dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam melakukan dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.

Hadirin pendengar Khutbah Jumat yang dimuliakan Allah

Ayat ini membujuk umat Islam untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, serta menjauhi kerja sama dalam dosa dan permusuhan. Media sosial dapat menjadi sarana untuk mewujudkan perihal tersebut andaikan digunakan secara tepat.

Dengan demikian, bijak dalam menggunakan media sosial menjadi sebuah keharusan di era digital ini. Setiap perseorangan perlu menyadari bahwa apa yang dibagikan bakal membawa dampak, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Oleh lantaran itu, krusial untuk selalu menyaring info sebelum membagikannya, menjaga etika dalam berkomunikasi, serta memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk menyebarkan kebaikan.

Hadirin pendengar Khutbah Jumat yang dimuliakan Allah

Pada akhirnya, media sosial bukanlah sesuatu yang kudu dijauhi, melainkan perangkat yang kudu digunakan dengan penuh tanggung jawab. Jika dimanfaatkan dengan benar, dia dapat menjadi ladang kebaikan yang membawa kebaikan dan keberkahan. Namun, jika disalahgunakan, dia dapat menjadi sumber penyesalan di kemudian hari. Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa menggunakan media sosial dengan bijak dan bertanggung jawab.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ، لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah II

   الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى  فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

 اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ  اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

 عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ

Sertifikasi Halal

Selengkapnya