Di era modern saat ini, sosial media telah menjadi bagian yang melekat dari kehidupan sehari-hari kebanyakan masyarakat. Kemajuan ini memudahkan perseorangan untuk saling terhubung satu sama lain secara dunia dan mempercepat arus penyebaran informasi. Kendati demikian, semua kemudahan dalam bermedia sosial juga mempunyai akibat negatif yang seyogyanya diwaspadai.
Mengenal perilaku haus validasi
Perilaku tidak sehat seperti haus pengesahan (kebutuhan berlebihan untuk mendapatkan pengakuan, pujian, alias persetujuan dari orang lain) mempengaruhi keadaan psikologis banyak pengguna sosial media.
Keinginan berlebih untuk mendapatkan pengesahan berupa banyaknya followers, viewers, likes dan comments pada konten yang ditampilkan dapat menyebabkan seseorang terjatuh pada tindakan oversharing (berlebihan dalam berbagi) kegiatan kehidupan mereka; membuatnya ketagihan untuk terus menerus eksis di sosial media dan memposting segala sesuatu, apalagi hal-hal yang berbobot sepele dan tidak layak untuk menjadi konsumsi publik.
Hal ini tentu mengkhawatirkan lantaran dapat memicu tumbuhnya rasa iri dengki antar pengguna serta menyebabkan timbulnya ‘ain di antara mereka.
Rahasiakan kehidupanmu!
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah sabda yang diriwayatkan oleh sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu,
استعينوا على إنجاح الحوائج بالكتمان، فإن كل ذي نعمة محسود
“Minta tolonglah atas keberhasilan rencana-rencana kalian dengan merahasiakannya lantaran setiap pemilik nikmat ada kesempatan hasadnya.” (HR. Thabrani dalam Al-Ausath (2455) dan dishahihkan Al-Albani)
Patut untuk disadari bahwa setiap urusan yang disebarluaskan secara publik berpotensi terkena hasad maupun ‘ain. Karena mencapai keridaan setiap orang adalah sebuah kemustahilan dan tidak setiap perkara patut untuk diketahui oleh khalayak ramai.
Hasad dan ‘ain: sumber petaka
Betapa banyak orang yang celaka dan jatuh sakit disebabkan rasa hasad (kedengkian) orang lain terhadap dirinya, juga ‘ain yang ditimbulkan karenanya. Saking bahayanya dua perkara ini (hasad dan ‘ain), sampai-sampai Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk berlindung darinya. Allah Ta’ala berfirman,
قُلۡ اَعُوۡذُ بِرَبِّ الۡفَلَقِۙ (١) مِنۡ شَرِّ مَا خَلَقَۙ (٢) وَمِنۡ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ (٣) وَمِنۡ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الۡعُقَدِۙ (٤) وَمِنۡ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ (٥)
“Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh (fajar), dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dan dari kejahatan malam andaikan telah gelap gulita, dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki andaikan dia dengki.” (QS. Al Falaq: 1-5)
Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ke-5, ‘Dan dari kejahatan pendengki jika dia dengki’ (وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ),
الحاسد هو الذي يكره نعمة الله على غيره، فتجده يضيق ذرعاً إذا أنعم الله على هذا الإنسان بمال، أو جاه، أو علم أو غير ذلك. فيحسده ولكن الحسّاد نوعان: نوع يحسد ويكره في قلبه نعمة الله على غيره، لكن لا يتعرض للمحسود بشيء، تجده مهموماً مغموماً من نعم الله على غيره، لكنه لا يعتدي على صاحبه. والشر والبلاء إنما هو بالحاسد إذا حسد. ولهذا قال: {إذا حسد}
“Al-Hasid adalah pendengki yang membenci nikmat Allah yang Ia karuniakan kepada orang lain. Engkau bakal mendapati dia merasa sesak dadanya atas orang yang mendapatkan nikmat dari Allah berupa harta, kedudukan, pengetahuan alias selain dari itu. Maka dia pun merasa dengki. Namun, al-hasid terbagi menjadi dua jenis: pertama, orang yang dengki juga ada kebencian di dalam hatinya pada nikmat Allah yang dianugerahkan kepada selainnya, bakal tetapi orang ini tidak mencoba melakukan sesuatu pun terhadap orang yang dia dengki. Engkau memandang kondisinya gundah gulana dan resah dari nikmat Allah yang diberikan kepada selainnya, tapi dia tidak mencoba menyakiti orang yang mendapatkan nikmat tersebut. Kedua, kerusakan dan musibah adalah ketika pendengki menampakkan kedengkiannya. Oleh karena itu, Allah berfirman, “Bila dia dengki.”
Lebih lanjut, beliau rahimahullah mengatakan,
ومن حسد الحاسد العين التي تصيب الُمعان يكون هذا الرجل عنده كراهة لنعم الله على الغير فإذا أحس بنفسه أن الله أنعم على فلان بنعمة خرج من نفسه الخبيثة (معنى) لا نستطيع أن نصفه لأنه مجهول، فيصيب بالعين، ومن تسلط عليه أحياناً يموت، وأحياناً يمرض، وأحياناً يُجن، حتى الحاسد يتسلط على الحديد فيوقف اشتغاله، وربما يصيب السيارة بالعين وتنكسر أو تتعطل، وربما يصيب رفَّاعة الماء، أو حراثة الأرض، فالعين حق تصيب بإذن الله عز وجل
“Dan di antara kedengkian orang yang dengki adalah penyakit ‘ain (mata buruk) yang menimpa orang yang menjadi korban ‘ain. Pendengki ini jadi mempunyai emosi tidak suka terhadap nikmat Allah. Apabila dia merasakan bahwa Allah memberikan nikmat kepada si Fulan, maka keluar darinya suatu sifat yang menjijikkan (secara makna), yang tidak bakal bisa kita klasifikasikan. Sebab sifat ini adalah sesuatu yang majhul (tidak diketahui). Sehingga korban tertimpa penyakit ‘ain. Bahkan orang yang kalah dari pengaruh ‘ain tersebut kadangkala sampai meninggal, sakit, dan gila. Bahkan pendengki bisa memberikan pengaruh pada sesuatu yang terbuat dari besi sehingga dia menghentikan kegunaan yang melangkah dari besi tersebut. Dan boleh jadi ‘ain menimpa mobil sehingga menjadi rusak alias mogok. Boleh jadi juga menimpa kincir air alias perangkat pembajak tanah. Maka penyakit ‘ain adalah suatu kebenaran yang terjadi dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla.” (Kitab Tafsir Al ‘Utsaimin: Juz ‘Amma (352-354))
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
العين حق، ولو كان شيء سابق القدر سبقته العين
“‘Ain itu betul-betul ada! Andaikan ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, sungguh ‘ain itu yang bisa.” (HR. Muslim no. 2188)
Dalam sabda yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَكْثرُ مَن يموتُ مِن أمَّتي بعدَ قضاءِ اللَّهِ وقدرِهِ بالأنفسِ أيْ العَينِ
“Sebab paling banyak yang menyebabkan kematian pada umatku setelah takdir Allah adalah ‘ain.” (HR. Al-Bazzar dalam Kasyful Atsar (3/404), dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ (1206))
Akhir kata, hendaknya kita bijak dalam menggunakan sosial media, bersikap hati-hati dan mewaspadai timbulnya rasa hasad maupun ‘ain yang menjadi karena petaka dan kecelakaan bagi kehidupan. Hanya kepada Allah kita memohon taufik.
Baca juga:
- Perempuan sebagai Content Creator: Aurat, Suara, dan Personal Branding
- Waspadai Penyimpangan di Sosial Media
***
Penulis: Annisa Auraliansa
Artikel Kincai Media
Referensi:
- Kitab Tafsir Al ‘Utsaimin: Juz ‘Amma, Maktabah Syamilah
- Kitab Kemudahan, Ustadz Muhammad Rezki Hr, Ph.D
English (US) ·
Indonesian (ID) ·