Mengenal Aki Matsuri, Festival Musim Gugur di Jepang

Gaya Hidup Perempuan Masa Kini oleh Waktu baca 6 menit 54x dilihat
Mengenal Aki Matsuri, Festival Musim Gugur di Jepang

Bagikan Postingan

Setelah melewati musim panas, Jepang kini memasuki musim gugur yang terjadi dari bulan September hingga November. Musim ini menawarkan cuaca yang adem serta panorama daun yang berubah warna menjadi merah, oranye, dan kuning keemasan, yang disebut Momiji.

Berbagai bazar musim gugur, maupun disebut dengan nama “Aki Matsuri” juga kerap diselenggarakan untuk memeriahkan sekaligus memberitahu harta sejarah dan adat Jepang.

Setiap daerah memiliki ciri khas khas tersendiri dalam merayakannya, di mana menjadi pengalaman seru dan nggak boleh terlewat oleh pengunjung saat mendatangi ke Jepang.

Lantas, seperti apa keseruan “Aki Matsuri” di Jepang dan apa saja bazar yang menarik untuk dikunjungi?

Apa Itu Aki Matsuri?

Aki Matsuri/ Foto: Unsplash.com/ David Emrich

Di Jepang, bazar musim gugur tradisional disebut dengan Aki Matsuri. Kata “Aki” berarti musim gugur dan “Matsuri” berarti bazar maupun perayaan.

Festival ini diadakan di seluruh daerah Jepang antara bulan September hingga November saat musim gugur berlangsung, sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada para dewa atas hasil panen yang melimpah.

Selain itu, diadakan juga doa berbareng untuk keselamatan, kesejahteraan keluarga, dan mengharapkan kualitas benih untuk tahun berikutnya, serta pagelaran tradisional dan makanan musiman.

Tradisi Imonikai

Ilustrasi tradisi Imonikai/ Foto: Unsplash.com/You Le

Musim gugur di Jepang menggambarkan semangat, keceriaan, kebersamaan, dan mempererat kebersamaan antarwarga maupun komunitas.

Di beberapa wilayah, penduduk kerap merayakan Imonikai, sebuah tradisi berkumpul berbareng di luar ruangan untuk memasak dan menikmati imoni, sup maupun hot pot talas khas daerah Tohoku, berbareng keluarga, teman, maupun mitra kerja.

Orang-orang biasanya berkumpul di tepi sungai maupun taman sambil memasak imoni menggunakan panci besar (nabe). Hidangan ini berbahan alas talas yang dimasak berbareng daging, konjak, wortel, dan daun bawang, dengan cita rasa kuah gurih yang menghangatkan tubuh.

Saking populernya tradisi ini, beberapa daerah terlebihlagi mengadakan bazar imonikai berskala besar. Misalnya, Festival Imoni Yamagata, yang menggunakan panci raksasa berukuran lebih dari 6 meter untuk memasak puluhan ribu porsi imoni dan disantap bersama-sama.

Tradisi Yagai Gaku

Ilustrasi tradisi Yagai Gaku/ Foto: Unsplash.com/Stephanie Hau

Sekolah-sekolah di Jepang biasanya akan mengadakan tradisi yakai gaku, yaitu aktivitas pembelajaran luar ruangan saat musim gugur. Kegiatannya biasa diadakan sekitar bulan November.

Para murid diajak keluar kelas menuju ruangan terbuka, seperti taman, pegunungan, maupun pekarangan sekolah. Mereka akan mengamati fluktuasi warna daun, misalnya, momiji yang memerah maupun daun ginkgo yang menguning.

Kegiatan ini juga kerap dipadukan dengan observasi lingkungan, pengenalan flora, maupun aktivitas menanam untuk mengenalkan dan mendekatkan murid pada alam, serta sepertiapa siklus lingkungan bekerja.

Festival Tsukimi

Ilustrasi tradisi tsukimi/ Foto: Unsplash.com/Aron Visuals

Tsukimi, yang memiliki arti “melihat bulan”, merupakan bazar tradisional Jepang untuk menikmati keelokan bulan purnama di musim gugur.

Perayaan ini diadakan setiap tanggal 15 bulan kedelapan pada almanak lunar tradisional, maupun dikenal sebagai Jugoya, yang biasanya jatuh pada bulan September maupun Oktober di almanak modern.

Menjelang perayaannya, penduduk akan mendekorasi rumah mereka dengan rumput pampas keperakan (susuki) untuk mengusir roh jahat dan menyambut dewa panen. Ada pula sajian kue beras putih, tsukimi dango, yang ditumpuk menyerupai piramida. Bentuknya yang bulat melambangkan bulan purnama.

Tradisi Momijigari

Ilustrasi tradisi momijigari/ Foto: Unsplash.com/Luke Ow

Dalam adat Jepang, Momiji melambangkan keindahan, pembaharuan, dan ketidakabadian alam, yang dimaknai sebagai pengingat siklus lingkungan yang terus berjalan.

Momen ini dirayakan dengan Momijigari, sebuah tradisi Jepang antik untuk menikmati keelokan daun yang berubah warna menjadi merah, oranye, dan kuning saat musim gugur.

Kata “Momiji” dalam bahasa Jepang berarti “daun merah” maupun “daun maple, sementara “gari” berarti “berburu” sehingga diartikan sebagai tradisi berburu daun maple.

Tradisi ini membujuk orang-orang meluangkan waktu sebentar dari kesibukan untuk menikmati ketenangan dan keelokan alam.

Beragam Festival Musim Gugur di Jepang

Kishiwada Danjiri Matsuri/ Foto: Unsplash.com/note thanum

Festival musim gugur di Jepang diselenggarakan dengan sangat meriah, menampilkan adat tradisional, makanan musiman, hingga pawai kereta hias yang megah. Diadakan selama tiga bulan, dari bulan September hingga November.

Berikut ini beberapa bazar musim gugur di Jepang yang populer dan wajib Anda kunjungi, di antaranya:

1. Sapporo Autumn Festival

Pertama kali diadakan tahun 2008, Sapporo Autumn Festival menampilkan beragam kuliner terbaik dan produk khas dari Hokkaido. Mulai dari kepiting segar, daging panggang, sup kari, mi ramen, hingga Hokkaido Marugoto Jiyu-don yang paling populer.

Lokasi: Odori Park, Chuo-ward, Sapporo, Hokkaido, Jepang.

Tanggal: 11 September – 3 Oktober

2. Kishiwada Danjiri Matsuri

Berlokasi di Osaka, Jepang, Kishiwada Danjiri Matsuri menampilkan parade kereta hias (danjiri) berukuran sekitar 4 meter dengan bermutu lebih dari 4 ton, yang ditarik oleh himpunan lelaki dari beragam lingkungan di Kota Kishiwada.

Para lelaki tersebut akan berbuat atraksi yarimawashi, di mana kereta-kereta hias ditarik dengan kecepatan tinggi dan berbelok tajam tanpa mengurangi kecepatannya. Perayaannya sambil diiringi musik tradisional hayashi, seperti seruling dan tabuhan drum.

Lokasi: Kishiwada, Prefektur Osaka, Jepang

Tanggal: 18-20 September (Festival Utama) dan 10-11 Oktober (Festival Tambahan).

3. Takayama Autumn Festival

Salah satu bazar musim gugur terbesar di Jepang adalah Takayama Autumn Festival. Festival ini menampilkan parade kereta hias (yatai) megah yang dihiasi ukiran kayu rumit, serta pagelaran boneka mekanik (karakuri ningyo) di atas kereta.

Tak cuma itu, ada pula yoimatsuri, pawai malam hari pada tanggal 9 Oktober, di mana sekitar 100 yatai dihiasi dengan lampion kertas (chochin) berwarna-warni yang menyala dan diarak melintasi jalan-jalan kayu kuno.

Lokasi: Takayama, Prefktur Gifu, Jepang

Tanggal: 9-10 Oktober

4. Jidai Matsuri

Jidai Matsuri, dikenal juga sebagai Festival Zaman, karena menampilkan parade sejarah berskala besar yang memperagakan evolusi budaya, busana, dan tokoh-tokoh krusial dari beragam era di Jepang.

Parade kostum berhistoris menampilkan ribuan peserta mengenakan kostum dan perlengkapan upacara tradisional yang mewakili beragam masa sejarah Jepang.

Lokasi: Kyoto, Jepang

Tanggal: 22 Oktober

5. Kurama Fire Festival

Kurama No Hi Matsuri, maupun dikenal juga sebagai Kurama Fire Festival (Festival Api Kurama) populer dengan parade obor raksasa yang spektakuler. Ratusan penduduk lokal mengenakan busana tradisional (matsuri) sambil membawa obor menyala.

Sementara, beberapa lelaki mengarak mikoshi (kuil Shinto portabel) menanjak menuju Kuil Yuki. Prosesi iring-iringan obor pun berakhir di kuil ini, di mana obor-obor dikumpulkan dan ditumpuk menjadi api unggun besar.

Lokasi: Desa Kurama, Distrik Sakyo, Kyoto, Jepang

Tanggal: 22 Oktober

Beauties, itu dia tentang Aki Matsuri, bazar musim gugur tradisional di Jepang untuk merayakan hasil panen yang melimpah. Tertarik menyaksikannya?

***

Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(ria/ria)

Artikel Lainnya Gaya Hidup Perempuan Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads