Jakarta -
Parallel play menjadi salah satu tahap bermain yang krusial dalam proses perkembangan Si Kecil. Dengan bermain bersama, anak belajar mengembangkan keahlian kognitif dan sosial.
Secara garis besar parallel play merupakan tahap bermain ketika anak bermain berdampingan dengan kawan sebaya, tanpa betul-betul berinteraksi.
Biasanya ini terjadi pada masa balita hingga prasekolah. Mereka mulai tertarik dengan keberadaan kawan sebaya di sekitar, tetapi tetap bermain secara mandiri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa itu parallel play?
Parallel play adalah kondisi ketika anak terlihat bermain berbareng anak-anak lain, tetapi sebenarnya mereka bermain secara berdikari di dekat satu sama lain.
Selama tahap parallel play anak mulai memperhatikan kawan tapi tetap lebih konsentrasi pada kegiatan yang sedang dilakukan sendiri.
Dikutip dari The Bump, parallel play menjadi salah satu tahap bermain yang dikemukakan oleh sosiolog Mildred Parten Newhall. Ia menggambarkan perkembangan anak dari bermain sendiri saat bayi, hingga bermain berbareng orang lain saat usia prasekolah.
"Orang tua mungkin bakal memandang anak memainkan mainan yang sama tepat di samping anak lain, tetapi bahasa bermain dan alur permainan mereka sama sekali tidak saling berhubungan," imbuh praktisi perkembangan anak usia awal lainnya, Gabrielle Felman, LCSW.
Manfaat parallel play
Meskipun anak mungkin belum betul-betul bermain berbareng anak lain, parallel play juga punya peran krusial bagi tumbuh kembangnya. Hal ini apalagi bisa berfaedah sebagai landasan awal bagi anak untuk komunikasi dan belajar berinteraksi sosial.
Mereka diberi kesempatan untuk mengawasi orang-orang yang bermain di sekitarnya, sekaligus menjadi langkah mereka belajar berinteraksi dengan anak lain.
"Bahkan tidak jarang seorang anak meniru perilaku anak lain selama parallel play. Mungkin mereka juga jadi penasaran terhadap barang unik yang sedang dimainkan oleh temannya," ujar Felman.
Selama parallel play anak juga akan:
- Belajar menerima kehadiran kawan sebaya di 'ruang bermain' mereka
- Berlatih menggunakan mainan yang sama dengan anak lain
- Belajar berbagi
- Mengamati langkah anak lain berbincang dan bermain
- Mengamati gimana orang dewasa berinteraksi dengan anak-anak selama bermain
Rentang usia parallel play
Secara umum, parallel play mulai muncul pada masa balita, ialah sekitar usia 18 hingga 24 bulan, menurut Felman.
Tahap ini biasanya berhujung saat anak mulai memasuki usia prasekolah sekitar 3 hingga 4 tahun, tepatnya saat mereka mulai beranjak ke cooperative play alias bermain kooperatif.
Di tahap berikutnya ini, anak mempunyai fase hubungan sosial yang lebih aktif jika dibandingkan dengan parallel play.
Meski begitu, rentang usia tersebut hanyalah rata-rata. Bisa saja berbeda pada setiap anak, sehingga tak perlu dijadikan patokan unik ya, Bunda.
Lama waktu yang dihabiskan anak dalam tahap parallel play dapat berbeda-beda tergantung pada banyak faktor, termasuk perkembangan individu, lingkungan tempat tumbuh, keberadaan kerabat kandung, dan seberapa sigap anak bisa beradaptasi.
Fase ini dapat terjadi dengan kawan sebaya yang berbeda usia, termasuk adik alias kakak.
"Semakin banyak paparan dan kesempatan berlatih berada di sekitar kawan sebaya, semakin sigap anak bisa beranjak menuju fase bermain kooperatif," papar Felman.
Oleh karena itu, anak dengan fase bermain paralel mungkin lebih sering terlihat di tempat-tempat 'ramai' seperti sekolah, daycare, dan saat playdate.
Apa yang perlu diperhatikan pada fase ini?
Dikutip dari Real Simple, parallel play tidak selalu cocok untuk setiap hubungan pertemanan.
Menurut psikolog klinis, Christie Ferrari, PsyD, salah satu perihal yang perlu dicatat dalam fase bermain ini adalah tidak adanya hubungan yang betul-betul 'dalam'. Maka dari itu tanpa disadari pertemanan bisa tetap berada di tingkat awal, tidak sampai dekat alias akrab.
"Kecuali jika keakraban itu memang sudah terbentuk sebelumnya," kata Ferrari.
Kekhawatiran lain muncul ketika kebutuhan anak dan kawan rupanya tidak sejalan. Sebagai contoh, Si Kecil mungkin mau mengobrol, sementara temannya hanya mau ditemani tanpa banyak bicara.
Ferrari menjelaskan bahwa ketidaksesuaian kebutuhan ini dapat menimbulkan rasa jengkel alias kecewa pada pihak yang menginginkan lebih banyak interaksi.
Selain itu, suasana hening saat tidak ada hubungan terkadang membikin anak merasa canggung. Namun tidak apa-apa ya, Bunda. Dari sini anak bakal belajar beradaptasi dan mengenal beragam karakter orang di sekitarnya.
Cara mengoptimalkan fase parallel play
Ilustrasi/Foto: Getty Images/LordHenriVoton
Ada banyak langkah yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu anak bermain berdikari di dekat teman-teman sebaya. Berikut beberapa contoh langkah untuk mengoptimalkan fase bermain paralel:
1. Sediakan perlengkapan bermain yang tepat
Dokter anak dan ahli bicara American Academy of Pediatrics (AAP), Natasha Burgert, MD, FAAP, menyarankan orang tua menyediakan beberapa mainan yang serupa agar sesi bermain berbareng melangkah lebih lancar.
"Berikan mainan yang serupa sehingga mereka dapat melakukan kegiatan yang sama pada waktu yang sama. Dengan begitu, mereka dapat mulai mengembangkan hubungan yang lebih interaktif," pesan Burgert.
2. Ciptakan kesempatan yang tepat
Orang tua juga dapat menciptakan banyak kesempatan bagi anak untuk melakukan parallel play melalui playdate, sekolah, maupun beragam kegiatan di lingkungan sekitar.
Selain itu, cobalah untuk secara berkala mengganti alias merotasi mainan anak. Cara ini membantu anak menemukan langkah bermain yang baru, sekaligus mengeksplorasi jenis permainan yang paling mereka sukai.
3. Berikan waktu bermain sendiri
Berinteraksi dengan orang lain sepanjang waktu dapat terasa melelahkan, apalagi bagi orang dewasa. Jadi, berikan juga anak waktu bermain baik berbareng kawan maupun sendirian.
Dengan demikian, mereka dapat mengalami beragam jenis permainan, termasuk bermain sendiri (solitary play), parallel play, dan pada akhirnya permainan sosial.
Pengalaman bermain yang menyeluruh mencakup pemberian banyak kesempatan kepada anak untuk bermain dengan beragam langkah yang berbeda.
Kapan kudu berkonsultasi dengan master anak?
Sebagian orang tua mungkin cemas jika anak lebih menyukai permainan yang tidak melibatkan hubungan sosial, seperti parallel play, lantaran dianggap sebagai tanda yang tak biasa.
Praktisi pendidikan anak usia dini, Maria Shaheen, PhD, menjelaskan bahwa anak yang berada dalam spektrum autisme memang condong menyukai pola permainan yang berulang. Mereka juga kesulitan dalam permainan imajinatif maupun permainan kooperatif.
Namun, disebutkan bahwa preferensi bermain saja tidak cukup untuk menegakkan pemeriksaan apa pun.
"Autism Spectrum Disorder (ASD) maupun ADHD tidak dapat dan tidak boleh didiagnosis hanya berasas keahlian bermain semata," kata Felman.
Ada beragam kriteria, tanda, dan indikasi lain yang kudu terpenuhi untuk memperoleh diagnosis. Semua ini tentu dipantau oleh master anak alias tenaga ahli lainnya.
Selain itu, setiap anak mempunyai karakter dan preferensi bermain yang berbeda-beda. Sebagian anak mungkin lebih senang bermain dengan orang tua alias personil keluarga, kurang mempunyai pengalaman berinteraksi dengan anak lain, merasa malu dengan kawan sebaya, alias merasa overstimulasi saat di tempat ramai.
"Anak kadang mungkin mau bermain sendiri. Beberapa jenis kepribadian juga lebih menyukai kesendirian dibandingkan yang lain," tambah Shaheen.
Jika Bunda merasa cemas tentang langkah anak bermain, para mahir menyarankan untuk memperhatikan preferensi bermain serta respons emosional Si Kecil saat berada di sekitar anak lain.
Ketika anak sudah merasa nyaman berada di sekitar teman-temannya, mereka biasanya bakal mulai beranjak ke tahap bermain asosiatif (associative play), bermain kooperatif (cooperative play), dan beragam tahap permainan sosial lainnya.
Itulah penjelasan tentang parallel play. Cara terbaik untuk membantu anak bermain adalah dengan menyediakan banyak kesempatan untuk berinteraksi.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·