Mengenal Vaksin Dpt Untuk Bayi Yang Tak Boleh Terlewatkan

Apr 25, 2026 04:30 PM - 2 hari yang lalu 2535

Jakarta -

Vaksin DPT menjadi salah satu jenis vaksin untuk bayi yang tak boleh dilewatkan jadwalnya. Dengan pemberian vaksin ini, Si Kecil bakal terlindungi dari penyakit-penyakit berbahaya.

DPT merupakan kepanjangan dari difteri, pertusis, dan tetanus. Tiga penyakit ini sama-sama disebabkan oleh kuman dan membahayakan nyawa.

Dikutip dari laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, difteri juga sempat mewabah setidaknya di 20 provinsi di Indonesia pada 2017. 

Oleh karena itu, DPT termasuk sebagai salah satu imunisasi dasar komplit yang wajib didapat oleh anak sebelum usia 1 tahun.

Penyakit-penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin DPT

Meski sama-sama disebabkan oleh bakteri, penyakit difteri, pertusis, dan tetanus masuk ke dalam tubuh dengan langkah yang berbeda.

Anak bisa tertular difteri dan pertusis saat tak sengaja menghirup alias terkena percikan air liur dari orang yang mengidapnya.

Sementara itu, kuman tetanus dapat masuk ke dalam tubuh melalui luka pada kulit, seperti luka akibat tertusuk paku, jarum, alias luka lantaran gigitan hewan. Berikut ulasan komplit tentang ketiga penyakit tersebut:

1. Difteri

Difteri adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium diptheriae. Penyakit ini menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan.

Meski tidak selalu menimbulkan gejala, penyakit ini biasanya ditandai oleh munculnya selaput alias lapisan tebal berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel penderita.

2. Pertusis

Pertusis alias batuk rejan disebabkan oleh kuman Bordetella pertussis, yang sangat mudah menular. Infeksi kuman ini menyebabkan peradangan pada saluran pernapasan.

Bila tidak ditangani, pertusis dapat menyebabkan beragam komplikasi serius seperti pneumonia, mimisan, perdarahan otak, gangguan paru-paru, dan apalagi kematian.

3. Tetanus

Tetanus adalah penyakit yang disebabkan oleh jangkitan Clostridium tetani, kuman yang banyak ditemukan pada tanah dan kotoran hewan. Bakteri ini dapat masuk ke dalam tubuh melalui luka pada kulit.

Saat masuk ke dalam tubuh, kuman tetanus bakal menyerang saraf yang mengendalikan otot. Hal ini menyebabkan penderita penyakit tetanus mengalami kaku alias tegang pada otot rahang, leher, dada, dan perut.

Tetanus yang tidak diobati dapat menyebabkan sejumlah komplikasi serius, seperti gangguan pernapasan, pneumonia, dan kerusakan otak lantaran kekurangan pasokan oksigen. 

Kapan waktu pemberian vaksin DPT?

Menurut informasi Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan tahun 2017-2020, ada setidaknya 1,6 juta anak di Indonesia yang belum diimunisasi alias belum komplit diimunisasi. Akibatnya, mereka rentan sakit lantaran tubuhnya tidak mendapat kekebalan yang bisa diperoleh dari imunisasi.

Dikutip dari agenda vaksinasi anak yang dipublikasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Tahun 2024, vaksin DPT dapat diberikan mulai usia 6 minggu. Tepatnya pada usia 2, 3, 4 bulan alias 2, 4, 6 bulan. Booster pertama di usia 18 bulan.

Lalu booster berikutnya di usia 5-7 tahun dan 10-18 tahun. Ingat ya Bunda, jika anak sedang sakit, maka pemberian imunisasi DPT dapat ditunda hingga kondisinya membaik.

Apabila imunisasi DPT terlambat diberikan, berapa pun interval keterlambatannya, jangan mengulang dari awal. Lanjutkan imunisasi sesuai agenda jika anak belum pernah diimunisasi dasar pada usia.

Reaksi tubuh setelah imunisasi DPT

Reaksi yang dapat terjadi segera setelah vaksinasi DPT antara lain demam tinggi, rewel, di tempat suntikan timbul kemerahan, nyeri dan pembengkakan, yang bakal lenyap dalam 2 hari. 

Pastikan untuk memberi lebih banyak minum (ASI alias air putih). Jika anak agak demam, pakaikan busana yang tipis dan jejak suntikan yang nyeri dapat dikompres air dingin.

Hindari memakaikan busana alias selimut yang terlalu tebal pada anak setelah imunisasi, lantaran perihal ini justru dapat memerangkap panas di dalam tubuh dan membikin demam tidak kunjung turun.

Untuk mengurangi ketidaknyamanan setelah suntik vaksin, dapat dipertimbangkan untuk pemberian parasetamol 15 mg/kgbb kepada bayi/anak setelah imunisasi, termasuk setelah vaksinasi DPT. Kemudian dilanjutkan setiap 3-4 jam sesuai kebutuhan, maksimal 4 kali dalam 24 jam.

Pemberian obat ini juga sebaiknya dilakukan berasas rekomendasi dari master ya, Bunda. Jika keluhan tetap bersambung dan reaksi-reaksi tersebut menetap alias justru semakin berat, jangan ragu juga untuk segera berkonsultasi ke dokter. 

Itulah penjelasan tentang vaksin DPT untuk bayi. Mulai dari penyakit yang bisa dicegah, agenda pemberian, hingga reaksi yang mungkin terjadi. Jangan lupa selalu cek agenda imunisasi Si Kecil agar tidak terlewat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Selengkapnya