Jakarta -
Pernahkah Bunda merasa Si Kecil selalu mau berada di dekat Bunda, apalagi susah ditinggal sejenak untuk melakukan kegiatan lain? Jika ya, ini disebut dengan 'velcro kid'.
Istilah velcro kid muncul untuk anak yang sangat melekat pada orang tua alias pengasuh utamanya. Awalnya mungkin terlihat kocak dan menggemaskan, tetapi seiring waktu situasi ini rentan membikin orang tua kelelahan.
Sebenarnya perilaku ini merupakan salah satu bagian normal dari perkembangan anak, terutama pada masa bayi dan balita. Namun, anak tetap perlu dibiasakan untuk belajar lebih berdikari sesuai usianya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa itu velcro kid?
Menurut psikolog anak, Danika Perry, PsyD, velcro kid adalah situasi di mana anak mengalami kesulitan untuk berpisah dari orang tua alias pengasuhnya. Pada anak usia bayi, balita, dan prasekolah, Perry menyebut bahwa perilaku melekat ini sebenarnya wajar.
Hal yang sama juga dikatakan psikolog klinis, Vanessa Kennedy, PhD. "Bayi biasanya lebih memerlukan perhatian dan kedekatan orang tua secara terus-menerus lantaran mereka mencari rasa kondusif dan kenyamanan," ujarnya dikutip dari Parents.
Perilaku terlalu melekat ini juga dapat terjadi lantaran bayi belum mengembangkan keahlian yang disebut object permanence (pemahaman bahwa suatu objek tetap ada meskipun tidak terlihat). Artinya, mereka belum bisa memahami bahwa ketika Bunda menjauh dari mereka, sebenarnya Bunda tetap tetap ada.
"Kemampuan ini biasanya berkembang sekitar usia 9 bulan," imbuh Kennedy.
Tanda-tanda velcro kid
Dikutip dari Huffington Post, ada beberapa tanda velcro kid yang bisa menjadi perhatian orang tua. Salah satunya saat tetap bayi, anak tidak mau diletakkan dan selalu mau digendong.
Bahkan secara spesifik, bayi hanya mau tidur di pelukan Bunda saja. Ia tidak mau digendong dengan orang lain.
Begitu juga jika Bunda meletakkannya di area bermain, kemungkinan besar dia bakal menangis sampai Bunda menggendongnya kembali.
Seiring bertambahnya usia dan mulai aktif bergerak, Bunda mungkin juga bakal merasa sangat kesulitan untuk meninggalkan anak meski sejenak saja.
Anak mau selalu duduk di pangkuan Bunda, tidur di dekat Bunda, apalagi ada juga yang hanya bisa tenang jika dia menyentuh bagian tubuh Bunda. Misalnya tangan alias kaki.
Penyebab perilaku velcro kid
Setelah melewati masa bayi, argumen kenapa beberapa anak menjadi sangat melekat pada orang tua terkadang tak jelas. Sebagian anak tetap menempel pada orang tua, sementara yang lain dapat berkembang menjadi lebih mandiri.
"Tidak ada hubungan langsung antara ikatan saat usia bayi dengan perilaku mereka saat tumbuh besar," ujar Perry.
Perilaku keterikatan berkembang seiring dengan temperamen anak, lingkungan, dan hubungan antara orang tua dan anak.
Bayi yang tampak nyaman bereksplorasi sendiri alias tidak mengalami kesulitan saat berpisah dengan orang tua, bisa saja nantinya jadi lebih melekat di kemudian hari akibat perubahan perkembangan alias tekanan hidup seperti saat mulai sekolah.
Sebaliknya, anak yang sangat melekat saat bayi juga bisa tumbuh menjadi anak yang mandiri. Dengan kata lain, kedua pola perilaku ini dapat berubah-ubah seiring waktu.
Benarkah velcro kid dapat memengaruhi psikis orang tua?
Fase melekat ini sebenarnya dapat membawa kebahagiaan dan kepuasan bagi orang tua lantaran merasa dibutuhkan. Namun setiap orang mempunyai batasannya masing-masing, termasuk untuk menjalani kegiatan sehari-hari lainnya.
Efek velcro kid yang selalu 'menempel' ini dapat menimbulkan akibat negatif pada kesehatan mental orang tua, termasuk kelelahan emosional dan stres.
Seiring waktu, kurangnya ruang pribadi secara terus-menerus dapat berkontribusi terhadap kelelahan berat (burnout), kecemasan, alias emosi bersalah.
Salah satu langkah menghadapi perubahan emosi yang kompleks ini adalah dengan mengingat bahwa fase anak yang sangat melekat seperti ini hanyalah sementara. Hal lain yang dapat dilakukan orang tua untuk mengatasi kelelahan emosional akibat velcro kid di antaranya:
1. Mencari support sekitar
Bunda bisa mencari support dan support dari lingkungan sekitar, termasuk dari sesama orang tua lain. Ini krusial untuk mendapatkan pengesahan dan support emosional.
2. Luangkan waktu untuk diri sendiri
Meski hanya 5 menit, beristirahat dari situasi yang terlalu menstimulasi akibat velcro kid dapat memberi pengaruh positif.
3. Berbagi peran saat masa transisi
Beri kesempatan pada suami untuk ikut terlibat dalam pengasuhan anak. Ini bisa menjadi kesempatan bagi Bunda untuk istirahat, sembari berbagi tugas.
Cara mengatasi perilaku anak yang terlalu melekat
Perlu dipahami bahwa anak perlu mengembangkan kemandirian dan belajar memahami batas yang sehat. Beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu anak yang kesulitan berpisah antara lain:
1. Dorong kemandirian anak
Bahkan untuk momen-momen mini ketika anak sukses melakukan sesuatu sendiri, krusial untuk mengakuinya dan memberikan apresiasi.
2. Tetapkan rutinitas yang dapat diprediksi
Perry menjelaskan bahwa konsistensi dalam kegiatan sehari-hari, termasuk mengantar anak di pagi hari, waktu makan, dan waktu tidur, membantu mereka merasa kondusif dan mengurangi kecemasan.
3. Tunjukkan contoh perpisahan yang tenang
Orang tua perlu memperkenalkan anak dengan momen perpisahan singkat yang tenang dan menyenangkan. Yakinkan anak bahwa berpisah sementara adalah perihal yang aman.
4. Lakukan secara bertahap
Cobalah memulai dengan perpisahan singkat, lampau secara berjenjang perpanjang durasinya. Hal ini juga dapat membantu anak membangun rasa percaya diri.
5. Tepati janji pada anak
Jika Bunda mengatakan pada anak berapa lama bakal pergi, pastikan untuk berupaya menepati ucapan tersebut. Selain membantu membangun rasa percaya, ketepatan ini juga bisa mengurangi kekhawatiran akibat perpisahan pada anak.
6. Tunjukkan batas yang sehat
Biarkan anak mengetahui bahwa Bunda juga berkuasa mempunyai ruang pribadi, serta kebutuhan setiap orang sama pentingnya. Hal ini menjadi contoh ekspresi emosi yang sehat, sekaligus mengajarkan anak untuk menghormati batas orang lain.
7. Validasi emosi anak
Bunda dan Ayah perlu mengakui emosi anak tanpa terlalu mengutamakan ketakutannya. Sebagai contoh, Bunda dapat mengatakan sesuatu seperti, 'Bunda tahu Anda resah saat memandang Bunda pergi, tetapi Bunda bakal kembali lagi nanti'.
Tanda-tanda perilaku melekat anak perlu diwaspadai
Sebagian besar anak bakal melewati fase velcro kid ini dengan sendirinya, Bunda. Di usia prasekolah dan usia TK, anak-anak mungkin tetap menunjukkan perilaku lebih melekat dalam situasi tertentu yang baru alias terasa menantang.
Namun perihal yang perlu diingat, jika anak yang berumur lebih dari 7 alias 8 tahun tetap terus-menerus mengalami kesulitan untuk berpisah, itu bisa menjadi tanda adanya masalah yang lebih serius.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai meliputi:
- Tiba-tiba menjadi sangat melekat, terutama setelah suatu peristiwa tertentu (ini dapat menjadi tanda adanya masalah seperti perundungan alias bullying).
- Kesedihan yang berat alias berkepanjangan saat berpisah dari orang tua.
- Muncul keluhan bentuk seperti sakit perut, sakit kepala, alias mual yang berangkaian dengan perpisahan dengan orang tua.
- Perilaku menghindar, termasuk menghindari sekolah, waktu berbareng teman, dan kegiatan yang sebelumnya disukai anak.
- Emosi yang sangat intens, termasuk berupa kekhawatiran berlebihan terhadap keselamatan orang tua alias dirinya sendiri saat berpisah.
- Semakin agresif, sangat menentang, alias apalagi menyakiti diri sendiri.
Itulah penjelasan tentang apa itu velcro kid. Meski situasi ini wajar terjadi pada usia bayi dan balita, berikan perhatian lebih jika tetap muncul walaupun anak sudah memasuki usia sekolah lebih lanjut.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·