Jakarta -
Masa menyusui adalah momen penuh perubahan bagi seorang ibu. Ketika menemukan benjolan di payudara, banyak ibu mungkin langsung berpikir bahwa penyebabnya adalah ASI yang tersumbat. Hal serupa juga dialami oleh seorang ibu berjulukan Stephanie Wysaski.
Ia mengira benjolan tersebut hanyalah bagian dari proses menyusui, hingga pemeriksaan master mengungkap kebenaran yang mengejutkan. Benjolan tersebut rupanya merupakan tanda kanker payudara. Berikut kisahnya dikutip dari Abcnews.
Awalnya mengira hanya pengaruh menyusui
Stephanie menemukan benjolan di bagian atas payudaranya ketika dia sedang menyusui anaknya yang berumur 11 bulan. Saat itu, dia juga sedang mengandung anak keempat. Karena tetap menyusui dan sedang mengalami perubahan hormon akibat kehamilan, Stephanie mengira benjolan tersebut merupakan sesuatu yang normal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia berpikir bahwa tetek yang terasa berbeda adalah perihal yang wajar lantaran ibu menyusui memang sering mengalami tetek yang terasa lebih padat alias muncul sumbatan ASI.
Namun, setelah menjalani pemeriksaan, master menemukan bahwa benjolan tersebut bukan sekadar masalah menyusui. Stephanie didiagnosis mengalami invasive lobular carcinoma, salah satu jenis kanker tetek yang dapat lebih susah terdeteksi.
Benjolan tetek saat menyusui, apakah selalu lantaran ASI?
Perubahan pada tetek selama menyusui memang bisa membikin ibu susah membedakan mana kondisi normal dan mana yang perlu diperiksa lebih lanjut. Payudara yang sedang memproduksi ASI dapat mengalami pembengkakan, sumbatan saluran ASI, mastitis, hingga muncul benjolan yang sering kali dianggap sebagai bagian dari proses menyusui.
Namun, penelitian menunjukkan bahwa kanker tetek juga tetap bisa terjadi pada masa menyusui dan terkadang terlambat dikenali lantaran gejalanya menyerupai masalah tetek akibat laktasi.
Sebuah laporan kasus dalam International Journal of Surgery Case Reports, membahas beberapa ibu menyusui yang mengalami keterlambatan pemeriksaan kanker payudara. Para peneliti menjelaskan bahwa perubahan fisiologis selama menyusui dapat membikin benjolan alias perubahan tetek lebih mudah dikaitkan dengan kondisi seperti mastitis alias sumbatan ASI.
Penelitian lain yang mengevaluasi benjolan tetek pada masa kehamilan dan menyusui juga menemukan bahwa tidak semua benjolan berkarakter jinak. Dari ratusan lesi tetek yang diperiksa, sebagian ditemukan sebagai kanker sehingga pemeriksaan lanjutan seperti USG dan biopsi tetap krusial jika ada tanda yang mencurigakan.
Karena itu, master menyarankan ibu menyusui untuk tidak mengabaikan benjolan yang mempunyai karakter seperti:
- Tidak mengecil setelah menyusui alias memerah ASI,
- Terasa keras dan menetap,
- Semakin membesar,
- Disertai perubahan kulit alias puting,
- Muncul hanya pada satu sisi payudara.
Menemukan benjolan bukan berfaedah pasti kanker, tetapi pemeriksaan lebih awal membantu memastikan penyebabnya dan menentukan penanganan yang tepat.
Tanda benjolan tetek yang perlu diperiksa
Beberapa tanda yang sebaiknya tidak diabaikan antara lain:
- Benjolan terasa keras dan tidak mudah digerakkan
- Benjolan tidak mengecil setelah menyusui alias memerah ASI
- Perubahan corak alias ukuran payudara
- Kulit tetek tampak seperti berlekuk alias menyerupai kulit jeruk
- Puting tertarik ke dalam secara tiba-tiba
- Keluar cairan tidak normal dari puting
- Nyeri yang menetap alias perubahan yang hanya terjadi pada satu sisi payudara
Walaupun tidak semua tanda tersebut berfaedah kanker, pemeriksaan medis membantu memastikan penyebabnya.
Mengapa kanker tetek bisa terlihat seperti masalah menyusui?
Masa menyusui membikin tetek mengalami banyak perubahan. Produksi ASI yang meningkat dapat menyebabkan tetek terasa lebih penuh, keras, nyeri, alias muncul benjolan akibat saluran ASI yang tersumbat. Kondisi inilah yang terkadang membikin ibu susah membedakan antara perubahan normal saat menyusui dengan tanda penyakit yang lebih serius.
Kanker tetek pada ibu menyusui juga bisa mempunyai indikasi yang mirip dengan masalah laktasi, seperti adanya benjolan, rasa tidak nyaman, alias perubahan corak payudara. Akibatnya, sebagian ibu mungkin mengira keluhan tersebut hanya berangkaian dengan ASI dan menunda pemeriksaan.
Menurut penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Medicine, kanker tetek yang terjadi selama kehamilan alias masa setelah melahirkan (pregnancy-associated breast cancer) sering menghadapi tantangan pemeriksaan lantaran perubahan hormon dan jaringan tetek selama periode ini dapat menyamarkan tanda-tanda kanker. Payudara yang lebih padat saat mengandung dan menyusui juga dapat membikin pemeriksaan bentuk menjadi lebih sulit.
Selain itu, studi dalam Radiographics menjelaskan bahwa kondisi seperti mastitis, abses, dan sumbatan ASI dapat mempunyai tampilan yang menyerupai kanker tetek pada pemeriksaan, sehingga master terkadang memerlukan pemeriksaan tambahan seperti USG, mammografi, alias biopsi untuk memastikan penyebabnya.
Benjolan saat menyusui memang sering kali bukan kanker. Namun, perubahan yang menetap sebaiknya diperiksa agar ibu mendapatkan kepastian dan penanganan sedini mungkin.
Menemukan benjolan pada tetek saat menyusui tentu bisa membikin ibu merasa cemas. Banyak ibu berambisi benjolan tersebut bakal lenyap dengan sendirinya lantaran menganggap penyebabnya hanya ASI yang tersumbat. Namun, jika perubahan pada tetek tidak membaik, pemeriksaan medis tetap krusial dilakukan.
Terlebih, kanker tetek yang muncul saat masa menyusui dapat mempunyai indikasi yang menyerupai gangguan laktasi. Semakin sigap penyebab benjolan diketahui, semakin sigap pula ibu mendapatkan penanganan yang sesuai.
Menurut American College of Radiology (ACR), pertimbangan pencitraan seperti USG tetek tetap dapat dilakukan pada ibu mengandung maupun menyusui ketika ditemukan keluhan seperti benjolan yang menetap. Pemeriksaan ini membantu master membedakan apakah benjolan berangkaian dengan perubahan akibat ASI alias memerlukan pemeriksaan lanjutan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·