Roma tidak selalu tentang Colosseum yang megah alias Vatikan yang suci. Di kembali kemegahan sejarah itu, terdapat urat nadi kejahatan yang mengalir deras, menyatu dengan politik dan agama. Film Suburra garapan Stefano Sollima pada 2015 mengupas lapisan gelap tersebut dengan pisau bedah sinematik yang tajam.
Karya ini bukan sekadar movie gangster biasa, melainkan potret suram tentang gimana keserakahan dapat melumpuhkan sendi-sendi peradaban di ibu kota Italia. Narasi dibangun di atas fondasi skandal nyata Mafia Capitale.
Aliansi Setan di Kota Abadi
Cerita berpusat pada ambisi tiga kekuatan besar yang saling mengunci erat. Samurai, bos mafia karismatik dengan masa lampau neo-fasis, bermimpi mengubah area pelabuhan Ostia menjadi Las Vegas jenis Roma.
Untuk mewujudkan angan liar itu, dia memerlukan perlindungan politik dari Filippo Malgradi, senator korup yang siap menggadai prinsip demi kekuasaan. Namun, proyek raksasa ini memerlukan biaya segar yang hanya bisa disediakan oleh Gereja.
Kardinal Berchet menjadi ujung tombak lembaga Vatikan yang terseret dalam persekongkolan pencucian duit ini. Kepercayaan adalah komoditas paling mahal dan mudah hancur.
Keharmonisan semu antar elit pidana ini runtuh akibat kematian seorang gadis muda berjulukan Yelena. Overdosis kokain di bilik hotel milik Malgradi memicu rantai reaksi kekerasan yang tak terbendung.
Mayat gadis itu dibuang oleh Spadino, personil muda family pidana Romani, yang kemudian dibunuh oleh Numero 8, preman sadis yang menguasai daerah proyek. Pertumpahan darah ini bukan lagi tentang bisnis, melainkan tentang nilai diri dan daerah kekuasaan.
Dalam waktu tujuh hari, Roma berubah menjadi arena perang di mana tidak ada pihak yang bersih dari dosa.

Korupsi sebagai Budaya
Suburra menawarkan kritik sosial yang pedas terhadap lembaga yang semestinya menjadi penjaga moralitas publik. Film ini tidak ragu menunjukkan gimana gereja dan parlemen bisa menjadi sarang tikus berdasi yang rakus.
Pierfrancesco Favino memerankan Malgradi dengan nuansa kelelahan seorang politisi yang tahu ujung karirnya bakal buruk, namun tetap memilih untuk terus berlari menuju jurang. Sementara itu, Claudio Amendola sebagai Samurai menghadirkan figur antagonis yang kompleks, bukan sekadar penjahat biasa melainkan seseorang yang percaya bahwa kekacauan adalah tangga menuju ordine nuovo.
Elio Germano melalui karakter Sebastiano mewakili kelas bangsawan yang merosot drastis di mata masyarakat. Ia adalah mucikari dari family aristokrat yang bangkrut, simbol gimana tradisi lama terpaksa bertimpuh di hadapan duit kotor kejahatan modern.
Dinamika ini memperlihatkan bahwa di Roma, darah biru pun bisa ternoda oleh lumpur hitam kejahatan terorganisir. Film ini menegaskan bahwa korupsi bukan lagi anomali, melainkan budaya yang telah mengakar sedalam akar sejarah kota itu sendiri.
Tidak ada pahlawan dalam cerita ini, hanya manusia-manusia abu-abu yang berupaya memperkuat hidup di tengah sistem yang busuk.

Estetika Neo-Noir yang Mencekam
Secara visual, Stefano Sollima membangun atmosfer yang lembap dan gelap sepanjang lama film. Sinematografer Paolo Carnera menangkap Roma bukan sebagai kota wisata, melainkan sebagai labirin beton yang dingin.
Hujan nyaris selalu turun dalam setiap segmen penting, membasuh darah yang tumpah di jalanan Ostia yang kumuh. Pencahayaan rendah dan warna dominan biru abu-abu menciptakan nuansa neo-noir yang kental, mengingatkan penonton pada karya klasik aliran pidana namun dengan sentuhan kontemporer. Kontras kekerasan visual ditampilkan di layar dengan sangat gamblang.
Setiap frame dirancang untuk menekan psikologis penonton secara intens dan berkelanjutan. Adegan kekerasan tidak ditampilkan untuk sensasi belaka, melainkan sebagai akibat logis dari pilihan karakter.
Darah yang mengalir di Suburra adalah metafora untuk nutrisi yang menghidupkan mesin korupsi di Italia. Tempo narasi yang sigap memaksa penonton untuk terus waspada, mengikuti alur cerita yang saling bertautan antara bumi bawah tanah dan ruang rapat berpendingin udara.
Tidak ada jarak untuk bernapas, sama seperti karakter yang tidak mempunyai kesempatan untuk mundur dari perjanjian Faustian yang telah mereka tandatangani.
Warisan yang Terus Mengalir
Kesuksesan movie ini membuka jalan bagi penyesuaian serial televisi yang lebih luas dan mendalam. Netflix kemudian memproduksi Suburra: Blood on Rome yang mengeksplorasi latar belakang karakter dengan lebih mendalam selama tiga musim.
Namun, movie tahun 2015 ini tetap berdiri kokoh sebagai karya utuh yang padat dan intens. Ia sukses mengkompres kompleksitas masalah sosial Italia ke dalam lama dua jam tanpa kehilangan prinsip ceritanya. Fondasi yang retak lantaran digerogoti oleh ambisi manusia yang tak pernah puas terlihat jelas.
Film ini adalah peringatan bahwa ketika norma tunduk pada uang, maka keadilan hanya bakal menjadi peralatan dagangan. Roma dalam Suburra adalah cermin bagi banyak kota besar di bumi yang menghadapi dilema serupa antara pembangunan dan moralitas.
Stefano Sollima tidak memberikan solusi mudah, dia hanya menyajikan kebenaran pahit bahwa kadang kala, kota kudu terbakar dulu sebelum bisa dibangun kembali. Refleksi gelap tentang kondisi manusia modern yang terperangkap dalam sistem yang mereka ciptakan sendiri.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·