One Battle After Another: Laga Berantai Di Ambang Runtuh

Jan 12, 2026 11:45 AM - 4 bulan yang lalu 132271

Paul Thomas Anderson memboyong Leonardo DiCaprio ke dalam labirin paranoia Thomas Pynchon. Sebuah epik tentang Amerika yang retak, dendam lama, dan pencarian cinta di sela kepul asap ganja. Mengapa movie ini disebut sebagai potret paling jeli tentang kekacauan era kita?

DI sebuah perspektif California, di mana kabut laut berjumpa dengan asap knalpot dan sisa-sisa angan tahun enam puluhan yang membusuk, Bob Ferguson berdiri dengan mata separuh terpejam. Diperankan dengan intensitas yang subtil oleh Leonardo DiCaprio, Bob adalah monumen hidup dari sebuah kegagalan revolusi. Ia adalah personil French 75, golongan radikal masa lampau yang sekarang hanya menyisakan paranoia dan ketergantungan pada lintingan ganja. Begitulah One Battle After Another dibuka: sebuah bagian tentang laki-laki yang mencoba menghilang, namun sejarah menolak melupakannya.

Sutradara Paul Thomas Anderson (PTA) kembali melakukan apa yang paling dia kuasai: membedah anatomi Amerika. Setelah sukses dengan There Will Be Blood dan The Master, kali ini dia mengambil langkah yang lebih berani—dan mahal. Dengan anggaran yang dikabarkan menembus nomor seratus juta dolar dari Warner Bros, PTA mengadaptasi novel Vineland karya Thomas Pynchon menjadi sebuah tontonan aksi-thriller yang satir, megah, sekaligus menyakitkan.

Film ini bukan sekadar tentang pelarian. Ia adalah sebuah narasi tentang “laga berantai” yang tak kunjung usai. Bagi Bob, peperangan melawan sistem mungkin sudah berakhir belasan tahun lalu, namun peperangan melawan hantu-hantu masa lampau baru saja dimulai ketika putrinya, Willa (diperankan dengan memukau oleh pendatang baru Chase Infiniti), menghilang di tengah gejolak politik yang kian memanas.

Lockjaw

Labirin Paranoia dan Sang Kolonel

Inti dari ketegangan movie ini terletak pada dinamika antara Bob dan antagonis utamanya, Kolonel Steven J. Lockjaw. Sean Penn, yang kembali ke layar lebar dengan performa yang layak diganjar Oscar, memerankan Lockjaw bukan sebagai penjahat kartun. Ia adalah representasi dari otoritas yang haus kuasa, seorang pejabat militer yang terobsesi untuk berasosiasi dengan sebuah klub supremasi kulit putih rahasia guna mengamankan takhtanya di masa depan.

Lockjaw mempunyai sejarah kelam dengan Bob, dan yang lebih penting, dengan ibu Willa, Perfidia Beverly Hills (Teyana Taylor). Di sini, PTA menjalin benang merah yang rumit antara urusan ranjang, pengkhianatan politik, dan obsesi terhadap kendali. Lockjaw mau menghapus jejak masa lalunya yang “tercemar” oleh kaum revolusioner, dan langkah satu-satunya adalah dengan melenyapkan Bob beserta seluruh memorinya.

Penonton dibawa menyusuri jalanan Amerika yang terpolarisasi. Sinematografi menggunakan seluloid 70mm memberikan skala yang luar biasa pada setiap pengejaran mobil dan konfrontasi fisik. Kita memandang sebuah negeri yang di periode pecah, di mana kelompok-kelompok paramiliter berparade di kota-kota kecil, dan teknologi pengawasan mengintai dari kembali setiap layar digital. Ini adalah visi Pynchon yang diterjemahkan PTA ke dalam realitas tahun 2025 yang terasa sangat akrab—mungkin terlalu berkawan bagi kenyamanan kita sendiri.

Chemistry dan Patah Hati

Salah satu pencapaian terbesar movie ini adalah hubungan antara Bob dan Willa. Chase Infiniti sukses mengimbangi karisma DiCaprio dengan karakter remaja yang mandiri, sarkastik, namun menyimpan kerinduan mendalam bakal stabilitas. Willa membenci kecanduan ayahnya, namun dia adalah satu-satunya argumen kenapa Bob tetap waras.

“Ayah tidak sedang berjuang melawan sistem,” kata Willa dalam satu segmen kunci di sebuah motel kumuh, “Ayah hanya sedang berlindung dari diri sendiri.” Kalimat ini seperti palu godam yang menghantam karakter Bob, memaksa penonton untuk mempertanyakan: apakah perlawanan politik seringkali hanyalah pelarian dari kegagalan personal?

Kehadiran Benicio del Toro sebagai Sergio St. Carlos, seorang pembimbing karate eksentrik yang merupakan mantan kawan seperjuangan Bob, memberikan ramuan komedi hitam yang segar. Dialog-dialog antara DiCaprio dan Del Toro mengingatkan kita pada style Inherent Vice, namun dengan tempo yang lebih sigap dan urgensi yang lebih tinggi. Mereka adalah sisa-sisa “prajurit” yang mencoba menemukan makna di bumi yang sudah tidak lagi mengenal kode etik mereka.

Satir Politik di Era Disrupsi

One Battle After Another memicu debat panas sejak penayangannya di bioskop pada akhir 2025. Di Amerika sendiri, movie ini dituding sebagai kritik tajam terhadap kebangkitan aktivitas sayap kanan ekstrem. Namun, PTA secara cerdas tidak memihak secara hitam-putih. Ia juga mengejek kenaifan kaum kiri yang terjebak dalam romantisme masa lampau dan style hidup hedonistik yang dibungkus retorika perjuangan.

Isu imigrasi dan kesenjangan kelas menjadi latar belakang yang konstan. Film ini menggambarkan gimana kekuasaan bisa dengan mudah memanipulasi ketakutan masyarakat untuk kepentingan pribadi. Karakter Lockjaw adalah simbol dari “pembersihan” sejarah, di mana mereka yang berkuasa merasa berkuasa menentukan siapa yang layak diingat dan siapa yang kudu dilupakan.

Di arena Critics’ Choice Awards Januari 2026 lalu, movie ini menyapu bersih kategori utama. Para kritikus memuji keberanian Warner Bros untuk mendanai proyek yang begitu berisiko secara artistik. Di tengah kekuasaan movie pahlawan super dan sekuel yang tak habis-habis, One Battle After Another berdiri tegak sebagai anomali: sebuah movie musim panas yang memaksa penontonnya berpikir keras setelah keluar dari bioskop.

Teknis yang Paripurna

Dari sisi teknis, nyaris tidak ada celah. Skor musik yang digubah oleh Jonny Greenwood (Radiohead) memberikan nuansa kegelisahan yang ritmis. Musiknya tidak selalu megah, seringkali hanya berupa petikan gitar yang ganjil alias bebunyian elektronik yang statis, mencerminkan isi kepala Bob Ferguson yang penuh dengan kecemasan.

Penyuntingan movie ini juga patut diacungi jempol. Meskipun durasinya mencapai 162 menit, alurnya tidak pernah terasa lambat. Setiap segmen tindakan diletakkan dengan kalkulasi yang matang, bukan sekadar tempelan untuk memacu adrenalin. Ada sebuah segmen pengejaran di rimba redwood yang disebut-sebut sebagai salah satu sekuen tindakan terbaik dalam satu dasawarsa terakhir—sebuah tarian maut antara manusia, mesin, dan alam yang megah.

one battle after another

Penutup: Peperangan yang Tak Usai

Pada akhirnya, titel One Battle After Another adalah sebuah nubuat. Film ini ditutup tidak dengan kemenangan yang mutlak, melainkan dengan sebuah kesadaran bahwa hidup adalah rangkaian pertempuran yang datang silih berganti. Setelah satu musuh jatuh, musuh lain—entah itu dalam corak sistem pemerintahan, kecanduan pribadi, alias trauma masa kecil—akan muncul kembali.

Bob Ferguson mungkin sukses menyelamatkan putrinya, namun dia tetaplah seorang laki-laki yang kudu hidup di bawah bayang-bayang. Amerika yang dia tempati tetap tetap retak, dan kabut paranoia itu tidak bakal pernah betul-betul terangkat.

Lewat movie ini, Paul Thomas Anderson memberikan sebuah mahakarya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga berfaedah sebagai cermin. Ia bertanya kepada kita: di tengah laga yang terus bersambung ini, apa yang sebenarnya sedang kita perjuangkan? Apakah itu keadilan, alias sekadar langkah untuk memperkuat hidup satu hari lagi?

Dengan performa pekerjaan terbaik dari DiCaprio dan visi penyutradaraan yang tanpa kompromi, One Battle After Another telah mengamankan tempatnya dalam sejarah sinema sebagai epik paling krusial di pertengahan dasawarsa ini. Sebuah movie yang, seperti judulnya, bakal terus kita bicarakan dalam satu perdebatan setelah perdebatan lainnya.

Selengkapnya