Jakarta -
Bunda merasakan tetek lebih keras alias kerap terasa penuh? Kondisi tersebut bisa terjadi lantaran kondisi tetek padat.
Melansir dari laman Centers for Disease Control and Prevention (CDC), kepadatan tetek mencerminkan jumlah jaringan fibrosa dan kelenjar di payudara, yang dibandingkan dengan jumlah jaringan lemak. Payudara padat dapat terlihat dari pemeriksaan mammogram.
Kepadatan tetek dapat berubah seiring waktu. Secara umum, seorang wanita lebih mungkin mempunyai tetek yang padat jika usianya lebih muda, sedang mengandung alias menyusui, sedang menjalani terapi penggantian hormon, dan mempunyai berat badan yang lebih rendah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Payudara padat dan akibat kanker
Menurut CDC, tetek padat merupakan salah satu dari beberapa aspek akibat kanker payudara. Para intelektual hingga sekarang belum mengetahui secara pasti kaitan antara keduanya.
Namun perlu dicatat, pasien kanker tetek yang mempunyai tetek padat tidak lebih mungkin meninggal lantaran kanker tetek dibandingkan pasien dengan tetek yang tidak padat.
Dalam sebuah studi yang diterbitkan di International Journal of Cancer tahun 2022, kaitan antara tetek padat dan akibat kanker pernah dipelajari oleh para peneliti. Dalam program skrining berbasis populasi ini, wanita dengan kepadatan tetek tertinggi diketahui mempunyai akibat kanker tetek 2,37 kali lipat dibandingkan mereka dengan kepadatan rendah.
Studi ini dilakukan di Denmark pada wanita berumur 50 hingga 69 tahun. Setiap dua tahun, para wanita tersebut menjalani skrining dan dipantau untuk kejadian kanker payudara.
"Jika diterjemahkan ke dalam akibat absolut kanker tetek setelah usia 50 tahun, kami menemukan akibat 6,2 persen untuk sepertiga wanita dengan kepadatan tetek terendah, dan 14,7 persen pada wanita dengan dengan kepadatan tertinggi," demikian konklusi hasil studi.
Ulasan lain dalam studi yang dipublikasikan di European Journal of Radiology tahun 2025 mengungkap bahwa sekitar 10 persen wanita yang mempunyai tetek sangat padat, sehingga akibat terkena kanker tetek menjadi dua kali lipat jika dibandingkan dengan mereka yang tidak mempunyai tetek padat.
Skrining untuk penemuan tetek padat
Mengutip laman Mayo Clinic, mammogram merupakan satu-satunya langkah untuk mengetahui apakah seorang wanita mempunyai jaringan tetek padat alias tidak. Mammogram merupakan pemeriksaan sinar-X pada jaringan payudara, Bunda.
Secara umum, para ahli kesehatan merekomendasikan agar wanita dengan akibat rata-rata terkena kanker tetek mulai melakukan skrining mammogram pada usia 40 tahun. Bagi sebagian besar perempuan, skrining kudu diulang setiap tahun.
Pemeriksaan skrining kanker tambahan untuk wanita juga dapat menyelamatkan ratusan nyawa, Bunda. Studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Lancet mengungkap bahwa mammogram rutin bisa kurang efektif dalam mendeteksi kanker pada 10 persen wanita dengan tetek yang sangat padat, lantaran jaringan tersebut dapat menyembunyikan tumor pada sinar-X.
Para peneliti dari University of Cambridge mengatakan bahwa pemindaian yang lebih canggih kepada golongan wanita ini dapat menemukan 3.500 kasus kanker tambahan dan menyelamatkan 700 nyawa setiap tahun di Inggris.
"Mendapatkan pemeriksaan kanker sejak awal membikin perbedaan besar bagi pasien dalam perihal pengobatan dan prospek. Kita perlu mengubah program skrining nasional, sehingga kita dapat memastikan lebih banyak kanker didiagnosis sejak dini, memberi lebih banyak wanita kesempatan yang jauh lebih baik untuk memperkuat hidup," kata penulis utama studi Prof. Fiona Gilbert, dikutip dari The Guardian.
"Selain relevansinya bagi program skrining kanker tetek di Inggris, studi ini mempunyai implikasi dunia bagi semua negara tempat skrining dilakukan untuk wanita dengan jaringan tetek padat."
Studi ini melibatkan 9.361 wanita di Inggris yang mempunyai tetek padat dan telah menerima hasil mammogram negatif (tidak ada kanker). Ketika metode pemindaian tambahan dicoba, ditemukan 85 kasus kanker tambahan.
Dua metode yang diteliti adalah mammografi dengan kontras (CEM), di mana pewarna digunakan untuk membikin pembuluh darah lebih terlihat, dan pencitraan resonansi magnetik singkat (Ab-MRI), yang lebih sigap daripada MRI biasa.
Metode pemindaian ketiga yang digunakan dalam uji coba adalah ultrasonografi tetek otomatis (Abus). Metode ini memang dapat mendeteksi kanker, tetapi jauh kurang efektif dibandingkan CEM dan Ab-MRI.
Para peneliti mengatakan bahwa menambahkan salah satu metode (CEM alias Ab-MRI) ke skrining yang sudah ada dapat mendeteksi 3.500 kasus kanker tambahan setiap tahun di Inggris. Dengan skrining yang mengurangi nomor kematian sekitar 20 persen dari kanker yang terdeteksi, pemeriksaan tambahan ini bisa menyelamatkan 700 nyawa setiap tahunnya.
Meskipun uji coba menunjukkan bahwa pemindaian tamabahan dapat mendeteksi kanker kecil, penelitian lebih lanjut tetap diperlukan untuk mengkonfirmasi apakah pemindaian tersebut dapat mengurangi jumlah kematian, serta memperkirakan rasio biaya dan manfaatnya.
Demikian kebenaran mengenai tetek padat dan akibat kanker tetek pada perempuan. Semoga info ini berfaedah ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·