Jakarta -
Kehamilan memicu beragam perubahan hormonal yang dapat memengaruhi kondisi bentuk maupun mental. Bagi wanita dengan ADHD, perubahan hormon selama masa kehamilan diduga dapat memengaruhi gejalanya, Bunda.
Menurut ulasan di laman Additude, perubahan hormonal selama siklus menstruasi, kehamilan, pasca persalinan, perimenopause, dan menopause bisa memperparah indikasi ADHD, yang menunjukkan hubungan langsung antara kadar estrogen dan dopamin.
Perlu diketahui, estrogen adalah hormon yang bertanggung jawab atas perkembangan seksual dan reproduksi perempuan. Hormon ini juga mengatur neurotransmiter krusial di otak, termasuk dopamin, yang berkedudukan krusial dalam kegunaan eksekutif, serotonin, yang mengatur suasana hati, dan asetilkolin, yang berasosiasi dengan daya ingat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut survei ADDitude tahun 2025, nyaris dua pertiga wanita dengan ADHD mengalami sindrom pramenstruasi (PMS), gangguan disforia pramenstruasi, dan/atau depresi pasca persalinan. Fluktuasi hormon estrogen memengaruhi semua perempuan, tetapi sering kali dirasakan lebih akut pada wanita dengan ADHD yang mengalami tiga kondisi di atas.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Psychiatric Research tahun 2020, juga mengungkap temuan serupa. Menurut studi, wanita dengan ADHD lebih mungkin mengalami gangguan suasana hati yang berasosiasi dengan hormon dan gejalanya condong lebih parah dibandingkan yang dialami oleh wanita tanpa ADHD.
Perempuan dengan ADHD usai melahirkan
Setelah melahirkan, indikasi ADHD juga bisa dipengaruhi oleh hormon, Bunda. Kadar estrogen dan progesteron menurun drastis setelah melahirkan, sehingga wanita dengan ADHD berisiko lebih tinggi mengalami depresi pasca persalinan.
Sebuah studi tahun 2023 yang dilakukan oleh Massachusetts General Hospital Center for Women's Mental Health menemukan akibat lima kali lebih tinggi untuk depresi pasca persalinan (16,8 persen) dan/atau kekhawatiran pasca persalinan (24,92 persen) di antara ibu baru dengan ADHD dibandingkan dengan wanita tanpa ADHD.
Sementara itu, survei ADDitude tahun 2023 terhadap 1.829 orang dewasa dengan ADHD menemukan bahwa 61 persen wanita melaporkan mengalami indikasi depresi pasca persalinan.
Banyak wanita dengan ADHD merasa bahwa karier, hubungan, dan kesehatan emosional mereka terancam lantaran perubahan hormon yang menyebabkan indikasi ADHD. Menurut pemilik dan CEO ADHD Wellness Center, Dawn K. Brown, MD, memahami perubahan hormon wanita sangat krusial untuk mengetahui pengaruhnya pada indikasi ADHD.
"Fluktuasi kadar hormon sepanjang siklus menstruasi dan selama kehamilan dapat memengaruhi indikasi ADHD pada perempuan," ujar Brown.
"Kombinasi antara ADHD dan kondisi mengenai hormon (seperti sindrom pramenstruasi, gangguan disforia pramenstruasi, dan depresi pasca persalinan) dapat menyebabkan pemeriksaan yang terabaikan dan sering kali mempersulit pengobatan. Oleh lantaran itu, memahami pengaruh hormonal ini sangat krusial untuk menyesuaikan pendekatan pengobatan dan memberikan support yang tepat."
Perlunya studi lanjutan
Sejauh ini, temuan penelitian umum menunjukkan bahwa hormon seks seperti estrogen berkedudukan dalam memori, kognisi, dn izin emosi. Namun, belum ada penelitian definitif tentang gimana hormon memengaruhi ADHD pada perempuan.
Para peneliti juga belum sepenuhnya memahami gimana perubahan estrogen, progesteron, dan hormon lainnya sepanjang hidup seorang wanita dapat memengaruhi otak pengidap ADHD.
Pemahaman yang lebih baik tentang gimana perubahan hormon memengaruhi indikasi ADHD dapat secara signifikan meningkatkan tingkat pemeriksaan dan pengobatan untuk perempuan. Tak hanya itu, hasilnya juga bisa digunakan untuk perawatan pencegahan dan pengobatan untuk kondisi seperti disforia pramenstruasi dan depresi pasca persalinan, Bunda.
"Kita memerlukan penelitian yang menyelidiki peran hormon dalam ekspresi indikasi ADHD pada anak wanita dan dewasa," ungkap Julia Schechter, Ph.D., dari Duke Center for Girls and Women with ADHD.
"Penelitian ini kudu mengkaji kadar hormon sepanjang masa reproduksi, termasuk awal pubertas, siklus menstruasi, kehamilan, periode pasca persalinan, dan menopause, serta pasca menopause," lanjutnya.
Demikian penjelasan mengenai perubahan hormon kehamilan dan kemungkinan dampaknya pada wanita dengan ADHD. Semoga info ini berfaedah ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·