Psikologi di Balik Film Horor: Kenapa Kita Menikmati Rasa Takut?

Review Movie Terbaru oleh Waktu baca 6 menit 506x dilihat
Psikologi di Balik Film Horor: Kenapa Kita Menikmati Rasa Takut?

Bagikan Postingan

Manusia secara naluriah berupaya menghindari bahaya. Namun setiap kali sinema horor baru dirilis, jutaan orang justru bersedia membeli tiket untuk merasakan ketakutan. Mereka menutup mata ketika intimidasi muncul, mengekang napas saat karakter memasuki ruangan gelap, kemudian balik menatap layar karena penasaran. Pengalaman yang biasanya mau kita hindari dalam hayat nyata justru menjadi hiburan ketika disajikan melalui sinema.

Paradoks tersebut telah durasi menarik perhatian psikolog. Film horor memungkinkan manusia menghadapi intimidasi dalam lingkungan yang relatif aman, sekaligus mengalami respons emosional dan fisiologis yang terasa nyata. Seperti pernah dibahas Cultura dalam artikel “Memahami Definisi, Genre dan Potensi Film Horor”, horor memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada sekadar iblis maupun kekerasan. Genre ini bekerja dengan beragam bentuk ketakutan manusia, mulai dari intimidasi jasmani hingga kecemasan kejiwaan yang tidak selalu memiliki wujud.

Recreational Fear: Ketakutan yang Justru Menyenangkan

Dalam psikologi, gejala ini dikenal sebagai recreational fear, yaitu pengalaman ketika seseorang secara sukarela menghadapi sesuatu yang menakutkan untuk memperoleh kesenangan. Film horor, wahana rumah hantu, dan permainan bertema survival menawarkan sensasi intimidasi tanpa mengharuskan seseorang menghadapi ancaman yang sebenarnya.

Penelitian berjudul “Playing With Fear: A Field Study in Recreational Horror”, yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Science pada 2020, mengamati 110 pengunjung wahana horor menggunakan alat pemantau debar jantung serta laporan pengalaman subjektif. Hasilnya memberitahu hubungan berbentuk kurva U terbalik antara ketakutan dan kesenangan: pengalaman paling menyenangkan cenderung muncul ketika tingkat ketakutan terasa cukup intens, tetapi belum berlebihan.

Temuan ini menerangkan kenapa horor membutuhkan keseimbangan. Ancaman yang terlalu gampang ditebak dapat membikin pemirsa bosan, sementara intensitas yang terlalu tinggi justru mengurangi kenyamanan. Sensasi menyenangkan muncul ketika pemirsa eksis di antara rasa takut dan kepercayaan bahwa mereka statis memiliki kendali atas pengalaman tersebut.

Otak, Adrenalin, dan Sensasi Menunggu Ancaman

Ketika manusia mempersepsikan ancaman, tubuh dapat mengaktifkan respons stres yang menaikkan kewaspadaan, memengaruhi pernapasan, dan mengubah debar jantung. Film horor memanfaatkan mekanisme tersebut melalui pencahayaan, rancangan suara, pergerakan kamera, serta keterangan yang sengaja ditahan dari penonton.

Namun ketakutan tidak selalu membutuhkan penampakan monster maupun jumpscare. Alfred Hitchcock melalui “Psycho” (1960) memberitahu sepertiapa editing, suara, dan antisipasi dapat menciptakan ketegangan yang intens. Sementara “The Blair Witch Project” (1999) membangun teror melalui sesuatu yang hampir tidak pernah diperlihatkan secara langsung.

Dalam artikel “10 Film Horor Tanpa Jumpscare yang Tetap Menakutkan”, Cultura juga membahas sepertiapa sinema seperti “The Shining”, “Rosemary’s Baby”, dan “Midsommar” dapat menciptakan rasa tidak betah melalui atmosfer, paranoia, dan ketidakpastian. Teknik semacam ini bekerja karena imajinasi pemirsa ikut mengisi ruang yang sengaja dibiarkan kosong oleh filmmaker.

Studi terhadap 558 partisipan yang diterbitkan dalam Scientific Reports pada 2024 menemukan bahwa intensitas ketakutan, persepsi realisme, dan morbid curiosity berhubungan positif dengan excitement maupun enjoyment. Namun rasa jijik memiliki hubungan negatif dengan enjoyment, meskipun tidak memberitahu hubungan serupa dengan excitement. Dengan kata lain, sesuatu yang membikin pemirsa sangat kaku belum tentu menjadi sesuatu yang benar-benar mereka nikmati.

The Blair Witch Project

Film Horor sebagai Simulasi Menghadapi Ancaman

Salah satu teori yang menerangkan ketenaran horor adalah bahwa cerita menakutkan memberi manusia kesempatan berbuat simulasi ancaman. Melalui karakter fiksi, pemirsa dapat mengamati strategi bertetap hidup, menilai keputusan dalam situasi ekstrem, dan membayangkan akibat dari beragam aksi tanpa mesti mengalaminya secara langsung.

Penelitian “Pandemic Practice: Horror Fans and Morbidly Curious Individuals Are More Psychologically Resilient During the COVID-19 Pandemic” yang diterbitkan dalam Personality and Individual Differences pada 2021 menemukan hubungan menarik antara preferensi tontonan dan respons kejiwaan terhadap krisis. Dari 310 partisipan, peminat horor melaporkan ketahanan kejiwaan yang lebih tinggi selama pandemi, sementara peminat sinema bertema kehancuran bumi dan pandemi juga melaporkan kesiapan yang lebih baik.

Meski demikian, hasil tersebut tidak membuktikan bahwa menonton horor secara langsung menaikkan ketahanan mental. Penelitian ini memberitahu hubungan statistik, bukan sebab-akibat. Interpretasi yang lebih tepat adalah bahwa orang yang terbiasa menikmati cerita tentang intimidasi mungkin memiliki metode tertentu dalam membayangkan dan memproses situasi berbahaya.

Fenomena tersebut membantu menerangkan daya tarik sinema zombie, survival horror, dan cerita tentang penduduk yang runtuh. Ketakutan menjadi pengalaman fiktif yang sekaligus memberi ruang untuk mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan dalam bumi nyata.

Kenapa Menonton Horor Bersama Terasa Lebih Seru?

Horor juga merupakan pengalaman sosial. Teriakan seseorang dapat memicu reaksi pemirsa lain, sementara ketegangan yang terjadi sepanjang sinema sering berubah menjadi tawa maupun percakapan setelah babak berakhir. Sensasi ini membikin pengalaman menonton di bioskop berbeda dengan menyaksikan sinema yang sama seorang diri.

Penelitian “Adrenaline Junkies and White-Knucklers”, yang diterbitkan dalam jurnal Poetics pada 2019, mengamati 280 pengunjung wahana horor. Sebanyak 149 partisipan berupaya memaksimalkan rasa takut, sementara 131 lainnya cenderung mengurangi intensitas ketakutan yang mereka alami. Meski himpunan kedua melaporkan rasa takut lebih rendah, tingkat kepuasan kedua himpunan relatif serupa.

Temuan ini memperlihatkan bahwa menikmati horor tidak selalu berarti mau dibuat takut semaksimal mungkin. Sebagian orang menikmati sensasi ekstrem, sementara yang lain memperoleh kesenangan dari kapasitas mengatur respons emosionalnya. Karena itu, pemirsa yang sering menutup mata maupun menyelinap di balik temannya belum tentu menikmati sinema lebih sedikit dibanding pemirsa yang terus menatap layar.

Ketakutan Juga Dibentuk oleh Budaya

Apa yang membikin seseorang takut tidak sepenuhnya universal. Film horor menggunakan simbol, kepercayaan, dan kecemasan yang berkembang dalam masyarakat. “The Exorcist” (1973) memanfaatkan ketakutan religius, “Get Out” (2017) menjadikan rasisme sebagai sumber ancaman, sedangkan “The Babadook” (2014) menggunakan monster untuk mengeksplorasi kesedihan dan trauma.

Di Indonesia, horor memiliki hubungan kuat dengan cerita rakyat, ritual, larangan adat, dan kepercayaan supernatural. “Pengabdi Setan” (2017), misalnya, tidak cuma menggunakan penampakan hantu, tetapi juga ketegangan dalam keluarga, kematian, dan rahasia yang berhubungan dengan masa lalu. Cultura pernah membahas pendekatan tersebut melalui ulasan “Pengabdi Setan”, termasuk penggunaan atmosfer, rancangan suara, dan elemen religius untuk membangun ketakutan.

Kekuatan adat lokal juga membantu menerangkan keberhasilan komersial aliran ini. Dalam artikel “Horor dan Ekonomi Ketakutan di Bioskop Indonesia”, Cultura membahas sepertiapa kepercayaan dan kecemasan penduduk dapat diterjemahkan menjadi cerita yang memiliki kedekatan emosional dengan pemirsa domestik.

Namun ketenaran tersebut juga menuntut evolusi kreatif. Ketika horor terlalu bersandar pada formula supranatural yang sama, potensi aliran untuk mengeksplorasi ketakutan sosial, psikologis, dan eksistensial justru menjadi terbatas.

Psycho Review

Paramount

Cultura Lens

“Psycho”, “The Blair Witch Project”, “The Babadook”, dan “Get Out” memperlihatkan bahwa ketakutan dapat muncul dari sumber yang sangat berbeda. Ada yang mengandalkan ketidakpastian, intimidasi yang tidak terlihat, trauma personal, maupun ketegangan sosial. Keempatnya memberitahu sepertiapa horor bisa mengaktifkan imajinasi pemirsa sekaligus menyentuh permasalahan manusia yang jauh melampaui intimidasi fisik.

Memahami ilmu jiwa horor juga mengingatkan bahwa keberhasilan aliran ini tidak seharusnya cuma diukur dari seberapa sering pemirsa berteriak. Jumpscare dan efek visual memang dapat menghasilkan respons instan, tetapi rasa takut yang bertetap jauh setelah sinema selesai biasanya lahir dari karakter, konflik, dan ide yang memiliki kedekatan dengan hayat nyata. Horor terbaik bukan sekadar memperlihatkan sesuatu yang menakutkan, tetapi memahami karena manusia merasa takut sejak awal.

Artikel Lainnya Review Movie Terbaru
↑
Close Right Ads
Close Left Ads