Perselingkuhan adalah salah satu perselisihan tertua dalam cerita manusia. Namun dalam film-film terbaik tentang tema ini, affair hampir tidak pernah selesai pada permasalahan siapa tidur dengan siapa. Ia menjadi gangguan yang membuka sesuatu yang selama ini tersembunyi di dalam sebuah hubungan: ketidakpuasan, kesepian, ego, represi seksual, perbedaan kelas, hingga pertanyaan sederhana tetapi sulit dijawab—apakah mencintai seseorang berarti kita tidak akan pernah menginginkan orang lain?
BFI mencatat bahwa perselingkuhan dalam sinema sering menjadi kekuatan yang mengguncang hayat domestik yang tampaknya stabil, kemudian berkembang menjadi paranoia, obsesi, rasa bersalah, terlebihlagi kekerasan. Namun sinema juga berkali-kali menolak balasan moral yang terlalu sederhana. Ada sinema yang melihat affair sebagai kehancuran, ada yang memandangnya sebagai pelarian, dan ada pula yang melihatnya sebagai akibat dari hayat yang sejak mula tidak memberi karakternya ruang untuk menjadi dirinya sendiri.
Berikut beberapa sinema terbaik yang menjadikan perselingkuhan sebagai pusat cerita—dari melodrama klasik hingga psychological thriller.

Sunrise: A Song of Two Humans (1927)
Seorang petani yang telah menikah tergoda oleh perempuan dari kota yang sedang berlibur di desanya. Hubungan itu berkembang sampai sang perempuan menyarankan sesuatu yang jauh lebih mengerikan: ia meminta lelaki tersebut membunuh istrinya agar mereka dapat memulai hayat baru bersama. Rencana itu membawa pasangan suami-istri tersebut ke perjalanan emosional yang kemudian menjadi pusat “Sunrise”.
Film F.W. Murnau ini dibuat hampir seabad lalu, tetapi pembangunan emosionalnya statis terasa modern. Perselingkuhan tidak cuma diposisikan sebagai bujukan seksual, tetapi sebagai imajinasi tentang hayat lain—kota besar, kebebasan, dan kemungkinan meninggalkan rutinitas. BFI menempatkannya sebagai salah satu karya krusial tentang infidelity sekaligus salah satu pencapaian besar sinema era akhir sinema bisu.

Ossessione (1943)
Gino, seorang pengembara tanpa tujuan, selesai di sebuah rumah makan pinggir jalan dan berjumpa Giovanna, istri pemilik tempat tersebut. Ketertarikan mereka segera berubah menjadi affair yang intens. Tidak durasi kemudian, keinginan untuk hidup berbareng mendorong keduanya mempertimbangkan metode paling ekstrem untuk menyingkirkan sang suami.
Debut Luchino Visconti ini merupakan adaptasi tidak resmi novel “The Postman Always Rings Twice” karya James M. Cain dan sering disebut sebagai salah satu karya mula yang membuka jalan menuju Italian neorealism. Dalam “Ossessione”, affair tidak pernah kelihatan glamor. Hasrat terasa berkeringat, kotor, dan terikat pada kemiskinan serta frustrasi sosial. BFI menyoroti sepertiapa letak nyata dan atmosfer kelas pekerjanya membikin hubungan tersebut terasa semakin jauh dari imajinasi romantis.
Brief Encounter (1945)
Laura Jesson adalah perempuan menikah dengan hayat famili yang relatif stabil. Pertemuannya secara kebetulan dengan tabib disebut Alec Harvey di sebuah stasiun kereta perlahan berkembang menjadi hubungan emosional yang semakin intim. Keduanya sama-sama menikah, dan justru karena hayat mereka tidak secara dramatis buruk, emosi yang muncul menjadi semakin sulit dijelaskan.
David Lean tidak menjadikan perselingkuhan sebagai melodrama penuh skandal. Ketegangan “Brief Encounter” berasal dari rasa bersalah dan kesadaran bahwa dua orang bisa benar-benar mencintai pasangan mereka tetapi statis jatuh cinta kepada orang lain. BFI menilai kekuatan sinema ini terletak pada sepertiapa affair tersebut muncul bukan dari pernikahan yang abusif maupun katastrofik, melainkan dari sebuah pertemuan biasa yang secara perlahan mengubah hayat dua orang.

Floating Clouds (1955)
Yukiko dan Kengo memulai hubungan mereka ketika eksis di Indochina yang diduduki Jepang selama Perang Dunia II. Kengo sudah memiliki istri, tetapi berikrar kepada Yukiko bahwa mereka akan hidup berbareng setelah balik ke Jepang. Ketika perang berakhir, kenyataan rupanya jauh lebih rumit. Kengo balik kepada istrinya sementara hubungannya dengan Yukiko berkembang menjadi siklus pertemuan, pengkhianatan, perpisahan dan rekonsiliasi.
Mikio Naruse menggunakan hubungan yang tidak sehat tersebut sebagai metafora bagi penduduk Jepang pascaperang yang kehilangan arah. BFI menekankan bahwa lelaki dalam bumi “Floating Clouds” relatif bebas bergeser dari satu hubungan ke hubungan lain, sementara perempuan menanggung sebagian besar akibat sosial dan emosionalnya. Perselingkuhan di sini bukan cuma masalah moral personal, tetapi juga bagiankecil dari struktur jenis gender yang timpang.

La Femme infidèle (1969)
Charles dan Hélène kelihatan seperti pasangan kelas menengah Prancis yang memiliki hayat sempurna: rumah nyaman, anak, dan stabilitas ekonomi. Namun Charles mulai mencurigai istrinya memiliki kekasih. Kecurigaan tersebut mendorongnya berbuat penyelidikan sendiri hingga ia menemukan fakta dan salingberhadapan langsung dengan lelaki yang menjadi kekasih Hélène.
Claude Chabrol tidak tertarik membikin sinema mengenai siapa yang benar maupun salah. Ia lebih tertarik melihat sepertiapa sebuah famili borjuis yang tampaknya tenang menyimpan kekerasan di bawah permukaannya. BFI mengatakan sinema ini sebagai psychological thriller yang menggunakan affair untuk membawa seorang suami dari hayat domestik betah menuju daerah obsesi dan kekerasan. Dalam tangan Chabrol, perselingkuhan menjadi retakan kecil yang memberitahu benar-benar rapuhnya konsep “keluarga sempurna”.

The Bridges of Madison County (1995)
Francesca Johnson adalah ibu rumah tangga keturunan Italia yang menjalani hayat tenang di pedesaan Iowa. Ketika suami dan anak-anaknya pergi selama beberapa hari, ia berjumpa Robert Kincaid, fotografer National Geographic yang datang untuk memfoto jembatan-jembatan berhistoris di area tersebut. Empat hari yang mereka habiskan berbareng berkembang menjadi hubungan yang mengubah metode Francesca melihat kehidupannya sendiri.
Clint Eastwood membikin salah satu sinema paling dewasa mengenai perselingkuhan karena ia tidak mencoba membenarkan ataupun menghukum Francesca. Affair tersebut menjadi deskripsi hayat alternatif yang sebenarnya tidak pernah ia miliki. BFI menggambarkan Francesca sebagai perempuan yang menyimpan frustrasi terhadap impian-impian yang tidak pernah terwujud di tengah rutinitas domestiknya. Tragedinya bukan sekadar ia jatuh cinta kepada lelaki lain, tetapi bahwa kebahagiaan juga bisa menuntut pengorbanan terhadap orang-orang yang statis ia cintai.

Damage (1992)
Stephen Fleming adalah politikus Inggris berhasil yang memiliki istri dan famili mapan. Kehidupannya mulai runtuh ketika ia berjumpa Anna Barton, kekasih putranya sendiri. Ketertarikan mereka berkembang menjadi hubungan seksual rahasia yang semakin obsesif, meskipun keduanya mengetahui bahwa konsekuensinya bisa menghancurkan seluruh keluarga.
Louis Malle melihat perselingkuhan bukan sebagai romansa, tetapi sebagai bentuk kecanduan terhadap hasrat. Jeremy Irons memainkan Stephen sebagai lelaki yang tampaknya logis tetapi kehilangan kapasitas mengendalikan dirinya ketika menemukan sesuatu yang ia inginkan. Film ini ekstrem karena pengkhianatan terjadi pada dua level sekaligus: terhadap pasangan dan terhadap anak sendiri. Perselingkuhan dalam “Damage” bukan jalan keluar dari hayat yang kosong, melainkan kekuatan yang perlahan menghapus semua hal lain dari hayat karakter utamanya.
Eyes Wide Shut (1999)
Bill dan Alice Harford tampaknya memiliki pernikahan stabil sampai sebuah percakapan tentang kesetiaan membuka ruang yang selama ini tidak pernah mereka diskusikan. Alice mengakui bahwa dirinya pernah memiliki imajinasi seksual begitu kuat terhadap seorang lelaki luar hingga ia sempat membayangkan meninggalkan suami dan anaknya. Pengakuan itu mengguncang ego Bill dan mendorongnya menjalani perjalanan malam yang semakin ganjil melalui sisi sensual New York.
Stanley Kubrick berbuat sesuatu yang berbeda: sebagian besar “perselingkuhan” dalam “Eyes Wide Shut” terjadi dalam bentuk keinginan, fantasi, maupun kemungkinan yang tidak pernah sepenuhnya diwujudkan. BFI mencatat bahwa justru imajinasi tersebut sudah cukup untuk mengguncang fondasi pernikahan Bill dan Alice. Film ini mengajukan pertanyaan yang lebih tidak betah daripada sekadar “apakah pasangan kita pernah selingkuh?”—seberapa banyak hayat seksual dan imajinasi seseorang sebenarnya bisa dimiliki pasangannya?

In the Mood for Love (2000)
Hong Kong, 1962. Chow Mo-wan dan Su Li-zhen tinggal berdampingan berbareng pasangan masing-masing. Dari sejumlah detail kecil, keduanya perlahan menyadari bahwa suami Su dan istri Chow kemungkinan memiliki hubungan gelap. Ironisnya, pengalaman menjadi korban perselingkuhan justru membawa Chow dan Su semakin dekat.
Wong Kar-wai membalik struktur lazim cerita perselingkuhan. Kita hampir tidak pernah melihat pasangan yang berselingkuh; kamera justru mengikuti dua orang yang ditinggalkan. Chow dan Su kemudian mencoba memahami sepertiapa affair pasangan mereka dimulai dengan berbuat role-playing, tetapi permainan tersebut perlahan melahirkan emosi nyata. BFI mengatakan hubungan mereka sebagai semacam semi-romance yang statis berupaya menjaga batas karena keduanya tidak mau menjadi seperti pasangan masing-masing. Hasilnya adalah salah satu sinema paling elok tentang cinta yang mungkin justru menjadi kuat karena tidak pernah sepenuhnya dimiliki.
Faithless (2000)
Marianne adalah aktris berhasil yang hidup berbareng suaminya Markus dan anak perempuan mereka. Ketika ia memulai affair dengan David, sahabat dekat keluarga, keputusan tersebut perlahan menghancurkan keseimbangan hayat mereka. Namun “Faithless” tidak menyajikan cerita itu secara linear. Seorang penulis tua membayangkan Marianne datang di ruang kerjanya dan memintanya menceritakan balik hubungan tersebut.
Ditulis Ingmar Bergman dan disutradarai Liv Ullmann, “Faithless” termasuk salah satu sinema paling kejam secara emosional mengenai akibat perselingkuhan. Affair tidak selesai pada kegembiraan rahasia antara dua orang; ia menghamburkan kepada pasangan, anak, persahabatan, harga diri dan memori. Film ini menarik karena menolak ide sederhana bahwa cuma pihak yang “diselingkuhi” yang terluka. Dalam hubungan seperti ini, hampir semua orang akhirnya membawa luka masing-masing.

Unfaithful (2002)
Connie Sumner menjalani hayat betah di pinggiran kota berbareng suaminya, Edward, dan anak mereka. Pertemuan tidak sengaja dengan seorang lelaki Prancis disebut Paul berkembang menjadi affair yang semakin intens. Apa yang awalnya terasa seperti pelarian dari rutinitas kemudian mulai memasuki hayat rumah tangga Connie dan Edward dengan akibat yang jauh lebih gelap.
Adrian Lyne, yang juga membikin “Fatal Attraction”, memahami bahwa erotic thriller bekerja paling baik ketika seks bukan cuma sensual tetapi juga berbahaya. “Unfaithful” menarik terutama karena Diane Lane tidak memainkan Connie sebagai stereotip pasangan yang tidak bahagia. Ia tampak memiliki rumah tangga yang relatif baik, sehingga sinema tidak menyediakan justifikasi gampang atas pilihannya. Ketika Edward mengetahui affair tersebut, cerita bergeser dari erotisme menuju kecemburuan, kekerasan dan pertanyaan mengenai apakah sebuah pernikahan bisa balik normal setelah mengetahui sesuatu yang tidak mungkin dilupakan.

Little Children (2006)
Sarah adalah ibu rumah tangga yang merasa terasing dari lingkungan suburban tempat tinggalnya. Brad adalah bapak yang sebagian besar waktunya dihabiskan mengurus anak sementara istrinya bekerja. Pertemuan keduanya di taman bermain berkembang menjadi kedekatan, kemudian affair, sementara beragam permasalahan lain perlahan membuka kepalsuan moral kelompok tempat mereka hidup.
Todd Field memperlakukan perselingkuhan sebagai salah satu dari banyak bentuk ketidakpuasan tersembunyi di balik wajah hayat suburban yang tertib. Sarah dan Brad bukan cuma menginginkan satu sama lain; mereka menginginkan kemungkinan menjadi orang lain. Film ini tidak meromantisasi affair mereka tetapi juga tidak menyederhanakannya menjadi kegagalan moral. Justru kontradiksi itu yang membikin “Little Children” begitu tajam: manusia bisa menyadari bahwa sesuatu salah sekaligus statis menginginkannya.
Perselingkuhan sebagai Cermin Hubungan
Ada karena kenapa perselingkuhan terus balik dalam sejarah sinema. Affair menyediakan perselisihan yang gampang dikenali, tetapi film-film terbaik menggunakannya untuk membicarakan permasalahan yang jauh lebih luas.
Dalam “Brief Encounter”, affair salingberhadapan dengan rasa tanggung jawab. “The Bridges of Madison County” mempertanyakan hayat yang tidak pernah sempat dijalani. “Eyes Wide Shut” masuk ke daerah imajinasi seksual yang terlebihlagi mungkin tidak pernah diwujudkan. “Floating Clouds” memperlihatkan ketimpangan gender, sementara “La Femme infidèle” dan “Unfaithful” memberitahu sepertiapa kecemburuan dapat membawa hayat domestik menuju kekerasan.
“In the Mood for Love” terlebihlagi menemukan sesuatu yang lebih paradoksal: perselingkuhan bisa melukai dua orang sekaligus mempertemukan mereka dengan seseorang yang benar-benar memahami kesepiannya.
Karena itu, great films about infidelity pada akhirnya jarang cuma berbicara tentang seks. Mereka berbicara tentang manusia yang menginginkan sesuatu di luar hayat yang sudah dipilihnya—dan akibat ketika gairah tersebut berbenturan dengan komitmen, keluarga, waktu, serta kenyataan bahwa setiap pilihan selalu membawa kehilangan.