Akira Kurosawa dan DNA Film Modern

Review Movie Terbaru oleh Waktu baca 9 menit 510x dilihat
Akira Kurosawa dan DNA Film Modern

Bagikan Postingan

Ada sutradara yang dikenang karena film-film hebatnya, kemudian ada sutradara yang tanpa sadar terus kita tonton melalui sinema orang lain. Akira Kurosawa eksis dalam himpunan kedua. Bahkan pemirsa yang belum pernah menyelesaikan “Seven Samurai” maupun “Rashomon” kemungkinan sudah mengenal bahasa sinemanya melalui western, sinema aksi, crime thriller, blockbuster Hollywood, hingga “Star Wars”.

Kurosawa membikin 30 sinema panjang sepanjang pekerjaan yang membentang dari era Perang Dunia II hingga mula 1990-an. Reputasinya sering dikaitkan dengan samurai dan Toshiro Mifune, tetapi filmografinya jauh lebih luas: polisi yang kehilangan pistol dalam “Stray Dog”, birokrat yang menghadapi kematian dalam “Ikiru”, penculikan dan ketimpangan kelas dalam “High and Low”, hingga tragedi Shakespeare dalam “Throne of Blood” dan “Ran”.

Justru keluasan itulah yang membikin Kurosawa terus relevan. Ia bukan cuma pembuat ikon samurai, tetapi filmmaker yang memahami bahwa aliran dapat menjadi jalan untuk membicarakan sesuatu yang jauh lebih universal: kekuasaan, moralitas, ketakutan, kemiskinan, kebenaran, dan apa artinya statis menjadi manusia ketika keadaan mendorong kita berbuat sebaliknya.

“Rashomon” dan Dunia yang Tidak Lagi Memiliki Satu Kebenaran

Jika ada satu sinema Kurosawa yang semakin terasa modern, mungkin jawabannya bukan “Seven Samurai”, melainkan “Rashomon” (1950).

Film ini menceritakan satu peristiwa melalui kesaksian berbeda yang saling bertentangan. Tidak ada varian yang benar-benar bisa dipercaya karena setiap orang membentuk kenyataan melalui ego, rasa malu, kepentingan, dan kebutuhan untuk melihat dirinya sendiri dalam posisi tertentu.

“Rashomon” memenangkan Golden Lion di Venice Film Festival pada 1951 dan membantu membuka perhatian internasional terhadap sinema Jepang. Pengaruhnya begitu besar hingga istilah Rashomon effect kemudian digunakan untuk menggambarkan situasi ketika orang berbeda memberikan varian berbeda terhadap peristiwa yang sama.

Lebih dari tujuh dasawarsa kemudian, ide tersebut terlebihlagi terasa lebih dekat dengan hayat sehari-hari. Satu peristiwa dapat memiliki banyak varian di media sosial. Video dipotong, konteks berubah, saksi memiliki perspektif pandang berbeda, sementara algoritma dapat membikin setiap himpunan menerima narasi yang berbeda.

Kurosawa membikin sinema tentang ketidakpastian fakta jauh sebelum istilah post-truth menjadi bagiankecil dari percakapan publik.

Rashomon Review

“Seven Samurai” dan Blueprint Film Aksi Modern

Jika “Rashomon” mengubah metode sinema melihat kebenaran, “Seven Samurai” (1954) mengubah sepertiapa sinema aksi dibangun.

Premisnya sederhana: sebuah desa miskin yang terus diserang bandit merekrut himpunan samurai untuk melindungi mereka. Namun dari struktur sederhana tersebut, Kurosawa membangun salah satu blueprint terpenting dalam sejarah action cinema.

Ada proses membentuk tim, memperkenalkan kapasitas masing-masing anggota, merencanakan pertahanan, membaca medan, membangun solidaritas, kemudian membawa semuanya menuju pertempuran besar. Struktur “assemble the team” tersebut kini terasa begitu familiar hingga gampang lupa benar-benar esensial efek “Seven Samurai” terhadap film-film berikutnya. BFI mencatat jejaknya dalam western, action film, “The Magnificent Seven”, hingga film-film yang menggunakan himpunan karakter berbeda untuk menjalankan sebuah misi.

“Star Wars”, “The Dirty Dozen”, “Sholay”, beragam heist movie, superhero ensemble, dan banyak blockbuster modern bekerja dengan ragam hakikat yang sama: kumpulkan individu dengan kapasitas berbeda, berikan tujuan bersama, kemudian biarkan perselisihan individual memperkaya misi tersebut.

Namun “Seven Samurai” tidak sekadar krusial karena strukturnya. Kurosawa juga memahami sesuatu yang statis menjadi masalah banyak blockbuster sekarang: action cuma terasa krusial jika kita memahami siapa yang mempertaruhkan sesuatu. Pertempuran adalah klimaks. Manusia statis menjadi ceritanya.

seven samurai review indonesia

Kamera Kurosawa Tidak Hanya Merekam Gerakan, Tapi Membuat Kita Merasakannya

Salah satu karena sinema Kurosawa statis terasa hidup adalah metode ia memperlakukan gerakan.

Angin meniup rumput. Hujan menghantam tubuh. Lumpur menempel pada medan perang. Orang berlari masuk dan keluar frame. Karakter bergeser dalam kedalaman ruang, sementara kamera dan editing mengarahkan perhatian tanpa membikin aksi kehilangan geografisnya.

Dalam “Seven Samurai”, cuaca bukan dekorasi. Hujan dan lumpur membikin pertempuran terakhir terasa kacau, berat, dan melelahkan. Kurosawa juga menggunakan beberapa kamera untuk merekam action sehingga performa dan pergerakan dapat terasa lebih spontan sekaligus memberikan elastisitas saat editing.

Penggunaan telephoto lens, wipe transition, slow motion yang selektif, blocking dalam beberapa lapisan, dan perhatian terhadap pergerakan himpunan kemudian menjadi bagiankecil dari kosakata action filmmaking modern. BFI terlebihlagi mencatat bahwa penggunaan slow motion Kurosawa dalam klimaks “Seven Samurai”, yang ketika itu sangat terkontrol, kemudian menjadi teknik yang jauh lebih lazim dalam sinema aksi.

Kurosawa memahami bahwa action bukan soal sebanyak apa yang bergeser di layar. Ia soal seberapa jelas pemirsa memahami pergerakan tersebut dan seberapa besar konsekuensinya terasa.

Toshiro Mifune dan Energi yang Sulit Direplikasi

Sulit membicarakan Kurosawa tanpa Toshiro Mifune. Kolaborasi mereka dimulai melalui “Drunken Angel” (1948) dan berkembang menjadi salah satu hubungan sutradara-aktor paling krusial dalam sejarah film. Mifune muncul dalam 16 sinema Kurosawa, memainkan gangster, dokter, samurai, polisi, pengusaha, hingga figur Shakespearean.

Kekuatan Mifune eksis pada daya fisiknya. Ia dapat bergeser seperti fauna yang terus mencari ruang untuk keluar, tetapi dalam sinema lain juga bisa menjadi sangat tenang dan terkontrol. Kurosawa memahami kualitas tersebut dan sering membangun karakter melalui metode tubuh bergeser sebelum percakapan menerangkan siapa mereka.

Dalam “Seven Samurai”, Kikuchiyo hampir selalu bergeser berlebihan, tertawa terlalu keras dan bereaksi terlalu cepat. Tubuhnya memberitahu seseorang yang sedang berupaya keras menjadi figur yang sebenarnya tidak sepenuhnya ia miliki. Sebaliknya, Sanjuro dalam “Yojimbo” kelihatan malas dan santai, tetapi setiap pergerakan kecil memberi kesan bahwa ia sedang membaca situasi jauh lebih cepat daripada orang lain.

Kolaborasi mereka membuktikan bahwa cinematic performance tidak cuma hidup dalam percakapan maupun ekspresi wajah. Karakter juga dibangun melalui ritme tubuh.

Samurai Kurosawa Tidak Pernah Sesederhana Pahlawan

Ironisnya, sutradara yang membantu membentuk deskripsi samurai bagi bumi justru sering mempertanyakan mitologi samurai itu sendiri.

Dalam “Seven Samurai”, garis antara kelas samurai dan petani tidak pernah sepenuhnya bersih. Kikuchiyo mengingatkan bahwa kekerasan samurai ikut menciptakan ketakutan dan kebencian penduduk terhadap mereka. Setelah kemenangan pun, para samurai tidak benar-benar menjadi pemenang. Desa balik menanam padi, sementara mereka yang statis hidup berdiri di depan makam rekan-rekannya.

Kurosawa tertarik pada heroisme, tetapi jarang membiarkan heroisme menjadi nyaman.

Karakter yang dianggap kuat mesti salingberhadapan dengan kegagalan. Kekuasaan gampang berubah menjadi paranoia. Kemenangan dapat meninggalkan kehilangan. Dalam “Ran” (1985), dominasi terlebihlagi berkembang menjadi kehancuran besar ketika seorang penguasa tua mesti menyaksikan akibat brutal dari bumi yang selama hidupnya ia bangun.

Di balik pedang, perang, dan spectacle, Kurosawa terus bertanya hal yang sama: apa yang tersisa dari manusia ketika struktur dominasi runtuh?

Akira Kurosawa

Kurosawa adalah Sutradara Jepang yang Selalu Berbicara dengan Dunia

Pengaruh internasional Kurosawa kadang menghasilkan anggapan bahwa sinemanya terlalu “Barat”. Bahkan pada masanya ia pernah dikritik di Jepang karena dianggap terlalu dekat dengan efek Barat, dakwaan yang ia bantah.

Memang, referensinya sangat luas. Ia mengagumi John Ford, Frank Capra, dan William Wyler. Ia mengadaptasi Shakespeare dalam “Throne of Blood” dan “Ran”, Dostoyevsky melalui “The Idiot”, Maxim Gorky lewat “The Lower Depths”, serta novel pelaku kejahatan Amerika dalam “High and Low”.

Namun justru di sinilah kekuatan Kurosawa berada. Ia memberitahu bahwa adat tidak mesti bekerja melalui batas yang tertutup. Western Amerika dapat menginspirasi sinema samurai Jepang, kemudian sinema samurai tersebut balik mengubah western Amerika. Shakespeare dapat bergeser ke Jepang feodal dan menemukan bentuk baru melalui Noh theatre, landscape, warna, serta sejarah Jepang.

“Yojimbo” kemudian menginspirasi Sergio Leone. “Seven Samurai” berubah menjadi “The Magnificent Seven”. Cara Kurosawa bercerita ikut membentuk filmmaker seperti George Lucas, Francis Ford Coppola, Martin Scorsese, Steven Spielberg, Sam Peckinpah, dan banyak generasi berikutnya.

Pengaruh adat bekerja seperti percakapan, bukan jalan satu arah. Kurosawa adalah salah satu contoh terbesarnya.

Humanisme di Balik Kekerasan

Mungkin sisi yang paling membikin Kurosawa bertetap bukan teknik kameranya maupun pengaruhnya terhadap blockbuster, melainkan humanisme yang terus muncul terlebihlagi dalam film-film paling gelap.

“Rashomon” memperlihatkan manusia yang berbohong untuk melindungi deskripsi dirinya, tetapi berakhir dengan aksi kecil yang memulihkan kemungkinan percaya kepada orang lain. “Ikiru” mengikuti birokrat yang baru mulai benar-benar hidup ketika mengetahui bahwa waktunya terbatas. “High and Low” menggunakan thriller penculikan untuk memperlihatkan jurang sosial yang secara harfiah divisualisasikan melalui rumah mewah di atas bukit dan kota di bawahnya.

Humanisme Kurosawa bukan optimisme naif. Ia sangat sadar bahwa manusia dapat egois, kejam, pengecut, dan haus kekuasaan. Justru karena itu, aksi sederhana seperti bertanggung jawab, membantu orang lain, maupun mempertahankan martabat menjadi penting.

Kurosawa tidak meminta kita percaya bahwa manusia pada dasarnya baik.

Ia lebih tertarik pada kemungkinan bahwa manusia masih bisa memilih untuk berbuat baik ketika bumi memberi cukup banyak karena untuk tidak melakukannya.

Mengapa Akira Kurosawa Masih Relevan?

Film-film Kurosawa mungkin memiliki samurai, desa abad ke-16, birokrat Jepang pascaperang, maupun kerajaan yang terinspirasi Shakespeare. Tetapi permasalahan di dalamnya sangat sulit disebut kuno.

Siapa yang bisa dipercaya ketika setiap orang memiliki versinya sendiri tentang kebenaran? Bagaimana himpunan dengan kepentingan berbeda bisa bekerja untuk tujuan bersama? Apa yang terjadi ketika kelas sosial menentukan harga hidup seseorang? Mengapa orang yang memiliki dominasi sering menghancurkan dirinya sendiri? Dan apa arti menjalani hidup secara berarti ketika waktu kita terbatas?

Pertanyaan tersebut statis hidup karena Kurosawa tidak membikin sinema tentang era tertentu saja. Ia membikin sinema tentang pola perilaku manusia yang terus berulang.

Tekniknya kemudian diwarisi cinema modern. Struktur ceritanya menjadi formula. Visualnya dipelajari filmmaker. Film-filmnya diremake dan direinterpretasi. Bahkan pemirsa yang tidak mengenal namanya statis dapat menemukan sebagian DNA Kurosawa dalam blockbuster, western, thriller, action movie, hingga serial modern.

Namun warisan terbesar Kurosawa mungkin bukan seberapa banyak filmmaker meniru kameranya. Ia membuktikan bahwa sinema dapat menjadi sangat menghibur tanpa kehilangan kompleksitas, sangat populer tanpa meremehkan penonton, dan sangat khusus terhadap suatu adat tanpa kehilangan kapasitas berbicara kepada dunia.

Lebih dari tujuh dasawarsa setelah “Rashomon” memperkenalkan namanya kepada audiens internasional, pelajaran itu statis terasa modern.

Sinema Akira Kurosawa bertetap bukan karena bumi statis membikin sinema seperti dirinya, tetapi karena begitu banyak sinema yang kita tonton hari ini statis berbicara menggunakan sebagian bahasa yang ia bantu ciptakan.

Artikel Lainnya Review Movie Terbaru
↑
Close Right Ads
Close Left Ads