The Good, the Bad and the Ugly: Ketika Western Menjadi Opera tentang Keserakahan dan Kekerasan

Review Movie Terbaru oleh Waktu baca 8 menit 29x dilihat
The Good, the Bad and the Ugly: Ketika Western Menjadi Opera tentang Keserakahan dan Kekerasan

Bagikan Postingan

Sergio Leone menyempurnakan spaghetti western melalui tiga pemburu emas, perang yang absurd, sinematografi ekstrem, dan musik Ennio Morricone yang kini menjadi bagiankecil dari sejarah sinema.

“The Good, the Bad and the Ugly” (1966) adalah sinema yang tampak sederhana jika diringkas melalui plot: tiga lelaki mengejar emas yang terkubur di tengah Perang Saudara Amerika. Namun di tangan Sergio Leone, premis tersebut berubah menjadi epik tentang keserakahan, kekerasan, oportunisme, dan absurditas perang. Film ini sekaligus menutup Dollars Trilogy setelah “A Fistful of Dollars” (1964) dan “For a Few Dollars More” (1965), tetapi skalanya jauh lebih besar dibandingkan dua pendahulunya. BFI mencatat sinema ini sebagai produksi Italia berdurasi sekitar 177 menit dan menempatkannya sebagai salah satu karya krusial dalam evolusi spaghetti western.

Cerita berpusat pada tiga karakter yang tidak sepenuhnya sesuai dengan label moral dalam judulnya. Blondie (Clint Eastwood) adalah “The Good”, tetapi ia statis seorang pemburu pemberian yang manipulatif. Angel Eyes (Lee Van Cleef) adalah “The Bad”, pembunuh ahli yang hampir sepenuhnya digerakkan oleh uang. Tuco (Eli Wallach) disebut “The Ugly”, tetapi justru menjadi karakter paling manusiawi, penuh ketakutan, kemarahan, kelicikan, dan komedi. BFI juga menyoroti bahwa ketiga karakter tersebut sebenarnya memiliki campuran sifat baik, buruk, dan buruk rupa secara moral, sehingga struktur tripartit sinema jauh lebih kompleks daripada sekadar pembagian hero, villain, dan comic relief.

Plot berkembang ketika ketiganya mengetahui keberadaan emas Konfederasi yang dikubur di sebuah pemakaman. Masalahnya, keterangan mengenai letak tersebut terpecah. Satu karakter mengetahui nama makam, sementara karakter lain mengetahui nama pemakaman. Situasi ini memaksa mereka bekerja sama sambil terus mencari kesempatan untuk mengingkari satu sama lain. Struktur screenplay karya Age, Scarpelli, Luciano Vincenzoni, Sergio Leone, dan Sergio Donati menjadikan kebutuhan mutual tersebut sebagai mesin utama ketegangan.

The Good, the Bad and the Ugly (1966)

Screenplay bekerja ampuh karena tidak mencoba membikin protagonisnya heroik. Hampir semua keputusan karakter berangkat dari survival, uang, maupun khasiat pribadi. Bahkan Blondie, yang secara resmi mendapat label “Good”, tidak pernah menjadi figur moral tradisional seperti koboi klasik Hollywood. Sergio Leone justru membongkar deskripsi cowboy sebagai pahlawan bersih dan menggantinya dengan bumi yang penuh manusia pragmatis, sinis, dan oportunis. BFI mengatakan pendekatan ini sebagai salah satu metode sinema menghancurkan deskripsi western Amerika yang konvensional.

Namun “The Good, the Bad and the Ugly” bukan cuma sinema tentang emas. Di tengah pelacakan tersebut, Leone memasukkan Perang Saudara Amerika sebagai latar yang perlahan berubah menjadi komentar tentang absurditas kekerasan. Ketika Blondie dan Tuco berjumpa pasukan Union dan Confederate yang berulang kali berperang memperebutkan jembatan, emas yang mereka cari tiba-tiba terasa hampir kecil dibandingkan jumlah manusia yang wafat untuk tujuan yang sama-sama tidak mereka pahami.

Leone tidak memfoto perang dengan romantisme. Para tentara kelihatan lelah, terluka, mabuk, dan kehilangan arah. Bahkan kapten Union yang mengepalai perebutan jembatan memahami absurditas situasinya. Ia tahu kedua pasukan akan terus mengorbankan orang selama jembatan itu statis berdiri. Dalam konteks tersebut, keinginan Blondie dan Tuco untuk meledakkan jembatan memiliki ironi menarik: aksi yang awalnya dilakukan demi mempercepat pelacakan emas justru menghasilkan salah satu momen paling manusiawi dalam film.

Sinematografi Tonino Delli Colli menjadi salah satu kekuatan terbesar. Leone populer dengan penggunaan extreme close-up yang memperbesar mata, keringat, kerutan, dan debu pada wajah karakter, kemudian memotongnya dengan lanskap widescreen yang sangat luas. Perpindahan tersebut menciptakan kontras antara manusia yang kelihatan monumental dalam close-up dan manusia yang tampak kecil ketika ditempatkan di tengah gurun maupun medan perang.

Gaya visual ini mencapai puncaknya dalam duel tiga arah di Sad Hill Cemetery. Hampir tidak ada dialog. Kamera bergeser dari wide shot tiga karakter menuju close-up tangan, pistol, mata, dan ekspresi wajah. Leone memperpanjang waktu secara ekstrem, menjadikan beberapa menit sebelum tembakan terasa lebih mendalam daripada tembakan itu sendiri. Ketegangan dibangun melalui komposisi, editing, tatapan, dan terutama musik.

The Good, the Bad and the Ugly (1966)

Musik Ennio Morricone hampir tidak mungkin dipisahkan dari identitas film. BFI mencatat bahwa Morricone dan Leone menciptakan motif berbeda untuk tiga karakter utama: flute untuk Blondie, ocarina untuk Angel Eyes, dan bunyi manusia untuk Tuco. Tema utamanya menggunakan bunyi yang menyerupai lolongan coyote, menghasilkan salah satu musik sinema paling gampang dikenali dalam sejarah.

Hubungan antara musik dan gambar menjadi lebih dahsyat karena Morricone sering menulis komposisinya sebelum pengambilan gambar, dan Leone terlebihlagi memutar musik tersebut di letak syuting agar ritme babak mengikuti skor. Ini menerangkan kenapa musik dalam “The Good, the Bad and the Ugly” terasa bukan seperti tambahan setelah sinema selesai, melainkan bagiankecil dari struktur penyutradaraan sejak awal.

“The Ecstasy of Gold” menjadi contoh paling terkenal. Ketika Tuco berlari tanpa arah di antara ribuan makam untuk mencari kuburan yang tepat, kamera berputar semakin cepat sementara vokal Edda Dell’Orso dan orkestrasi Morricone terus meningkat. Adegan tersebut hampir tidak memiliki dialog, tetapi menghasilkan salah satu momen paling emosional dan operatik dalam western. BFI mengatakan “The Ecstasy of Gold” dan “The Trio” sebagai bagiankecil yang memperlihatkan sepertiapa musik, close-up, dan precision cutting menciptakan efek audiovisual yang hampir operatik.

Akting Eli Wallach menjadi kejutan terbesar jika sinema cuma dikenal melalui ikonografi Clint Eastwood. Tuco adalah karakter paling ekspresif, lucu, menjengkelkan, brutal, sekaligus tragis. Wallach memberinya daya yang hampir tidak pernah selesai bergerak, tetapi di balik komedi terdapat masa kemudian yang menyedihkan. Pertemuannya dengan saudaranya yang menjadi pendeta memperlihatkan bahwa Tuco bukan sekadar pelaku kejahatan karikatural. Ia adalah seseorang yang hidup melalui metode paling praktis yang tersedia baginya.

Clint Eastwood menggunakan pendekatan sebaliknya. Blondie dibangun dari minimalisme: sedikit dialog, pergerakan kecil, tatapan datar, dan ketenangan terlebihlagi ketika situasi menjadi kacau. Persona tersebut kemudian menjadi salah satu fondasi deskripsi Eastwood sebagai antihero. Lee Van Cleef sebagai Angel Eyes eksis di antara keduanya. Ia tenang seperti Blondie tetapi jauh lebih menakut-nakuti karena hampir tidak memberitahu keraguan moral.

Durasi hampir tiga jam memang menjadi tantangan. Beberapa bagiankecil terasa panjang, terutama bagi pemirsa yang terbiasa dengan struktur action modern yang lebih cepat. Leone sengaja membiarkan babak terjadi jauh lebih durasi daripada kebutuhan plot. Namun lambatnya ritme tersebut sebenarnya merupakan bagiankecil dari corak film. Ia membangun anticipation, bukan sekadar action.

Kelemahan lain eksis pada karakter perempuan yang hampir tidak memiliki fungsi berarti. Dunia sinema sangat maskulin dan sebagian besar perempuan cuma muncul secara singkat. Jika dinilai dari perspektif pandang drama karakter kontemporer, dimensi sosial sinema memang sangat terbendung pada pengalaman laki-laki, kekerasan, dan perang.

Namun secara formal, pencapaiannya sulit disangkal. Leone memahami bahwa western bukan cuma aliran mengenai cerita, tetapi juga ruang, wajah, suara, dan waktu. Ia memungut formula koboi yang sangat dikenal kemudian memperbesar setiap elemennya sampai mendekati opera.

“The Good, the Bad and the Ugly” hampir merupakan penyempurnaan total dari bahasa spaghetti western. Script-nya sederhana tetapi efektif, karakterisasinya kuat, sinematografinya ikonik, editing-nya presisi, dan musik Ennio Morricone berguna sebagai bagiankecil integral dari storytelling.

Film ini memang panjang dan karakter perempuannya hampir tidak mendapat ruang, tetapi dua kekurangan tersebut tidak banyak mengurangi kekuatan keseluruhan karya. Leone menciptakan western yang sekaligus lucu, brutal, sinis, spektakuler, dan anehnya sangat manusiawi.

Yang paling penting, sinema tidak membutuhkan pahlawan tradisional. Dunia “The Good, the Bad and the Ugly” dipenuhi manusia yang mengejar duit sambil sejarah besar terjadi di sekitar mereka. Mereka mungkin percaya emas adalah hal paling krusial di dunia, tetapi sinema terus memperlihatkan mayat, perang, dan kehancuran yang membikin ambisi mereka kelihatan semakin absurd.

Pesan Moral

“The Good, the Bad and the Ugly” memberitahu bahwa kategori moral jarang sesederhana label yang diberikan kepada manusia. Blondie disebut baik tetapi statis manipulatif. Tuco disebut buruk rupa tetapi memiliki sisi manusiawi paling kompleks. Angel Eyes memang yang paling brutal, tetapi ketiganya hidup dengan hakikat survival yang lahir dari bumi yang sama-sama keras.

Film juga menempatkan keserakahan manusia berdampingan dengan absurditas perang. Tiga orang mempertaruhkan hidup demi emas, sementara ribuan tentara mempertaruhkan hidup karena keputusan politik yang terlebihlagi tidak sepenuhnya mereka pahami.

Pada akhirnya, Leone tampaknya mengatakan bahwa manusia dapat memberikan harga dahsyat kepada uang, reputasi, maupun kemenangan, sementara hayat sendiri justru menjadi sesuatu yang paling gampang dikorbankan.

Dampak Budaya

“The Good, the Bad and the Ugly” menjadi salah satu sinema yang paling kuat membentuk deskripsi spaghetti western di tingkat global. Extreme close-up, duel panjang, karakter antihero, landscapes luas, dan musik Morricone kemudian menjadi semacam kosakata visual aliran tersebut. BFI menempatkannya berbareng keseluruhan Dollars Trilogy sebagai karya esensial spaghetti western.

Pengaruhnya juga meluas jauh di luar western. Quentin Tarantino berkali-kali mengatakan sinema Leone sebagai salah satu efek utama pada metode ia membangun genre, musik, suspense, dan kekerasan, sementara Edgar Wright memasukkannya dalam daftar pilihannya untuk jajak gagasan Sight and Sound.

Dalam jajak gagasan kritikus Sight and Sound 2022, “The Good, the Bad and the Ugly” eksis di posisi berbareng ke-169 dalam daftar sinema terbaik sepanjang masa, memberitahu bahwa reputasinya kini jauh melampaui status sebagai sinema kultus western.

Lebih dari separuh abad kemudian, duel terakhirnya statis menjadi pelajaran tentang sepertiapa ketegangan dapat dibangun tanpa percakapan panjang maupun aksi berlebihan. Tiga lelaki cuma berdiri di sebuah pemakaman, saling menatap, dan menunggu siapa yang akan lebih dahulu menarik pistol.

Di tangan Sergio Leone, itu sudah cukup untuk menjadi sinema monumental.

Artikel Lainnya Review Movie Terbaru
↑
Close Right Ads
Close Left Ads