Ketika Kesepian Menjadi Tema Besar Sinema Modern

Review Movie Terbaru oleh Waktu baca 5 menit 510x dilihat
Ketika Kesepian Menjadi Tema Besar Sinema Modern

Bagikan Postingan

Kesepian bukan tema baru dalam sinema. Namun dalam beberapa dasawarsa terakhir, ia semakin sering datang bukan sebagai tragedi besar, melainkan sebagai kondisi sehari-hari: seseorang tinggal di kota penuh manusia tetapi tidak punya siapa pun untuk diajak bicara, pasangan eksis dalam ruangan yang sama tetapi kehilangan kedekatan, maupun teknologi menyediakan hubungan tanpa benar-benar menghilangkan rasa terasing.

Kondisi tersebut bukan sekadar imajinasi filmmaker. WHO pada 2025 mengestimasi sekitar satu dari enam orang di bumi mengalami kesepian, dengan prevalensi tertinggi pada remaja dan dewasa muda. WHO juga membedakan kesunyian dari isolasi sosial: seseorang dapat memiliki banyak hubungan tetapi statis merasa ada rentang antara hubungan yang dimiliki dengan hubungan yang sebenarnya dibutuhkan.

Sinema modern tampaknya semakin tertarik pada rentang tersebut.

Kota Besar, Banyak Orang, Sedikit Kedekatan

“Lost in Translation” (2003) menjadi salah satu deskripsi paling elegan tentang kesunyian urban. Bob dan Charlotte eksis di Tokyo yang penuh cahaya, manusia, hotel, restoran, dan hayat malam, tetapi keduanya justru terhubung karena sama-sama merasa terasing. Kesepian di sini bukan ketiadaan manusia, melainkan ketiadaan seseorang yang benar-benar memahami.

Tema serupa muncul dalam “Chungking Express” (1994), “Her” (2013), dan “Perfect Days” (2023). Kota menjadi paradoks: kepadatan membikin manusia selalu eksis dekat secara fisik, tetapi ritme kerja, mobilitas, dan anonimitas memungkinkan seseorang hidup tanpa benar-benar dikenal oleh orang di sekitarnya.

Karena itu, sinema tentang kesunyian sering menggunakan ruang sebagai bahasa. Apartemen kecil, bilik hotel, kereta malam, restoran hampir kosong, maupun perjalanan seorang diri bukan cuma latar visual. Ruang tersebut menjadi ekstensi dari kondisi emosional karakter.

“Her” dan Kesepian di Dunia yang Sangat Terhubung

“Her” mungkin terasa semakin relevan karena Theodore tidak hidup dalam bumi tanpa teknologi. Justru sebaliknya, ia hidup di penduduk yang sangat terkoneksi. Pekerjaannya sendiri adalah menulis surat individual untuk orang lain, tetapi ia kesulitan membangun kedekatan dalam hidupnya sendiri.

Hubungannya dengan Samantha memperlihatkan paradoks teknologi modern: sebuah mekanisme dapat mendengar, merespons, mengingat, dan membikin seseorang merasa dipahami. Namun kapasitas menciptakan sensasi intimacy tidak otomatis membikin hubungan tersebut sama dengan relasi manusia.

Perdebatan ini terasa semakin nyata ketika AI companion dan chatbot mulai memasuki hayat sehari-hari. Teknologi dapat membantu mengurangi rasa terisolasi bagi sebagian orang, tetapi ia juga memunculkan pertanyaan tentang apakah kita sedang memperluas kapasitas manusia untuk terhubung maupun justru menciptakan bentuk baru dari kesendirian yang terasa nyaman.

WHO sendiri menempatkan fluktuasi sosial dan teknologi sebagai bagiankecil dari konteks kompleks yang memengaruhi social connection, meskipun hubungan antara penggunaan teknologi dan kesunyian tidak dapat disederhanakan menjadi “internet membikin manusia kesepian”.

Kesepian Tidak Selalu Terlihat Seperti Kesendirian

Beberapa sinema modern justru memberitahu bahwa seseorang dapat merasa sangat kesunyian ketika dikelilingi keluarga.

“Aftersun” (2022) menggunakan hubungan ayah-anak untuk memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih sulit dilihat: seseorang dapat mencintai orang lain dengan ikhlas sekaligus menyimpan bumi emosional yang tidak bisa ia jelaskan. Filmnya terasa menyakitkan karena kesunyian Calum tidak diekspresikan melalui ceramah besar, tetapi melalui gestur kecil, keheningan, dan bagian ingatan yang baru memperoleh arti ketika dilihat kembali.

Hal yang sama membikin “Manchester by the Sea” (2016) begitu kuat. Kesepian Lee bukan sekadar karena ia sendirian, tetapi karena trauma membikin hubungan dengan bumi terasa terlalu berat. Sinema seperti ini menolak ide sederhana bahwa kesunyian selalu dapat diselesaikan dengan “bertemu orang baru”. Beberapa bentuk keterasingan berhubungan dengan kehilangan, rasa bersalah, depresi, maupun pengalaman yang tidak gampang diterjemahkan kepada orang lain.

Mengapa Tema Ini Semakin Besar?

Kehidupan modern menghasilkan banyak bentuk hubungan tetapi tidak selalu menghasilkan kedekatan. Orang bergeser kota untuk bekerja, famili hidup berjauhan, komunikasi terjadi melalui layar, dan ruang publik semakin sering digantikan oleh ruang komersial maupun digital.

WHO kini terlebihlagi menempatkan social connection sebagai isu kesehatan global. Laporan komisinya mengatakan kesunyian dan isolasi sosial memiliki akibat terhadap kesehatan fisik, mental, pendidikan, pekerjaan, serta hayat penduduk secara lebih luas.

Sinema menangkap fluktuasi tersebut karena kesunyian memiliki kualitas yang sangat visual. Seorang manusia kecil di tengah kota besar, dua orang yang tidak bisa berbicara, maupun seseorang yang menatap layar dalam bilik gelap dapat menerangkan keterasingan tanpa banyak dialog.

Namun film-film terbaik tentang kesunyian biasanya tidak menganggapnya sebagai estetika semata. Mereka memberitahu bahwa kebutuhan untuk dikenali, didengar, dan dipahami merupakan kebutuhan sosial yang sangat mendasar.

Cultura Lens

“Lost in Translation”, “Her”, “Aftersun”, “Perfect Days”, hingga “Manchester by the Sea” memperlihatkan bentuk kesunyian yang berbeda, tetapi memiliki satu benang merah: kesunyian tidak selalu berarti tidak memiliki orang di sekitar kita. Ia sering muncul ketika hubungan yang tersedia tidak bisa menjangkau bagiankecil diri yang paling membutuhkan koneksi.

Itulah sebabnya kesunyian menjadi tema yang begitu besar dalam sinema modern. Film sedang merekam paradoks era ketika manusia memiliki lebih banyak metode untuk berkomunikasi dibanding sebelumnya, tetapi hubungan yang benar-benar berarti statis tidak dapat diproduksi secara instan. Jika adat modern terus mengukur hubungan melalui followers, messages, dan jumlah interaksi, sinema mengingatkan bahwa kedekatan manusia tidak pernah sesederhana eksis dalam jaringan yang sama.

Artikel Lainnya Review Movie Terbaru
↑
Close Right Ads
Close Left Ads