“Raise the Red Lantern” (1991) adalah sinema yang sangat elok untuk dilihat, tetapi keelokan itu justru menjadi bagiankecil dari kekejamannya. Zhang Yimou membangun bumi dengan warna merah, arsitektur simetris, kostum elegan, dan ritual yang tampak teratur, kemudian perlahan memperlihatkan bahwa semua keteraturan tersebut sebenarnya merupakan mekanisme kontrol. Di balik lampion merah yang menyala, tidak ada romantisme. Yang ada adalah persaingan, kecemburuan, manipulasi, dan mekanisme patriarki yang membikin para perempuan saling mengamati demi memperoleh sedikit perhatian dari seorang lelaki yang hampir tidak pernah menjadi pusat visual film.
Cerita berpusat pada Songlian, diperankan Gong Li, seorang perempuan muda berilmu yang terpaksa menghentikan kuliahnya setelah kondisi ekonomi keluarganya memburuk. Ia kemudian menikah dengan Master Chen dan menjadi istri keempat dalam sebuah rumah besar yang sudah dihuni tiga istri lainnya. Dari titik ini, “Raise the Red Lantern” bergeser seperti drama domestik, tetapi struktur rumah tersebut segera terasa seperti miniatur sebuah negara otoriter. Setiap istri memiliki ruang sendiri, status sendiri, dan kesempatan untuk memperoleh privilese jika sang suami memilih menghabiskan malam bersamanya.
Lampion merah menjadi simbol paling penting. Ketika Master Chen memilih salah satu istrinya, lentera merah dinyalakan di halaman perempuan tersebut. Dengan pilihan itu datang beragam keuntungan: pijat kaki, makanan yang diinginkan, perhatian lebih, dan status sosial yang meningkat untuk sementara. Sistem ini sangat sederhana, tetapi screenplay karya Ni Zhen menggunakan kesederhanaan tersebut untuk membangun perselisihan kejiwaan yang semakin tajam. BFI mencatat Ni Zhen sebagai penulis skenario, dengan cerita berdasarkan novella karya Su Tong.
Yang menarik, Zhang Yimou tidak menggambarkan para istri cuma sebagai korban pasif. Mereka memang hidup di dalam struktur yang menindas, tetapi masing-masing mengembangkan strategi berbeda untuk bertahan. Ada yang tampil ramah tetapi manipulatif, ada yang lebih terbuka dalam memberitahu permusuhan, dan ada yang menggunakan performa, kesehatan, maupun kehamilan sebagai instrumen untuk memperoleh keuntungan. Di sinilah sinema menjadi jauh lebih kompleks daripada kritik sederhana terhadap patriarki. Kekuasaan bekerja bukan cuma dari atas ke bawah, tetapi juga horizontal, membikin para korban mekanisme justru saling menyerang demi mendapatkan ruang sedikit lebih aman.

Songlian menjadi karakter paling menarik karena ia masuk ke rumah tersebut dengan gabungan kecerdasan dan harga diri. Awalnya ia menolak beberapa ritual dan mempertahankan sikap kritis, tetapi mekanisme secara perlahan mengubahnya. Gong Li memainkan transformasi ini dengan sangat presisi. Songlian tidak tiba-tiba menjadi manipulatif; fluktuasi terjadi melalui tatapan, nada bicara, rasa kecewa, dan kebutuhan untuk mempertahankan posisi. Semakin durasi ia eksis di rumah, semakin jelas bahwa bertetap hidup di sana hampir selalu menuntut kompromi moral.
Performa Gong Li menjadi salah satu kekuatan utama film. Ia tidak cuma memainkan karakter yang sedang ditindas, tetapi juga seseorang yang perlahan memahami ketentuan permainan kemudian mencoba menggunakannya. Ketika strategi Songlian gagal maupun justru berbalik menyerangnya, fluktuasi emosinya terasa sangat meyakinkan. Cao Cuifen dan He Saifei juga memberikan performa kuat sebagai istri-istri lain, sehingga persaingan mereka tidak terasa seperti perselisihan melodramatis biasa, melainkan benturan antarindividu yang sama-sama terjebak dalam struktur yang sama. BFI mencatat Gong Li, Ma Jingwu, dan He Caifei sebagai pemeran utama film.
Sinematografi Zhao Fei menjadi elemen yang hampir tidak terpisahkan dari arti film. Komposisi sering dibangun secara simetris, dengan karakter ditempatkan di dalam arsitektur yang terasa beku dan geometris. Courtyard, pintu, dinding, dan lorong berguna seperti bingkai yang membatasi tubuh para perempuan. Secara visual, rumah tersebut terasa besar, tetapi kebebasan para karakter justru sangat kecil.
Penggunaan warna merah juga jauh lebih kompleks daripada sekadar estetika. Lampion merah menandakan perhatian, seksualitas, status, dan kekuasaan. Namun semakin sering warna tersebut muncul, semakin jelas bahwa kehangatan visualnya justru menutupi mekanisme yang dingin. Merah tidak cuma berarti gairah, tetapi juga perlombaan dan ancaman. Film Movement terlebihlagi menekankan bahwa kekuatan visual sinema terletak pada penggunaan warna primer dan cahaya yang sangat terkontrol.
Desain produksinya juga patut dibahas sebagai bagiankecil dari storytelling. Rumah famili Chen bukan cuma lokasi, tetapi mesin sosial. Setiap halaman menciptakan hierarki. Setiap pintu menandai batas. Setiap ritual menguatkan aturan. Zhang Yimou jarang memperlihatkan bumi luar secara signifikan, sehingga pemirsa mengalami rumah tersebut sebagai ruang tertutup yang hampir tidak memiliki jalan keluar.
Keputusan untuk tidak menampilkan Master Chen secara dominan juga sangat efektif. Ia datang sebagai pemilik sistem, tetapi bukan pusat visualnya. Dengan metode ini, dominasi terasa lebih impersonal. Yang menindas para perempuan bukan cuma satu laki-laki, melainkan seluruh struktur yang sudah dianggap normal.

Musik Zhao Jiping membantu menguatkan kondisi ritualistik dan tekanan psikologis. Bunyi perkusi, vokal opera, dan motif repetitif menambah rasa bahwa hayat di rumah tersebut berjalan dalam pola yang tidak gampang diubah. Musik tidak terlalu sering berupaya memanipulasi emosi secara langsung; ia lebih seperti pengingat bahwa para karakter bergeser di dalam mekanisme yang ritmenya sudah ditentukan jauh sebelum mereka datang.
Screenplay “Raise the Red Lantern” juga unggul dalam penggunaan repetisi. Setiap malam membawa kemungkinan yang sama: lampion akan dinyalakan di salah satu halaman. Ritual berulang tersebut perlahan berubah dari sesuatu yang eksotis menjadi sesuatu yang mengerikan. Penonton akhirnya memahami bahwa rutinitas bukan sekadar kebiasaan, tetapi alat kontrol.
Kelemahan sinema mungkin terletak pada simbolismenya yang terkadang sangat eksplisit. Lampion, pijat kaki, ruang tertutup, dan pergantian musim begitu jelas berguna sebagai metafora sehingga beberapa momen terasa hampir terlalu terstruktur. Namun presisi resmi Zhang Yimou membikin simbol-simbol tersebut statis ampuh karena selalu terhubung dengan pengalaman emosional karakter.
Film juga bergeser dengan ritme yang tenang dan repetitif, yang bisa terasa lambat bagi pemirsa yang mengharapkan perselisihan langsung. Tetapi justru pengulangan tersebut yang membikin tekanan semakin besar. Kekerasan dalam “Raise the Red Lantern” jarang datang sebagai ledakan fisik. Ia tumbuh dari aturan, bisikan, penghinaan, dan akibat yang dijalankan atas nama tradisi.
Hubungan “Raise the Red Lantern” dengan “Ju Dou” (1990) juga krusial karena keduanya memperlihatkan sepertiapa Zhang Yimou dan Gong Li menggunakan ruang domestik untuk membedah patriarki. Dalam “Ju Dou”, represi muncul melalui perkawinan paksa, kekerasan seksual, dan famili yang mengontrol tubuh perempuan secara langsung.
“Raise the Red Lantern” bergeser dengan metode yang lebih terstruktur dan ritualistik: dominasi tidak selalu datang melalui kekerasan terbuka, tetapi lewat aturan, privilese, dan perlombaan antaristri. Jika “Ju Dou” terasa lebih panas, sensual, dan tragis, “Raise the Red Lantern” lebih dingin serta sistematis. Keduanya sama-sama memberitahu bahwa rumah dapat berubah dari ruang privat menjadi institusi politik kecil, tempat tubuh perempuan, hasrat, dan kebebasan diatur oleh struktur yang jauh lebih besar daripada hubungan personal.
“Raise the Red Lantern” adalah salah satu sinema paling kuat tentang sepertiapa dominasi dapat bekerja melalui ritual dan kebiasaan sehari-hari. Zhang Yimou tidak membutuhkan kekerasan konstan maupun antagonis yang terus datang di layar. Ia cukup memperlihatkan sebuah mekanisme yang membikin manusia saling mengawasi, bersaing, dan akhirnya menghancurkan satu sama lain.
Keberhasilan sinema datang dari gabungan screenplay yang disiplin, sinematografi yang sangat terkontrol, rancangan produksi yang simbolis, dan performa Gong Li yang kompleks. Film ini indah, tetapi keelokan tersebut tidak pernah terasa aman.
Pesan Moral
“Raise the Red Lantern” memberitahu bahwa mekanisme yang tidak fair dapat membikin orang yang tertindas ikut mempertahankan mekanisme tersebut. Para istri Master Chen bersaing bukan karena mereka secara alami saling membenci, tetapi karena struktur rumah membikin perhatian suami menjadi satu-satunya sumber status dan keamanan.
Film juga mengingatkan bahwa privilese kecil dapat menjadi alat kontrol yang sangat efektif. Pijat kaki, pilihan makanan, dan lampion merah mungkin kelihatan sepele, tetapi semuanya menciptakan ketergantungan. Ketika manusia dipaksa bersaing untuk mendapatkan sedikit keuntungan, solidaritas menjadi sulit terbentuk.
Dampak Budaya
“Raise the Red Lantern” menjadi salah satu sinema yang menguatkan reputasi Zhang Yimou dan Gong Li di panggung internasional. Film ini memenangkan Silver Lion dan FIPRESCI Prize di Venice Film Festival 1991, kemudian mendapat nominasi Academy Award untuk Best Foreign Language Film dan memenangkan BAFTA untuk Best Film Not in the English Language.
Secara budaya, sinema ini sering dibaca sebagai kritik terhadap patriarki, tetapi relevansinya melampaui gender. Rumah famili Chen dapat dilihat sebagai deskripsi tentang mekanisme dominasi yang mempertahankan dirinya melalui ritual, hierarki, kompetisi, dan pengawasan internal.
Restorasi 4K terbaru yang dikerjakan pada 2024 menggunakan negatif gambar dan bunyi autentik di bawah supervisi Zhang Yimou, dengan cetakan vintage Venice 1991 sebagai rujukan warna. Fakta ini memberitahu bahwa lebih dari tiga dasawarsa setelah dirilis, sinema tersebut statis diperlakukan sebagai karya krusial yang perlu dipreservasi secara serius.
“Raise the Red Lantern” statis kuat bukan karena dunianya terasa asing, tetapi karena mekanisme kekuasaannya terasa terlalu familiar. Sistem paling ampuh tidak selalu membutuhkan kekerasan terbuka. Kadang cukup dengan membikin orang percaya bahwa privilese kecil adalah sesuatu yang layak diperebutkan.
Sumber: British Film Institute (BFI), Film Movement, Academy of Motion Picture Arts and Sciences, Venice Film Festival, BAFTA.