Kita mungkin tidak pernah berjumpa seorang penyanyi favorit, tetapi tahu makanan kesukaannya, melihat bilik tidurnya, mengikuti perjalanan turnya, mendengar cerita tentang keluarganya, terlebihlagi mengetahui kondisi hatinya melalui Instagram Story. Setelah mengikuti seseorang selama bertahun-tahun, rasa familiar itu dapat berkembang menjadi sesuatu yang terasa jauh lebih individual daripada sekadar menjadi fan.
Psikologi menyebutnya parasocial relationship: hubungan emosional satu arah dengan figur media, selebritas, karakter fiksi, influencer, maupun terlebihlagi perantara berbasis AI. American Psychological Association menjelaskannya sebagai hubungan yang dapat memiliki elemen intimacy, trust, dan rasa kedekatan seperti relasi sosial biasa, tetapi tanpa evolusi dan kesadaran timbal balik yang benar-benar setara.
Konsep ini sebenarnya bukan produk Instagram maupun TikTok. Donald Horton dan R. Richard Wohl memperkenalkan istilah para-social interaction pada 1956 ketika mempelajari sepertiapa radio dan televisi menciptakan imajinasi hubungan tatap muka antara performer dan audiens. Yang berubah hari ini bukan kebutuhan manusia untuk merasa dekat dengan figur publik, melainkan teknologi yang membikin imajinasi kedekatan tersebut jauh lebih kuat.
Dari Layar Televisi ke Close Friends
Pada era televisi, hubungan parasosial memiliki batas yang relatif jelas. Penonton melihat presenter maupun pemeran melalui layar, sementara hayat pribadi figur tersebut sebagian besar eksis di luar jangkauan. Media sosial meruntuhkan banyak batas itu.
Celebrity dan creator kini dapat berbicara langsung ke kamera dari rumah, membalas komentar, berbuat livestream, membaca pesan penggemar, maupun membagikan detail hayat sehari-hari. Fitur seperti Stories, live chat, broadcast channel, membership, dan direct message menciptakan sensasi hubungan yang jauh lebih personal.
Riset terbaru memberitahu bahwa ciri khas platform seperti interaktivitas, richness, community, dan terlebihlagi fitur gifting ikut menguatkan parasocial interaction. Systematic review pada 2026 yang menganalisis 76 riset tentang influencer menemukan bahwa hubungan semacam ini tidak cuma dipengaruhi oleh figur yang diikuti, tetapi juga oleh rancangan medium tempat hubungan tersebut berlangsung.
Inilah perbedaan krusial antara celebrity culture durasi dan creator culture sekarang. Dulu peminat mengetahui artis melalui wawancara maupun majalah; kini mereka bisa melihat artis membikin kopi pada pagi hari. Kedekatan menjadi lebih rutin, informal, dan terasa tidak dimediasi. Padahal statis ada kamera di antaranya.
Mengapa Hubungan Satu Arah Bisa Terasa Sangat Nyata?
Parasocial relationship bukan berarti seseorang delusional maupun tidak bisa membedakan kenyataan. Hubungan tersebut bekerja karena otak manusia memang merespons pola sosial yang familiar: wajah yang terus kita lihat, bunyi yang sering kita dengar, cerita pribadi yang kita ikuti, serta rasa kesamaan dengan seseorang.
APA mencatat bahwa hubungan parasosial tidak selalu buruk. Ia dapat membantu seseorang merasa terhubung, memperluas perspektif, memberikan inspirasi, terlebihlagi berkontribusi pada well-being dalam konteks tertentu.
Menjadi fan juga dapat menciptakan hubungan sosial nyata. Orang berjumpa karena musisi yang sama, masuk kelompok film, berganti teori serial, maupun membangun persahabatan melalui fandom. Dalam kasus seperti ini, figur selebritas menjadi titik mula untuk hubungan yang justru sepenuhnya timbal balik di antara para fans.
Masalah muncul ketika perasaan mengenal seseorang berkembang menjadi kepercayaan bahwa kita memiliki hak atas hidupnya.

Dari Intimacy Menjadi Entitlement
Seorang fan dapat mengikuti artis selama sepuluh tahun. Ia mengetahui perjalanan karier, hubungan romantis, keluarga, terlebihlagi masa sulit sang artis. Secara emosional, sejarah tersebut memang nyata bagi fan. Namun dari sisi selebritas, hubungan individual dengan jutaan individu tersebut tidak pernah benar-benar terbentuk.
Ketidakseimbangan ini menerangkan kenapa beberapa fluktuasi dalam hayat selebritas dapat memicu respons yang sangat emosional. Fans dapat merasa kecewa ketika idol memiliki pasangan, berang ketika figur favorit memungut keputusan yang tidak sesuai ekspektasi, maupun merasa “dikhianati” ketika deskripsi publik rupanya berbeda dengan hayat pribadi.
Parasocial relationship kemudian berubah dari affection menjadi entitlement. Karena telah memberikan waktu, uang, stream, vote, maupun sokongan bertahun-tahun, sebagian peminat merasa memiliki saham emosional dalam hayat seseorang.
Namun sokongan bukan kontrak kepemilikan.
Seorang artis dapat bersyukur kepada peminat tanpa menyerahkan hak atas hayat pribadinya. Intimacy yang diproduksi media statis berbeda dengan intimacy dalam hubungan personal.
Influencer Mengubah Kedekatan Menjadi Model Bisnis
Hubungan parasosial menjadi semakin krusial ketika masuk ke influencer economy. Creator tidak cuma menjual reach; mereka menjual trust.
Sebuah meta-analysis terhadap 53 riset influencer menemukan bahwa credibility, trustworthiness, dan perceived expertise merupakan aspek krusial dalam membentuk sikap audiens. Penelitian lain pada 2025 juga memberitahu bahwa parasocial engagement dengan influencer dapat memengaruhi brand association dan purchase intention.
Ini menerangkan kenapa sebuah anjuran creator dapat terasa berbeda dari iklan biasa. Ketika seseorang sudah menonton ratusan videonya, memahami corak hidupnya, dan merasa memiliki kesamaan dengannya, anjuran produk dapat terasa seperti saran dari orang yang dikenal. Secara komersial, mekanisme itu sangat kuat.
Riset 2026 tentang purchase intention menemukan bahwa perceived similarity, engagement, trustworthiness, dan brand credibility berhubungan positif dengan sikap konsumen yang kemudian mendorong niat pembelian.
Di sinilah batas antara hubungan dan transaksi menjadi semakin kabur. Seorang creator mungkin memang ikhlas berbagi hidupnya, tetapi intimacy yang tercipta sekaligus memiliki harga ekonomi. Cerita pribadi dapat menaikkan engagement, engagement menaikkan trust, dan trust dapat dikonversi menjadi penjualan.
Authenticity Juga Bisa Menjadi Strategi
Budaya creator sangat menghargai authenticity. Audiens menyukai figur yang terasa jujur, spontan, dan tidak terlalu polished. Karena itu, konten yang memperlihatkan rumah, hubungan, masalah pribadi, maupun hayat di belakang layar sering terasa lebih dekat.
Namun authenticity di media sosial statis merupakan bentuk representasi. Bahkan konten yang kelihatan spontan statis melewati keputusan tentang kapan kamera dinyalakan, apa yang dibagikan, dan apa yang statis disimpan.
Penelitian terhadap lebih dari 7.000 unggahan influencer Instagram menemukan hubungan antara parasocial interaction yang lebih kuat dan penguatan parasocial relationship, termasuk ketika creator membagikan jenis konten tertentu kepada pengikutnya.
Ini tidak berarti semua kedekatan online palsu. Yang perlu dipahami adalah bahwa akses bukanlah hal yang sama dengan mengenal seseorang secara utuh. Kita cuma mengenal bagiankecil yang tersedia bagi kita.
Influencer Tidak Lagi Harus Manusia
Perkembangan virtual influencer dan AI membikin konsep parasocial relationship semakin menarik. Jika dahulu hubungan parasosial muncul dengan aktor, penyanyi, maupun presenter nyata, kini riset memberitahu manusia juga dapat membentuk hubungan serupa dengan figur digital.
Sebuah studi terhadap 826 pelanggan Instagram menemukan bahwa ciri khas manusiawi pada virtual influencer, berbareng trustworthiness dan identification, dapat membantu membentuk parasocial relationship. Studi lain pada pelanggan TikTok memberitahu bahwa AI influencer pun dapat menghasilkan emotional engagement dan social capital tertentu.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa parasocial relationship tidak sepenuhnya bersandar pada keberadaan orang nyata di balik figur tersebut. Yang dibutuhkan adalah perasaan adanya personality, consistency, dan connection.
Di masa depan, pertanyaan tentang siapa yang “kita kenal” di internet mungkin menjadi semakin rumit ketika figur yang kita ikuti terlebihlagi tidak memiliki hayat di luar layar.

Cultura Lens
“Misery” (1990) mungkin merupakan varian paling ekstrem dan mengerikan tentang ketika fandom berubah menjadi rasa memiliki. Annie Wilkes tidak sekadar menyukai karya penulis Paul Sheldon; ia merasa memiliki hak untuk menentukan apa yang mesti ditulis sang penulis dan sepertiapa karakter favoritnya seharusnya hidup. Tentu sebagian besar parasocial relationship tidak pernah mendekati situasi ekstrem seperti ini, tetapi logika dasarnya terasa relevan: kekaguman dapat menjadi problematis ketika fan mulai menganggap akses emosional sebagai kepemilikan.
Serial seperti “Swarm” (2023) membawa ide tersebut ke era fandom internet, memperlihatkan sepertiapa identitas pribadi dapat larut ke dalam loyalitas ekstrem terhadap figur pop. Kedua karya ini mengingatkan bahwa menjadi fan adalah bagiankecil normal dari adat manusia; yang mesti dijaga adalah batasnya.
Media sosial telah membikin rentang antara peminat dan selebritas terasa semakin kecil, tetapi teknologi tidak benar-benar menghapus ketimpangan hubungan tersebut. Kita dapat mengetahui banyak hal tentang figur yang kita ikuti tanpa mereka mengetahui siapa kita. Kita dapat merasakan kedekatan tanpa benar-benar memiliki hubungan individual dengan mereka.
Parasocial relationship menjadi sehat selama kedekatan statis disertai kesadaran akan batas. Menjadi fan memberi kita hak untuk menyukai karya, berdiskusi, dan terlebihlagi kecewa; ia tidak memberi hak untuk mengendalikan hayat orang yang menciptakannya. Di era ketika intimacy dapat menjadi konten dan perhatian dapat dimonetisasi, kapasitas membedakan antara merasa dekat dan benar-benar memiliki hubungan mungkin justru menjadi bentuk literasi adat yang semakin penting.