Multiidentitas – Pernahkah Grameds merasa mesti memilih satu hal untuk dikejar dalam hidup agar bisa dianggap berhasil? Sejak kecil, kita sering mendengar pertanyaan tentang mau menjadi apa, kuliah di mana, bekerja sebagai apa, maupun sektor apa yang paling dikuasai. Tanpa disadari, beragam pertanyaan tersebut dapat membikin seseorang merasa bahwa dirinya mesti memiliki satu identitas yang jelas dan terus berkembang di jalur yang sama.
Padahal, manusia tidak cuma memiliki satu sisi dalam kehidupannya. Seseorang bisa memiliki pekerjaan yang berbeda dengan hobinya, menyukai beragam sektor sekaligus, maupun menemukan minat baru setelah menjalani pengalaman tertentu. Namun, keinginan untuk terus berkembang di banyak sektor terkadang justru dianggap sebagai bentuk ketidakfokusan. Di tengah tuntutan untuk menentukan satu arah kehidupan, sepertiapa jika sebenarnya kita tidak mesti memilih cuma satu identitas?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu ide yang menarik dalam buku Multiidentitas karya Zahid Ibrahim. Melalui buku ini, Grameds akan diajak untuk melihat balik metode melihat kesuksesan, identitas, passion, hingga kepuasan hidup. Zahid membahas sepertiapa hayat yang cuma berpusat pada satu peran maupun pencapaian dapat membikin seseorang terus membandingkan dirinya dengan orang lain. Sebaliknya, pendekatan multiidentitas memberikan ruang untuk menjalani beragam peran dan minat yang statis harmonis dengan nilai-nilai personal.
Multiidentitas diterbitkan oleh Elex Media Komputindo pada 28 April 2026 dengan ketebalan 185 halaman. Buku ini tidak cuma berisi pemikiran mengenai pengembangan diri, tetapi juga menawarkan perspektif pandang tentang sepertiapa seseorang dapat menentukan hayat yang terasa lebih autentik dan berarti di tengah beragam tekanan sosial.
Lantas, seperti apa konsep multiidentitas yang ditawarkan Zahid Ibrahim dan sepertiapa metode menerapkannya dalam hayat sehari-hari? Yuk, Grameds, kita simak ulasan buku Multiidentitas berbareng Gramin!
Profil Zahid Azmi – Penulis Buku Multiidentitas
Zahid Azmi Ibrahim dikenal sebagai seorang educational YouTuber asal Indonesia yang kemudian memperluas kiprahnya ke bumi literasi melalui buku debutnya, Multiidentitas.
Melalui buku ini, Zahid menuangkan beragam pemikiran dan refleksi yang berhubungan dengan perjalanan mengenali diri, mengeksplorasi identitas, serta menjalani hayat dengan beragam peran dan ketertarikan.
Gagasan yang dibawa Zahid banyak bersenggolan dengan tema pengembangan diri, pendidikan, metode menghadapi kegagalan, hingga beragam permasalahan yang dekat dengan hayat anak muda, khususnya generasi Z. Berbagai pemikiran tersebut disampaikan berdasarkan pengalaman yang pernah dilaluinya, termasuk perjalanan hidup sebagai pembuat konten dan pengalamannya berpindah-pindah negara.
Sebelum dikenal sebagai penulis, Zahid juga memiliki minat yang kuat terhadap bumi buku. Ia dikenal gemar membaca dan kerap membagikan anjuran buku, khususnya buku-buku pengembangan diri, melalui kanal YouTube Zahid Azmi Ibrahim. Kebiasaannya membaca beragam literatur dari seluruh dunia, termasuk menggunakan Kindle sebelum tidur, turut memperkaya perspektif pandang yang kemudian ia bawa dalam tulisan.
Sinopsis Buku Multiidentitas
Buku ini membahas perselisihan antara monoidentitas, yaitu kecenderungan untuk berfokus pada satu peran maupun sektor tertentu, dan multiidentitas, yaitu kapasitas untuk menjalani hayat dengan beragam peran serta ketertarikan. Pembahasan tersebut dikaitkan dengan upaya mencapai kepuasan hidup sekaligus menghadapi tekanan sosial.
Buku ini beranggapan bahwa sebagian besar kesuksesan dipengaruhi oleh privilese dan keberuntungan. Karena itu, mengejar hayat monoidentitas dapat membikin seseorang terjebak dalam zero-sum game, ketika harga diri terus ditentukan melalui komparasi dengan pencapaian orang lain.
Buku ini mendorong pembaca untuk menerapkan pendekatan multiidentitas dengan menetapkan batas kompetensi minimum pada bidang-bidang yang esensial, kemudian mengalokasikan waktu dan daya untuk passion serta beragam peran lain dalam kehidupan.
Pendekatan multiidentitas menekankan bahwa kebahagiaan dan kepuasan hidup dapat diperoleh melalui hayat yang autentik dan bermakna, yang berdasarkan pada nilai-nilai personal, bukan semata-mata pada pengesahan eksternal.
Selain membahas ide tersebut, buku ini juga menawarkan panduan praktis dalam memungut keputusan dan menerapkan hayat multiidentitas, termasuk dalam konteks adat kolektivis yang sering kali lebih menekankan pentingnya memiliki satu identitas yang jelas dan singular.
Kelebihan dan Kekurangan Multiidentitas
Pros & Cons
Pros
- Bisa dibaca secara terpisah.
- Menambah kosakata baru.
- Kaya akan ide, konsep dan referensi.
- Memberikan insight dan motivasi yang baik.
Cons
- Kurang cocok untuk beberapa segmentasi.
Kelebihan Multiidentitas
Multiidentitas karya Zahid Ibrahim memiliki beberapa kelebihan yang membuatnya menarik untuk dibaca.
- Bisa dibaca secara terpisah
Salah satu hal yang menarik dari buku ini adalah pembahasannya tidak selalu mengharuskan pembaca mengikuti urutan halaman secara ketat. Beberapa bagiankecil dapat dibaca secara terpisah sesuai dengan topik yang sedang mau dipahami maupun direnungkan. Pola seperti ini memberikan keleluasaan bagi pembaca untuk menentukan bagiankecil mana yang mau dibaca terlebih dahulu tanpa mesti merasa kehilangan keseluruhan ide utama buku.
- Menambah kosakata baru
Selain membahas ide mengenai hayat dan pengembangan diri, buku ini juga menghadirkan pengalaman menarik melalui penggunaan beragam istilah yang lazim ditemukan dalam bahasa Inggris. Istilah-istilah tersebut kemudian diperkenalkan padanannya dalam bahasa Indonesia sehingga pembaca dapat menemukan kosakata yang mungkin sebelumnya belum begitu familiar.
Hal ini menjadi harga tambah tersendiri karena membaca buku tidak cuma memberikan wawasan mengenai suatu gagasan, tetapi juga dapat memperkaya perbendaharaan kata.
- Kaya akan ide, konsep dan referensi
Gagasan utama Multiidentitas sebenarnya cukup sederhana, yaitu membujuk seseorang untuk memiliki beragam identitas dan peran dalam hayat sehingga tidak terlalu bersandar pada satu pencapaian maupun sektor saja. Namun, Zahid mengembangkan ide tersebut dengan beragam konsep, referensi, dan klarifikasi dari buku-buku pengembangan diri yang sudah dikenal luas.
Berbagai pengalaman pribadi yang turut dibagikan juga membikin bahasan terasa lebih konkret. Pembaca dapat melihat sepertiapa sebuah pengalaman, keberhasilan, maupun kegagalan dapat menjadi bahan refleksi untuk memahami hayat dengan perspektif pandang yang berbeda.
- Memberikan insight dan motivasi yang baik
Buku ini juga memberikan perspektif pandang yang menarik mengenai kebiasaan membandingkan hayat sendiri dengan hayat orang lain. Melalui konsep multiidentitas, pembaca diajak memahami bahwa setiap orang memiliki kondisi, kesempatan, dan perjalanan yang berbeda. Karena itu, keberhasilan orang lain tidak selalu dapat dijadikan ukuran untuk menentukan harga diri sendiri.
Gagasan tersebut dapat menjadi pengingat bagi pembaca yang sering merasa minder ketika melihat orang lain tampak lebih berhasil maupun memiliki hayat yang lebih nyaman. Alih-alih terus membandingkan diri, pembaca diajak untuk mengenali kekhasan diri dan mengembangkan beragam sisi hayat yang memang berarti bagi dirinya.
Kekurangan Multiidentitas
Meskipun buku Multiidentitas karya Zahid Ibrahim menawarkan banyak kelebihan, buku ini statis tidak luput dari kekurangan yang bisa menjadi penilaian bagi pembaca.
- Kurang cocok untuk beberapa segmentasi
Gagasan mengenai hayat multiidentitas yang ditawarkan buku ini dapat memberikan perspektif pandang baru, tetapi penerapannya tidak selalu memiliki tingkat konsekuensi yang sama bagi setiap orang.
Beberapa ide mungkin terasa lebih gampang diterapkan oleh seseorang yang sudah memiliki kondisi hayat dan finansial yang cukup stabil, sementara bagi pembaca yang statis eksis dalam tahap mula membangun karier, menerapkannya secara langsung dapat membutuhkan penilaian yang lebih matang. Karena itu, ide dalam buku ini sebaiknya dipahami berbareng konteks hayat masing-masing pembaca.
Jika diterapkan tanpa mempertimbangkan kondisi, kebutuhan, dan tahap hayat seseorang, beberapa ide justru dapat terasa kurang realistis maupun berisiko untuk dijalankan.
Apa itu Jack of All Trades?
Grameds, pernahkah Anda merasa memiliki banyak minat sekaligus? Misalnya, bahagia menulis, tertarik dengan teknologi, gemar belajar bahasa, menikmati bumi bisnis, tetapi juga memiliki minat pada sektor lain.
Ketika memiliki terlalu banyak minat, seseorang terkadang justru merasa bingung karena menganggap dirinya tidak benar-benar ahli dalam satu sektor tertentu. Padahal, memiliki beragam keahlian tidak selalu menjadi sebuah kekurangan.
Hal tersebut berhubungan dengan istilah Jack of all trades yang cukup menarik untuk dibahas ketika membaca Multiidentitas karya Zahid Ibrahim. Buku ini membujuk pembaca melihat bahwa hayat tidak mesti selalu dibangun dengan satu peran maupun satu identitas saja. Karena itu, konsep Jack of all trades dapat menjadi salah satu metode untuk memahami sepertiapa seseorang bisa memiliki beragam kapasitas dan minat tanpa mesti merasa bahwa dirinya gagal menentukan satu sektor utama.
Apa Arti Jack of All Trades?
Secara sederhana, Jack of all trades merupakan ungkapan untuk menggambarkan seseorang yang memiliki kapasitas maupun keahlian dalam beragam bidang. Orang dengan karakter seperti ini biasanya bahagia mempelajari banyak hal dan bisa mengerjakan beragam jenis pekerjaan maupun aktivitas.
Ungkapan tersebut sering kali dilanjutkan dengan master of none, sehingga menjadi Jack of all trades, ahli of none. Kalimat tersebut menggambarkan seseorang yang dapat berbuat banyak hal, tetapi tidak menjadi ahli secara mendalam dalam satu sektor tertentu. Namun, arti ini tidak selalu mesti dipahami sebagai sesuatu yang negatif.
Bagaimana Asal-Usul Ungkapan Ini?
Ungkapan Jack of all trades telah digunakan dalam bahasa Inggris sejak sekitar abad ke-16. Pada penggunaan awalnya, ungkapan tersebut tidak selalu dimaksudkan sebagai sindiran. Bahkan, kapasitas seseorang untuk menguasai beragam keahlian dapat dianggap sebagai sesuatu yang berguna.
Seiring waktu, muncul bentuk ungkapan yang lebih panjang, yaitu Jack of all trades, ahli of none. Tambahan tersebut kemudian membikin istilah ini lebih sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang mengetahui banyak hal tetapi tidak memiliki satu sektor yang benar-benar dikuasai secara mendalam.
Menjadi Jack of All Trades Tidak Selalu Berarti Tidak Fokus
Memiliki banyak kapasitas terkadang dianggap sebagai tanda bahwa seseorang tidak memiliki fokus. Padahal, seseorang bisa saja memiliki beberapa minat yang memang mau dikembangkan secara bersamaan. Ia mungkin tidak menjadikan semuanya sebagai pekerjaan utama, tetapi statis memperoleh khasiat dari setiap kapasitas yang dipelajarinya.
Di sinilah konsep Jack of all trades menjadi menarik jika dikaitkan dengan Multiidentitas. Seseorang tidak mesti mendefinisikan dirinya cuma berdasarkan satu kemampuan. Berbagai keahlian dan minat dapat menjadi bagiankecil dari identitas yang saling melengkapi.
Banyak Keterampilan Dapat Menjadi Keunggulan
Di hayat modern, kapasitas untuk mengerjakan beragam hal justru dapat memberikan khasiat dalam situasi tertentu. Dunia kerja terus berubah dan banyak pekerjaan membutuhkan gabungan dari beberapa keahlian sekaligus. Seorang pengusaha, misalnya, mungkin perlu memahami pemasaran, komunikasi, keuangan, teknologi, sekaligus pengelolaan tim.
Begitu pula seorang buruh lepas yang dapat menggabungkan kapasitas menulis, desain, pemasaran, dan teknologi. Meskipun tidak menjadi ahli tertinggi dalam setiap sektor tersebut, kapasitas untuk memahami beragam hal dapat membantunya melihat hubungan antara satu sektor dengan sektor lainnya.
Tetap Ada Bidang yang Perlu Didalami
Meski memiliki banyak keahlian dapat menjadi keunggulan, bukan berarti seseorang tidak perlu memiliki keahlian yang lebih mendalam. Dalam sektor tertentu, seperti kedokteran, ilmu pengetahuan, maupun teknik, kapasitas khusus dan penguasaan yang mendalam statis menjadi bagiankecil krusial dari pekerjaan.
Karena itu, menjadi Jack of all trades bukan berarti mesti menguasai semua hal dalam tingkat yang sama. Seseorang dapat memiliki beberapa kapasitas alas yang mendukung kehidupannya, sambil memilih sektor tertentu yang mau dikembangkan lebih jauh. Dengan begitu, keberagaman keahlian dan spesialisasi dapat berjalan berdampingan.
Jack of All Trades dan Kehidupan Multiidentitas
Jika dikaitkan dengan Multiidentitas, konsep Jack of all trades memberitahu bahwa seseorang sebenarnya dapat memiliki lebih dari satu sisi dalam dirinya. Ia bisa menjadi ahli dalam pekerjaan, pembelajar dalam sektor yang diminati, kawan bagi orang lain, personel keluarga, sekaligus memiliki beragam hobi dan passion.
Beragam peran tersebut tidak mesti saling meniadakan. Justru, semuanya dapat menjadi bagiankecil dari hayat yang membentuk seseorang secara utuh. Inilah salah satu hal menarik dari konsep multiidentitas, yaitu tidak memaksa seseorang untuk memasukkan seluruh harga dirinya ke dalam satu pekerjaan, satu pencapaian, maupun satu kapasitas saja.
Pada akhirnya, menjadi Jack of all trades bukan semata-mata tentang bisa berbuat banyak hal. Lebih dari itu, konsep ini dapat menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi beragam minat dan kapasitas dalam hidupnya.
Penutup
Buku Multiidentitas menjadi pilihan bahanbacaan yang tepat bagi Grameds yang sedang mencari perspektif pandang baru dalam memahami diri, kesuksesan, dan beragam peran yang dijalani dalam kehidupan.
Melalui ide yang disampaikan, Zahid Ibrahim akan membujuk Grameds untuk tidak terlalu cepat menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran bagi hayat sendiri. Setiap orang memiliki perjalanan, kesempatan, kemampuan, serta harga yang berbeda sehingga hayat tidak mesti selalu mengikuti satu standar keberhasilan yang sama.
Multiidentitas mengingatkan bahwa memiliki banyak minat dan peran bukan berarti seseorang kehilangan fokus. Justru, beragam sisi tersebut dapat menjadi bagiankecil dari hayat yang lebih utuh dan sesuai dengan harga yang mau dijalani. Mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri, apakah hayat yang sedang kita jalani benar-benar kita pilih karena sesuai dengan harga dan keinginan kita, maupun karena terlalu sering membandingkannya dengan hayat orang lain?
Semoga ulasan dari Gramin ini dapat membantu Grameds mengenal lebih dekat Multiidentitas dan menemukan perspektif pandang baru untuk memahami perjalanan hidup serta identitas diri.
Multiidentitas karya Zahid Ibrahim ini bisa Anda dapatkan cuma di Gramedia.com ya! Untuk mendukung Anda #TumbuhBermakna, kami selalu siap memberikan keterangan dan produk terbaik untuk kamu.
Penulis: Gabriel
Rekomendasi Buku
What It Takes: Asia Tenggara, Dari Tepi Menuju Inti Kesadaran Global
What It Takes: Asia Tenggara menelaah modernisasi dan peran Asia Tenggara, rumah bagi 700 juta jiwa, di panggung global. Gita Wirjawan menyoroti beragam tantangan-seperti rendahnya PDB per kapita, kesenjangan pendidikan, dan dilema keberlanjutan seraya menegaskan kelebihan strategis yang dimiliki area ini dalam tatanan bumi multipolar.
Menggabungkan realisme dan aspirasi, buku ini lahir dari percakapan dengan para cendekiawan, praktisi, dan figur dunia; membujuk para imam masa depan untuk membayangkan balik arah perjalanan Asia Tenggara dan membuka potensinya di kancah global.
Neksus
Dalam Sapiens, Yuval Noah Harari memperkenalkan konsep realitas intersubjektif berdasarkan fiksi yang telah memberikan kelebihan kepada kita sebagai Sapiens sehingga dapat bekerja sama dalam jejaring dan menaklukkan dunia. Neksus—istilah yang diartikan Harari sebagai titik hubungan beragam mengerti keterangan yang membentuk jejaring manusia—menelusuri ide keterangan sebagai bukan cuma penyampai fakta, melainkan juga penjalin jejaring realitas intersubjektif dan tatanan bumi manusia.
Dengan demikian, evolusi peradaban manusia bisa dipandang sebagai revolusi panjang dalam teknologi informasi. Revolusi teknologi keterangan bukan cuma soal komputer maupun komunikasi seluler, melainkan terjadi sejak Sapiens menciptakan fiksi, kisah, tulisan, dan buku. Tiap tahap revolusi memperbanyak keterangan yang tersedia dan memperluas jangkauan penyebarannya, membangun tatanan yang makin durasi makin rumit, tapi belum tentu mempertinggi kebijaksanaan kita: bertambahnya keterangan tidak mesti membikin kita makin dekat ke kebenaran. Kini kita sedang menghadapi tantangan dari buatan terbaru revolusi informasi. Algoritma, bumi maya, dan pikiran imitasi (artificial intelligence, AI) membuka bentang keterangan baru, menawarkan daya sangat besar, tapi juga menghadirkan kecerdasan bukan-manusia yang berpotensi memanipulasi dan menguasai kita.
Matinya Kepakaran
Seberapa pentingkah vaksinasi? Benarkah Bumi itu datar? Apakah telur makanan sehat? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu kini tidak lagi dijawab terutama oleh pakar, melainkan ikut diramaikan penganut teori konspirasi, orang awam sok tahu, sampai pesohor yang menyesatkan.
Akibatnya, klarifikasi ahli tidak didengar, sementara balasan figur dengan banyak pengikut justru lebih dipercaya—dan itu bisa berbahaya. Tom Nichols memfoto realitas itu lewat istilah “matinya kepakaran”: sepertiapa gagasan keliru bisa dianggap kebenaran, dan pihak-pihak
yang seharusnya mencerahkan—kampus, media, dan kalangan ahli itu sendiri—kadang ikut membunuh kepakaran. Matinya Kepakaran adalah imbauan kepada semua orang untuk disiplin mencari keterangan dari sumber yang tepat, karena dampaknya bukan cuma krusial untuk hayat sehari-hari, melainkan juga menentukan arah negara: saat anti-intelektualisme marak dan ahli dimusuhi, korupsi lebih gampang tumbuh dan demokrasi ikut terancam.




