The Glory Story of Two Umars – Halo, Grameds! Pernah nggak membayangkan seperti apa rasanya hidup di bawah kepemimpinan seorang pemimpin yang betul-betul adil, sederhana, dan selalu mengutamakan rakyatnya?
Lewat kitab The Glory Story of Two Umars, Fuad Abdurahman membujuk pembaca menyelami perjalanan hidup dua sosok besar dalam sejarah Islam, ialah Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz.
Sebelum memutuskan untuk membaca kitab ini, yuk simak dulu review lengkapnya, Grameds!
Sinopsis Buku The Glory Story of Two Umars


Di bumi yang kerap tidak menentu seperti sekarang, hadirnya pemimpin yang bisa menciptakan keadilan dan membawa kesejahteraan tentu menjadi dambaan. Sayangnya, di era saat ini sosok pemimpin yang demikian banget langka dan susah ditemukan.
Buku ini menghadirkan inspirasi kepemimpinan melalui kisah hidup dua pemimpin besar penjaga keadilan dan kebijaksanaan: Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz. Dua sosok ini bukan sekadar pemimpin yang ocehan dalam mengelola negara, melainkan teladan hidup bagi semua yang berada di bawah naungan kepemimpinan mereka.
Fuad Abdurrahman membujuk pembaca untuk menyelami perjalanan kepemimpinan kedua laki-laki mulia ini. Di tangan mereka, keadilan bukan hanya sebuah konsep, tetapi menjadi napas dalam setiap kebijakan yang diambil. Umat Islam hidup dalam kedamaian dan ketentraman, membawa angan baru dan semangat untuk mengikuti jejak mereka berdua.
Melalui penggambaran yang hidup dan penuh inspirasi, kitab ini mempersembahkan pelajaran berbobot dari kisah kepemimpinan Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz yang sangat relevan kita teladani hari ini.
Tentang Penulis Buku The Glory Story of Two Umars
Fuad Abdurahman merupakan seorang penulis Indonesia yang dikenal produktif dalam menghadirkan karya-karya bertema Islam, sejarah, dan inspirasi kehidupan. Ia lahir di Cianjur, Jawa Barat, pada 24 Mei dan sejak mini sudah mempunyai kesukaan besar terhadap bumi membaca dan menulis.
Perjalanan pendidikannya dimulai di Cianjur, lampau bersambung ke IAIN Sunan Gunung Djati Bandung (sekarang UIN Sunan Gunung Djati Bandung), tempat dia mendalami pengetahuan kepercayaan dan studi Islam.
Selain pendidikan formal, Fuad juga pernah menimba pengetahuan di Pondok Pesantren Baitul Arqam dan Pondok Pesantren Nailul Kirom Bandung. Pengalaman tersebut turut membentuk perspektif pandang serta kecintaannya terhadap nilai-nilai Islam yang kemudian banyak tercermin dalam karya-karyanya.
Sebagai penulis, Fuad Abdurahman telah menghasilkan lebih dari 35 titel kitab dengan beragam genre, mulai dari fiksi anak hingga nonfiksi Islami. Karya-karyanya juga sukses meraih penghargaan bergengsi, termasuk Islamic Book Award pada tahun 2011 melalui kitab Senyumlah Bunda untuk kategori fiksi anak dan pada tahun 2017 lewat kitab Keluarga yang Diberkahi untuk kategori nonfiksi anak.
Salah satu karya terkenalnya adalah The Great of Two Umars, kitab yang membahas kisah kepemimpinan Umar bin Khaththab dan Umar bin Abdul Aziz. Lewat kitab tersebut, Fuad sukses menghadirkan kisah sejarah Islam dengan langkah yang menarik, detail, dan inspiratif bagi pembaca modern.
Fuad Abdurahman juga terus aktif berkarya lewat buku-buku terbaru bernuansa Islami. Salah satunya adalah Tiga Malam Bersama Penghuni Surga yang mengangkat kisah sahabat Nabi Muhammad SAW dengan bahasa yang ringan dan dekat dengan anak muda.
Gambaran Sosok Umar bin Khattab
Dalam kitab The Glory Story Of Two Umars, Anda bakal memandang gimana Fuad Abdurahman menggambarkan Umar bin Khattab sebagai sosok yang tegas, kuat, dan berani, tetapi tetap mempunyai hati yang lembut ketika menerima kebenaran.
Pada awalnya, Umar dikenal sebagai pribadi yang keras apalagi menentang Islam. Namun, semuanya berubah ketika beliau mendengar referensi Al-Qur’an yang dilantunkan oleh adiknya. Hal itu membikin hatinya tersentuh hingga akhirnya memeluk Islam.
Masuk Islamnya Umar bin Khattab menjadi salah satu momen krusial lantaran membikin perjuangan Rasulullah dan kaum muslimin semakin kuat. Buku ini juga memperlihatkan sungguh besar rasa cinta Umar kepada Rasulullah. Bahkan ketika Rasulullah wafat, Umar mengalami keguncangan jiwa lantaran nggak percaya kehilangan sosok yang sangat beliau cintai.
Selain itu, kitab ini banyak menghadirkan kisah kepemimpinan Umar bin Khattab yang sangat setara dan jujur. Di sini, Anda bakal menemukan beragam cerita tentang gimana beliau menegakkan norma tanpa memandang status sosial. Ada kisah tentang seorang raja yang tetap dihukum lantaran bersalah, kisah rakyat mini yang mendapat keadilan, hingga cerita tentang para pejabat dan gubernur yang ditegur langsung oleh Umar jika melakukan kesalahan.
Dari kisah-kisah tersebut, Anda juga bisa memandang bahwa Umar bin Khattab bukan hanya pemimpin yang kuat, tetapi juga pemimpin yang sangat amanah dan peduli kepada rakyatnya.
Gambaran Sosok Umar bin Abdul Aziz
Grameds, dalam kitab The Glory Story Of Two Umars, Umar bin Abdul Aziz digambarkan sebagai sosok khalifah yang saleh, sederhana, dan sangat mencintai pengetahuan kepercayaan sejak kecil.
Walaupun berasal dari lingkungan istana dan hidup dalam kemewahan, beliau tumbuh menjadi pribadi yang rendah hati dan dekat dengan para ulama.
Buku ini menceritakan bahwa di usia muda Umar bin Abdul Aziz sudah dipercaya menjadi gubernur lantaran kepintaran dan kemampuannya dalam memimpin. Saat menjadi khalifah, beliau dikenal sangat tegas dalam menegakkan keadilan dan sangat peduli terhadap kesejahteraan rakyat. Bahkan, beliau rela mengubah style hidupnya demi menjalankan amanah dengan baik.
Salah satu bagian paling menyentuh dalam kitab ini adalah kisah kezuhudan Umar bin Abdul Aziz. Grameds bakal membaca gimana beliau meninggalkan kemewahan istana dan memilih hidup sederhana.
Diceritakan bahwa beliau hanya mempunyai satu baju dan apalagi nggak mempunyai satu dirham pun. Tubuhnya menjadi kurus dan kulitnya kusam lantaran lebih mengutamakan ibadah dan memikirkan keadaan rakyatnya dibanding kenyamanan diri sendiri.
Buku ini juga menunjukkan sisi spiritual Umar bin Abdul Aziz yang sangat kuat. Beliau sering menangis ketika berbincang tentang kematian dan alambaka lantaran rasa takut dan cintanya kepada Allah. Kisah-kisah tersebut membikin sosok Umar bin Abdul Aziz terasa sangat menginspirasi sekaligus menyentuh hati pembaca.
Nilai Kepemimpinan dan Keadilan dalam Buku The Glory Story Of Two Umars
Grameds, salah satu nilai utama yang paling terasa dalam kitab The Glory Story Of Two Umars adalah tentang kepemimpinan dan keadilan.
Melalui kisah Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz, pembaca diajak memahami bahwa seorang pemimpin sejati bukan hanya mempunyai kekuasaan, tetapi juga tanggung jawab besar terhadap rakyatnya.
Kedua tokoh Umar dalam kitab ini digambarkan sebagai pemimpin yang selalu mengutamakan kejujuran, keberanian, dan keadilan. Mereka tidak segan menghukum siapa saja yang bersalah meskipun berasal dari kalangan bangsawan alias pejabat tinggi.
Di sisi lain, mereka juga sangat peduli kepada rakyat mini dan selalu memastikan hak-hak masyarakat terpenuhi.
Nilai kepemimpinan dalam kitab ini terasa relevan hingga sekarang lantaran menunjukkan bahwa pemimpin yang baik kudu mau mendengar rakyat, hidup sederhana, dan menggunakan kekuasaan dengan amanah.
Dari beragam kisah yang ditampilkan, Anda bisa belajar bahwa keadilan tak boleh dipengaruhi jabatan, kekayaan, ataupun kedekatan pribadi.
Nilai Keislaman dan Ketakwaan dalam Buku The Glory Story Of Two Umars
Selain membahas kepemimpinan, kitab The Glory Story Of Two Umars juga dipenuhi nilai-nilai keislaman dan ketakwaan yang sangat kuat. Fuad Abdurahman menunjukkan gimana kedua tokoh Umar menjadikan kepercayaan sebagai pedoman utama dalam menjalani hidup dan memimpin umat.
Ketakwaan Umar bin Khattab terlihat dari perubahan hidupnya setelah memeluk Islam dan kecintaannya yang begitu besar kepada Rasulullah.
Sementara itu, Umar bin Abdul Aziz digambarkan sebagai sosok yang sangat takut kepada Allah hingga sering menangis ketika mengingat kematian dan akhirat.
Buku ini juga mengajarkan pentingnya hidup sederhana, rendah hati, dan tidak berlebihan terhadap dunia. Kedua Umar menunjukkan bahwa kedudukan dan kekuasaan bukanlah tujuan utama; melainkan amanah yang kudu dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Kelebihan dan Kekurangan Buku The Glory Story of Two Umars
Pros & Cons
Pros
- Mengangkat kisah kepemimpinan Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz yang inspiratif.
- Banyak nilai moral yang bisa dijadikan pelajaran hidup.
- Bahasa mudah dipahami.
- Gaya penceritaan seperti novel.
- Relevan dengan kondisi kepemimpinan masa kini.
- Cocok dibaca remaja hingga orang dewasa.
Cons
- Beberapa bagian cerita terasa cukup panjang.
- Ada beberapa pembahasan yang terasa repetitif.
- Minim konflik.
Berikut adalah kelebihan dan kekurangan buku:
Kelebihan Buku The Glory Story of Two Umars
- Mengangkat kisah pemimpin Islam yang inspiratif
Grameds, kitab ini menghadirkan kisah dua pemimpin besar dalam sejarah Islam, ialah Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz dengan sangat menarik. Pembaca bisa belajar tentang kepemimpinan, keadilan, kesederhanaan, dan kepedulian terhadap rakyat dari kedua tokoh tersebut.
- Bahasa yang sederhana dan mudah dipahami
Penulis menggunakan style bahasa yang ringan sehingga isi kitab mudah dimengerti oleh beragam kalangan pembaca. Walaupun membahas sejarah Islam, penyampaiannya nggak terasa berat dan tetap nyaman diikuti.
- Gaya penceritaan seperti novel
Salah satu daya tarik kitab ini adalah langkah penulis menyusun kisah-kisahnya dengan alur yang mengalir layaknya novel. Hal ini membikin pembaca nggak sigap jenuh saat membaca kitab yang cukup tebal.
- Banyak mengandung nilai moral dan islami
Buku ini tidak hanya menyampaikan sejarah, tetapi juga penuh pesan kehidupan. Grameds bisa menemukan banyak pelajaran tentang amanah, ketakwaan, kejujuran, kesederhanaan, hingga pentingnya menjadi pemimpin yang peduli terhadap rakyat.
- Memberikan teladan kepemimpinan yang relevan hingga sekarang
Kisah kedua Umar dalam kitab ini terasa relevan dengan kondisi masa kini, terutama saat membahas tentang pemimpin yang betul-betul bekerja untuk rakyat, bukan sekadar pencitraan. Karena itu, kitab ini bisa menjadi refleksi bagi pembaca tentang makna kepemimpinan yang sesungguhnya.
- Cocok dibaca semua usia
Buku ini direkomendasikan untuk remaja hingga orang dewasa lantaran isi dan penyampaiannya tetap mudah dipahami serta mempunyai banyak hikmah yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kekurangan Buku The Glory Story of Two Umars
- Beberapa bagian terasa cukup panjang
Grameds, lantaran kitab ini mempunyai banyak kisah dan penjelasan tentang kehidupan kedua Umar, ada beberapa bagian yang mungkin terasa sedikit panjang bagi pembaca yang kurang terbiasa membaca kitab sejarah alias riwayat hidup islami.
- Fokus cerita lebih banyak pada nilai keteladanan
Buku ini lebih menonjolkan sisi inspiratif dan keteladanan kedua tokoh. Karena itu, pembaca yang mencari pembahasan sejarah Islam yang sangat perincian dan mendalam mungkin merasa tetap kurang lengkap.
- Minim konflik
Walaupun style penulisannya dibuat seperti novel, sebagian pembaca mungkin merasa alurnya kurang menegangkan lantaran isi kitab lebih berfokus pada kisah kehidupan, nasihat, dan hikmah dari kedua tokoh.
- Beberapa pembahasan terasa repetitif
Ada beberapa pesan tentang keadilan, kesederhanaan, dan kepedulian rakyat yang diulang dalam beberapa kisah berbeda sehingga bisa terasa sedikit repetitif bagi sebagian pembaca.
Kesimpulan
The Glory Story of Two Umars bukan hanya sekadar kitab sejarah Islam, tetapi juga kitab penuh pelajaran hidup tentang kepemimpinan, keadilan, dan ketakwaan.
Melalui kisah Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz, pembaca diajak memandang gimana seorang pemimpin semestinya melayani rakyat dengan tulus, hidup sederhana, dan menjadikan kepercayaan sebagai pedoman utama dalam menjalani amanah.
Penulis: Yulian Dwi Nugroho
Rekomendasi Buku Terkait
Laiqa: Hijrah Kayra – Fiatuzzahro


“Karena cinta yang sebenarnya cinta, hanya yang mendekatkan kita kepada Yang Mahacinta.”
Menurutku, hidup tak lebih dari melakukan apa yang kita suka tanpa kudu memikirkan omongan nyinyir orang di luar sana. Tetapi, sebuah kasih sayang lembut bisa mengeluarkanku dari prinsip itu. Tadinya hanya berupa hal-hal pahit yang menyakitkan. Hal-hal rumit yang menyesakkan. Dan baru kusadari, kasih sayang tak selalu tentang perihal manis. Inilah perjalanan hijrahku yang tak mudah…. Kupersembahkan kepada kalian yang sedang istiqomah….
Laiqa: Lari Dari Pesantren – Andri Saptono


Apa kalian tidak jenuh terus-terusan dikurung di Pondok Al-Ikhlas ini? Mau begini tidak boleh! Mau begitu tidak boleh! Ustaznya galak! Pelajarannya bikin ngantuk. Sudah begitu makanannya itu-itu saja! Menunya membosankan semua! Kalian kudu cari pengalaman di luar. Lihat kehidupan di luar tembok pondok! Kalian tetap muda! Lihat tuh di luar anak-anak bermain sebebas-bebasnya. Pergi ke mana mereka suka. Apa kalian tidak iri? Albar dan Ilyas lari dari tempat mereka menimba ilmu. Rencananya hanya satu hari. Tapi, tak disangka menjadi nyaris satu bulan! Banyak peristiwa di luar dugaan yang mereka temukan. Seperti apa Albar dan Ilyas menghadapi realita di luar sana?
Laiqa: Wedding Agreement – Mia Chuz


Tak lama setelah pernikahannya, Tari disodori lembaran kertas oleh Bian, suaminya.
“Apa ini?”
“Kesepakatan pernikahan selama kita menikah.”
“Aku tetap belum mengerti.”
“Sejak awal saya memang berencana untuk berpisah setelah satu tahun menikah. Mungkin Anda belum tahu jika saya sudah bertukar cincin sebelumnya.”
Tari menatap suaminya dengan tidak percaya. Bagaimana mungkin dia menikahi laki-laki seperti itu? Suaminya berencana menikah dengan wanita lain setelah menceraikannya. Ia hanya punya waktu satu tahun untuk menjalani pernikahan ini. Apakah ada yang lebih jelek daripada itu?
English (US) ·
Indonesian (ID) ·