Jakarta -
Mantan Atlet Olimpiade bagian biathlon, Emily Dreissigacker, mengalami sakit perut tak biasa usai melahirkan putranya pada November 2023. Saat itu, dia mengira sakit perut itu adalah kondisi normal yang dialami usai melahirkan, Bunda.
Namun, sakit perut tersebut berkembang menjadi keluhan yang tak biasa. Perut Emily sering terasa penuh, terjadi penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, hingga muntah tanpa mual.
"Saya melahirkan anak laki-laki pada November 2023. Keluhan yang pertama kali dirasakan adalah sakit perut, dan itu muncul sekitar empat minggu setelah melahirkan. Tentu saja, saat itu saya berpikir itu mengenai postpartum," ungkap Emily, dilansir laman The Patient Story.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tim perawatan lampau memberi saya obat PPI (obat sakit perut), dan semua keluhan hilang. Saya pun berakhir minum obat. Namun, sekitar empat hingga enam minggu setelahnya, keluhan kembali muncul dan disertai rasa tidak nyaman lainnya."
Emily lampau menjalani beberapa kali konsultasi dan tes medis. Ia apalagi melakukan endoskopi dan biopsi yang awalnya menunjukkan hasil negatif terhadap kanker.
"Tim perawatan menyarankan untuk melakukan pemeriksaan ke ahli gastroenterologi. Saya menjalani endoskopi dan biopsi, semua hasilnya negatif. Mereka bilang, 'kabar baiknya adalah Anda tidak mempunyai kanker'. Mereka saat itu mendiagnosis anemia pernisiosa, alias ketidakmampuan tubuh untuk menyerap vitamin B12," ungkapnya.
"Saya pun mendapatkan suntik vitamin B12. Tapi, gejalanya tidak juga hilang," sambungnya.
Emily tetap meyakini ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Bertekad untuk menemukan jawaban, Emily mencari pendapat kedua yang akhirnya mengarah pada pemeriksaan kanker lambung stadium 4. Emily didiagnosis kanker pada Juli 2024.
Cara Emily menjalani hidup usai pemeriksaan kanker
Alih-alih terpuruk lantaran kesedihan, Emily mengalihkan fokusnya pada apa yang bisa dikendalikan. Ia menjaga pola pikirnya tetap positif, menjaga kesehatan, dan banyak menghabiskan waktu dengan keluarga.
Meskipun diberitahu bahwa kankernya tidak dapat disembuhkan, Emily tetap berpegang pada harapan. Ia terus memperkuat sikap positif melalui afirmasi dan kepercayaan diri.
Tak hanya itu, olahraga juga tetap menjadi penopang utama Emily untuk bertahan. Berbekal latar belakang atletik, dia memasukkan kegiatan bentuk ke dalam rutinitasnya. Emily rutin lari, bermain ski, angkat beban, dan apalagi jalan-jalan sederhana untuk membuatnya merasa seperti diri sendiri.
"Saya adalah atlet, saya pernah ikut kejuaraan Olimpiade tahun 2018 di Pyeongchang. Jadi, latihan bentuk selalu menjadi bagian dari hidup saya. Tujuannya sekarang berubah. Bila dulu saya berlatih untuk kompetisi, sekarang saya melakukannya untuk membantu perawatan dan membangun pola pikir positif," ujarnya.
Emily juga menyalurkan energinya ke dalam proyek-proyek berarti untuk keluarganya. Dia menulis surat-surat yang menyentuh hati untuk putranya dan menyusun kitab resep untuk suaminya, memastikan kehadirannya tetap ada dalam kehidupan mereka.
"Berpikir bahwa saya tidak bisa datang untuknya (sang putra) dan melihatnya tumbuh tentu saja sangat berat, terutama tiga sampai empat hari setelah menjalani kemoterapi dan saya kudu memakai perangkat pumping selama 42 jam," katanya.
"Saya tahu itu berat. Tapi saya mensyukuri semua perihal baik yang terjadi di hidup saya. Saya pikir, saya sudah melakukan pekerjaan yang baik sebelumnya."
Emily mengakui rasa takut bakal masa depannya. Namun, dia menolak membiarkan perihal itu mendefinisikan dirinya dalam menjalani kehidupan saat ini, Bunda.
Selama menjalani perawatan ini, Emily menganut pendekatan integratif terhadap kesehatan, di mana dia menggabungkan perawatan tradisional seperti kemoterapi dan imunoterapi dengan kebiasaan style hidup yang menyehatkan tubuh dan jiwanya.
Demikian kisah Emily yang didiagnosis kanker stadium 4 setelah melahirkan anak pertamanya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·