Jakarta -
Nyeri menstruasi memang umum dialami oleh banyak perempuan. Namun, jika rasa sakitnya sangat dahsyat hingga membikin pingsan alias mengganggu kegiatan sehari-hari, kondisi tersebut tidak boleh dianggap sepele.
Hal inilah yang dialami oleh seorang wanita asal India berjulukan Radhika Sapra. Selama bertahun-tahun, dia mengalami menstruasi yang sangat menyakitkan. Bahkan, saat tetap sekolah, dia beberapa kali pingsan akibat nyeri menstruasi yang luar biasa. Sayangnya, indikasi tersebut tidak segera teridentifikasi sebagai tanda penyakit serius.
Kini, di usia 27 tahun, Radhika diketahui menderita kanker ovarium stadium 4 dan tengah menjalani perjuangan panjang melawan penyakit tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bertahun-tahun mengalami menstruasi yang tidak normal
Sejak remaja, Radhika mengalami siklus menstruasi yang tidak biasa. Ia bisa mengalami menstruasi dua kali dalam sebulan dengan lama perdarahan mencapai 10 hingga 14 hari. Selain itu, jumlah darah yang keluar sangat banyak dan disertai nyeri hebat.
Selama bertahun-tahun, Radhika Sapra percaya bahwa nyeri menstruasi yang tak tertahankan hanyalah sesuatu yang kudu dia alami sepanjang hidupnya. Ia bakal mengalami pendarahan selama nyaris dua minggu berturut-turut, pingsan di sekolah lantaran rasa sakitnya. Bahkan pembalut ukuran XL-nya pun bakal basah kuyup dalam beberapa jam. Dokter berulang kali mengabaikan gejalanya, mengatakan bahwa itu 'normal'.
“Saya selalu mengalami nyeri menstruasi yang hebat, sangat menyakitkan sehingga saya pingsan di sekolah, bukan hanya sekali, tetapi selama berhari-hari berturut-turut. Saya menstruasi dua kali dalam sebulan dan pendarahannya bakal bersambung selama 10–14 hari. Saya mengalami pendarahan yang berlebihan, apalagi pembalut ukuran XL pun bakal basah kuyup dalam waktu dua jam. Saya menemui dokter, tetapi mereka mengabaikan indikasi saya selama bertahun-tahun,” kata Radhika dikutip dari Economic times.
Kondisi tersebut berjalan selama bertahun-tahun hingga akhirnya kesehatannya memburuk saat pandemi COVID-19. Ia mengalami penurunan berat badan drastis, kelelahan ekstrem, muntah-muntah, hingga kesulitan berjalan. Setelah menjalani beragam pemeriksaan, master akhirnya menemukan bahwa dia menderita kanker ovarium yang telah memasuki stadium lanjut.
“Awalnya dimulai dengan kelelahan, muntah, dan penurunan berat badan yang cepat. Saya menjadi sangat lemah sehingga kudu merangkak menuruni tangga. Kondisi saya memburuk dalam satu separuh bulan. Ayah saya meminta izin unik dan datang menjemput saya. Rumah sakit segera memasukkan saya ke ICU. Kondisi saya sangat jelek sehingga mereka mengatakan saya mungkin mengalami serangan jantung kapan saja,” tuturnya.
“Kanker ovarium memang layak disebut pembunuh diam-diam lantaran banyak indikasi awalnya diabaikan alias disalahartikan sebagai masalah menstruasi alias lambung biasa,” sambungnya.
Apa itu kanker ovarium?
Kanker ovarium adalah kanker yang berkembang pada ovarium alias indung telur, ialah organ reproduksi wanita yang berfaedah menghasilkan sel telur dan hormon reproduksi.
Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal CA: A Cancer Journal for Clinicians, kanker ovarium merupakan salah satu kanker ginekologi dengan nomor kematian tertinggi lantaran sering terdeteksi pada stadium lanjut. Hal ini terjadi lantaran gejalanya sering tidak spesifik dan menyerupai gangguan kesehatan lainnya.
Selain itu, menurut American Cancer Society, kanker ovarium dapat berkembang di beragam bagian ovarium, tetapi sebagian besar kasus berasal dari sel epitel yang melapisi permukaan ovarium. Penyakit ini sering disebut sebagai silent disease alias "penyakit diam-diam" lantaran gejalanya pada tahap awal sering tidak jelas dan mudah disalahartikan sebagai gangguan pencernaan alias masalah menstruasi biasa.
Kanker ovarium dapat menyerang wanita dari beragam usia, tetapi lebih sering ditemukan pada wanita berumur di atas 50 tahun. Meski demikian, wanita yang lebih muda juga tetap dapat mengalaminya.
Pada stadium awal, kanker biasanya hanya berada di ovarium. Namun jika tidak terdeteksi dan diobati, sel kanker dapat menyebar ke organ lain di dalam rongga perut, kelenjar getah bening, hingga paru-paru alias hati. Kondisi ini dikenal sebagai kanker ovarium stadium lanjut alias stadium 4.
Gejala kanker ovarium sering kali tidak spesifik, tetapi dapat meliputi:
- Perut kembung yang menetap
- Nyeri alias tekanan pada panggul
- Cepat kenyang saat makan
- Sering buang air kecil
- Nyeri saat berasosiasi intim
- Perubahan siklus menstruasi
- Mudah lelah
- Penurunan berat badan tanpa karena yang jelas
Karena gejalanya sering samar, krusial bagi Bunda untuk memeriksakan diri ke master jika keluhan tersebut muncul terus-menerus selama beberapa minggu alias semakin memburuk. Deteksi awal dapat meningkatkan kesempatan keberhasilan pengobatan dan kualitas hidup pasien.
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Cancer Epidemiology, Biomarkers & Prevention, banyak pasien kanker ovarium sebenarnya telah mengalami indikasi selama beberapa bulan sebelum pemeriksaan ditegakkan, tetapi indikasi tersebut sering dianggap sebagai keluhan biasa.
Mengapa nyeri menstruasi berlebihan tidak boleh diabaikan?
Nyeri menstruasi yang ringan hingga sedang umumnya tetap dianggap normal. Namun, jika rasa sakit sampai membikin Bunda tidak bisa beraktivitas, kudu berebahan sepanjang hari, alias apalagi menyebabkan pingsan, kondisi tersebut perlu dievaluasi oleh dokter.
Nyeri menstruasi yang berat dapat disebabkan oleh beragam kondisi, seperti:
- Endometriosis
- Adenomiosis
- Miom rahim
- Kista ovarium
- Penyakit radang panggul
- Kanker ovarium pada kasus tertentu
Karena itu, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebab pastinya.
Faktor Risiko Kanker Ovarium
Beberapa aspek yang diketahui dapat meningkatkan akibat kanker ovarium meliputi:
- Usia yang semakin bertambah
- Riwayat family dengan kanker ovarium alias kanker payudara
- Mutasi gen BRCA1 dan BRCA2
- Endometriosis
- Tidak pernah hamil
- Obesitas
Meski demikian, kanker ovarium juga dapat terjadi pada wanita yang tidak mempunyai aspek akibat tersebut.
Pentingnya penemuan dini
Kisah Radhika menjadi pengingat bagi kita semua bahwa tubuh sering kali memberikan sinyal saat ada sesuatu yang tidak beres. Sayangnya, indikasi tersebut terkadang dianggap normal alias diabaikan terlalu lama.
Jika Bunda mengalami nyeri menstruasi yang sangat berat, perdarahan menstruasi berlebihan, alias keluhan panggul yang berjalan terus-menerus, sebaiknya segera berkonsultasi dengan master kandungan. Pemeriksaan sejak awal dapat membantu menemukan penyebab keluhan dan memberikan penanganan yang tepat sebelum kondisi berkembang menjadi lebih serius.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·