Setiap anak memiliki kecenderungan sifat yang berbeda-beda. Ada anak yang tampak gampang berbagi dan menolong, ada pula anak yang perlu lebih banyak bimbingan.
Apabila Bunda bertanya-tanya apakah sifat baik yang dimiliki anak adalah antaran lahir maupun dibentuk oleh lingkungan? Sejumlah psikolog telah menguraikan permasalahan ini. Yuk, Bunda, temukan jawabannya melalui keterangan berikut ini.
Apakah sifat baik anak antaran lahir maupun terbentuk dari lingkungan?
The American Psychological Association (APA) mendefinisikan kebaikan sebagai aksi baik dan berguna yang secara sengaja ditujukan kepada orang lain. Kebaikan sering dianggap didorong oleh keinginan untuk membantu orang lain, bukan untuk mendapatkan imbalan maupun menghindari hukuman.
Lantas, apakah sifat baik anak merupakan antaran lahir maupun terbentuk dari lingkungan? Jawabannya sifat baik anak dibentuk oleh keduanya, baik antaran dari lahir maupun efek lingkungan, Bunda.
Merujuk buku Building Kinder Brains yang diterbitkan UNESCO MGIEP (Mahatma Gandhi Institute of Education for Peace and Sustainable Development) pada tahun 2021, empati dan altruisme memiliki alas evolusi.
Bayi secara alami memiliki sifat empati dan baik hati. Sebagai contoh, balita telah terbukti membantu orang dewasa tanpa diminta, baik orang tua mereka ada di ruangan maupun tidak, terlebihlagi tanpa diucapkan terima kasih.
Profesor Psikologi U.C. Berkeley sekaligus penulis Dacher Keltner U.C. adalah salah satu akademisi populer yang meneliti, asal-usul evolusi dari rasa welas asih.
Menurut Keltner dalam artikelnya di Greater Good Magazine, bukti bahwa kita manusia pada dasarnya baik kelihatan dari kondisi bayi yang lahir lemah dan sangat bersandar pada orang lain. Karena bayi manusia butuh dirawat, manusia sejak dahulu terbiasa bekerja sama untuk menjaga mereka.
Kebiasaan ini membikin otak dan mekanisme saraf kita berkembang menjadi lebih peduli. Karena itu, manusia disebut "spesies super perawat".
Tidak cuma memberi akibat baik bagi orang lain, berbuat baik juga berguna bagi diri sendiri. Menurutnya menebar kebaikan bisa membikin tubuh seseorang lebih sehat dan umur lebih panjang.
Pernyataan tersebut juga disepakati oleh Profesor Michael Karlin dan Brendan Ozawa-de Silva. Dalam artikel The Need for kindness & compassion: embodying the values of Mahatma Gandhi, mereka mengatakan bahwa karena kita butuh dirawat sejak lahir, tubuh kita memang merespons kebaikan secara positif.
“Seperti semua mamalia dan burung, kita tidak berdikari sejak lahir, maupun terlebihlagi selama beberapa tahun setelahnya. … Oleh karena itu, kebutuhan alas akan perawatan ini berarti bahwa terlebihlagi pada tingkat seluler, jauh di dalam biologi dan fisiologi kita, kita merespons kebaikan. Kita saling bersandar dan tubuh kita mengetahuinya.”
Mengutip halaman Walden University, kebaikan anak dapat dikembangkan. Salah satunya melalui program-program yang mendukung pembelajaran sosial dan emosional anak di sekolah.
Berbuat baik tidak cuma memberi khasiat bagi penerima, tetapi juga bagi pemberinya. Orang yang berbuat baik mendapat lonjakan endorfin yang memberi daya dan meredakan nyeri.
Hal ini sejalan dengan pernyataan Keltner bahwa, "Kemurahan hati itu menular. Kebaikan menghamburkan seperti api."
Itulah klarifikasi tentang sifat baik anak, Bunda. Sejatinya anak datang di bumi dengan kebaikan sebagai antaran lahir. Kebaikan tersebut kemudian dapat berkembang melalui lingkungan di sekitarnya.
(rap/rap)