Jakarta -
Bunda dapat mengalami mual dan muntah dahsyat saat kehamilan hingga susah melakukan kegiatan harian. Kondisi mual dan muntah dahsyat disebut juga hiperemesis gravidarum.
Sudah banyak master meneliti soal penyebab dari hiperemesis gravidarum. Salah satunya adalah studi yang mengungkap kebenaran terbaru soal kondisi mual saat kehamilan dan dikaitkan dengan genetik manusia.
Studi yang diterbitkan pada hari April 2026 di jurnal Nature Genetics ini memberikan bukti bahwa gen untuk hormon growth differentiation factor 15 (GDF15) adalah penyebab utama hiperemesis gravidarum. Penelitian ini juga mengidentifikasi enam gen tambahan yang mengenai dengan kondisi tersebut, termasuk satu gen yang mungkin mengontrol produksi peptida mirip glukagon-1 (GPL-1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perlu diketahui, GPL-1 merupakan gen yang berkedudukan dalam mengatur insulin dan nafsu makan. Gen ini juga merupakan aspek akibat genetik terbesar untuk kondisi glukosuria jenis 2, Bunda.
"Temuan ini bakal sangat membantu dalam mengeksplorasi jalan baru untuk terapi dan mencari langkah untuk memprediksi, mendiagnosis, mengobati, dan berpotensi mencegah hiperemesis gravidarum di masa depan," kata penulis utama studi, Marlena Fejzo, kepada Live Science.
Menyingkirkan penyebab yang berangkaian dengan hormon kehamilan
Perlu diketahui, hormon kehamilan, ialah human chorionic gonadotropin (hCG), adalah hormon pertama yang diproduksi plasenta setelah pembuahan. Hormon ini dulunya dianggap sebagai penyebab dari hiperemesis gravidarum lantaran kadarnya melonjak di awal kehamilan.
Selain hCG, hormon estrogen juga sempat dikaitkan sebagai penyebab hiperemesis gravidarum. Pasalnya, kadar hormon ini juga meningkat drastis selama kehamilan.
Namun, penelitian terbaru dari Fejzo dan rekan-rekannya telah memfokuskan perhatian pada GDF15 sebagai kemungkinan penyebab hiperemesis gravidarum. Peneliti setidaknya telah mengidentifikasi mutasi spesifik pada gen GDF15 yang secara signifikan meningkatkan akibat kondisi tersebut, dengan satu mutasi langka yang meningkatkan akibat hingga sepuluh kali lipat.
Para peneliti mengidentifikasi aspek akibat genetik ini menggunakan informasi dari orang-orang keturunan Eropa. Fejzo mengatakan bahwa dia mau memandang apakah temuan tersebut dapat digeneralisasikan ke populasi yang lebih beragam.
Perlu diketahui, studi ini menggabungkan informasi dari sembilan studi independen tentang hiperemesis gravidarum dari seluruh Amerika Serikat dan Eropa. Para peneliti membandingkan seluruh genom dan autosom (kromosom selain kromosom seks X dan Y) dari nyaris 11.000 orang yang didiagnosis mengalami hiperemesis gravidarum, dan lebih dari 420.000 orang dengan riwayat kehamilan tetapi tanpa hiperemesis gravidarum.
Sebagian besar informasi tetap berasal dari perseorangan keturunan Eropa. Tetapi, kumpulan informasi tersebut juga mencakup sekitar 13.000 orang keturunan Asia, lebih dari 1.200 orang keturunan Afrika, dan 75 orang keturunan Latin.
Dari hasil studi, peneliti lampau menemukan 10 gen yang mengenai dengan peningkatan akibat hiperemesis gravidarum, dengan gen untuk GDF15 sebagai sinyal teratas di semua populasi.
"Ini adalah asosiasi, jadi kita tidak bisa serta-merta mengatakan bahwa ini adalah hubungan sebab-akibat," ujar Fejzo.
"Namun, studi ini memberikan bukti tidak langsung untuk hubungan sebab-akibat antara hiperemesis gravidarum dan GDF15," sambungnya.
Pada akhirnya, temuan dari studi besar ini digabungkan dengan penelitian sebelumnya. Peneliti pun menetapkan adanya hubungan sebab-akibat antara GDF15 dan kondisi hiperemesis gravidarum pada kehamilan, Bunda.
"Penelitian yang 'sangat bagus' dan 'memperkuat' jalur GDF15 sebagai pendorong utama hiperemesis gravidarum di beragam populasi yang luas dan beragam," kata master darurat gawat yang berspesialisasi dalam hiperemesis gravidarum, Dr. Andrew Housholder.
"Ini semestinya mengakhiri obrolan tentang hiperemesis gravidarum sebagai sensitivitas terhadap hCG dan estrogen."
Rencana pengobatan dari hasil penelitian
Fejzo dan timnya berencana untuk meluncurkan uji klinis pada musim panas tahun ini, Bunda. Uji klinis bakal melibatkan pemberian metformin alias obat glukosuria yang dapat meningkatkan GDF15, kepada pasien dengan riwayat hiperemesis gravidarum.
Pasien yang direkrut berencana mempunyai lebih banyak anak dalam waktu dekat, sehingga uji klinis ini bakal menguji apakah metformin dapat mengurangi sensitivitas mereka terhadap GDF15 sebelum pembuahan. Harapannya adalah untuk mengurangi mual dan muntah mereka setelah hamil.
Demikian temuan studi terbaru tentang penyebab mual dahsyat saat hamil. Semoga info ini berfaedah ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·