“Titane” (2021) karya Julia Ducournau adalah salah satu movie paling provokatif dalam dasawarsa terakhir—bukan hanya lantaran keberaniannya menampilkan tubuh secara ekstrem, tetapi juga lantaran kemampuannya meruntuhkan pemisah genre. Pemenang Palme d’Or di Festival Film Cannes ini bergerak di daerah body horror, thriller, sekaligus drama emosional yang anehnya terasa sangat personal.
Film ini mengikuti Alexia, seorang wanita dengan pelat titanium di kepalanya akibat kecelakaan masa kecil. Sejak awal, “Titane” menetapkan tone yang dingin dan tidak nyaman. Alexia tumbuh menjadi sosok yang teralienasi, dengan relasi yang kompleks terhadap tubuh, kekerasan, dan hasrat. Narasi kemudian berkembang ke arah yang semakin tidak terduga, termasuk hubungan yang sangat tidak konvensional dengan mesin, hingga pelarian identitas yang membawanya berjumpa dengan seorang laki-laki yang kehilangan anaknya.
Dari sisi script dan screenplay, Julia Ducournau menunjukkan kontrol penuh terhadap visi yang sangat spesifik. Naskahnya tidak mengikuti struktur tradisional, apalagi condong menolak ekspektasi naratif. Dialog sangat minim, dan banyak info disampaikan melalui gestur, tubuh, dan visual. Screenplay ini bekerja lebih sebagai pengalaman sensorik daripada cerita linear. Ini membikin movie terasa menantang, tetapi juga memberikan ruang interpretasi yang luas.

Plot dalam “Titane” bergerak dalam dua fase yang sangat berbeda. Babak pertama terasa seperti thriller sadis yang dipenuhi kekerasan dan absurditas, sementara babak kedua berubah menjadi drama yang lebih intim tentang identitas dan hubungan manusia. Pergeseran ini bisa terasa disorienting, tetapi justru menjadi kekuatan utama film—menunjukkan bahwa di kembali ekstremitas visual, ada inti emosional yang kuat. Namun, tidak semua penonton bakal menerima transisi ini dengan mudah.
Dalam aspek sinematografi, movie ini sangat stylized. Penggunaan pencahayaan neon, warna kontras, dan framing yang sering kali menempatkan tubuh sebagai objek utama menciptakan estetika yang khas. Kamera tidak hanya merekam, tetapi juga “merasakan”—mengikuti aktivitas tubuh dengan intensitas yang nyaris invasif. Visual dalam “Titane” sering kali bagus sekaligus mengganggu, menciptakan ambiguitas antara daya tarik dan repulsi.
Akting dari Agathe Rousselle sebagai Alexia menjadi pusat movie ini. Ini adalah performa yang sangat fisikal, dengan ekspresi yang sering kali ditahan dan disampaikan melalui bahasa tubuh. Transformasi karakter yang dia jalani terasa ekstrem namun tetap meyakinkan. Vincent Lindon sebagai Vincent memberikan kontras emosional yang penting—rapuh, penuh kehilangan, namun juga penuh kebutuhan bakal koneksi. Interaksi keduanya menjadi inti emosional movie yang tak terduga.

Dari sisi penyutradaraan, Julia Ducournau menunjukkan keberanian yang jarang ditemukan. Ia tidak mencoba membikin movie ini “mudah” alias “nyaman” untuk ditonton. Sebaliknya, dia mendorong batas—baik secara visual maupun tematik. Namun, keberanian ini juga datang dengan risiko: movie ini bisa terasa terlalu absurd alias apalagi pretensius bagi sebagian penonton.
Kelemahan utama “Titane” terletak pada aksesibilitasnya. Struktur yang tidak konvensional dan konten yang ekstrem membuatnya susah dijangkau oleh audiens yang lebih luas. Selain itu, beberapa simbolisme terasa terlalu ambigu, sehingga pesan yang mau disampaikan tidak selalu jelas.
Secara keseluruhan, “Titane” adalah karya yang berani, unik, dan sangat personal. Ia bukan movie yang mudah dinikmati, tetapi sebagai karya seni, dia mempunyai kekuatan yang signifikan dan susah dilupakan.
Film ini tidak menawarkan moral secara langsung, tetapi membuka ruang refleksi tentang identitas, tubuh, dan kebutuhan manusia bakal koneksi. Dalam bumi yang semakin terfragmentasi, “Titane” menunjukkan bahwa apalagi dalam corak yang paling asing sekalipun, manusia tetap mencari cinta dan penerimaan.
Dari sisi dampak budaya, “Titane” memperkuat posisi body horror sebagai medium eksplorasi identitas dan kelamin dalam sinema modern. Film ini juga menunjukkan bahwa karya yang ekstrem dan eksperimental tetap mempunyai tempat di panggung utama perfilman dunia, sekaligus mendorong pemisah tentang apa yang bisa diterima sebagai “narasi” dalam sinema.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·