Apa Yang Allah Inginkan Dari Ibadah Kurban Kita? (bag. 2)

Jun 02, 2026 11:00 AM - 1 minggu yang lalu 7823

Kurban mengajarkan tauhid dan keikhlasan lantaran Allah

Para ustadz salaf terdahulu mempelajari niat sebelum beramal sebagaimana seseorang mempelajari prinsip kebaikan itu sendiri. Ini menunjukkan bahwa urgensi niat kudu dilandasi tulus lantaran Allah dalam setiap kebaikan perbuatan.

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah pernah berkata,

ما عالجت شيئًا أشدَّ عليَّ من نيتي، لأنها تتقلب عليَّ

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat saya perjuangkan selain niatku, lantaran dia selalu berubah-ubah.”

Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata,

رُبَّ عملٍ صغير تعظمه النية، ورُبَّ عملٍ كبير تصغره النية

“Betapa banyak kebaikan mini yang menjadi besar lantaran niat (ikhlas), dan sungguh banyak kebaikan besar yang menjadi mini lantaran niat (tidak ikhlas).”

Ar-Rabi bin Khutsaim rahimahullah berkata,

كل ما لا يبتغي وجه الله يضمحِلُّ

“Segala sesuatu yang tidak diniatkan lantaran Allah itu bakal sirna.”

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,

لا يزال العبد بخير ما إذا قال، قال لله، وإذا عمل، عمل لله عز وجل

“Seorang hamba bakal terus berada dalam kebaikan selama ucapannya lantaran Allah dan amalnya juga lantaran Allah.”

Zubaid Al-Yami rahimahullah berkata,

إني لأُحِبُّ أن تكون لي نية في كل شيء حتى في الطعام والشراب

“Aku sungguh sangat senang jika saya mempunyai niat (karena Allah) dalam setiap perkara, apalagi saat makan dan minum.”

Sahl bin Abdullah At-Tustari rahimahullah berkata,

ليس على النفس شيءٌ أشقُّ من الإخلاص؛ لأنه ليس لها فيه نصيب

“Tidak ada yang lebih berat bagi jiwa selain tulus (karena Allah), karena jiwa tidak mendapatkan bagian apa pun darinya.”

Yusuf bin Al-Husain Ar-Razi rahimahullah berkata,

أعز شيء في الدنيا الإخلاص، وكم أجتهد في إسقاط الرياء عن قلبي، وكأنه ينبت فيه على لون آخر

“Perkara paling mulia di bumi adalah keikhlasan. Aku terus berupaya menghilangkan riya dari hatiku, namun dia seolah tumbuh kembali dalam bentuk lain.”

Mutharrif bin Abdullah bin Asy-Syikhkhir rahimahullah berkata,

صلاح القلب بصلاح العمل، وصلاح العمل بصلاح النية

“Baiknya hati tergantung pada baiknya amal, dan baiknya kebaikan tergantung pada baiknya niat (ikhlas).”

Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah menjelaskan firman Allah (لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا) dengan mengatakan,

أخلصه وأصوبه، فإنه إذا كان خالصًا ولم يكن صوابًا لم يُقبل، وإذا كان صوابًا ولم يكن خالصًا لم يُقبل حتى يكون خالصًا، والخالص إذا كان لله، والصواب إذا كان على السُّنَّة

“Amal paling utama dan terbaik adalah yang paling tulus dan paling benar. Amal yang tulus tetapi tidak betul itu tidak diterima. Begitu pula kebaikan yang betul tetapi tidak tulus juga tidak diterima, sampai ibadah itu menjadi ikhlas. Ikhlas itu jika dilakukan lantaran Allah, dan betul itu jika sesuai dengan sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Dari Syaddad bin Aus rahimahullah, ketika menjelang wafat, beliau berkata,

إن أخوف ما أخاف عليكم الرياءُ

“Sesungguhnya yang paling saya khawatirkan atas kalian adalah riya.”

Yahya bin Muadz Ar-Razi rahimahullah berkata,

من صحح باطنه بالمراقبة والإخلاص زيَّن الله ظاهره باتباع السنة

“Barangsiapa memperbaiki batinnya dengan muraqabah dan keikhlasan, maka Allah bakal menghiasi lahiriahnya dengan mengikuti sunah.”

Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata,

الله يحب من عباده الإخلاص في عبادته، في التوحيد، وسائر الأعمال كلها التي يُعبَد بها، وفي الإخلاص طرح الرياء كله؛ لأن الرياء شرك أو ضرب من الشرك

“Allah mencintai keikhlasan dari hamba-hamba-Nya dalam ibadah kepada-Nya, dalam tauhid dan seluruh kebaikan ibadah. Termasuk dalan keikhlasan adalah menjauhi riya, lantaran riya adalah syirik alias bagian dari syirik.”

Beliau juga berkata,

يدخل في الإخلاص التوكل على الله، وأنه لا يضر ولا ينفع، ولا يعطي ولا يمنع على الحقيقة غيره، لأنه لا مانع لِما أعطى، ولا معطيَ لِما منع، لا شريك له

“Termasuk dalam keikhlasan adalah bertawakal kepada Allah, meyakini bahwa tidak ada yang bisa memberi mudarat alias manfaat, memberi alias menahan sesuatu selain Dia. Tidak ada yang bisa mencegah apa yang Allah beri, dan tidak ada yang bisa memberi apa yang Allah cegah. Dan tidak ada sekutu bagi-Nya.” (Dinukil dari Jami’ al-Ulum wal Hikam)

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,

ما نظرتُ ببصري، ولا نطقتُ بلساني، ولا بطشتُ بيدي، ولا نهضتُ على قدمي، حتى أنظر: أفي طاعةِ اللهِ أم في معصيتِه؟ فإن كانت في طاعتِه مضيتُ، وإن كانت في معصيتِه توقَّفتُ

“Aku tidak memandang dengan mataku, tidak berbincang dengan lisanku, tidak bergerak dengan tanganku, dan tidak melangkah dengan kakiku sampai saya melihat: apakah itu dalam ketaatan kepada Allah alias dalam kemaksiatan kepadaNya? Jika dalam ketaatan, saya lanjutkan. Jika dalam kemaksiatan, saya berhenti.” (Lihat Siyar A’lam an-Nubala, 4: 585)

Maka, ibadah kurban merupakan madrasah yang mendidik seorang hamba untuk meraih keikhlasan dalam beragama kepada Allah Ta’ala, serta melatih hati agar hanya mengharap rida-Nya semata. Kurban juga menjadi syiar yang agung yang telah Allah Ta’ala perintahkan bagi hamba-hamba-Nya, di mana seorang muslim rela mengorbankan kekayaan yang dia sangat cintai demi menjalankan ketaatan kepada Rabbnya. Dari ibadah ini, seorang mukmin belajar tentang ketundukan, pengorbanan, dan kesempurnaan tawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Jangan sampai pahala ibadah kurban tidak diterima lantaran perbuatan ini

Sebagian orang melaksanakan kurban lantaran mau dipuji, sekadar mengikuti kebiasaan masyarakat, alias demi kebanggaan dan gengsi. Padahal, sikap semacam ini dapat merusak pahala ibadah kurban itu sendiri. Ada pula yang kurang memperhatikan niat, alias meremehkan ketentuan waktu penyembelihan. Dan sebagian lainnya apalagi tidak menyebut nama Allah (basmalah) saat menyembelih hewan kurban.

Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

Penutup

Maka, seorang muslim seyogyanya memahami bahwa prinsip utama ibadah kurban bukan sekadar ketika menyembelih hewan saja, tetapi gimana ibadah tersebut bisa menjadi sarana untuk meraih ketakwaan, mengagungkan Allah ‘Azza wa Jalla, mendekatkan diri kepada-Nya, membantu orang-orang yang fakir dan membutuhkan, serta menghidupkan syiar tauhid di tengah masyarakat. Oleh lantaran itu, ibadah kurban tidak semestinya dicampuri dengan perbuatan riya, berbesar hati diri, ataupun sekadar mengikuti tradisi tanpa disertai pemahaman yang benar.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى ٱلْقُلُوبِ

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menghidupkan hati kita dengan ketakwaan kepada-Nya, memberi pertolongan agar kita bisa tulus dalam setiap ucapan dan perbuatan, serta menerima seluruh kebaikan saleh kita.

Wallahu a’lam bisshawab.

[Selesai]

KEMBALI KE BAGIAN 1

*** 

Penerjemah: Chrisna Tri Hartadi

Artikel Kincai Media

Sumber: www.alukah.net/sharia/0/176498/المقصد-الحقيقي-من-الأضحية/

Selengkapnya