Ternyata Kakek Nabi yang Pertama Memperkenalkan Nama Hari Jumat, Begini Kisahnya

Jul 31, 2026 12:20 PM - 17 jam yang lalu 53

Kincai Media,Jakarta - Hari Jumat mempunyai kedudukan spesial dalam Islam. Bahkan, hari ini dijuluki sebagai sayyidul ayyam alias penghulu segala hari. Karena keutamaannya, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah, doa, dan membaca shalawat pada malam Jumat maupun sepanjang hari Jumat.

Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa nama "Jumat" rupanya telah diperkenalkan jauh sebelum Rasulullah SAW diangkat menjadi nabi. Sosok yang pertama kali memperkenalkan penyebutan hari Jumat adalah kakek Nabi Muhammad SAW, Ka'ab bin Lu'ay.

Dalam kitab "Pengantin Ramadhan", Muchlis M Hanafi menjelaskan bahwa sebelum Islam datang, masyarakat Arab menyebut hari Jumat dengan nama al-arubah. Ka'ab bin Lu'ay kemudian mengganti penyebutan tersebut menjadi jumu'ah.

Lulusan Universitas Al-Azhar Mesir itu menjelaskan, setiap hari tersebut Ka'ab bin Lu'ay mengumpulkan kaum Quraisy di rumahnya. Dalam pertemuan itu, dia mengingatkan mereka tentang bakal datangnya seorang nabi terakhir, ialah Rasulullah Muhammad SAW.

Menurut Muchlis, penyebutan "jumu'ah" berasal dari makna berkumpul (ijtima'). Nama itu kemudian semakin relevan setelah Islam datang lantaran pada hari Jumat kaum Muslimin berkumpul untuk melaksanakan shalat Jumat, yang tata caranya berbeda dengan sholat lima waktu lainnya.

Dalam Islam, hari Jumat mempunyai banyak keutamaan. Rasulullah SAW menyebutnya sebagai hari yang paling mulia di sisi Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda:

"Sungguh hari Jumat adalah tuannya hari-hari dan yang paling agung di sisi Allah." (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Keistimewaan hari Jumat juga menjadi argumen kenapa umat Islam dianjurkan memperbanyak kebaikan ibadah, termasuk membaca angan dan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Malam Jumat maupun hari Jumat merupakan waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak shalawat. Rasulullah SAW bersabda:

"Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku di hari dan malam Jumat. Barangsiapa membaca shalawat untukku satu kali, maka Allah membalasnya sepuluh kali." (HR Baihaqi).

Selengkapnya