Tafsir Surah Abasa (Bag. 3): Takut dan Berlarian di Hari Kiamat

Jul 31, 2026 11:00 AM - 18 jam yang lalu 51

Setelah Allah menceritakan tentang kufurnya sebagian manusia, mereka tidak beragama kepada Allah, padahal Allah telah memberikan beragam kenikmatan pada dirinya yang dapat dia saksikan sendiri, maka setelahnya Allah menjelaskan tentang nikmat-nikmat yang ada di alam semesta ini sebagai bukti bahwa Dia adalah Sang Maha Pencipta.

Setelah itu, Allah menjelaskan tentang keadaan manusia di hari kiamat, dimana mereka berlari kencang dan menjauh dari orang-orang dekat mereka di dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ اِلٰى طَعَامِهٖٓ 

“Maka, hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. Abasa: 24)

Allah memerintahkan kita semua untuk merenungi beragam makanan yang manusia makan sehari-hari. Bukan sekedar memandang lampau mengetahui ini makanan enak, ini rasanya manis, yang ini pahit, dan sebagainya. Bukan hanya itu yang Allah inginkan; bakal tetapi lebih jauh, Allah mau kita merenung gimana makanan ini bisa ada, siapa yang menciptakannya, gimana bisa makanan ini cocok dengan manusia, nikmat, dan menjadi karena manusia tetap hidup.

Semua makanan tidak terjadi dengan tiba-tiba, bakal tetapi mereka telah didesain oleh Allah agar cocok bagi manusia. Merenungi bahwa ada Dzat yang Maha Tahu bakal siklus dan sistem tubuh manusia, menumbuhkan beragam tumbuhan yang dekat dengan manusia, mengajari manusia langkah bercocok tanam, serta mempermudah manusia dengan memberikan keahlian memasak agar bisa menikmati hasilnya.

Dengan merengungi adanya nikmat makanan, yang secara umum berasal dari tanah, maka manusia bisa merenungkan bahwa Allah bisa menumbuhkan sesuatu dari tanah yang kosong dan tandus, maka Allah juga bisa menumbuhkan kembali manusia di hari hariakhir nanti.

Allah kemudian menjelaskan secara umum gimana makanan bisa ada di tengah-tengah kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

اَنَّا صَبَبْنَا الْمَاۤءَ صَبًّاۙ , ثُمَّ شَقَقْنَا الْاَرْضَ شَقًّا

“Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air (dari langit) dengan berlimpah. Kemudian, Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya.” (QS. Abasa: 26-27)

Allah menurunkan hujan dari awan yang ada di langit dengan corak hujan yang bermanfaat, bukan dengan sekali siraman yang bakal merusak bumi, bakal tetapi dengan rintikan yang lembut dan bermanfaat. Air tersebut kemudian Allah alirkan dan simpan ke beragam lapisan bumi, sebagiannya merendam biji-biji yang ada di tanah, sebagiannya mengalir sebagai sungai, dan sebagiannya menguap menjadi awan kembali.

Setelah biji mendapatkan airnya sebagai “starter” pertumbuhan, Allah bantu tumbuhan muda yang lemah ini dengan langkah membelah lapisan tanah yang ada di atasnya, agar tumbuhan ini segera bisa muncul ke atas tanah, lampau dapat menjalankan proses fotosintesis dan membikin makanan bagi dirinya sendiri.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا حَبًّاۙ , وَّعِنَبًا وَّقَضْبًاۙ , وَّزَيْتُوْنًا وَّنَخْلًاۙ , وَّحَدَاۤىِٕقَ غُلْبًا

“Lalu, Kami tumbuhkan padanya biji-bijian, anggur, sayur-sayuran, zaitun, pohon kurma, kebun-kebun (yang) rindang, buah-buahan, dan rerumputan.” (QS. Abasa: 27-31)

Kemudian tumbuhlah beragam tumbuhan dengan beragam kegunaanya bagi manusia, sebagian sebagai makanan pokok, sebagian sebagai buah yang segar, sebagian sebagai obat, sebagian sebagai bahan perabot rumah, sebagian sebagai makanan bagi hewan ternak, dan beragam kegunaan lainnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْ

“(Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan-hewan ternakmu.” (QS. Abasa: 32)

Sebuah ayat yang semestinya kita renungi dalam-dalam, kemudian berlinanglah air mata kita, lantaran begitu besar nikmat yang Allah berikan kepada manusia. Allah berikan beragam akomodasi hidup bagi segala makhluk yang ada di bumi ini semuanya untuk kebutuhan manusia. Kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya serta mempunyai keturunan. Setelah itu, semestinya manusia sadar bahwa satu-satunya yang berkuasa disembah adalah Allah, yang telah merancang sistem hidup seindah ini.

Allah sebutkan beragam kenikmatan bumi ini, selanjutnya manusia bakal dimintai pertanggungjawaban tentang gimana nikmat-nikmat ini digunakan, apakah untuk alim kepada Allah alias malah menggunakannya untuk menentang Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَاِذَا جَاۤءَتِ الصَّاۤخَّةُ 

“Maka, andaikan datang bunyi yang memekakkan (dari tiupan sangkakala).” (QS. Abasa: 33)

Suara yang sangat keras dan memekakkan telinga ini adalah tiupan sangkakala ketika hariakhir tiba. Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan,

قال البغوي: الصاخة: يعني صيحة يوم القيامة، سميت بذلك؛ لأنها تصخّ الأسماع وتصمّ الآذان لشدتها، أي تبالغ في إسماعها حتى تكاد تصمّها

“As-Shakhkhah berarti pekikan (suara dahsyat) hari kiamat. Ia dinamakan demikian lantaran suaranya yang memekakkan pendengaran dan menulikan telinga lantaran saking dahsyatnya. Artinya, bunyi tersebut sangat mengerikan dan keras menusuk pendengaran hingga hampir-hampir membuatnya tuli.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِۙ , وَاُمِّهٖ وَاَبِيْهِۙ , وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيْهِۗ , لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِ

“Pada hari itu, manusia lari dari saudaranya, (dari) ibu dan bapaknya, serta (dari) istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS. Abasa: 34-37)

Ketika telah ditiupkan sangkakala yang kedua kalinya, manusia muncul kembali dari kuburnya, Allah bisa untuk menyatukan kembali jasad yang telah hancur dan remuk, menyatukan personil tubuh yang telah tercerai-berai ribuan kilo, menjadi satu jasad utuh yang sama dengan jasad yang digunakan di dunia. Allah satukan kembali dan Allah tumbuhkan jasad tersebut, kemudian Allah kembalikan ruh kepada jasadnya masing-masing tanpa ada yang tersesat menggunakan jasad orang lain.

Allah bisa melakukannya sebagaimana awal potongan surat, bisa untuk menumbuhkan biji dari dalam tanah yang gersang dan tandus.

Setelah ruh jiwa kembali kepada jasadnya, semua orang merasa takut dan berlarian, lari dengan kencang lantaran saking ketakutannya bahwa hari hariakhir betul-betul datang. Kaum kafir yang mengingkari hariakhir merasa banget takut lantaran rupanya yang dikabarkan telah datang, tinggal menunggu penyiksaan tiada henti di neraka.

Kaum muslimin yang meyakini hari hariakhir juga merasa takut, mereka takut kudu mempertanggungjawabkan semua perihal yang telah dikerjakan di dunia, takut lantaran belum menjalankan dengan baik amanah dari Allah, takut lantaran ada nikmat yang kudu diaudit oleh Rabb semesta alam.

Lebih mengerikan lagi, semua orang takut dan lari dari orang-orang terdekat mereka. Saudara lari dari saudaranya yang lain, anak berlari menghindari ibunya, suami berlari menghindari istrinya, orang tua juga berlari menghindari anak-anaknya. Mengapa? Karena mereka takut dituntut, takut diperberat hisabnya lantaran melalaikan kewenangan orang-orang terdekat.

Semakin sering seseorang berbaur dengan seseorang, kemungkinan untuk saling melakukan kezaliman semakin besar, maka semakin takutlah seseorang berjumpa orang dekatnya.

Kemudian Allah sebutkan dari urutan dengan tingkat kedekatan yang jauh dahulu, baru yang lebih dekat. Memberikan kesan bahwa tanggungjawab bakal semakin berat dengan semakin dekatnya hubungan. Seakan-akan dikatakan bahwa kita bakal lari dari kerabat kita lantaran pernah manzalimi, maka lebih lagi kita bakal berlari dari orang tua kita, lebih lagi kita bakal berlari dari istri kita, dan lebih lagi kita berlari dari anak kita. Karena kita semakin takut bakal tuntutan yang mereka layangkan kepada kita.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِ

“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS. Abasa: 37)

Semua manusia sibuk merenungi amalnya, merenungi nasibnya, kemana kehidupan setelah ini? Apakah kesengsaraan yang tiada akhir, ataukah kenikmatan yang kekal abadi?.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ مُّسْفِرَةٌۙ , ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ ۚ

“Pada hari itu, ada wajah-wajah yang berseri-seri, tertawa lagi ceria ria.” (QS. Abasa: 38-39)

Pada hari ini, hari kiamat, manusia bakal memandang gimana nasibya. Ada wajah-wajah yang berseri-seri dan gembira, mereka adalah kaum mukminin yang beragama kepada Allah dan hari akhir, mereka juga beramal kebaikan yang tulus di dunia.

Maka sekaranglah saatnya untuk istirahat, menemukan kenikmatan kekal dan kekal, ditambah kenikmatan untuk memandang wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala, Sang Pancipta kita, yang kita senantiasa rindukan. Hari itu datang, hari keabadian dalam kenikmatan, maka bakal kekal wajah bekerlapan dan ceria ini.

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah pernah ditanya, kapan waktu kita beristirahat? Beliau menjawab ketika kita telah melangkahkan kedua kaki kita di surga. Kepada semua pembaca tulisan ini, semoga Allah pertemukan kita di surga-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَوُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌۙ , تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ ۗ , اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ ࣖ

“Pada hari itu, ada (pula) wajah-wajah yang tertutup debu (suram) dan tertutup oleh kegelapan (ditimpa kehinaan dan kesusahan). Mereka itulah orang-orang kafir lagi para pendurhaka.” (QS. Abasa: 40-42)

Namun, ada juga manusia yang wajahnya tertutup dengan debu dan kegelapan. Mereka adalah orang-orang kafir dan fasik, menggabungkan sikap tidak beragama kepada Allah dan kezaliman pada sesama makhluk. Mereka sudah mengetahui kesudahan mereka adalah neraka, selama-lamanya merasakan kesengsaraan.

Semoga Allah lindungi kita semua dari kekafiran, dari kefasikan, serta dari balasan neraka.

[Selesai]

KEMBALI KE BAGIAN 2

***

Penulis: Dany Indra Permana

Artikel Kincai Media

Catatan kaki:

Mayoritas cetakan dan laman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

Selengkapnya