Ilustrasi.
Kincai Media, JAKARTA— Sejarah Islam dipenuhi oleh teladan para ulama, dai, dan orang-orang saleh yang senantiasa menyampaikan nasihat, arahan, serta wejangan penuh hikmah kepada para pemimpin maupun masyarakat.
Di antara nasihat yang sangat berbobot adalah surat yang ditulis oleh Imam Malik bin Anas rahimahullah kepada Khalifah Harun ar-Rasyid rahimahullah.
Ketika sang khalifah meminta nasihat kepadanya, Imam Malik menuliskan sebuah pesan yang singkat namun sarat makna, mencakup beragam prinsip kehidupan yang dapat mengantarkan seseorang kepada kebahagiaan bumi dan akhirat.
Beliau membuka suratnya dengan berkata, "Aku menulis surat ini kepadamu dengan penuh ketulusan. Aku tidak menyembunyikan sedikit pun nasihat dan petunjuk yang dapat membimbingmu kepada kebenaran. Surat ini ditulis sebagai corak pujian kepada Allah dan mengikuti etika Rasulullah SAW.
Maka renungkanlah isinya dengan akalmu, perhatikan dengan pandanganmu, dengarkan dengan sungguh-sungguh, pahamilah dengan hatimu, dan jangan lalai darinya.
Sebab di dalamnya terdapat kebaikan bumi dan pahala yang bagus di akhirat. Aku memohon kepada Allah agar memberikan taufik kepada kami dan kepadamu."
Imam Malik kemudian membujuk sang khalifah untuk selalu mengingat kematian dan kehidupan setelahnya.
Ia menulis:
"Ingatlah dirimu ketika menghadapi sakaratul maut dan kesulitannya. Ingatlah saat engkau berdiri di hadapan Allah untuk dihisab, lampau menjalani kehidupan kekal setelah kalkulasi itu. Persiapkanlah kebaikan yang dapat meringankan beragam kengerian dan kesulitan pada hari tersebut."
Beliau menggambarkan sungguh dahsyatnya keadaan orang-orang yang mendapat murka Allah. Mereka berada dalam siksa yang mengerikan, dipenuhi penyesalan tanpa akhir, mendengar jeritan dan rintihan di dalam neraka, sementara angan mereka telah terputus.
قَالَ ٱخْسَـُٔوا۟ فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ ١٠٨
“Dia (Allah) berfirman, "Tinggallah dengan buruk di dalamnya, dan janganlah Anda berbincang dengan Aku." (QS Al-Mu’minun: 108)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·