Biografi Al-Hasan Al-Bashri (Bag. 1)

Aug 01, 2026 11:00 AM - 1 hari yang lalu 94

Nama dan nasab

Beliau adalah Al-Hasan bin Abi Al-Hasan Al-Bashri. Nama ayahnya adalah Yasar, seorang maula (bekas budak yang telah dimerdekakan) milik Zaid bin Tsabit Al-Anshari. Beliau termasuk salah satu pemimpin besar dan tokoh terkemuka dalam Islam, serta dikenal sebagai salah satu penghafal Al-Qur’an. Kun-yah (nama panggilan kehormatan) beliau adalah Abu Sa‘id.

Kelahiran Al-Hasan Al-Bashri

Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله lahir di Madinah pada tahun 21 H, dua tahun sebelum berakhirnya masa kekhalifahan Umar bin Al-Khattab رضي الله عنه.

Beliau pernah menghadiri salat Jumat berbareng Khalifah Utsman bin Affan رضي الله عنه dan mendengar khotbahnya. Ia juga menyaksikan peristiwa “Yaum Ad-Dar” (peristiwa pengepungan rumah Utsman). Saat itu usianya sekitar empat belas tahun.

Sifat dan penampilan bentuk Al-Hasan

Imam Muhammad bin Sa‘d رحمه الله berbicara tentangnya,

كان الحسن جامعًا، عالِمًا، عاليًا، رفيعًا، فقيهًا، ثقةً، مأمونًا، عابدًا، ناسكًا، كبير العلم، فصيحًا، جميلًا وسيمًا

“Al-Hasan adalah seorang yang mempunyai banyak keutamaan; berilmu, berdomisili tinggi, mulia, faqih, terpercaya, amanah, mahir ibadah, zuhud, luas ilmunya, fasih berbicara, serta berparas tampan dan rupawan.”

Seorang wanita berjulukan Amat Al-Hakam berkata,

ان الحسن يجيء إلى حِطَّانَ الرَّقَاشيِّ، فما رأيت شابًّا قط كان أحسن وجهًا منه

“Al-Hasan biasa datang menemui Hittan Ar-Raqasyi. Aku belum pernah memandang seorang pemuda yang lebih tampan wajahnya daripada dia.”

Hammad bin Salamah berkata,

رأيت الحسن يُصفِّر لحيته

“Aku memandang Al-Hasan mewarnai janggutnya dengan warna kekuningan.”

Amir Asy-Sya‘bi berbicara kepada seseorang yang hendak pergi ke Bashrah,

إذا نظرتَ إلى رجلٍ أجمل أهل البصرة وأهيبهم، فهو الحسن، فأقرِئه مني السلام

“Jika engkau memandang seorang laki-laki yang paling tampan dan paling berkarisma di Bashrah, maka dialah Al-Hasan. Sampaikan salamku kepadanya.”

Keberkahan rumah kenabian bagi Al-Hasan Al-Bashri

Disusui oleh Ummu Salamah dan angan para sahabat

Ibu Al-Hasan Al-Bashri berjulukan Khairah. Ia adalah pelayan Ummul Mukminin Ummu Salamah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Suatu ketika, ibunya sedang keluar untuk suatu keperluan dan Al-Hasan tetap bayi, lampau Ummu Salamah menggendongnya dan menyusuinya. Air susunya pun mengalir, lampau Al-Hasan menyusu darinya. Oleh lantaran itu, para ustadz beranggapan bahwa hikmah dan pengetahuan yang dianugerahkan kepada Al-Hasan itu berasal dari keberkahan susuan tersebut.

Ibunya juga sering membawa Al-Hasan yang tetap mini menemui para sahabat agar mereka mendoakannya. Di antara yang mendoakan beliau adalah Umar bin Al-Khattab رضي الله عنه, yang berdoa,

اللهم فقِّهه في الدين، وحبِّبه إلى الناس

“Ya Allah, pahamkanlah dia dalam kepercayaan dan jadikanlah dia dicintai oleh manusia.”

Masuk ke rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Ibnu Sa‘d meriwayatkan bahwa Al-Hasan berkata,

كنتُ أدخُلُ بيوت أزواج النبي صلى الله عليه وسلم في خلافةِ عثمان بن عفان، فأتناول سقف البيت بيدي

“Aku pernah masuk ke rumah-rumah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, dan saya dapat menyentuh genting rumah itu dengan tanganku.”

Hal ini menunjukkan bahwa sejak kecil, beliau tumbuh dekat dengan lingkungan para sahabat dan rumah tangga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tentu memberi pengaruh besar terhadap pembentukan keilmuan dan kepribadiannya.

Guru-guru

Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله belajar dan meriwayatkan sabda dari banyak sahabat Nabi ﷺ. Di antara mereka adalah Imran bin Husain, Al-Mughirah bin Syu‘bah, Abdurrahman bin Samurah, Samurah bin Jundub, Abu Bakrah Ats-Tsaqafi, An-Nu‘man bin Basyir, Jabir bin Abdullah, Jundub Al-Bajali, Abdullah bin Abbas, Amr bin Taghlib, Ma‘qil bin Yasar, Al-Aswad bin Sari‘, dan Anas bin Malik, serta sahabat lainnya. Beliau juga membaca dan mempelajari Al-Qur’an kepada Hitthan bin Abdullah Ar-Raqasyi. Selain meriwayatkan dari para sahabat, beliau pun mengambil pengetahuan dari banyak tabi‘in, sehingga sanad keilmuannya sangat luas dan kuat.

Murid-murid

Banyak ustadz besar yang menjadi siswa Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله dan meriwayatkan pengetahuan darinya. Di antara mereka adalah Ayyub As-Sakhtiyani, Syaiban An-Nahwi, Yunus bin Ubaid, Ibnu ‘Aun, Humaid Ath-Thawil, Tsabit Al-Bunani, Malik bin Dinar, Hisyam bin Hassan, Jarir bin Hazim, Ar-Rabi‘ bin Shabih, Yazid bin Ibrahim At-Tustari, Mubarak bin Fudhalah, Aban bin Yazid Al-‘Aththar, Qurrah bin Khalid, Hazm Al-Qath‘i, Sallam bin Miskin, Syumait bin Ajlan, dan Shalih Abu ‘Amir Al-Khazzaz, serta banyak lagi lainnya. Hal ini menunjukkan sungguh luasnya pengaruh dan kedudukan beliau dalam bumi ilmu, hingga menjadi rujukan bagi banyak tokoh besar generasi setelahnya.

Kedudukan ilmiah Al-Hasan Al-Bashri

Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله memiliki kedudukan ilmiah yang sangat tinggi di kalangan para sahabat dan tabi‘in. Banyak ustadz besar yang mengakui keutamaannya dalam pengetahuan dan pemahaman agama.

Ibnu Sa‘d رحمه الله berkata,

كان الحسن البصري جامعًا، عالِمًا، عاليًا، رفيعًا، فقيهًا، ثقةً، مأمونًا، عابدًا، ناسكًا، كبيرَ العلم، فصيحًا، جميلًا وسيمًا، وكان ما أسند مِن حديثه وروى عمَّن سمع منه فحسنٌ حجَّةٌ، وما أرسل مِن الحديث، فليس بحجة، وقدِم مكةَ فأجلَسوه على سريرٍ، واجتمع الناس إليه فحدَّثهم، وكان فيمَن أتاه: مجاهدٌ، وعطاء، وطاوس، وعمرو بن شُعَيب، فقال بعضهم: لم نرَ مثلَ هذا قط

“Al-Hasan Al-Bashri adalah seorang yang mempunyai banyak keutamaan; berilmu, berdomisili tinggi, mulia, faqih (ahli fikih), terpercaya, amanah, mahir ibadah, zuhud, luas ilmunya, fasih berbicara, serta berparas tampan dan rupawan. Hadis-hadis yang dia riwayatkan dengan sanad yang bersambung dari orang yang dia dengar darinya adalah sabda yang baik dan dapat dijadikan hujah. Adapun sabda yang dia riwayatkan secara mursal (tanpa menyebut sahabat), maka tidak dijadikan hujah.

Beliau pernah datang ke Makkah, lampau orang-orang mempersilahkannya duduk di atas sebuah tempat tinggi (seperti bangku kehormatan). Manusia pun berkumpul mengelilinginya untuk mendengarkan sabda darinya. Di antara yang datang saat itu adalah Mujahid, ‘Atha’, Thawus, dan ‘Amr bin Syu‘aib. Sebagian dari mereka berkata, ‘Kami belum pernah memandang yang seperti ini sebelumnya.’”

Ibnu Sa‘d meriwayatkan dari Khalid bin Riyah bahwa suatu ketika, Anas bin Malik رضي الله عنه ditanya tentang suatu masalah. Maka beliau berkata,

عليكم مولانا الحسن، فسَلُوه

“Datangilah Al-Hasan dan tanyakan kepadanya.”

Orang-orang pun berkata, “Wahai Abu Hamzah, kami bertanya kepadamu, tetapi engkau menyuruh kami bertanya kepada Al-Hasan?”

Anas menjawab,

إنا سمِعنا وسمِع، فحفِظ ونسينا

“Kami dulu mendengar (ilmu) dan dia juga mendengar. Namun dia menghafal, sedangkan kami lupa.”

Ibnu Sa‘d meriwayatkan dari Humaid bin Hilal, dia berkata, “Abu Qatadah رضي الله عنه pernah berbicara kepada kami,

عليكم بهذا الشيخ – يعني الحسنَ بن أبي الحسن – فإني واللهِ ما رأيتُ رجلًا قط أشبهَ رأيًا بعمر بن الخطاب منه

“Ikutilah syekh ini, maksudnya Al-Hasan bin Abi Al-Hasan. Demi Allah, saya tidak pernah memandang seorang pun yang pendapat dan langkah berpikirnya lebih mirip dengan Umar bin Al-Khattab daripada dia.”

Yunus bin ‘Ubaid berkata,

كان الحسنُ – واللهِ – مِن رؤوس العلماء في الفتنِ والدماء

“Demi Allah, Al-Hasan termasuk pemimpin para ustadz dalam menghadapi persoalan tuduhan dan urusan darah (perkara besar seperti bentrok dan pertumpahan darah).”

Qatadah bin Di‘amah berkata,

كان الحسنُ مِن أعلم الناس بالحلال والحرام

“Al-Hasan termasuk orang yang paling berilmu tentang legal dan haram.”

Qatadah juga berkata,

ما جمعتُ علمَ الحسن إلى أحد من العلماء، إلا وجدتُ له فضلًا عليه، غيرَ أنه إذا أشكل عليه شيء كتب فيه إلى سعيد بن المسيب يسأله، وما جالستُ فقيهًا قط إلا رأيت فضل الحسن

“Setiap kali saya membandingkan pengetahuan Al-Hasan dengan pengetahuan seorang ustadz lainnya, pasti saya memandang kelebihannya atas ustadz tersebut. Hanya saja, jika ada suatu masalah yang susah baginya, dia menuliskannya kepada Sa‘id bin Al-Musayyib untuk bertanya. Dan saya tidak pernah duduk berbareng seorang mahir fikih pun selain saya memandang kelebihan Al-Hasan atasnya.”

Imam Adz-Dzahabi رحمه الله berkata, “Apabila Al-Hasan Al-Bashri meriwayatkan sabda ini (tentang batang pohon kurma yang merintih lantaran kangen kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), beliau menangis. Kemudian beliau berkata,

يا عباد الله، الخشبةُ تحنُّ إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، شوقًا إليه، فأنتم أحقُّ أن تشتاقوا إلى لقائه

“Wahai hamba-hamba Allah, sebatang kayu saja merindukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menangis lantaran mau berjumpa dengannya. Maka kalian lebih berkuasa untuk merindukan pertemuan dengan beliau.”

Kemuliaan adab Al-Hasan Al-Bashri

Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله dikenal bukan hanya lantaran keluasan ilmunya, tetapi juga lantaran kemuliaan akhlaknya. Ilmu yang beliau miliki betul-betul tampak dalam sikap, tutur kata, dan kehidupannya sehari-hari.

Jarir bin Hazim berkata, “Kami sedang duduk berbareng Al-Hasan, sementara hari sudah lewat tengah hari dan semakin siang. Lalu putranya berkata, ‘Ringankanlah beban syekh, lantaran kalian telah memberatkannya. Ia belum makan dan belum minum.’

Al-Hasan pun berkata, ‘Sudahlah!’ sembari menegurnya, ‘Biarkan mereka. Demi Allah, tidak ada sesuatu yang lebih menyejukkan mataku daripada memandang mereka alias berbareng mereka. Sesungguhnya jika seorang muslim mengunjungi saudaranya, lampau keduanya berbincang, saling mengingatkan, dan memuji Rabb mereka, hingga waktu rehat siang pun terlewatkan, maka itu (adalah kebaikan).’”

‘Ubais Abu ‘Ubaidah berkata,

كان الحسن البصري إذا اشترى شيئًا، وكان في ثمنه كسرٌ، جَبَره لصاحبه

“Apabila Al-Hasan Al-Bashri membeli sesuatu, dan pada harganya ada pecahan (kekurangan kecil), maka dia membulatkannya untuk penjual.”

Kultsum bin Jausyan berkata, “Ada seseorang meminta support kepada Al-Hasan untuk suatu keperluan. Maka Al-Hasan pun langsung keluar bersamanya. Orang itu berkata, ‘Aku tadi juga meminta support kepada Ibnu Sirin dan Farqad, tetapi mereka berkata, “Tunggu sampai kami menghadiri jenazah, kelak setelah itu kami bakal keluar bersamamu.”’

Maka Al-Hasan berkata,

أمَا إنهما لو مشَيَا معك لكان خيرًا

‘Ketahuilah, seandainya mereka langsung melangkah bersamamu (untuk membantumu), itu tentu lebih baik.’”

[Bersambung]

***

Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan

Artikel Kincai Media

Selengkapnya