Ketika kita mendengar alias membaca pertanyaan seseorang, “Apa argumen kita perlu berkhidmat kepada orangtua?” Tentunya perihal yang asing bagi kita mendengar pertanyaan tersebut. Orang tua jelas sekali mempunyai jasa yang besar dalam kehidupan kita sehingga kita perlu berkhidmat kepada mereka. Akan tetapi di luar sana, ada orang-orang yang orang tuanya malah menjadi sumber luka mereka, luka jiwa maupun luka fisik.
Bagi mereka, berbakti kepada orang tua merupakan suatu perihal yang tidak adil, masa mini mereka yang harusnya penuh ceria dan kasih sayang, mereka habiskan untuk menelan trauma. Dari siapa trauma tersebut? Ternyata dari orang tua mereka sendiri. Lalu ketika mereka beranjak dewasa, mereka merasa bahwa berkhidmat kepada orang tua adalah suatu ketidakadilan.
Lalu gimana perihal tersebut dalam pandangan Islam? Apakah berkhidmat kepada orang tua yang kejam tetap diwajibkan sebagaimana berkhidmat kepada orang tua pada umumnya? Ternyata dalam Islam, tanggungjawab berkhidmat kepada orang tua tidaklah lenyap meskipun mereka kejam terhadap anak-anaknya.
Sekilas memang terlihat tidak setara bagi kerabat kita yang dizalimi oleh orang tua mereka. Masa mini mereka direnggut dan yang tersisa hanyalah trauma dan rasa sakit. Akan tetapi, di kembali itu ada hikmah kenapa kita tetap wajib berkhidmat kepada orang tua yang zalim.
Kedudukan berkhidmat kepada orang tua
Berbakti kepada orang tua merupakan sebuah ibadah mulia dalam Islam. Hal tersebut ditunjukkan dari beberapa ayat Al-Quran yang menyandingkan berkhidmat kepada orang tua dengan tujuan ibadah paling utama, ialah bertauhid. Allah Ta’ala berfirman,
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar Anda jangan menyembah selain Dia dan hendaklah melakukan baik kepada ibu bapak.” (QS. Al-Isra’: 23)
Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Sembahlah Allah dan janganlah Anda mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat oke kepada kedua orang tua.” (QS. An-Nisa: 36)
Dari kedua ayat di atas, kita bisa memandang bahwa Allah menyebut berkhidmat kepada orang tua setelah bertauhid. Para ustadz banyak yang menjelaskan bahwa perihal tersebut menunjukkan istimewanya berkhidmat kepada orang tua. Mengapa demikian? Karena berkhidmat kepada orang tua beberapa kali disandingkan dengan perintah untuk bertauhid dan menjauhi syirik yang merupakan landasan utama kepercayaan Islam.
Dalil wajibnya berkhidmat kepada orang tua yang zalim
Berbakti kepada orang tua merupakan suatu ibadah yang mulia, dan kedudukannya tidaklah berubah walaupun orang tua tersebut zalim. Ada beberapa dalil yang menunjukkan wajibnya berkhidmat kepada orang tua yang zalim, di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,
وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
“Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah Anda mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di bumi dengan baik.” (QS. Luqman: 15)
Pada ayat di atas, bisa kita lihat bahwa Allah tetap memerintahkan kita untuk memperlakukan orang tua kita dengan baik walaupun mereka memaksa kita untuk melakukan syirik. Bayangkan, perihal apa yang lebih sadis dibandingkan memaksa seorang anak agar kekal di neraka (dengan melakukan syirik)? Akan tetapi, Allah tetap memerintahkan kita untuk tetap melakukan baik kepada mereka.
Hikmah diwajibkannya berkhidmat kepada orang tua yang zalim
Mungkin terlihat tidak setara bagi orang-orang yang merasa hidupnya dizalimi dan disakiti oleh orang tuanya. Mereka menghabiskan masa kecilnya dengan rasa sakit lahir maupun jiwa yang diberikan oleh orang tuanya. Setelah mereka dewasa, mereka malah kudu berkhidmat kepada orang yang menjadi sumber rasa sakitnya.
Akan tetapi jika direnungkan kembali, ada hikmah yang besar di kembali berkhidmat kepada orang tua, walaupun mereka orang tua yang zalim.
Pertama, kunci masuk surga
Berbakti kepada orang tua merupakan salah satu kunci yang bisa mengantarkan kita untuk masuk surga. Suatu perihal yang merugi ketika kita mempunyai orang tua, tapi tidak bisa memanfaatkannya untuk bisa masuk surga. Hal tersebut sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam,
رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، قِيلَ: مَنْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ، أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ
“Celakalah dia (hidungnya tersungkur ke debu), celakalah dia, celakalah dia!” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Barang siapa yang mendapati kedua orang tuanya di masa tua, salah satunya alias keduanya, namun perihal itu tidak membuatnya masuk surga.” (HR. Muslim)
Berbakti kepada orang tua juga merupakan salah satu tiket masuk surga yang paling utama, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis,
الوالد أوسط أبواب الجنة، فإن شئت فأضع هذا الباب، أو احفظه
“Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Jika engkau mau, engkau boleh menyia-nyiakan pintu tersebut, alias engkau boleh menjaganya.” (HR. Tirmidzi)
Syekh Al-Mubarakfuri menjelaskan tentang maksud dari pintu yang paling tengah,
أَيْ خَيْرُ الْأَبْوَابِ وَأَعْلَاهَا وَالْمَعْنَى أَنَّ أَحْسَنَ مَا يُتَوَسَّلُ بِهِ إِلَى دُخُولِ الْجَنَّةِ، وَيُتَوَسَّلُ بِهِ إِلَى وُصُولِ دَرَجَتِهَا الْعَالِيَةِ، مُطَاوَعَةُ الْوَالِدِ وَمُرَاعَاةُ جَانِبِهِ
“Maksudnya adalah pintu paling baik dan paling tinggi derajatnya. Maknanya bahwa sarana paling baik yang mengantarkan seseorang untuk masuk surga, dan merupakan sarana yang paling tinggi derajatnya, ialah menaati orang tua dan menjaga kewenangan dan kehormatannya.”
Jangan sampai kebencian kita kepada orang tua kita malah menghilangkan kesempatan kita untuk meraih pintu surga yang paling utama. Bayangkan jika orang yang mempunyai orang tua saleh yang menyayanginya dari lahir hingga akhirnya dipisahkan dengan kematian, ketika mereka berkhidmat kepada orang tua, surga adalah balasannya. Apalagi seorang anak yang mempunyai orang tua yang zalim, ujiannya lebih besar, tentu balasannya lebih besar juga.
Kedua, memulai siklus kebaikan
Keburukan tidak selamanya kudu dibalas dengan keburukan, terkadang membalas keburukan dengan kebaikan adalah solusi. Mari renungkan firman Allah berikut,
وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُۗ اِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْم
“Tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan perilaku yang lebih baik sehingga orang yang ada permusuhan denganmu serta-merta menjadi seperti kawan yang sangat setia.” (QS. Fushshilat: 34)
Bermusuhan dengan orang tua bukanlah perihal yang baik untuk dilakukan. Hal tersebut bisa melebar ke keburukan lainnya. Bisa berupa terputusnya silaturahmi, ketidakharmonisan antar keluarga, ataupun konflik-konflik lainnya. Terkadang mengalah dan melakukan baik kepada orang tua yang kejam tersebut merupakan pilihan yang terbaik.
Jangan sampai bentrok dan perpecahan yang ada terus-menerus terjadi. Mulailah memulai siklus kebaikan di family dengan berkhidmat kepada orang tua walaupun mereka telah bertindak zalim. Kelembutan dan hormat Anda bisa saja menyadarkan orang tua dan mulai mau berubah. Biarlah yang lampau telah berlalu.
Selain itu, ada satu sosok yang butuh teladan untuk mendapatkan tiket surga di masa mendatang. Mereka adalah anak-anak, mereka butuh teladan dalam berkhidmat kepada orang tua. Bagaimana mungkin mereka bisa tertanam kesadaran yang tinggi untuk berkhidmat kepada orang tua nantinya jika Anda tidak mencontohkannya?
Penutup
Berbakti kepada orang tua merupakan perkara mulia yang mungkin mudah untuk diucapkan, tapi susah untuk dipraktekkan. Terlebih lagi jika seorang anak tidak diperlakukan baik oleh orang tuanya, apalagi jika orang tuanya malah jadi sumber rasa sakit lahir dan jiwa mereka. Akan tetapi, semua itu tidaklah menggugurkan tanggungjawab seorang anak untuk berkhidmat kepada orang tuanya.
Memang perihal tersebut merupakan perkara yang sulit, semoga kita semua dimudahkan untuk berkhidmat kepada orang tua dan mendapatkan jawaban yang setimpal di surga nanti.
Baca juga: Bagaimana Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal?
***
Penulis: Firdian Ikhwansyah
Artikel Kincai Media
Sumber: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/428662
English (US) ·
Indonesian (ID) ·