Dalam sejarah kekaisaran China, kasim bukan sekadar pelayan istana. Mereka adalah anomali dalam struktur kekuasaan: perseorangan yang kehilangan kewenangan biologisnya, namun justru memperoleh akses paling dekat ke pusat kekuasaan. Dari Dinasti Han hingga runtuhnya Dinasti Qing, kasim memainkan peran yang jauh lebih kompleks dibandingkan gambaran terkenal yang sering dilekatkan pada mereka.
Kasim (eunuch) di istana China adalah laki-laki yang telah dikebiri dan dipekerjakan sebagai pelayan, pengawal, administrator, hingga pejabat dalam lingkungan kekaisaran. Mereka menjadi bagian krusial dari sistem politik China selama lebih dari dua ribu tahun, dari masa awal kekaisaran hingga runtuhnya Dinasti Qing pada awal abad ke-20.
Praktik ini bukan tanpa alasan. Kaisar China mempunyai ratusan apalagi ribuan selir di dalam kompleks istana, dan kehadiran laki-laki biasa dianggap berisiko secara politik. Kasim, yang tidak dapat mempunyai keturunan, dianggap “aman” dan lebih mudah dikontrol. Namun dalam praktiknya, dugaan ini justru melahirkan paradoks.

Mengapa kasim digunakan?
Alasan utamanya adalah kepercayaan. Kaisar mempunyai ratusan hingga ribuan selir di dalam kompleks istana. Laki-laki biasa dianggap berisiko menjalin hubungan dengan para selir alias apalagi mempunyai keturunan yang dapat menyatakan takhta. Karena kasim tidak dapat mempunyai anak, mereka dianggap lebih kondusif dan lebih loyal kepada kaisar.
Karena tidak mempunyai family alias pedoman kekuatan di luar istana, seluruh eksistensi kasim berjuntai pada kaisar. Hal ini membikin mereka menjadi sangat loyal—setidaknya secara struktural. Tetapi di sisi lain, kedekatan bentuk dan emosional mereka dengan kaisar memberi akses yang tidak dimiliki oleh pejabat sipil alias militer. Kasim mengatur jadwal, menyampaikan pesan, menyaring informasi, hingga menentukan siapa yang boleh dan tidak boleh berjumpa kaisar.
Dalam sistem politik yang sangat hierarkis, akses adalah kekuasaan. Dan kasim mempunyai akses itu.
Seiring waktu, banyak kasim yang melampaui peran domestik dan masuk ke ranah politik. Pada masa Dinasti Ming, misalnya, lembaga kasim berkembang menjadi jaringan birokrasi tersendiri yang apalagi mempunyai badan intelijen. Figur seperti Wei Zhongxian menjadi contoh ekstrem gimana seorang kasim bisa mengendalikan negara dari kembali layar. Ia tidak pernah duduk di takhta, tetapi mempunyai kekuasaan yang setara—bahkan lebih besar—dari para pejabat tinggi.
Namun, krusial untuk memandang bahwa narasi tentang kasim tidak selalu objektif. Sebagian besar catatan sejarah ditulis oleh kalangan birokrat Konfusian yang merupakan rival politik mereka. Akibatnya, kasim sering digambarkan sebagai simbol korupsi, manipulasi, dan dekadensi moral. Padahal, seperti struktur kekuasaan lainnya, mereka juga merupakan produk dari sistem yang menciptakan dan memanfaatkan mereka.

Kompleksitas ini kemudian diadaptasi dalam beragam movie dan serial yang mengangkat tema kehidupan istana China. Film seperti “The Last Emperor” menghadirkan potret realistis tentang kehidupan di dalam Forbidden City, termasuk relasi antara kaisar dan para kasim yang telah melayaninya sejak kecil. Di sisi lain, “Lai Shi, China’s Last Eunuch” (1988) menawarkan perspektif yang lebih individual dan tragis, menggambarkan seorang kasim sebagai korban dari sistem yang runtuh sebelum dia sempat menikmati hasil pengorbanannya.
Sementara itu, dalam ranah movie wuxia seperti “Dragon Inn” dan “New Dragon Gate Inn”, kasim sering diposisikan sebagai antagonis utama—figur licik yang mengendalikan jaringan intelijen dan menggunakan kekuasaan untuk menyingkirkan musuh politik. Representasi ini memperkuat arketipe kasim sebagai “penguasa bayangan”, sebuah gambaran yang terus berulang dalam budaya terkenal hingga hari ini.
Namun, penyederhanaan ini berisiko mengaburkan realitas yang lebih kompleks. Kasim bukan sekadar penjahat alias korban. Mereka adalah hasil dari sistem kekuasaan yang ekstrem, di mana tubuh manusia bisa dijadikan perangkat politik, dan loyalitas dibangun melalui pengorbanan yang tidak dapat dibatalkan.
Dalam konteks ini, kisah kasim menjadi relevan melampaui sejarah China. Ia berbincang tentang gimana kekuasaan bekerja: bukan hanya melalui kedudukan formal, tetapi melalui kedekatan, akses, dan kontrol atas informasi. Mereka yang berada di kembali layar sering kali mempunyai pengaruh yang jauh lebih besar dibandingkan mereka yang terlihat memimpin.
Kasim di istana mungkin telah menjadi bagian dari masa lalu, tetapi logika kekuasaan yang mereka representasikan tetap terus hidup—dalam corak yang lebih halus, namun tidak kalah menentukan.
Apa pekerjaan Kasim?
Awalnya mereka hanya bekerja di “Istana Dalam” (inner court), seperti:
- Mengurus kebutuhan pribadi kaisar.
- Menjaga selir dan family kerajaan.
- Mengelola pakaian, makanan, dan kekayaan istana.
- Menjadi pengawal dan pelayan pribadi.
Namun seiring waktu, banyak kasim naik kedudukan dan menangani:
- Administrasi negara.
- Pengiriman dekret kekaisaran.
- Intelijen dan pengawasan.
- Diplomasi luar negeri.
- Komando militer.
Mengapa kasim bisa sangat berkuasa?
Kasim hidup sangat dekat dengan kaisar. Mereka bangun berbareng kaisar, menemani kegiatan harian, dan sering menjadi satu-satunya orang yang bisa mengakses kaisar kapan saja.
Akibatnya mereka bisa:
- Menyaring info yang masuk ke kaisar.
- Mengatur siapa yang boleh berjumpa kaisar.
- Memengaruhi keputusan politik.
- Menjual akses kepada pejabat lain melalui suap.
Dalam beberapa periode, kekuatan mereka apalagi melampaui para menteri.
Pada Dinasti Ming, birokrasi kasim berkembang menjadi jaringan besar dengan ribuan pegawai dan badan intelijen sendiri. Beberapa sejarawan menyebut mereka sebagai “cabang pemerintahan ketiga” selain birokrat sipil dan militer.
Kasim terkenal dalam sejarah China
- Zheng He — pelaut dan laksamana yang memimpin tujuh ekspedisi raksasa hingga Asia Tenggara, India, Timur Tengah, dan Afrika Timur.
- Wei Zhongxian — salah satu figur paling kontroversial yang praktis mengendalikan pemerintahan pada akhir Dinasti Ming.
- Tong Guan — kasim yang menjadi komandan militer krusial pada Dinasti Song.
Akhir era kasim
Setelah jatuhnya Xinhai Revolution dan runtuhnya Qing Dynasty, sistem kasim perlahan dihapus. Kasim terakhir istana kekaisaran adalah Sun Yaoting yang meninggal pada tahun 1996. Dengan kematiannya, berhujung pula tradisi yang telah berjalan selama ribuan tahun.