Lima Tahun Cherrypop: Repelita Musik Dan Perjalanan Dari Skena Menuju Prambanan

Review Movie Terbaru Aug 19, 2026 12:37 AM 166

Lima tahun setelah pertama kali digelar di Alpha Bravo, Cherrypop memasuki babak baru. Festival musik asal Yogyakarta tersebut bakal menggelar jenis kelimanya pada 22–23 Agustus 2026 di area Candi Prambanan dengan tema “Repelita Musik”, akronim dari Rekreasi, Peristiwa, Lima Tahun Musik.

Nama tersebut bermain dengan istilah “Repelita” yang pernah lekat dengan rencana pembangunan lima tahunan Indonesia. Namun alih-alih berbincang mengenai tabel, angka, dan pembangunan, Cherrypop menggunakannya untuk memandang kembali sesuatu yang lebih organik: manusia, musik, komunitas, dan beragam peristiwa yang tumbuh berbareng pagelaran selama lima tahun terakhir.

Sejak Panic Room, Swasembada Musik, Selamet Bermusik hingga Gelanggang Musik, Cherrypop memang mempunyai kecenderungan mengolah referensi sejarah sosial-politik Indonesia menjadi bahasa budaya populer. Pada “Repelita Musik”, pendekatan tersebut sekaligus menjadi momentum retrospektif terhadap perjalanan pagelaran yang bermulai dari ruang relatif mini setelah pandemi hingga sekarang beranjak ke salah satu lanskap budaya paling monumental di Indonesia.

Cherrypop Fest 2026

Dari Festival Musik Menjadi Ruang Pertemuan

Perpindahan ke Prambanan bukan hanya persoalan memperbesar venue. Cherrypop mau mempertahankan pendapat pagelaran sebagai ruang tempat beragam subkultur dan generasi bertemu.

Musisi, perupa, sineas, pedagang rilisan, komunitas, kreator merchandise hingga family ditempatkan dalam ekosistem yang sama. Musik menjadi pintu masuk, sementara pengalaman pagelaran berkembang melalui pertemuan-pertemuan yang terjadi di luar panggung.

Gagasan tersebut juga tercermin dari lineup yang sengaja tidak bergerak dalam satu spektrum musik.

Hari pertama, Sabtu, 22 Agustus, bakal menghadirkan FSTVLST dengan set unik “Paradoks Diametral”, Stars and Rabbit, Majelis Lidah Berduri, NDX AKA, Aftershine, Senyawa, Juicy Luicy, MALIQ & D’Essentials, ALI, Idgitaf, Biru Baru, TheMilo, Polka Wars, Dongker, The Panturas dan sejumlah nama lainnya.

Salah satu pagelaran unik datang melalui “Never Mind ‘The’: Generasi Baru Terbakar di Cherrypop”, yang mempertemukan The Kick, The Jeblogs, dan The Skit. Ketiganya bakal berganti lagu dan personel dalam pagelaran yang turut melibatkan seniman lintas medium Ican Harem namalain Future Loundry. Musik, fesyen, dan seni pagelaran kemudian dilebur menjadi satu pengalaman panggung.

Hari kedua, Minggu, 23 Agustus, bakal dibuka oleh Objek Vital Nasional (OVN), proyek yang mempertemukan FSTVLST dan Jenny. Lineup bersambung dengan Nadin Amizah, Reality Club yang membawakan set album “What Do You Really Know?”, Pandai Besi, Goodnight Electric, Elephant Kind, Perunggu, Sal Priadi, The Adams, Sigmun, Kelompok Penerbang Roket, Jimi Multihazam dan beragam penampil lainnya.

Pertemuan Indonesia dan Jepang

Dimensi lintas negara juga semakin terlihat pada jenis kelima. LAUSBUB, Kaneyorimasaru, dan DARUMA Rollin’ membawa tiga karakter berbeda dari Jepang, mulai dari new wave dan elektronik hingga rock.

Kehadiran mereka menjadi bagian dari partnership Cherrypop dengan Victor Entertainment untuk tahun fiskal 2026. Kolaborasi tersebut dirancang untuk membuka lebih banyak pertukaran musik dan budaya antara Indonesia dan Jepang, termasuk menghadirkan artis-artis di bawah Victor ke panggung Cherrypop.

Festival sendiri bakal terbagi dalam empat panggung: Cherry Stage, Nanaba Stage, Yayapa Stage, dan Chili Stage. Di luar konser, visitor dapat menjelajahi Cherry District untuk merchandise, Record Store untuk rilisan bentuk dan signing session, Cherrykids, Community Corner, Art Exhibition, serta Cherry Market yang menghadirkan puluhan tenant makanan dan minuman.

Lima Tahun dan “Lebaran Skena”

Ada satu julukan yang kemudian tumbuh secara organik dari publik: “Lebaran Skena”.

Istilah itu barangkali lebih menjelaskan Cherrypop dibanding arti pagelaran musik konvensional. Setiap tahun orang datang dari beragam kota bukan hanya untuk menyaksikan musisi, tetapi juga berjumpa kembali dengan orang-orang yang mungkin hanya mereka jumpai dalam lingkaran musik yang sama.

Dalam lima tahun, cerita yang tumbuh di sekeliling Cherrypop apalagi bergerak jauh melampaui panggung. Ada penonton yang kemudian membentuk band, mahasiswa yang menjadikan pagelaran sebagai objek skripsi, sukarelawan yang menemukan pekerjaan, hingga pasangan yang berjumpa di tengah pagelaran dan kemudian menikah.

Kisah-kisah semacam itu mungkin tidak pernah tercetak besar di poster festival, tetapi justru memperlihatkan gimana sebuah ekosistem musik terbentuk.

Karena sejarah musik pada akhirnya tidak hanya ditulis melalui album penting, nama besar, alias jumlah penonton. Ia juga tumbuh melalui toko rilisan, organisasi kecil, antrean konser, percakapan di belakang panggung, pertemanan, serta orang-orang yang terus menyediakan ruang agar musik dapat hidup.

Setelah lima tahun, “Repelita Musik” lantaran itu terasa seperti sebuah titik pertimbangan sekaligus permulaan baru bagi Cherrypop. Dari Alpha Bravo menuju Prambanan, skalanya berubah, tetapi pendapat dasarnya tetap sama: musik sebagai argumen untuk mempertemukan manusia.

Dan mungkin itulah argumen kenapa julukan “Lebaran Skena” terasa relevan. Panggung dan lineup bisa berganti setiap tahun, tetapi ada satu ritual yang terus berulang—orang-orang kembali datang untuk menemukan satu sama lain.

Cherrypop 2026 “Repelita Musik” berjalan pada 22–23 Agustus 2026 di area Candi Prambanan. Tiket tersedia melalui situs resmi Cherrypop dan Fasticket, sementara info terbaru dapat dipantau melalui IG @cherrypopfest.

Selengkapnya