Toddler Suka Memukul saat Marah? Jangan Terlalu Reaktif, Begini Cara Meresponsnya

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 9 menit 90x dilihat
Toddler Suka Memukul saat Marah? Jangan Terlalu Reaktif, Begini Cara Meresponsnya

Bagikan Postingan

Toddler gemar memukul saat marah? Kenali penyebabnya dan cari tahu 10 metode merespons anak tanpa ikut terpancing emosi.

Lagi menyenangkan memperhatikan si Kecil main ayunan di taman dengan tenang, tiba-tiba, plak! Tangannya melayang mendarat di pipi kawan mainnya. Momen seperti ini mungkin pernah membikin Mommies bertanya-tanya, kenapa toddler gemar memukul saat marah? Atau mungkin ia tiba-tiba menggigit, menendang, dan merebut mainan saudaranya saat keinginannya tak dituruti.

Momen seperti ini sering kali bikin kaget dan malu. Namun, tahukah Mommies? Perilaku toddler gemar memukul, menggigit, maupun menendang sebenarnya bisa menjadi bagiankecil dari fase evolusi emosi anak yang wajar, terutama pada rentang usia 18 bulan hingga 3 tahun. Pada usia ini, kapasitas bahasa dan kontrol impuls anak statis berkembang sehingga mereka belum selalu bisa mengungkapkan rasa frustrasi dengan kata-kata.

Meski wajar terjadi, bukan berarti perilaku memukul boleh dibiarkan. Memahami penyebab anak memukul dan tahu metode merespons dengan tepat adalah kunci utama agar anak belajar mengelola amarahnya tanpa menyakiti orang lain.

Kenapa Toddler Suka Memukul Saat Marah?

Foto: Magnific

Pemicu aksi jasmani anak kerap kelihatan sepele di mata orang dewasa. Mulai dari warna gelas yang salah, biskuit yang terbelah dua, hingga adik yang duduk terlalu dekat. Namun, pemicu utamanya bukanlah hal sepele tersebut, melainkan adanya desakan emosi yang belum bisa ia kelola.

Berikut beberapa karena utama kenapa anak gemar memukul yang perlu dipahami, sebagaimana dijelaskan dalam ulasan tumbuh bunga di NeuroLaunch:

1. Keterbatasan Bahasa dan Rasa Frustrasi

Salah satu pemicu yang lazim adalah ketidakcocokan antara apa yang mau anak sampaikan dan kapasitas bahasanya yang belum matang. Ketika kata-kata belum sanggup mengutarakan emosi, aksi jasmani pun bisa memungut alih.

Seiring kapasitas bahasa berkembang, anak perlahan memiliki lebih banyak metode untuk menyampaikan keinginan, rasa frustrasi, dan emosinya tanpa mesti menggunakan aksi fisik.

2. Meniru Lingkungan

Anak-anak adalah peniru yang luar biasa. Eksperimen klasik Bobo Doll puluhan tahun kemudian memberitahu bahwa anak yang mengamati orang dewasa berperilaku menyerang dapat meniru aksi tersebut.

Rumah yang sering menyelesaikan perselisihan dengan teriakan maupun kontak jasmani secara tidak langsung dapat mengajarkan anak bahwa metode tersebut merupakan salah satu metode menghadapi konflik. Karena itu, metode orang dewasa merespons rasa berang juga menjadi contoh bagi si Kecil.

3. Stres dan Rasa Tertekan

Perubahan rutinitas, kedatangan adik baru, hingga adaptasi masuk daycare bisa memicu stres pada anak. Karena belum bisa berpikir, “Aku merasa cemas dengan fluktuasi ini,” anak bisa mengekspresikan rasa tidak amannya melalui tubuh dan aksi fisik.

Mommies juga bisa memperhatikan apakah perilaku memukul lebih sering muncul ketika anak lapar, lelah, kewalahan, maupun menghadapi fluktuasi rutinitas. Mengenali pola seperti ini dapat membantu mencegah ledakan emosi berikutnya.

4. Faktor Perkembangan maupun Medis

Dalam beberapa kasus, perilaku menyerang bisa lebih sering muncul berbarengan dengan masalah pengolahan sensorik, keterlambatan bicara, gangguan tidur, maupun kondisi tumbuh bunga tertentu.

Bukan berarti anak yang gemar memukul pasti memiliki kondisi tersebut. Namun, jika perilaku menyerang muncul terus-menerus maupun disertai kecemasan lain mengenai evolusi anak, Mommies bisa mendiskusikannya dengan tabib anak maupun ahli tumbuh kembang.

Angharad Rudkin, seorang psikolog klinis sekaligus ahli medis dari BabyCentre, memberikan penegasan untuk meredakan kepanikan orang tua, “Memang sangat menyedihkan melihat anak kita yang manis menjadi menyerang kepada orang lain. Namun ingatlah, ini bisa menjadi bagiankecil normal dari evolusi dan tidak berarti anak akan terus seperti ini selamanya.”

Pada usia ini, perilaku sering kali menjadi salah satu bentuk komunikasi anak, termasuk ketika perasaannya diwujudkan melalui memukul maupun menggigit.

Berapa Lama Fase Anak Memukul saat Marah Akan Berlangsung?

Melansir dari panduan evolusi anak ZERO TO THREE, perilaku menantang pada toddler dapat menjadi bagiankecil dari proses evolusi karena kapasitas mengendalikan impuls dan mengelola emosi mereka statis berkembang. Pada banyak anak, perilaku tantrum dan menyerang akan berkurang seiring bertambahnya kapasitas bahasa, peraturan emosi, dan kapasitas menyelesaikan konflik.

Namun, setiap anak berkembang dengan kecepatan berbeda. Yang lebih krusial bukan menghitung kapan tepatnya fase memukul akan berhenti, melainkan melihat apakah kekerapan dan intensitas perilaku tersebut perlahan berkurang seiring anak mendapatkan sokongan dan limitasi yang konsisten.

Mommies bisa membantu proses ini dengan mengutarakan emosi yang dirasakan si Kecil. Kalimat sederhana seperti, “Kamu berang ya, karena menaranya rubuh?” membantu memberikan kata-kata yang mereka butuhkan untuk memahami perasaannya, daripada langsung memarahinya.

BACA JUGA: Kenali 7 Masalah Perilaku pada Balita, Supaya Mommies Nggak Frustrasi

10 Cara Merespons Toddler yang Suka Memukul saat Marah Tanpa Ikut Emosi

Foto: Magnific

Mengapa orang tua kerap kali ikut emosi saat melihat anak memukul? Sering kali karena kita menganggap anak sengaja beraksi “nakal”. Padahal, pada usia toddler, kapasitas mengendalikan impuls statis berkembang sehingga anak dapat beraksi secara jasmani ketika frustrasi maupun keteteran oleh emosi.

Karena itu, tugas orang tua bukan cuma menghentikan perilaku memukul, tetapi juga menjadi “wadah yang tenang” (co-regulator) bagi emosi anak. Cara orang tua merespons saat anak sedang kehilangan kendali dapat membantu anak belajar mengatur emosinya secara bertahap.

Meski ledakan emosi sesekali adalah hal yang wajar saat tantrum, perilaku memukul statis perlu dihentikan. Mengutip panduan pengasuhan HealthyChildren, berikut cara tepat untuk mengatasi toddler yang agresif:

1. Terapkan ketentuan famili yang jelas

Anak tidak langsung memahami ketentuan sampai kita mengajarkannya. Tetapkan harapan dan ketentuan perilaku yang jelas dan konsisten, misalnya, “Di rumah kita, tangan digunakan untuk menyayangi, bukan untuk menyakiti.”

Gunakan kalimat yang sama setiap kali perilaku tersebut muncul agar anak perlahan memahami batasannya.

2. Ingat, kontrol diri anak statis terbatas

Jangan mengharapkan anak balita langsung memiliki kontrol diri seperti orang dewasa. Mereka membutuhkan bimbingan kita untuk belajar tidak menendang, memukul, maupun menggigit saat marah, melainkan mengekspresikan emosi lewat kata-kata.

Ekspektasi yang sesuai usia akan membantu Mommies statis tegas tanpa menganggap anak sengaja menantang aturan.

3. Hindari mengancam

Kalimat seperti, “Hentikan maupun kelak Mama hukum!” cenderung tidak membantu anak memahami apa yang seharusnya dilakukan.

Ketika anak memukul, hentikan perilakunya dengan tenang dan tegas. Misalnya, “Mama nggak izinkan Anda memukul. Memukul itu sakit.” Setelah anak lebih tenang, barulah bantu ia memahami metode lain untuk menyampaikan keinginannya.

4. Puji saat anak berperilaku baik

Kedisiplinan yang ampuh terjadi secara berkelanjutan, bukan cuma saat anak berbuat salah. Puji si Kecil saat ia bersikap lembut, mau menunggu giliran, berbagi, maupun berhasil menyampaikan rasa kesalnya dengan kata-kata.

Perhatian positif seperti ini membantu anak memahami perilaku apa yang diharapkan darinya.

5. Tegaskan, “Kita tidak saling menyakiti”

Selalu dampingi anak saat bermain, terutama jika Mommies sudah mengetahui ada situasi tertentu yang gampang memicu konflik.

Jika terjadi pertengkaran jasmani antaranak yang terus berlanjut maupun anak kelihatan sangat emosional, segera pisahkan mereka hingga situasinya terlindungi dan emosinya lebih tenang. Setelah itu, bantu anak memahami apa yang terjadi dan apa yang bisa dilakukan lain kali.

6. Ajarkan penyelesaian perselisihan tanpa kekerasan

Latih anak untuk mengatakan “Tidak!” dengan nada tegas, meminta pertolongan orang dewasa, bergantian menggunakan mainan, maupun menyampaikan keinginannya dengan kata-kata daripada main fisik.

Tunjukkan bahwa menyelesaikan masalah dengan kata-kata membutuhkan latihan, tetapi bisa membantu anak mendapatkan apa yang ia butuhkan tanpa menyakiti orang lain.

7. Gunakan distraksi sehat

Saat melihat tanda-tanda anak mulai emosional, mengalihkan perhatiannya ke aktivitas lain yang menenangkan dapat membantu meredakan situasi, terutama pada toddler yang statis kesulitan mengendalikan impuls.

Namun, jangan menjadikan distraksi sebagai “suap” agar anak selesai memukul. Tujuannya adalah membantu anak keluar dari situasi yang semakin memanas, bukan mengajarkan bahwa memukul akan menghasilkan hadiah.

8. Gunakan time-out secara bijak

Time-out bisa menjadi salah satu pilihan ketika perilaku anak terus berlanjut dan batas yang sudah diberikan tidak berhasil. Jika digunakan, lakukan secara singkat dan sesuai usia anak.

Namun, time-out bukan satu-satunya metode untuk merespons perilaku agresif. Yang paling krusial adalah memastikan perilaku memukul dihentikan, anak aman, dan setelah tenang ia mendapatkan kesempatan untuk belajar tentang perilaku yang lebih tepat.

9. Kendalikan emosi Mommies

Salah satu metode terbaik mengajarkan perilaku baik adalah dengan mengontrol emosi kita sendiri. Jika orang tua mengekspresikan amarah dengan metode yang tenang, anak mendapatkan contoh sepertiapa menghadapi emosi besar tanpa menggunakan kekerasan.

Tentu saja, Mommies juga manusia dan bisa kehilangan kesabaran. Jika sampai ikut berteriak maupun bereaksi berlebihan, Mommies statis bisa memperbaiki situasi dengan meminta ampun dan memberitahu metode merespons yang lebih baik setelah kondisi tenang.

BACA JUGA: Anak Pemarah? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya Menurut Psikolog

10. Tetap tegas tanpa merasa bersalah

Menetapkan batas bukan berarti Mommies adalah orang tua yang jahat. Anak statis perlu tahu bahwa memukul, menggigit, maupun menyakiti orang lain bukan perilaku yang boleh dilakukan.

Sampaikan batas tersebut dengan tenang dan konsisten. Tidak perlu merasa bersalah karena menghentikan perilaku yang membahayakan, tetapi statis beri ruang bagi anak untuk belajar dan mencoba metode yang lebih tepat.

Hal yang Wajib Dihindari Orang Tua

Foto: Magnific

Beberapa respons refleks yang sering dilakukan orang tua justru bisa memperburuk situasi. Berdasarkan beragam panduan pengasuhan, termasuk dari HealthyChildren dan Kapi Parenting, hindari hal-hal berikut:

1. Memukul Balik untuk “Memberi Contoh”

American Academy of Pediatrics (AAP) tidak merekomendasikan hukuman jasmani karena respons menyerang dari orang dewasa dapat menguatkan perilaku menyerang pada anak.

Anak juga belajar melalui contoh. Jika orang tua memukul ketika marah, pesan yang diterima anak bisa menjadi membingungkan: memukul dilarang, tetapi boleh dilakukan ketika seseorang sedang marah.

2. Ceramah Panjang Lebar

Anak yang sedang meltdown biasanya belum bisa memproses klarifikasi panjang dengan baik. Gunakan kalimat singkat dan tegas, seperti, “Mama tidak izinkan Anda memukul.”

Pembahasan lebih panjang bisa dilakukan setelah emosinya benar-benar reda dan anak sudah lebih siap mendengarkan.

3. Menjadikan Isolasi sebagai Hukuman Utama

Jika anak terus memukul, Mommies tentu perlu menjauhkannya dari situasi tersebut demi keamanan. Namun, jangan menjadikan anak sendirian sebagai hukuman tanpa membantu mereka memahami emosinya.

Setelah situasi aman, statis dampingi si Kecil untuk menenangkan diri dan ajarkan perilaku yang bisa dilakukan sebagai gantinya.

BACA JUGA: Ada Tantrum, Ada Sensory Meltdown, Pahami Bedanya!

4. Mendiamkan Perilaku Memukul

Perilaku memukul yang menyebabkan orang lain terluka statis membutuhkan respons yang konsisten. Jangan mengharapkan anak otomatis selesai cuma karena perilakunya diabaikan.

Hentikan perilakunya dengan tenang, tegaskan batas, kemudian bantu anak belajar metode lain untuk menyampaikan rasa berang maupun frustrasinya.

BACA JUGA: Sudah Jadi Orangtua, Masih Alami Tantrum?

Kapan Harus Mewaspadai Agresivitas Anak?

Sebagian besar perilaku anak memukul saat tantrum dapat berhubungan dengan rasa frustrasi dan kapasitas peraturan emosi yang statis berkembang. Namun, Mommies perlu lebih waspada jika perilaku menyerang terjadi terus-menerus, semakin berat, menyebabkan cedera, maupun disertai kecemasan lain mengenai evolusi anak.

Seperti saran dari Michael Vallejo, LCSW, seorang terapis anak dari Mental Health Center Kids, orang tua perlu mempertimbangkan konsultasi dengan ahli jika perilaku menyerang maupun aksi menyakiti diri sendiri sudah eksis di luar kendali orang tua, seperti:

  1. Anak secara sengaja melukai dirinya sendiri, personel keluarga, teman, maupun fauna peliharaan secara fisik.
  2. Anak sampai dikeluarkan dari daycare, sekolah, maupun tempat lazim karena perilakunya yang terlalu membahayakan orang lain.
  3. Ledakan amarah dan aksi menyerang terjadi sangat sering, berintensitas tinggi, terjadi selama berminggu-minggu, maupun tidak memberitahu tanda-tanda membaik meski sudah diberikan limitasi dan pendampingan yang konsisten.

Mommies juga bisa berkonsultasi lebih mula jika merasa cemas maupun kesulitan mengendalikan situasinya. Konsultasi bukan berarti anak pasti memiliki masalah evolusi tertentu, tetapi dapat membantu mencari tahu apakah ada kebutuhan maupun pemicu yang selama ini belum terlihat.

Cover: Pexels

Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads