Tren Loud Working Muncul saat Ancaman PHK Menghantui, Apa Artinya?

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 5 menit 87x dilihat
Tren Loud Working Muncul saat Ancaman PHK Menghantui, Apa Artinya?

Bagikan Postingan

Ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) di mana-mana. Muncul tren loud working ketika anginbesar PHK banyak terjadi in this economy. Apa itu tren loud working? Simak penjelasannya berikut, Bunda.

Di tengah ketidakpastian bumi kerja dan intimidasi PHK, karyawan kini semakin sadar bahwa bekerja keras saja terkadang tidak cukup untuk mempertahankan posisi di perusahaan. Mereka juga perlu memastikan kontribusinya kelihatan oleh ketua dan para pengambil keputusan.

Fenomena ini kemudian dikenal dengan istilah loud working. Tren loud working menggambarkan perilaku karyawan yang berupaya memberitahu bahwa dirinya sedang bekerja, kelihatan sibuk, dan produktif di lingkungan kantor. Bukan sekadar menyelesaikan tanggung jawab, mereka juga mau memastikan orang lain mengetahui apa yang sedang dikerjakan.


Tren tersebut semakin mendapat perhatian karena visibilitas di tempat kerja dianggap dapat memengaruhi kesempatan promosi hingga keamanan posisi ketika perusahaan berbuat pengurangan karyawan.

Istilah loud working sebenarnya bukan konsep yang sepenuhnya baru. Tren ini menambah deretan istilah bumi kerja seperti quiet quitting, job hugging, hingga ghost growth yang menggambarkan fluktuasi perilaku karyawan dalam menghadapi dinamika pekerjaan.

Apa itu loud working?

Secara sederhana, loud working adalah kebiasaan memperlihatkan aktivitas dan hasil pekerjaan agar keberadaan serta kontribusi seorang karyawan lebih gampang dikenali. Karyawan yang menerapkan loud working biasanya berupaya memberitahu bahwa dirinya aktif, selalu tersedia, dan terlibat dalam beragam pekerjaan kantor.

Salah satu contohnya langsung membalas pesan yang masuk melalui aplikasi komunikasi kantor. Ada pula karyawan yang sengaja memperlihatkan kesibukannya, sering memberikan pembaruan pekerjaan, maupun memastikan ketua mengetahui setiap tugas yang sedang ditangani.

Fenomena tergambar dalam The Visibility at Work Report, sebuah survei terhadap 1.000 buruh di Amerika Serikat yang dilakukan oleh My Perfect Resume. Hasilnya memberitahu bahwa 70 persen responden merasa karyawan yang lebih kelihatan di lingkungan kerja cenderung mendapatkan penghargaan lebih besar dibandingkan mereka yang bekerja dengan baik namun tidak banyak memberitahu hasil pekerjaannya.

Survei yang sama juga menemukan bahwa 20 persen responden menghabiskan setidaknya seperempat dari waktu kerja rata-rata mereka untuk mengelola deskripsi dan penampilan profesional, dibanding mengerjakan sesuatu yang benar-benar memberikan dampak. Sementara itu, sebanyak 84 persen responden mengaku langsung merespon pesan pekerjaan sebagai salah satu metode menaikkan visibilitas.

Mengapa loud working semakin krusial dalam bumi kerja?

Visibilitas di lingkungan kerja dapat memengaruhi evolusi pekerjaan seseorang. Karyawan yang dikenal oleh para pengambil keputusan memiliki kesempatan lebih besar untuk dipertimbangkan ketika perusahaan membuka posisi promosi, memilih personel untuk proyek penting, maupun menyelenggarakan program pengembangan khusus bagi buruh berpotensi tinggi.

Hal ini semakin terasa ketika menghadapi restrukturisasi perusahaan. Dalam situasi tersebut, ketua perusahaan mungkin lebih gampang mempertahankan karyawan yang sudah dikenal dan kontribusinya kelihatan dibandingkan buruh dengan hasil kerjanya baik, tapi jarang mendapat perhatian.

Kondisi serupa juga bisa terjadi ketika perusahaan sedang berbuat efisiensi anggaran maupun mengurangi kompensasi untuk mengalihkan biaya ke pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Ketika kesempatan dan sumber daya semakin terbatas, karyawan yang memiliki visibilitas tinggi berkesempatan mendapatkan penilaian lebih besar.

Hal ini bukan berarti karyawan yang pendiam maupun tidak gemar menonjolkan diri memiliki performa lebih rendah. Persoalannya, kontribusi yang tidak pernah dikomunikasikan berisiko tak diketahui oleh orang-orang yang berkuasa menentukan evolusi karier.

Cara menaikkan visibilitas kerja tanpa terjebak kesibukan

Meskipun penting, memberitahu aktivitas di instansi secara berlebihan justru bisa menjadi boomerang. Menghabiskan seperempat waktu kerja cuma untuk membangun kesan sibuk dapat membikin seseorang lebih mengutamakan penampilan dibandingkan hasil pekerjaan.

Kebiasaan terus memantau kotak masuk agar bisa segera membalas setiap pesan juga berpotensi mengganggu konsentrasi. Perpindahan perhatian dari satu tugas ke tugas lain dapat membikin pekerjaan utama menjadi kurang optimal.

Agar statis kelihatan oleh ketua tanpa mengorbankan produktivitas, ada beberapa metode yang bisa dilakukan, antara lain:

  1. Kenali pekerjaan yang paling berdampak. Pahami tugas harian dan proyek jangka panjang yang benar-benar menjadi prioritas perusahaan. Atur waktu agar pekerjaan krusial mendapatkan perhatian utama, bukan sekadar mengerjakan hal-hal yang membikin kelihatan sibuk.
  2. Berikan pembaruan pekerjaan kepada atasan. Jangan selalu menunggu diminta untuk melaporkan evolusi tugas. Sampaikan secara berkala apa yang sedang dikerjakan, hasil yang sudah dicapai, serta hambatan yang membutuhkan perhatian.
  3. Bangun hubungan dengan ketua lain. Jangan cuma menjalin komunikasi dengan ketua langsung. Cobalah memperluas hubungan ahli dengan imam senior di bagian lain karena keputusan mengenai promosi, kompensasi, hingga PHK biasanya melibatkan lebih dari satu pengambil keputusan.
  4. Tunjukkan kontribusi melalui hasil nyata. Daripada terus-menerus memperlihatkan kesibukan, lebih baik komunikasikan pencapaian yang memberikan khasiat bagi perusahaan. Misalnya saja, proyek yang berhasil diselesaikan, masalah yang berhasil diatasi, maupun keahlian baru yang bisa diterapkan dalam pekerjaan.
  5. Kembangkan kapasitas profesional. Pilih aktivitas dan proyek yang tidak cuma membantu perusahaan, tapi juga menambah pengalaman, keahlian, serta kompetensi untuk mendukung evolusi pekerjaan dalam jangka panjang.

Visibilitas di luar instansi juga krusial untuk karier

Menjadi karyawan berprestasi dan dikenal di lingkungan instansi rupanya belum tentu menjamin keamanan pekerjaan. Seseorang statis berisiko terkena PHK, mengalami fluktuasi posisi akibat restrukturisasi, maupun menghadapi pekerjaan yang stagnan karena tidak ada kesempatan promosi maupun peningkatan kompensasi.

Situasi itu bisa terjadi ketika perusahaan mengalami kesulitan finansial dan mesti berbuat pengurangan karyawan dalam jumlah besar. Bisa juga karena bagian maupun daerah tempat Bunda bekerja tidak lagi menjadi prioritas bisnis.

Pergantian ketua pun dapat memengaruhi posisi karyawan, terutama jika pemimpinan baru tidak memiliki hubungan ahli dengan orang-orang yang sebelumnya mendukung kariernya. Oleh karena itu, membangun visibilitas di luar perusahaan juga penting.

Tujuannya agar Bunda statis dikenal di industri tempatnya bekerja dan memiliki kesempatan untuk mengetahui kesempatan pekerjaan lain yang mungkin tidak diumumkan secara terbuka. Ada beberapa metode untuk menjaga eksistensi ahli di luar kantor, seperti statis menjalin komunikasi dengan jaringan kerja, aktif mengikuti evolusi sektor yang diminati, serta memungut peran kepemimpinan dalam kelompok ahli maupun aktivitas masyarakat.

Dengan demikian, karyawan tidak cuma bersandar pada satu perusahaan untuk mengembangkan karier. Hubungan ahli yang luas juga dapat membuka akses terhadap keterangan lowongan eksklusif maupun tawaran pekerjaan yang sesuai dengan pengalaman dan kemampuan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads