10 Cara Menjaga Komunikasi dengan Anak Perempuan yang Sensitif

10 Cara Menjaga Komunikasi dengan Anak Perempuan yang Sensitif

Anak wanita sensitif, mudah marah, alias menutup diri? Cek langkah menghadapi anak wanita agar komunikasi tetap hangat, dekat, dan saling memahami.

Mommies, pernah nggak sih merasa bingung menghadapi anak wanita yang belakangan ini jadi lebih sensitif? Hal mini bisa membuatnya kesal, pertanyaan sederhana dijawab singkat, alias yang biasanya bercerita panjang lebar tiba-tiba lebih memilih masuk bilik dan menutup pintu.

Sebagai orang tua, situasi seperti ini memang bisa bikin bertanya-tanya. “Aku salah ngomong, ya?”, “Kok sekarang mudah banget marah?”, alias bahkan, “Kenapa sih susah sekali diajak ngobrol?”

Padahal, perubahan emosi dan langkah berkomunikasi bisa menjadi bagian dari proses tumbuh kembang anak. Terutama ketika anak mulai memasuki masa pubertas dan remaja, banyak perubahan sedang terjadi dalam dirinya—baik secara fisik, emosional, maupun sosial.

Di fase ini, anak wanita mungkin memerlukan lebih banyak ruang, tetapi bukan berfaedah dia tidak memerlukan orang tua. Justru, kehadiran Mommies dan Daddies tetap penting, hanya saja bentuknya mungkin perlu sedikit berubah.

BACA JUGA: Toxic Friendship pada Remaja: 7 Tanda dan Cara Menghadapinya

Kenapa Anak Perempuan saat Pubertas Bisa Menjadi Lebih Sensitif?

Sensitif bukan berfaedah anak sedang berlebihan alias sengaja mencari masalah. Emosi yang lebih mudah berubah dapat dipengaruhi oleh beragam hal.

Memasuki masa pubertas, misalnya, perubahan hormon dapat memengaruhi suasana hati. Di saat yang sama, anak juga mulai menghadapi tuntutan sekolah, pertemanan, perubahan tubuh, pencarian identitas diri, sampai kemauan untuk lebih mandiri.

Belum lagi, keahlian anak dalam mengenali dan mengelola emosi tetap berkembang.

Jadi, ketika anak tiba-tiba menangis lantaran sesuatu yang menurut kita sepele, itu bukan berfaedah perasaannya tidak masuk akal. Bisa jadi, perihal mini tersebut hanyalah pemicu terakhir setelah sebelumnya dia menumpuk banyak hal.

Karena itu, sebelum buru-buru mengatakan, “Ah, Anda lebay,” mungkin kita bisa berakhir sejenak dan mencoba memandang apa yang sebenarnya sedang dia rasakan.

Foto: Monstera Production/Pexels

Cara Menjaga Komunikasi agar Tetap Dekat dengan Anak Perempuan

Intinya, gimana langkah menghadapi anak wanita yang sensitif?

Dengarkan tanpa langsung menghakimi, pilih waktu yang tepat untuk berbicara, pengesahan perasaannya, hormati privasinya, dan tetap datang tanpa memaksa anak untuk bercerita. Yang tidak kalah penting, bangun komunikasi ketika tidak ada masalah sehingga anak tahu bahwa orang tua adalah tempat yang kondusif untuk kembali.

Berikut penjelasan selengkapnya.

1. Dengarkan Dulu, Jangan Langsung Memberi Solusi

Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi praktiknya cukup tricky, ya, Mommies.

Ketika anak bercerita bahwa dia sedang jengkel dengan teman, kecewa dengan nilai, alias merasa tidak percaya diri, refleks kita sebagai orang tua sering kali langsung mau memberikan solusi.

“Ya sudah, besok ngomong sama gurunya.”

“Jangan dipikirin.”

“Teman seperti itu nggak usah dipedulikan.”

Padahal, terkadang anak belum memerlukan solusi. Ia hanya mau didengarkan.

Coba respons dengan kalimat sederhana seperti, “Kedengarannya Anda memang lagi capek banget, ya,” alias “Mau cerita dari awal? Mama dengarkan.”

Validasi seperti ini bukan berfaedah Mommies membenarkan semua perilaku anak. Kita hanya sedang menunjukkan bahwa perasaannya diterima dan dia kondusif untuk bercerita.

2. Pilih Waktu yang Tepat untuk Mengobrol

Anak sedang emosi, lampau kita paksa berbincang panjang? Bisa-bisa situasinya malah semakin panas.

Ketika anak sedang marah alias menangis, berikan kesempatan untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Setelah suasana lebih stabil, barulah ajak berbicara.

Mommies juga tidak kudu selalu membikin sesi ngobrol yang formal. Justru, percakapan sering kali lebih mengalir ketika dilakukan sembari melakukan kegiatan bersama.

Misalnya, saat mengantar ke sekolah, memasak, jalan sore, alias menjelang tidur.

Kadang, percakapan yang paling jujur justru muncul ketika kita tidak sedang duduk berhadapan dan mengatakan, “Sekarang mari cerita sama Mama.”

BACA JUGA: 7 Konflik Orang Tua dan Anak Remaja yang Paling Sering Terjadi, Nomor 3 Bisa Bikin Hubungan Makin Renggang

3. Hindari Menganggap Perasaannya Sepele

“Ah, begitu saja kok nangis.”

“Masalah Anda hanya begitu?”

“Dulu Mama juga mengalami perihal yang lebih berat.”

Kalimat seperti ini mungkin keluar lantaran Mommies mau membantu anak memandang masalah dari perspektif yang lebih luas. Namun, bagi anak, respons tersebut bisa terasa seperti pengabaian terhadap emosinya.

Ingat, besar-kecilnya masalah tidak hanya ditentukan oleh situasinya, tetapi juga oleh pengalaman dan keahlian anak dalam menghadapinya.

Kalau hari ini masalah terbesarnya adalah bentrok dengan sahabat, ya, mungkin memang itulah perihal yang sedang terasa sangat berat baginya.

Kita bisa membantu anak mendapatkan perspektif tanpa mengecilkan emosinya.

Misalnya, “Mama mungkin memandang masalah ini berbeda. Tapi Mama mengerti jika buat Anda sekarang ini rasanya berat.”

Cara Menjaga Komunikasi dengan Anak Perempuan yang Sensitif

Foto: Yan Miranda/Pexels

4. Jangan Memaksa Anak untuk Langsung Bercerita

Ada kalanya anak memang belum siap bicara.

Kalau setiap kali anak tak bersuara lampau terus ditanya, “Kenapa?”, “Ada apa?”, “Kamu kenapa sih?”, bukan tidak mungkin dia justru semakin menutup diri.

Mommies bisa memberikan ruang sembari tetap menunjukkan bahwa pintu komunikasi selalu terbuka.

Contohnya:

“Kalau Anda belum mau cerita sekarang, nggak apa-apa. Mama ada di sini jika kelak Anda sudah siap.”

Kalimat sederhana ini memberi dua pesan sekaligus: anak punya ruang untuk memproses emosinya, tetapi dia juga tahu bahwa dirinya tidak sendirian.

5. Perhatikan Cara Bicara Kita

Ketika anak sedang sensitif, nada bicara orang tua bisa terasa jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.

Kalimat yang sebenarnya biasa saja bisa terdengar seperti kritik ketika disampaikan dengan nada tinggi alias terburu-buru.

Karena itu, selain memperhatikan apa yang kita katakan, perhatikan juga bagaimana kita mengatakannya.

Alih-alih:

“Kenapa sih Anda selalu marah-marah?”

Coba:

“Belakangan Mama lihat Anda lebih mudah kesal. Ada sesuatu yang sedang bikin Anda berat?”

Bukan berfaedah Mommies kudu berbincang super lembut setiap saat. Kita juga manusia yang bisa capek dan kehilangan kesabaran. Tetapi semakin kita bisa menjaga nada dan pilihan kata, semakin besar kemungkinan anak mau tetap membuka komunikasi.

6. Hormati Privasinya, tetapi Tetap Hadir

Ketika anak mulai besar, kebutuhan terhadap privasi juga meningkat. Ia mungkin mau punya waktu sendiri, ruang sendiri, apalagi beberapa perihal yang tidak langsung mau dibagikan kepada orang tua.

Memberikan privasi bukan berfaedah membiarkan anak begitu saja.

Mommies tetap bisa melakukan check-in sederhana.

“Sudah makan?”

“Mau ditemani alias mau sendiri dulu?”

“Kalau butuh Mama, bilang, ya.”

Hal-hal mini seperti ini justru bisa menjadi corak kehadiran yang berarti.

Anak mungkin tidak selalu menjawab panjang. Tidak apa-apa. Yang penting, dia tahu orang tuanya tetap ada.

BACA JUGA: Tanpa Sadar! 8 Kebiasaan Orang Tua yang Diam-Diam Membuat Anak Remaja Menjauh

7. Jangan Gunakan Cerita Pribadi Anak sebagai Bahan Candaan

Ini juga penting, Daddies dan Mommies.

Ketika anak akhirnya mau bercerita tentang sesuatu yang membuatnya malu, takut, alias sedih, usahakan jangan menjadikan cerita tersebut bahan candaan—apalagi di depan personil family lain.

Bagi orang tua, mungkin hanya bercanda. Tetapi bagi anak, perihal itu bisa terasa seperti pengkhianatan kepercayaan.

Sekali anak merasa cerita pribadinya tidak aman, dia mungkin bakal berpikir dua kali sebelum bercerita lagi.

Jadi, ketika anak memilih untuk terbuka, anggap itu sebagai corak kepercayaan yang perlu dijaga.

8. Bedakan antara Memvalidasi Emosi dan Membenarkan Perilaku

Ini salah satu perihal yang menurut saya krusial untuk dipahami.

Mommies bisa mengatakan, “Mama tahu Anda marah,” tanpa berfaedah membenarkan anak membanting pintu alias berbicara kasar.

Contohnya:

“Wajar jika Anda kesal. Tapi Mama nggak bisa membiarkan Anda memukul adik.”

Dengan begitu, anak belajar bahwa semua emosi boleh dirasakan, tetapi tidak semua tindakan boleh dilakukan.

Ini juga membantu anak perlahan belajar mengelola emosinya sendiri.

Cara Menjaga Komunikasi dengan Anak Perempuan yang Sensitif

Foto: cottonbro studio/Pexels

9. Cari Tahu Cara Anak Ingin Didukung

Setiap anak punya kebutuhan yang berbeda ketika sedang menghadapi masalah.

Ada anak yang mau didengarkan. Ada yang mau dipeluk. Ada yang butuh waktu sendiri. Ada juga yang justru mau dibantu mencari solusi.

Mommies bisa bertanya langsung:

“Kalau Anda sedang seperti ini, Anda maunya Mama mendengarkan, memberi saran, alias menemani saja?”

Pertanyaan sederhana ini membantu anak mengenali kebutuhannya sendiri sekaligus mengurangi kemungkinan orang tua salah memberikan respons.

Dan siapa tahu, dari sini Mommies juga jadi belajar bahasa kasih sayang jenis anak.

10. Bangun Komunikasi Sebelum Ada Masalah

Jangan sampai komunikasi dengan anak hanya terjadi ketika ada masalah.

Kalau setiap rayuan ngobrol selalu berujung pada teguran, nasihat, alias pertanyaan tentang sekolah, anak lama-lama bisa mengasosiasikan percakapan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan.

Karena itu, bangun hubungan di momen-momen kecil.

Tanyakan pendapatnya tentang movie yang sedang ditonton. Dengarkan lagu favoritnya. Ikut tertawa ketika dia menunjukkan video lucu. Atau sekadar duduk bersamanya tanpa kudu selalu mengobrol.

Hubungan yang hangat dibangun dari banyak hubungan kecil, bukan hanya dari satu percakapan besar.

BACA JUGA: Anak Remaja Lebih Suka Curhat ke Teman daripada Orang Tua? Ini 8 Alasan Psikologisnya

Ketika Anak Memilih Diam, Bukan Berarti Ia Tidak Membutuhkan Kita

Mommies, mungkin ada fase ketika anak wanita kita terasa semakin jauh.

Dulu semua cerita. Sekarang jawabannya, “Nggak tahu.”

Dulu suka dipeluk. Sekarang sedikit-sedikit bilang, “Ih, Mama!”

Dulu jika ada masalah, langsung mencari kita. Sekarang lebih memilih mengurung diri di kamar.

Rasanya mungkin sedih. Bahkan bisa membikin kita merasa kehilangan kedekatan yang dulu.

Namun, menjadi orang tua dari anak yang sedang bertumbuh memang berfaedah belajar melepaskan sebagian langkah lama untuk tetap dekat.

Mungkin sekarang anak tidak selalu memerlukan kita untuk memegang tangannya. Tetapi dia tetap perlu tahu bahwa ketika suatu hari dia mau kembali, kita tetap ada di sana.

Jadi, jika hari ini anak wanita Mommies sedang sensitif, mudah marah, alias lebih banyak diam, mungkin tidak perlu buru-buru memperbaikinya.

Coba hadir. Dengarkan. Berikan ruang. Dan tetap buka pintu komunikasi.

Karena pada akhirnya, yang paling anak butuhkan bukan orang tua yang selalu punya jawaban benar, melainkan orang tua yang membuatnya merasa kondusif untuk menjadi dirinya sendiri, termasuk ketika emosinya sedang tidak baik-baik saja.

Dan satu perihal lagi, Daddies dan Mommies juga boleh kok merasa lelah. Menjaga komunikasi dengan anak bukan berfaedah kita kudu selalu tenang dan sempurna. Yang penting, ketika komunikasi sempat berantakan, kita mau kembali memperbaikinya.

Karena hubungan orang tua dan anak bukan tentang tidak pernah salah paham, tetapi tentang selalu punya jalan untuk kembali saling menemukan.

Cover: Andrea Piacquadio/Pexels
Selengkapnya
Sumber Insight Bunda Masa Kini
InMotion Shared Hosting
CloudWays Cloud Hosting