3 Kali Gagal Bayi Tabung, Pasangan Ini Akhirnya Punya Anak setelah Dokter Temukan Penyebabnya

3 Kali Gagal Bayi Tabung, Pasangan Ini Akhirnya Punya Anak setelah Dokter Temukan Penyebabnya

Jakarta -

Menjalani program bayi tabung tentu bukan perjalanan yang mudah. Selain memerlukan biaya dan waktu, pasangan juga kudu siap menghadapi kemungkinan kandas sebelum akhirnya mendapatkan kehamilan.

Hal ini dialami pasangan asal Bengaluru, India. Setelah delapan tahun berjuang mendapatkan keturunan dan tiga kali kandas program bayi tabung, mereka akhirnya sukses mempunyai anak setelah master menemukan penyebab yang sebelumnya tidak terdeteksi.

Menariknya, embrio yang mereka miliki sebenarnya berbobot baik. Lantas, apa yang membikin tiga kali program IVF sebelumnya gagal?


8 Tahun menanti, 3 kali program bayi tabung gagal

Dikutip dari Timesofindia, pasangan yang yang disebut dengan nama samaran Ananya, 35 tahun, dan Aswin, 36 tahun, telah menikah selama delapan tahun. Selama itu pula, mereka berupaya mendapatkan Si Kecil. 

Keduanya sudah menjalani tiga siklus IVF di klinik sebelumnya. Namun, seluruh transfer embrio berhujung dengan hasil negatif meski master menyebut mereka mempunyai blastokista berbobot baik. Setelah tiga kali gagal, pasangan tersebut apalagi sempat disarankan menggunakan sel telur alias sperma donor untuk program berikutnya.

Namun, pasangan ini kemudian mencari opini medis lain dan berkonsultasi dengan Dr. Rubina Pandit, ahli fertilitas di Bengaluru. Dari pemeriksaan ulang, kondisi persediaan ovarium Ananya yang dilihat melalui kadar AMH rupanya tetap normal. Sementara itu, pemeriksaan sperma suaminya menunjukkan kualitas sperma yang kurang baik dengan nilai DNA fragmentation index (DFI) tinggi, yang mengindikasikan adanya kerusakan DNA sperma.

Dokter tidak langsung menyalahkan kualitas embrio

Karena sebelumnya sudah beberapa kali mendapatkan embrio berbobot baik, master mencoba memandang masalah dari sisi lain. Dalam siklus IVF berikutnya, pasangan tersebut tetap menggunakan sel telur dan sperma mereka sendiri. Dokter menggunakan teknik pemilihan sperma PICSI dan microfluidics sebelum melakukan ICSI untuk membantu memilih sperma yang dianggap paling sesuai.

Hasilnya, empat embrio berbobot baik sukses dikembangkan. Keempat embrio tersebut kemudian menjalani preimplantation genetic testing for aneuploidy (PGT-A) untuk memandang adanya kelainan jumlah kromosom. Hasil pemeriksaan menunjukkan keempat embrio tersebut normal. Temuan ini membikin master semakin percaya bahwa kualitas embrio bukan satu-satunya masalah di kembali kegagalan program bayi tabung sebelumnya.

Ternyata ada masalah pada saluran tuba

Dokter kemudian melakukan pertimbangan lebih mendalam terhadap rahim dan saluran tuba. Dari pemeriksaan ultrasonografi, ditemukan adanya cairan di dalam rongga rahim yang tidak kunjung menghilang meski sudah mendapatkan pengobatan.

Tim medis kemudian melakukan histeroskopi dan laparoskopi untuk memeriksa kondisi rahim serta saluran tuba. Hasilnya, ditemukan bahwa saluran tuba pasien mengalami kerusakan dan berisi cairan, kondisi yang dikenal sebagai hydrosalpinx.

Saluran tuba yang mengalami kondisi tersebut kemudian dipisahkan untuk mencegah cairannya kembali masuk ke rongga rahim. Setelah prosedur, pemeriksaan USG menunjukkan cairan di rongga rahim sudah tidak terlihat lagi.

Waktu transfer embrio juga rupanya berpengaruh

Perjalanan pasangan ini rupanya belum selesai. Setelah embrio dinyatakan normal dan kondisi saluran tuba sudah ditangani, master tetap mau memastikan bahwa embrio ditransfer pada waktu yang paling tepat.

Pasangan tersebut kemudian menjalani endometrial receptivity assay (ERA) untuk mengevaluasi waktu yang dianggap paling sesuai bagi endometrium menerima embrio. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa rahim Ananya mencapai kondisi reseptif satu hari lebih lambat dibandingkan waktu transfer standar.

Dokter kemudian menyesuaikan waktu transfer embrio berasas hasil pemeriksaan tersebut. Dan kali ini, perjuangan panjang mereka membuahkan hasil. Ananya sukses mengandung dan akhirnya melahirkan bayi yang sehat. Beberapa embrio yang tersisa juga tetap disimpan dalam kondisi kaku jika pasangan tersebut mau merencanakan kehamilan berikutnya.

Apa yang bisa menyebabkan bayi tabung gagal?

Kisah program bayi tabung pasangan ini menunjukkan bahwa kegagalan IVF bisa dipengaruhi beragam faktor. Tidak selalu berfaedah embrionya bermasalah. Kondisi rahim, saluran tuba, kualitas sperma, aspek kromosom pada embrio, usia, hingga beragam aspek reproduksi lainnya dapat ikut berperan.

Dalam kasus ini, master menemukan kombinasi beberapa faktor, ialah masalah pada kualitas sperma, saluran tuba yang mengalami hydrosalpinx, serta perbedaan waktu kesiapan endometrium untuk menerima embrio.

Dikutip dari Pedoman American Society for Reproductive Medicine (ASRM) juga menjelaskan bahwa sperm DNA fragmentationdapat berangkaian dengan kesuburan laki-laki dan hasil teknologi reproduksi berbantu. Namun, pemeriksaan DNA fragmentasi sperma tidak direkomendasikan sebagai pemeriksaan rutin pada pertimbangan awal semua pasangan infertil lantaran bukti mengenai faedah penggunaannya secara luas tetap terbatas.

Artinya, pemeriksaan dan penanganan sebaiknya tetap disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasangan, terutama setelah mengalami kegagalan IVF berulang.

Gagal tiga kali bukan berfaedah kudu berakhir berusaha

Kisah pasangan dari Bengaluru ini menjadi pengingat bahwa perjalanan mendapatkan anak melalui program bayi tabung bisa sangat berbeda pada setiap pasangan. Tiga kali kegagalan tentu bukan pengalaman yang mudah. Apalagi, pasangan tersebut apalagi sempat mendapat rekomendasi untuk menggunakan gamet donor.

Namun, pertimbangan lebih menyeluruh akhirnya membantu master menemukan sejumlah aspek yang sebelumnya belum teridentifikasi. Setelah masalah tersebut ditangani dan waktu transfer embrio disesuaikan, pasangan ini akhirnya sukses mendapatkan anak menggunakan embrio mereka sendiri.

Meski begitu, pengalaman ini tidak berfaedah setiap pasangan yang mengalami kegagalan IVF kudu menjalani semua pemeriksaan tersebut. Misalnya, ERA, pemeriksaan DNA fragmentasi sperma, alias PGT-A tidak otomatis diperlukan pada semua pasien. Dokter perlu memandang riwayat kesehatan, hasil siklus IVF sebelumnya, usia, kualitas embrio, serta kondisi reproduksi masing-masing pasangan sebelum menentukan pemeriksaan berikutnya.

Bagi Bunda dan Ayah yang sedang menjalani program bayi tabung, kegagalan memang bisa terasa melelahkan. Tetapi, jika IVF berulang kali belum berhasil, tidak ada salahnya berbincang dengan master ahli fertilitas untuk melakukan pertimbangan ulang secara menyeluruh dan mencari kemungkinan penyebabnya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Selengkapnya
Sumber Portal Kesehatan Ibu dan Anak
InMotion Shared Hosting
CloudWays Cloud Hosting